
Mita terdiam dan berpikir,meskipun kesal dia masih belum bisa melepaskan rasa iba terhadap keluarga Dani terutamanya si kembar. Bagaimana nasib mereka dengan kondisi mental kedua orangtuanya khawatir kedua bayi itu menjadi sasaran pelampiasan saat orangtuanya merasa kesal. Hal tersebut yang ada dipikirannya.
"Aduuh ya Allah astaghfirullah mikirin kak Dani jadi pusing." gumamnya,menarik napas panjang sambil memijit pelipis sebelah kanan.
"Berpikir baik tapi kalau berlebihan juga gak baik makanya pusing....bagian kanan kan?" tanyanya sambil fokus menyetir,Mita tidak menjawab hanya mendengarkan sambil berpikir bahwa cara berpikir yang berlebihan walaupun baik tetap salah dihadapan Allah.
"Hmm seperti halnya pas kita mau belanja entah ke warung atau ke pasar. Dari rumah pasti kita sudah memiliki rencana mau beli apa?"
"Ternyata disana ngelihat barang yang bagus yang menarik hati biasanya bikin kita pengen belok ke tujuan lain. Sedangkan kita bawa uang pas yah sengaja ditinggal dirumah untuk kebutuhan lain terus bingung kan mau beli yang mana?"
"Semuanya menarik dan pengennya terbeli."
"Muncul tuh kata seandainya....ini kan gak baik."
"Terus ada kelanjutannya....aku punya uang lebih bisa beli yang itu soalnya butuh yang itu juga buat besok biar sekalian gak usah bolak-balik. Termasuk mengeluh kan? Gak bersyukur juga sama rezeki hari ini padahal kebutuhan sudah terpenuhi walaupun untuk hari ini saja." cerita Yahya yang dibenarkan oleh Mita.
"Kita bukan Tuhan yang bisa menolong manusia lain secara penuh,yang musti ada dipikiran kita adalah memenuhi kewajiban kita masing-masing." Mita terhenyak dia langsung teringat keinginan meringankan kesulitan manusia yang dirasakannya terasa melebihi batas malah seperti yang bertindak sebagai Tuhan bukan atas dasar sebagai manusia saling menolong. Sontak menggelengkan kepala sambil kembali mengucap istighfar saat menyadari kesalahan fatalnya.
"Bagus seseorang punya niatan membantu orang kan dianjurkan agama tapi jangan sampai terlalu memaksakan ketika tidak mampu."
"Manusia yang diberikan kesulitan bertujuan orang tersebut kembali ke jalan lurus dengan kembali banyak mengingat Allah dengan menjalankan ibadah,bertasbih memuji Allah serta berdoa kepada Allah untuk diberikan solusi serta kemudahan dalam menjalankan kesulitan tersebut."
"Juga sebagai alarm untuk seseorang mengingat salah dan dosa....kan biasanya begitu pas ada masalah mesti ngomongnya kok hidupku sulit kira-kira aku punya salah apa?"
"Betul kan?" Mita hanya mengangguk setuju.
"Kalau lagi senang banyak duit mana pernah kita eling sama dosa. Kita terlalu bahagia secara dunia....kebanyakan mikirnya Alhamdulillah hidupku banyak rezeki,bahagia pasti karena sedekah aku atau kebaikan aku selama ini." Mita tersentak,hal tersebut pernah ia rasakan. Lalai karena kesenangan dunia.
"Padahal kita manusia kalau dipikir mana ada kebaikannya....betul?" Yahya melirik istrinya sekilas kemudian kembali fokus pada jalan didepannya.
"Lha wong sedekah yang ikhlas sulit dijalankan mungkin diawal sudah bismillah diniatkan karena Allah tapi untuk seterusnya kepikirnya aku sudah sedekah yang aku miliki berkurang insya Allah nanti ganti berkali lipat sama Allah."
"Pernah gak kita mikir begitu?" Mita hanya menarik napas.
"Hmm iya."
__ADS_1
"Apa itu bisa dikatakan ikhlas?" Mita langsung menggeleng lemah.
"Langsung istighfar gak kalau inget yang kaya gitu?" Mita mengangguk juga menggeleng membuat Yahya tertawa.
"Sama...." ucapnya sambil tertawa renyah.
"Kayanya sebagai manusia yah kita masih manusia pada umumnya....sebagian hati kita masih tersempil niatan ingin dilihat orang lain baik,masih mengharap balasan untuk perbuatan baik yang telah kita lakukan,betul tidak?" Mita tercenung memikirkan ucapan suaminya sambil mengintrospeksi diri.
"Kaya tadi ngadepin mas Dani....niatnya sudah baik bantuin ditengah perjalanan ada ujiannya yah sikapnya mas Dani yang ngeselin dan nyatanya kita marah,kesel juga kan?"
"Gak ikhlas kan jadinya."
"Dosa pula karena kitanya yang gak bisa sabar...." giliran Yahya yang menarik napas berharap nasehatnya bisa diterima dengan baik oleh istrinya. Berharap pula kata-katanya tidak menyinggung.
"Terlepas kita pengennya jadi orang baik karena perintah Allah juga karena takutnya kita dimasukkan ke neraka atas dosa yang kita lakukan selama didunia."
"Kita kaya manusia yang munafik kan?"
"Iya....aku tahu aku salah." ucapnya sambil tertunduk,Yahya tersenyum.
"Untuk saat ini doakan saja semoga mas Dani bisa melewati dengan baik."
