Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 130 Debat dua bersaudara


__ADS_3

"Oh ya Allah sudah jam sepuluh malam." ucapnya kaget dengan mata membulat saat melihat jam yang menempel erat didinding.


"Bisa-bisanya sampe lupa diri." gerutunya pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepala. Bergegas ambil wudhu dengan tergesa.


"Eh eeeee....." Dani sudah berdiri seakan berhenti bernapas melihat adiknya yang hampir jatuh dan langsung lega saat Mita bisa menjaga keseimbangan hingga tidak jadi jatuh.


"Hati-hati dong!" ucapnya kesal dan Mita cuma nyengir,melewati Dani yang masih duduk dimeja makan yang terus memandanginya dengan tatapan kesal.


Mita berhenti dipintu,menoleh ke arah Dani.


"Kakak gak sholat?"


"Nanti...." jawabnya cepat. Mita mengerutkan dahi lalu menghembuskan napas. Malas bicara panjang lebar dengan Dani yang harusnya sudah paham sama kewajibannya,sudah tua jadi tidak perlu terus diperintah dan dipaksa lagipula sekarang dia harus buru-buru sholat sebelum kejadian kentut tiba-tiba yang akan membatalkan wudhunya.


Berdiri dengan pandangan menghadap sajadah,menarik napas panjang,memusatkan pikiran hanya kepada Allah,membaca niat lanjut takbiratul ikhram.....


"Allahu Akbar.....kabirawwalhamdulillahi katsiro....."


Membaca bacaan sholat dengan pelan dan lirih cukup untuk didengar sendiri. Berusaha terus memusatkan pikiran pada apa yang sedang dikerjakan. Teringat kesalahannya tiba-tiba airmata menggenang dipelupuk matanya,ada perasaan bersalah menaungi hati dan pikirannya dan terus teringat kesalahannya dimasa lalu betapa memalukannya dia sebagai manusia yang keluar dari syariat agama,penyesalannya seperti tidak berujung. Airmata mulai mengalir perlahan. Memohon ampun dalam hati dengan mulut komat kamit membaca bacaan sholat hingga sampai pada gerakan salam ia mulai terisak.


"Ya Allah akankah salah dan dosa hamba yang sangat banyak ini Engkau ampuni?" ucapnya tersengal dengan tertunduk malu,terasa sesak dadanya mengingat satu persatu dosa yang ia perbuat.


"Ya Allah...." Mita mengatur napasnya yang tersengal sebelum melanjutkan permohonan ampun.


"Ampuni hamba jika selama ini hamba selalu lupa bersyukur,terus mengeluhkan hidupku....jika semua itu salah dihadapan-Mu lillahi taala aku mohon ampun ya Allah....ampuni aku ya Allah aamiin aamiin." ucapnya tersendat sambil menyusut airmata.


"Ya Allah ampuni kemarahanku,keegoisanku,kekakuanku,


kata-kata kasarku....jika semua itu salah dihadapan-Mu lillahi taala aku mohon ampun ya Allah....aamiin." ucapnya terdengar tulus dari hati hingga beberapa saat kemudian bebannya seakan hilang berganti dengan perasaan lega dan rasanya sungguh nikmat,serasa dekat dengan sang pencipta,inilah yang dinamakan nikmat iman.


Mita meraup mukanya dengan kedua belah tangannya lanjut berzikir beserta artinya dan itu membuat hatinya semakin tenang dan damai. Tidak lupa mengucap syukur atas semua nikmat yang Allah berikan padanya.....


"Alhamdulillah ya Allah atas nikmat mulai dari kaki,tangan,mata,otak yang aku gunakan untuk melakukan aktifitas sehari-hari...."


"Alhamdulillah atas titipan tempat tinggal,kendaraan...."


"Alhamdulillah atas kemudahan dalam menjalankan ibadah,kemudahan dalam melakukan aktifitas...."


"Alhamdulillah atas nikmat iman,nikmat Islam dan nikmat yang tak terhitung banyaknya....Alhamdulillah." Mita kembali meraup muka lalu menarik napas. Menoleh ke arah jam dinding dikamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam,lama juga ya kalau memohon ampun dengan menyebut setiap kesalahan,baru sadar juga waktu satu jam masih belum cukup untuk berdoa bahkan kayanya ada yang terlupa. Terpaksa harus diakhiri sampai disini karena dia harus tidur supaya besok bisa bangun dengan segar,ada banyak pekerjaan yang menantinya esok hari.


*****************


Keesokannya saat Mita sedang mengecek pesanan telur ayam kampung yang mungkin kualitasnya jelek dan perlu disingkirkan tiba-tiba terdengar suara deru mesin motor memasuki halaman rumahnya.

__ADS_1


"Mas Yahya." seingatnya ia tidak ada janji dengannya dan tadi pagi emak bilang sudah undur diri lalu ada perlu apa Yahya datang ke rumahnya? Mukanya tampak serius.


"Assalamu Alaikum...."


"Waalaikum salam....ada apa mas?"


"Ayo ke dalam aku mau bicara penting!" Mita mengangguk mengerti lalu berjalan mendahului setelah Yahya mempersilahkan "Ladies first"


Kebetulan juga Dani sedang duduk-duduk santai sambil main handphone dengan dahi berkerut heran dan terlihat kesal kemudian.


"Mas Dani.....kebetulan." Yahya duduk diseberang dan Mita memilih duduk dekat kakaknya yang langsung sadar kondisi lalu melihat keberadaan mereka berdua.


"Ada apa?" tanyanya dengan dahi berkerut. Yahya menarik napas panjang seakan butuh kekuatan besar untuk menyampaikannya.


