
Mita POV
Setelah insiden pertengkaran hebat antara kami,dia gak pernah menunjukkan batang hidungnya sampai saat ini. Kalaupun tanpa sengaja berpapasan dia langsung melengos dan pergi seakan sengaja menghindari ku.
Merasa bersalah,aku ikut andil dalam pertengkaran tersebut harusnya aku bisa lebih menahan emosiku bukannya ikut tersulut emosi karena yang aku tahu sifatnya memang begitu,emosional.
Ini sudah berbulan-bulan aku makin gak nyaman,kepikiran juga mau sampai kapan akan berlanjut pertengkaran ini seperti ada beban dan rasa berdosa menghantuiku bahkan hidupku terasa gak tenang.
"Aku harus mengakhirinya atau aku akan menanggung dosa besar. Dosa atas perbuatan ku sendiri sudah banyak ditambah ini...!" segera berjalan keluar rumah tapi baru sampai dipintu utama.
"Mita......sahabat ku!" pekik Ita dengan mata berbinar. Eh...rupanya dia sedang menggandeng tangan cowo keren itu dada sampai nempel-nempel gitu. Apa gak kerasa atau gak dirasa? Terang saja lebar banget itu senyum si cowo dapat barang berharga dari seorang cewe astaghfirullah...ini otak jadi gak berhenti komentar buruk.
"Ada apa kok kaya gak seneng gitu aku ke sini?" tanyanya merajuk,rupanya ekspresi ku terbaca olehnya hanya bisa narik napas panjang.
"Assalamu Alaikum......" ucapku sambil menghampirinya dengan senyum tipis. Dia hanya nyengir sadar aku sedang menyindirnya.
"Waalaikum salam......kangen banget sama kamu." dia memelukku hangat lalu menempelkan pipi kanan dan kiri,aku hanya mengikuti.
"Aku juga...apa kabar mama sama papa mu?"
"Tentu saja sehat walafiat secara punya anak sholehun macam aku.....lihat aku sekarang!" ucapnya bangga dan ceria sambil memutar tubuhnya dihadapan ku. Dia memang semakin trendi dengan balutan dress putih kekinian diatas lutut,rambutnya diwarnai dengan warna kecoklatan. Kulitnya nampak lebih putih dan glowing ku tebak pasti perawatan disalon.
Aku menggeleng,hampir setahun kuliah secara ilmu harusnya lebih bijak kenapa malah terjerumus dalam pergaulan seperti itu. Berteman boleh asal bisa mengambil sikap mana yang bisa dijadikan contoh dan mana yang harus ditinggalkan. Teman dan lingkungan bisa mempengaruhi kepribadian seseorang,harus pandai memilih teman. Teman yang sholeh sholehah bisa menularkan kebaikan dan teman yang buruk akan menularkan keburukan.
"Alhamdulillah...setelah sekian lama ada yang nengokin kirain lupa sama aku udah dapat teman baru soalnya." aku sekedar menggodanya dia malah menanggapi serius.
"Gak gitu juga.....aku sibuk kuliah beib....." dia langsung melepas gandengan lalu mendekat ke arahku sambil memegang tanganku dengan muka sedih.
"Ih digodain juga kamu tanggapi serius. Ayo masuk!" ucapku sambil tersenyum ramah. Harus tetep menghargai orang gak peduli seburuk apapun mereka harus diperlakukan dengan baik.
"Oh iya aku lupa beib.....kenalin ini cowo ku Rendi gimana keren kan?" ucapnya bangga sambil kembali memeluk lengan pacarnya langsung dibalas tepukan lembut ditangannya dari cowo itu yang bernama Rendi atas pujian kerennya.
"Semoga kalian segera menghalalkan hubungan." aku memilih mendoakan yang baik.
"Hah.....jangan asal deh kami masih menikmati masa muda iya kan sayang?" Dia tersenyum manja ke arah cowonya yang sama membalas senyum sambil mengedipkan mata langsung Ita menunduk malu. Aduuh...usia bertambah bukannya tambah dewasa ini malah luar biasa...
Mereka yang berbuat aku yang merasa deg-degan.
"Silahkan duduk akan ku buatkan minum!" semoga saja adegan bermesraan gak berlanjut lagi. Ya Allah aku bingung juga bersalah. Mau mengingatkan takut menyinggung gak mengingatkan aku berdosa astaghfirullah.......
Masuknke dapur menengok ke dalam kulkas kosong ku putuskan buatkan es teh sajalah.
__ADS_1
Selesai membuat minuman langsung ku bawa ke ruang tamu mereka gak ada tapi suaranya diluar rame banget apakah ada tamu lagi yang ingin membeli tanaman hias mungkin?
Aku kaget dong ini jadi banyak anak muda,cowo cewe siapa mereka? Nampak akrab sama Ita dan pacarnya.
Aku hanya mengamati saja dari teras sambil meletakkan minuman diatas meja bundar lalu duduk. Melihat sesi foto Ita bersama teman-teman kuliahnya.
Dilihat dari cara berpakaian dan penampilan kayanya sealiran pantas saja Ita jadi ngikut berdandan kekinian. Dari kepala sampai kaki semuanya trendi membandingkan penampilan ku yang biasa saja ada rasa minder tapi seperti ada alarm di diriku yang mengingatkan untuk gak terpengaruh. Karena di mata Allah semua orang sama yang membedakan adalah amal ibadahnya.