"Iya bang makasih sudah diingatkan." ucapnya lirih kemudian kembali menghela napas. Perasaan bersalahnya semakin menggunung dan menjadi beban saat diingatkan dengan satu-persatu kesalahnya.
"Sama-sama....seperti kata kamu bahwa seorang suami bertugas menjaga keluarganya dari api neraka dan sekarang ini aku sedang mencoba melaksanakan tugas pertama yang masih ditingkat awal." Mita mengangguk sambil tersenyum tidak mengerti maksud ucapan suaminya tentang tingkat awal.
"Nanti pas kita sudah dititipi keturunan artinya tugas Abang sebagai penjaga keluarga dari api neraka insya Allah akan bertambah dan kamu akan abang angkat menjadi asisten pribadi yang membantu dari segala aspek kehidupan." ucap Yahya sambil tersenyum. Mita tidak menanggapi hanya melirik sambil berpikir kemudian menghela napas.
"Hmm asisten pribadi yah....kalau begitu nanti diprogram aja punya anaknya biar tugasnya bisa dijalankan perlahan-lahan jadinya tertata." berpikir hal itu keputusan yang paling baik.
"Lima atau enam tahun baru punya anak lagi...." sambungnya sambil tersenyum dengan pikirannya sendiri.
"Biar akunya bisa sedikit santai bisa full ngurus semua aspek kehidupan." Yahya mengerutkan Dahi,dia sudah merancang masa depan sendiri sebagai tujuan hidupnya merasa kurang setuju sama pemikiran istrinya.
"Kalau aku gak begitu mikirnya...."
__ADS_1
"Sekalian punya anaknya dua tahun brojol pas anak-anak udah agak besar pas butuh-butuhnya biaya abang masih kuat cari nafkah anak-anak bisa kuliah semua insya Allah." Mita mengernyit,memang bagus rencana masa depan suaminya hanya saja ia merasa dirugikan sebagai pihak istri memikirkan dua tahun brojol,terbayang dikepalanya mengurus anak yang baru bisa jalan terus lagi hamil pula belum lagi bayangan sakitnya melahirkan tiap dua tahun sekali langsung menggelengkan kepala kuat berusaha menghilangkan bayangan itu dari pikirannya.
"Eh gak bisa begitu dong bang....aku yang ngejalaninya ngurus anak sambil hamil aku ngerasa gak mampu." tolaknya tegas merasa ini terlalu memberatkannya sebagai istri. Semua hal musti dilakukan sesuai kemampuan pikirnya supaya lebih ikhlas menjalankannya.
"Ya kan nanti nyari art sayang biar bisa bantuin kamu." Yahya mengajukan tawar menawar yang tidak akan memberatkan istrinya kelak.
"Mana mungkin juga Abang tega ngeliat kamu kesusahan sendiri lagipula mana mungkin kamu mampu ngurus anak lima sendirian." ucap Yahya sambil tertawa tertahan.
"Lima." ucapnya kaget.
"Iya....Abang pengen punya anak lima biar rame rumah kita." jawab Yahya santai menunjukkan lima jari sambil nyengir. Mita melotot kemudian melengos.
"Iya....rame sama tangisan maksudnya." kembali menarik napas sambil memandang keluar mobil.
"Gak kebayang repotnya sama pusingnya...." gerutunya tapi kemudian langsung beristighfar. Belum apa-apa sudah mengeluh dan yang terucap saat ini khawatirnya jadi doa untuk dirinya sendiri kelak makanya dari tadi sambil mikir ngomongnya. Bisa jadi saat ini dia yang belum teringin tapi nanti pas teringin malah jadi bumerang untuk dirinya sendiri jadi susah punya anak kan tidak baik.
"Yah kan masih rencana terlaksana atau enggak urusan Allah sayang." hibur Yahya yang bisa memahami isi hati istrinya.
"Ya maaf akunya dua puluh tujuh tahun udah masuk punya anak mikirnya dua tahun brojol kalau lima genap sepuluh tahun pas aku masih umur tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan tahun." jelasnya seperti yang mudah menjalaninya padahal kenyataannya nanti tidak seindah yang dibayangkan.
"Mending mikirin yang sekarang aja jangan yang nanti-nanti." ucapnya sambil mengibaskan tangan. Baginya yang masih diawal pernikahan tentu saja sulit berpikir sejauh itu.
"Akunya masih belum bisa mikirnya....masih dua puluh satu perlu menata hati sama mental." ucapnya mencoba berpikir praktis. terlalu memikirkan masa depan pada akhirnya membuatnya jadi seperti keberatan dan berprasangka buruk sama Allah.
"Iyaaaa...." jawab Mita dengan manyun. Mereka sampai melupakan yang dibelakang diam-diam menyimak dengan baik.
"Heeh....kalau mau berdiskusi mau punya anak mending dikamar jangan dimobil kitanya jadi tahu." protes Irham membuat Mita terhenyak lalu menepuk jidat,lupa ada orang lain didalam mobil.
"Pikiran akunya jadi ikut traveling....mending tempatnya luas kan sekalian badan ikut traveling ini kebalikannya sempiiit." keluhnya sambil menggelengkan kepala frustasi.
Mereka hanya bisa menarik napas.
"Iya tahu udah pasangan halal serasa dunia milik berdua tapi mbok ya mikirin nasib kita yang duduknya kesempitan mana bapak badannya gede cape bertahan kaya gini pengen cepet nyampek rumah tapi situ gak nyadar kan sambil ngobrol jalanin mobilnya kaya siput." keluhnya lagi.
"Kelamaan bisa keram ini kaki."
__ADS_1