Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 58 selesai dengan baik


__ADS_3

Mita POV


"BERHENTI!" sebentar tadi dunia serasa berhenti berputar ketika dia berteriak dengan suara meninggi.


Ku lihat kondisinya sudah terkendali langsung menghampiri posisi pak Bowo dan pak Darman yang terkapar bersyukur beliau berdua masih dalam keadaan sadar.


"Ya Allah pak maaf...!" air mata menggenang di pelupuk mata melihat kondisi mereka yang babak belur.


"Ayo pak Bowo kita masuk!" aku memapah pak Bowo dibantu kak Dani yang memapah pak Darman masuk ke dalam rumah lalu merebahkan tubuh mereka dikasur depan tv Ada perasaan bersalah dihatiku melihat mereka meringis kesakitan.


"Gimana rasanya pak? apa perlu ke rumah sakit?" keduanya kompak menggeleng.


"Ini hanya memar neng mungkin selama beberapa hari izin libur kerja hehehee......" pak Bowo masih bisa tertawa lalu meringis saat merasakan nyeri dilukanya dan aku sendiri sudah menangis.


"Jangan nangis neng kami gak pa-pa mungkin lagi apes aja untung mereka perempuan.....gak begitu kerasa walaupun badannya besar!" pak Darman juga masih melawak jadi pengen ketawa.


"Tadi saya takut sama kondisi bapak...takut fatal..." ucapku sambil menyeka air mata.


"Sampe lupa saya ambilkan minum dulu!" ceritanya sekalian mau kasih makan karena sudah siang tapi aku lupa belum sempat masak juga belum sempat beli. Akhirnya aku kembali dengan membawa minuman sama roti.


"Maaf saya lupa belum ada makanan jadi makan yang ada aja ya pak,roti sama minuman!" mereka bangkit dengan posisi duduk lalu minum sampai habis.


"Dimakan pak rotinya jangan hanya dipandangi!" mereka makan dengan lahap sepertinya kehabisan energi setelah jadi sasaran kekesalan ibu-ibu itu.


"Bentar ya pak saya tinggal dulu mau minta ganti rugi sama mereka!" ucapku terdengar marah.

__ADS_1


"Kak temani pak Bowo sama pak Darman!" ucapku tegas sambil melirik tajam ke arah Kak Dani yang nampak gelagapan. Aku gak mau kecolongan lagi tadi disuruh misah malah takut.


"I...iya tapi minum dulu biar tenang mukamu itu menakutkan jangan sampe nanti kamu ngajakin mereka ribut!" tarik napas lalu hembuskan.


"Duduk dan minum!" aku menurut saja langsung minum air sampai segelas. Setelah merasa tenang aku beranjak pergi ke depan.


Ku tatap mereka satu-satu yang sedang menunduk tapi kok ya jadi gak tega mau marah-marah. Melihat mereka jadi seperti melihat ibu kandung ku sendiri.


"Ibu-ibu...!" mereka langsung mendongak dengan tatapan bersalah. Aku menatap ke arah kak Yahya sambil mengangkat alis yang juga sedang menatap ku balik sambil senyum.


Ini orang memang gak peka ditanyain juga malah senyum.


"Gimana sekarang sudah puas melampiaskan kemarahan sampe bikin babak belur orang saya?" gak ada yang berani jawab malah makin menunduk.


"Alhamdulillah orang saya gak parah kira-kira parah ibu-ibu akan saya laporkan ke polisi atas tindakan penganiayaan...lalu masuk penjara,mau seperti itu?" mereka menggeleng,tarik napas dulu aku jangan sampai ikutan esmosi.


"Makasih ya!" dia mengangguk.


"Kakak saya juga belum apa-apa sudah terpental duluan saking ganasnya bokong ibu-ibu main kibas aja." ucap ku asal niat hati mumpung ada kesempatan ungkapin sekalian.