"Ekheeem....begini mas....saya mau izin diskusi tanggal pernikahan,kemarin mama minta dalam waktu dekat sekitar tanggal dua puluh lima bulan ini,gimana?" tanya Yahya hati-hati,takut menyinggung karena memutuskan tanggal pernikahan dari pihaknya sendiri tanpa melibatkan keluarga perempuan.


"Sekitar dua belas hari lagi." sambung Yahya menjelaskan.


"Yah aku nurut aja sama kalian yang akan menjalani jadi gimana baiknya aja." Yahya lega,Dani justru menyerahkan keputusan pada yang bersangkutan.


"Kamu kan masih punya orangtua,lebih taulah urusan kaya gini jadi atur aja....." sambung Dani datar,seakan ogah ikut campur dan kaya tertekan dari ekspresi mukanya.


"Terus.....kamu gimana dek?"


"Gak baik juga lama-lama ditunda takut fitnah." sambung Mita,Yahya mengangguk setuju.


"Terus akadnya mau dimana? Dirumah ini atau rumah lama,biasanya akad nikah dilaksanakan dirumah mempelai perempuan kata mama." Mita terlihat bingung,seingatnya dulu akad nikah kakaknya dilaksanakan dirumah mereka bukan dirumah mempelai perempuan mungkin karena dulu situasinya yang tidak baik.


"Dirumah lama aja biar gak repot ngurusnya sesuai sama alamat dikartu keluarga." jawab Dani.


"Dek....kamu punya foto ukuran kecil?" sambung Dani cepat.


"Seberapa?" tanya Mita polos yang tidak tahu apa-apa.


"Tiga kali empat sama tiga kali dua."


"Ada kayanya tiga kali empat tapi pake baju sekolah." Dani memutar bola mata jengah lalu berdecak sebal.


"Aduuuh dek kalau pake foto itu kamu dikira masih sekolah belum cukup umur atau malah dikira hamil duluan masih sekolah sudah mau menikah." jelas Dani dengan kesal.


"Yah maaf aku kan gak tahu." balasnya dengan muka ditekuk,selalu seperti ini akhirnya mereka berdua kalau lagi ngomong,kaya yang tidak bisa akur. Selisih paham dikit langsung kaya orang mau perang,Yahya geleng kepala melihatnya.


"Oh ada....aku inget pernah foto buat ngelamar kerja,bentar aku cari." Mita beranjak masuk ke dalam kamar lalu kembali dalam waktu singkat,fotonya mudah ditemukan soalnya diletakkan ditempat yang seharusnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah masih kesimpen belum dibuang." sambil menyimpan diatas meja.


"Coba lihat!" diraihnya foto yang tergeletak diatas meja. Dani melihat ke foto lalu ke Mita berulangkali dengan dahi berkerut dan alis terangkat.


"Foto ini kinyis-kinyis banget entar dikira masih anak ABG." komentar Dani bikin kesel setengah mati.


"Terus maunya gimana? Foto lagi?" ucapnya sewot,tidak terima sebetulnya disebut anak ABG.


"Lagian kan bisa dicocokin sama kartu keluarga sama KTP kalau akunya awet muda disangka anak ABG ya terserah saja." sanggah Mita dengan melirik tajam ke arah Dani yang menatapnya meremehkan sambil tersenyum sinis.


Yahya kembali menggelengkan kepala melihat debat dua bersaudara didepannya.


"Ayo deh mas Dani bantuin aku ngurusin ini!" Yahya menyudahi keributan,Dani jelas lebih berpengalaman bisa membantunya mengurus surat-surat biar cepet selesai.


"Ok ayo berangkat!"


"Tapi aku mau mandi dulu." Dani nyengir. Mita kaget mendengarnya,kakaknya sampai sesiang ini belum mandi.


"Kak Dani jorok banget sih.....sudah mau jadi bapak juga,dua anak lagi." gerutunya kesal.


"Pemimpin kok jorok terus gimana anak buahnya?" sambungnya dengan cemberut.


"Hehehe....mumpung belum lahir anaknya." jawab Dani enteng,Mita mendengus kesal.


"Dasar pemalas!" maki Mita lalu beranjak menuju tempat kompor berada,lupa tadi tidak membuatkan minum Yahya.


"Mas Yahya mau dibikinin minum apa?" tanya Mita.


"Gak usah." jawab Yahya cepat,dipikirnya Dani hanya sebentar.


"Mas Yahya kan gak tahu kebiasaan kak Dani kalau mandi bisa setengah jam tahu deh ngapain aja dikamar mandi,tidur kayanya belum lagi ganti baju terus dandan juga dia nanti." Yahya hanya mengangkat alis.


"Gak percaya?"


"Ya.....teh panas aja." Yahya mengalah daripada panjang urusannya kalau terdengar Dani takut ribut lagi mereka. Mita mengangguk sambil menunjukkan lambang ok.


Ternyata benar kata Mita,sudah hampir satu jam tapi Dani belum ada tanda-tanda keluar dari kamarnya,entah sedang apa?


"Kak.....lama amat sih? Pake gincu yah?" tanya Mita sambil terkikik geli sengaja menggoda kakaknya.


"Sembarangan....emang aku perempuan pake gincu." Dani bersungut-sungut pas keluar kamar,Mita tertawa senang bisa mengganggu kakaknya.


Beginilah dua bersaudara kalau satu rumah,suka debat dan suka ribut tentang hal remeh seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur. Yahya hanya tersenyum melihat interaksi mereka.

__ADS_1


__ADS_2