"Ihihihi...bagus ya hasil jepretannya!"
"Iya...ini hp terbaru mehong harganya 10 juta jelas kualitas kameranya bening."
"Jangan salah tanaman hias ini yang bikin fotonya makin bagus."
"Lihat kita kaya bunga-bunga yang sedang mekar...cantik banget."
Hingga sebuah chat mengalihkan fokus ku pada layar ponsel yang menampilkan pengirimnya. Siapa lagi kalau bukan kak Yahya pasti nanyain telur. Adeeeh dia mah jadi ketagihan bisnis telur ayam kampung katanya enak langsung dapat untung. Iyalah orang pembelinya rekan bisnis papa dan mamanya tajir semua jelas iya-iya saja dikasih harga berapapun. Lah aku bingung cari penyuplay telur ayam kampung mulai dari tanya-tanya ke orang siapa tahu ada saudara yang memelihara ayam aku mau membeli telurnya. Kalau ngandelin produksi telur sendiri jelas gak cukup mau nambah ayam siap bertelur butuh biaya banyak nambah pekerja juga ini dua orang pekerja sudah kuwalahan.
Belakang rumah sampai disulap jadi rumah ayam bersusun dan untuk menjaga ayam tetap sehat di musim penghujan harus disemprot desinfektan pembunuh bakteri,tambahan biaya lagi kan.
Detik berikutnya terdengar deringan tanda panggilan masuk.
"Walaikum salam...telur lagi?" tanyaku malas sambil memijit pelipis yang tiba-tiba pusing disambut kekehan diseberang.
"Masalahnya aku juga sibuk nungguin tanaman hias ku sewaktu-waktu ada pembeli gimana?"
"Coba nyari lewat face book!"
"Atau ku kirimin nomer penyuplai telurnya saja ya nanti hubungi sendiri."
"Sekalian dapet untung lebih harga dari aku lebih tinggi dibanding dari penyuplay aslinya."
"Insya Allah bantuin semampu ku ya?"
"Heem.....walaikum salam wr. wb." tarik napas panjang hembuskan perlahan.
"Permisi neng...Alhamdulillah produksi telur hari ini banyak kayanya hampir semua indukan bertelur mau ditetaskan berapa?" lapor pak Darman salah satu pekerja.
"Seperti biasa ya pak!" jawabku sopan.
"Oh iya pak dibelakang ada ayam siap potong?"
__ADS_1
"Ada neng sekitar 20 ekor jantan 30 ekor betina kalau gak salah."
"Tolong disiapkan ya pak nanti sewaktu-waktu diambil sama orangnya...."
"Bapak kembali ke belakang neng!" pamit beliau undur diri.
"Ya makasih pak!"
Alhamdulillah usaha ku berjalan dengan baik. Semoga bisa memberikan keberkahan pada hidupku dan bisa menjadi perantara jalan rezeki bagi orang lain aamiin.
"Daebak...jadi bos sekarang?" ucapnya berteriak mengagetkank ku saja kebiasaan ini anak gak ilang-ilang.
"Alhamdulillah dikasih kepercayaan sama Allah ya semoga bermanfaat!"
"Ceritanya aku kalah sama kamu yang dirumah malah sukses aku baru kuliah belum bisa dapat uang sendiri." ucapnya sambil merengut merasa down gak bisa seperti aku.
"Iya...bismillah ini aku lagi usaha ngumpulin duit biar bisa kuliah."
"Bersyukur kamu dikasih kesempatan bisa kuliah,belajar yang tekun insya Allah ada rezekinya di kamu gak tahu juga nanti kamu malah lebih sukses dari aku kan...." ucapku menghiburnya sambil senyum. Dia menunduk seperti mencerna ucapan ku atau merenungi kesalahannya sekarang yang ku lihat dia gak fokus sama kuliah banyak main-mainnya kalau kata aku. Aku berdoa semoga Allah memberinya petunjuk.
"Pengen belajar usaha?" tanyaku membuyarkan lamunannya dia membalas dengan anggukan.
"Kamu bisa jualin tanaman hias ku cari untung sendiri gimana?" tawarku bismillah niatku dia sibuk dan bisa lebih fokus pada masa depannya. Melihat aliran teman-temannya aku jadi berpikir negatif apalagi lihat Rendi pacarnya nampak buaya darat gak bisa lihat cewe main pegang-pegang takut terjadi apa-apa sama Ita astaghfirullah aku berpikiran buruk lagi kan.
"Yuk foto bareng!" Dia mendekatiku,memasang pose langsung jepret.
"Makasih ya.....nanti kirimin foto bunga-bunga itu ya biar ku jual secara online..."
"Insya Allah aamiin."
"Kita minta foto bareng juga dong!" Aku gelagapan gak siap foto sama yang lain. Alhamdulillah pertolongan datang,ada telepon masuk.
"Ya pak walaikum salam..."
"Sebentar ya pak!" sambil menjauhkan ponsel.
"Maaf ya aku sibuk banget gak bisa nemenin!" didukung sama akting sedih dan penuh penyesalan.
"Ok deh kami pulang ya.....assalamu Alaikum!" aku merasa lega dia ingat mengucap salam.
"Walaikum salam wr wb.....makasih semuanya!" balasku sambil melambaikan tangan dan kembali bicara ditelepon.
__ADS_1
Sedangkan diseberang sana kak Dani marah-marah karena ku jadikan tameng.