"Dek..." rupanya yang disebut langsung protes. Aku bisa membayangkan muka kakakku yang memerah karena malu jadi pengen ketawa. Ini kan sesi serius gak boleh jadi bahan tertawaan. Ku lihat dua cowo disebelah juga sama menunduk dengan tubuh yang bergetar pasti nahan ketawa.


"Bu...!"


"Iya..." kok ini seperti acara pengajian sih tapi tetep dilanjut acara mengingatkannya gak mau dibilang menasehati kedengarannya kok merasa paling bener.

__ADS_1


"Kenapa sih Bu harus marah-marah gak baik untuk kesehatan kalau kena struk gimana?...sekarang salim maaf-maafan gak boleh diulangi lagi ya!" ucapku lembut,mereka langsung nurut bergiliran salim sambil bilang maaf.


"Ck...gimana ya Bu saya sedih kalo inget yang tadi. Tawuran karena omongan ya Allah Bu,sabar Bu belajar menahan emosi seorang ibu itu panutan bagi anak-anaknya,contoh bagi anak-anaknya dan contoh bagi kami yang muda-muda ini..."


"Untuk apa bersaing dengan harta? untuk apa memperlihatkan yang dipunya? gak bisa dibawa mati Bu."


"Ibu-ibu adalah panutan kami yang sudah sepantasnya kami hormati sebagai orang yang lebih tua jadi tolong jangan ribut lagi ya apalagi didepan umum tadi itu jadi tontonan banyak orang lho bu...." tarik napas panjang jadi keinget sama yang merekam video jika sampai disebar,viral...ah gak bisa ngebayangin.


"Dan saya mohon pengertiannya karena sudah membuat orang saya babak belur tolong berikan kompensasi...!" mereka saling melirik lalu membuka tas merogoh ke dalam tas mengambil dompet. Ku lihat mereka seperti ragu-ragu,harus diingatkan ini.


"Ibu-ibu puas melampiaskan kemarahan hingga orang saya juga puas menerima kemarahan ibu-ibu jadi tolong dihitung,jumlah uang usahakan sesuai dengan jumlah pukulan yang ibu berikan...." ucap ku sambil memberi penekanan pada suaraku,kesal juga melihat mereka yang enggan untuk mengeluarkan uang,katanya istrinya anggota DPR dimintai tanggung jawab senggol-senggolan.


"Ayo ibu-ibu yang dermawan orang saya mau istirahat kasihan mereka kesakitan butuh berobat...!" kasih pujian dikit biar makin keluar uang buat berobat.


"Tolong Bu pikirkan nasib mereka perhitungkan biaya hidup mereka gara-gara ibu mereka gak bisa kerja selama berhari-hari tapi keluarga mereka butuh makan,bayar sekolah anak-anak,buat jajan anak-anaknya,bayar listrik belum yang lain-lain." dikasih omongan menyedihkan biar makin kasihan nah kan ditambahin lagi.


Akhirnya mereka menyerahkan uang yang terkumpul sebagai kompensasi atas rasa sakit yang diderita pak Bowo dan pak Darman. Setelah ku hitung lumayan jumlahnya.


"Ibu-ibu yang saya hormati terima kasih atas kebaikannya semoga Allah membalas dengan sesuatu yang lebih baik...saya persilahkan untuk meminta maaf pada pekerja saya biar semuanya plong!"


Weleh....weleh mereka mah nurut saja sama omonganku berbaris rapi satu-satu meminta maaf pada pak Bowo dan pak Darman. Seneng lihatnya kalau begini jadinya kosong-kosong.


"Makasih ya ibu-ibu atas keikhlasannya dan jika ada salah kata yang mungkin menyinggung hati ibu-ibu sekalian saya mohon maaf sebesar-besarnya...!" ucapku sambil salim dan mencium tangan mereka dengan rasa hormat.


"Semoga ibu-ibu diberikan umur yang berkah dan bermanfaat aamiin."

__ADS_1


"Iya sama-sama......"


Tragedi tadi diakhiri dengan saling bermaafan dan ucapan doa yang baik ada pula sambil pelukan jadi pengen nangis.


__ADS_2