
Dani masih terus berusaha membujuknya untuk tidak pergi.
"Tolong kak!" muka memelas kakaknya dibalas dengan muka memelasnya dan akhirnya Dani pasrah.
Untuk memulai hidup ditempat baru tentu ia tidak ingin meninggalkan luka ditempat lama jadi dia nekat menemui Hafiz dengan mengabaikan pikiran takut ditolak karena masalah harus dihadapi bukan dihindari,itu menurutnya.
Adab mengucap salam saat bertamu ke tempat orang tetap dijalankan meskipun dengan pelan supaya tidak terdengar oleh Hafiz dan dia tidak kabur duluan.
"Kenapa jadi kaya kucing-kucingan begini?" keluhnya dengan langkah mengendap-endap,tengok kanan kiri depan belakang seperti pencuri. Walaupun begitu dia sudah minta izin sama nyonya rumahnya lewat telepon sedangkan yang punya rumah bilangnya 'terserah atur aja,anggap rumah sendiri'
"Kak Hafiz...." Mita muncul dengan tiba-tiba,dia terkejut dengan mata melotot,langsung ingin kabur namun dihadang oleh Mita.
"Bisa kita bicara!" ucapnya tegas. Hafiz melengos.
"Kita sudah sama-sama dewasa,mau sampe kapan begini terus?" didapur Bu Indah pura-pura tidak mendengar,menyibukkan diri dengan perkakas dapur. Hafiz mendengus,melirik ke mamanya yang tampak tidak peduli. Jadi mereka bekerjasama,pikirnya.
"Kita duduk di sana!" tunjuknya pada sofa diruang tengah. Hafiz masih diam tapi tampak berpikir.
"Ayo!" Hafiz tidak beranjak dari tempatnya. Mita menarik napas panjang,berusaha bersabar demi kedamaian hatinya.
"Aku gak punya waktu....kak Hafiz pasti tahu rencana kepindahan ku?" Hafiz memalingkan muka seakan tidak sudi mendengar apapun yang keluar dari mulut Mita.
"Aku minta maaf atas perbuatanku yang menyinggung perasaan kak Hafiz...."
"Walaupun sebetulnya aku merasa malu..... perempuan kok datang ke rumah lelaki kesannya murahan tapi karena niatku baik ingin meminta maaf dengan setulus hati jadi aku memberanikan diri...." hari ini dia banyak bicara mungkin karena suasana hati melow memaksanya untuk berterus terang agar bebannya berkurang.
"Terserah mau dimaafkan atau gak yang penting aku sudah minta maaf." terdengar egois tapi Mita tidak bisa berbuat lebih,dia sudah berniat baik masalah hasil Allah yang akan memutuskan.
Hafiz termenung dalam diamnya sedangkan Mita menghampiri Bu Indah,sedikit mengobrol dan akan pergi.
"Tunggu!" Hafiz menghentikan kepergian Mita saat masih diambang pintu.
Mita berhenti tanpa berbalik badan,menunggu kalimat selanjutnya jadi kalaupun tidak penting dia tidak perlu bolak-balik.
"Duduklah!" terlihat Hafiz duduk disofa dengan muka keruh dan Mita patuh,memilih duduk berhadapan.
"Kamu pindah....apa karena aku?" Mita melongo,apa dia tidak salah dengar,pikirnya.
"Diam artinya iya?" dia menyimpulkan sendiri dengan tersenyum senang.
"Jadi aku berarti untukmu?" sambil menatap Mita yang mengerut,berpikir Hafiz sedang salah paham dengannya.
__ADS_1
Dia termenung,memikirkan jawaban yang pas untuk disampaikan supaya tidak menyinggung lagi mengingat Hafiz tipe baperan.
"Maaf.....aku pindah karena aku ingin menempati rumah hasil jerih payah ku." Mita menunggu respon Hafiz yang langsung hilang senyuman dibibirnya.
"Jadi bukan karena aku yang marah?" dia terlihat kecewa,Mita bingung mau bicara apa....
"Kamu tahu?" mukanya berubah asem.
"Enggak...." jawab Mita polos.
"Dengerin dulu aku belum selesai bicara!" dia mendengus sebal,Mita jadi ingin tertawa.
"Aku tu cinta sama kamu...."
"Sayang sama kamu...."
"Peduli sama kamu...." aneh kan? Katanya cinta,katanya sayang kok marah-marah. Mita tersenyum dan geleng kepala.
"Kok senyam senyum....kamu kira aku main-main?" dia nge gas,Mita berhenti tersenyum kembali ke muka serius atau orang didepannya akan mengamuk.
"Aku SERIUS...." ucapnya penuh penekanan.
"Itu gak penting...." jawab Mita seenaknya.
"Yah......karena aku gak rela kamu dengan yang lain." ucapnya lalu memalingkan muka. Mita merasa sedang menghadapi cowo ababil.
"Kalau gitu....aku juga gak rela dimarah-marahin sama kamu karena alasan cinta dan sayang kamu ke aku." dia kembali melengos,Mita menghela napas.
"Sudahlah....gak perlu dibahas,aku masih ada urusan lain." percuma dibahas sedangkan orang didepannya egois dan maunya menang sendiri.
"Kok gitu....gak boleh pergi,kita belum selesai." giliran dia yang menghadang Mita.
"Apa-apaan sih kak aku masih banyak urusan ini..." ucap Mita dengan kesal.
"Minggir ih...."
"Gak boleh pergi....!!!" Mita mulai jengah,lelaki didepannya seperti anak kecil.
"Terus maunya apa?"
"Aku gak akan menyerah sampai janur kuning melengkung." Mita mengerutkan dahi. Dilihatnya jam ditangan sudah menunjukkan pukul sepuluh,dia akan ke makam orangtuanya keburu siang dan panas.
__ADS_1
"Ayo ngomong maunya apa?" Mita mengalah,ingin menuntaskan urusannya dengan Hafiz lalu duduk dengan tenang.
"Gimana kalau kita menikah sekarang juga?" Mita terkejut dan bengong.
"Iya kita menikah sekarang." dia kembali meyakinkan.
Keplaaak....
Selain memukul Bu Indah juga menjewer kuping anaknya karena kesal setengah mati....
"Aw...Aw....apaan sih ma...sakit lah...." protesnya tidak terima. Bu Indah mendelik.
"Kamu kira nikah main-main enteng sekali kamu bicara,gak ingat Tuhan kamu yah....bisa yah asal bicara...."
"Kamu bukan anak kecil,minta nikah kaya minta jajan,kamu pikir apa huh...." Bu Indah murka dengan kelakuan putranya.
"Aku cinta dia Ma jadi aku berusaha mendapatkan dia...." suaranya meninggi karena emosi.
"Maksud kamu berusaha dengan memaksa...."
"Aku gak memaksa.....aku berjuang sampai akhir...."
"Itu bukan berjuang tapi memaksa...." teriak Bu Indah dengan kesal. Keduanya saling berteriak dan Mita kebingungan,tidak suka dengan situasi ini.
"Aku masih punya hak untuk berjuang karena aku punya kualitas...." ucapnya dengan lantang,Bu Indah tersenyum mengejek.
"Kualitas...." Bu Indah menatap remeh.
"Kualitas pemarah maksudnya?" Hafiz mendengus.
"Aku anak mama bukan sih?" pertanyaan menyudutkan,Bu Indah memegang pelipis,mengibaskan tangan dengan memalingkan muka berusaha mengontrol emosi.
"Terserah....kamu memang anak keras kepala."
"Teruslah berjuang dengan semua keegoisan dan keras kepalamu tapi kamu tidak bisa mengalahkan takdir Allah...." Bu Indah memejamkan mata,mengatur napas.
"Ayo....jangan pedulikan dia!" ditariknya tangan Mita untuk pergi dan Hafiz kembali menghadang. Bu Indah menatap tajam ke arahnya.
"Minggir!" Hafiz diam.
"Minggir!" suara Bu Indah tegas dan Hafiz menggeleng.
__ADS_1
"Minggiiir mama bilang!" kesabaran Bu Indah habis,didorongnya badan anaknya lalu melewati Hafiz begitu saja.
"Mamaaaaa....." teriak Hafiz frustasi.