
Perut kenyang pikiran pun jadi tenang,terasa aliran negatif didorong keluar dari tubuh oleh aliran positif yang tengah mengambil alih di seluruh tubuh ditambah suara azan Maghrib berkumandang sebagai panggilan untuk umat muslim melupakan sejenak urusan dunia untuk kembali menghadap sang pencipta, sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang diperoleh.
"Alhamdulillah...panggilan dari Allah sudah datang. Musholanya ada dimana?"
"Ayo ikuti aku!" Yahya sudah seperti pemandu wisata dari tadi disuruh menunjukkan lokasi tujuan Mita.
Sampai dimushola langsung menuju tempat wudhu sambil berjalan pelan. Setelahnya masuk ke mushola mengenakan mukena yang dibawa dari rumah dan melihat Yahya yang baru masuk langsung mengambil tempat didepannya.
"Jamaah yah!" bukan pertanyaan tapi perintah,Yahya terlihat bingung. Dia mengambil tempat didepan bukan berniat menjadi imam hanya saja sudah semestinya seorang pria saf nya di depan.
"Aku belum siap jadi imam." Mita tersenyum.
"Bisa diartikan kak Yahya juga belum siap menjadi seorang suami." Yahya tertohok dengan perasaan gamang. Ini seperti tantangan untuknya disaat dia belum yakin bisa.
"Seorang suami kan kepala rumah tangga,pemimpin dalam rumah tangga. Belajar dong kak,memang mau sampai kapan belum siap?" Yahya tersentak kemudian menarik napas panjang lalu menghembuskan pelan.
Mengucap basmalah,berdiri dengan benar dengan pandangan ke bawah,memusatkan pikiran hanya kepada Allah,melafalkan niat sebagai imam yang masih bisa didengar Mita dengan senyuman penuh arti lalu takbiratul ikram. Tak berapa lama mereka selesai menjalankan sholat dengan zikir dan doa yang khusuk.
"Alhamdulillah..." Yahya menoleh dengan mengernyitkan dahi saat melihat Mita yang menahan senyum sambil melirik lalu melengos.
"Gimana rasanya jadi imam untuk pertama kali,apakah deg-degan?" goda Mita sambil berusaha menahan diri untuk tidak tertawa.
"Kok kita kaya suami istri sholat berjamaah berdua." tidak nyambung,Mita ngomong apa Yahya jawabnya apa. Ini namanya senjata makan tuan,niat bikin orang malu malah sendirinya yang malu. Terlihat Mita yang seperti malu tapi ditahan,aneh jadinya tampak kaku dan membuat Yahya tertawa.
"Aku mau pulang!" tiba-tiba saja pamit pulang,Yahya mengira Mita ngambek.
"Sudah malam." jelas Mita singkat mematahkan pikiran Yahya yang mengira dia marah.
"Terus masalah sertifikat?" Mita menggelengkan kepala.
"Serahkan sama Allah. Asal jangan lupa menagih kak Dani." Yahya mengangguk paham. Akhirnya semua berakhir damai dan tanpa kesedihan. Semuanya akan berjalan lebih mudah saat mengingat Allah SWT.
"Makasih untuk makanannya semoga jadi amal ibadah,assalamualaikum...." sambil tersenyum,Mita langsung melesat keluar siap kembali ke rumah.
"Waalaikum salam...hati-hati!" Mita hanya membalas dengan anggukan kepala.
Sampai dirumah justru Dani yang merasa aneh melihat kedatangan adiknya yang tampak tenang dan menyapanya ramah dengan senyum terkembang seperti biasanya. Sejak tadi dia sudah menyiapkan rentetan jawaban sambil menerka-nerka pertanyaan yang akan Mita lontarkan,sampai dia bergumam sendiri seakan sedang menjawab pertanyaan dari Mita,padahal orangnya belum ada.
"Nih tadi dibungkusin makanan sama kak Yahya katanya buat emak!" seperti dilambungkan lalu dihempaskan dengan kuat,harapannya langsung pupus. Mengira untuknya ternyata dibelakang buat emak. Mita membuka bungkusan,sengaja pamer ingin memperlihatkan isinya sambil melirik ke arah Dani yang sedang makan malam dengan tatapan seperti ingin tahu dan terbelalak saat melihat isinya. Keinginan yang tertahan.
__ADS_1
"Emak sini deh ini lihat dapat titipan dari kak Yahya,makanan enak Mak!" memanggil emak yang sedang mencuci piring.
"Tunggu neng tanggung mau selesai." sebetulnya Dani pengen ikut mencicipi tapi gengsi untuk meminta sedangkan dia merasa sudah melakukan kesalahan fatal dan tidak termaafkan. Mita tersenyum puas,semudah itu membuat Dani seperti mati kutu,tidak bisa berkutik tanpa harus berteriak marah.
Kebiasaan orang tua,tangan basah habis cuci piring main elap dibaju tidak bisa dihilangkan. Mita hanya bisa memaklumi.
"Duduk Mak!" Mita menarik kursi untuk emak dan mempersilahkan duduk. Emak baperan langsung terharu diperhatikan seperti itu.
"Itu apa neng?"
"Kepiting asam manis." dahi emak mengerut bingung mendengar makanan yang jarang ia dengar.
"Apa itu neng?"
"Hidupnya kaya udang hanya cangkangnya keras tidak bisa dimakan. Nih Mita ambilin dagingnya!" Menyisihkan cangkang kepiting ke piring lain sedangkan dagingnya disimpan ke piring emak yang masih kosong.
"Mau diambilin nasi Mak?"
"Emak ambil sendiri." lalu emak menyendok nasi ke piringnya dan mulai makan.
"Pake bumbunya Mak itu enak banget. Maaf yah Mak tadi itu Mita pesen tapi masih banyak jadi aja dibawa pulang,sayang kalau dibuang. Bukan sisa kok Mak,aku makannya dipiring lain."
"Ternyata tadi ditambahin ayam goreng Mak sama kak Yahya padahal sudah aku tolak malah sembunyi-sembunyi."
"Gak muat neng perut emak biar dimakan mas Dani." Dani tampang senang,sudah bersiap akan mencomot tapi urung setelah mendengar ucapan Mita selanjutnya.
"Yah jangan dong ini amanah dari kak Yahya bisa buat makan emak besok." Dani langsung menyudahi makannya dengan muka marah. Tanpa banyak bicara dia membawa piring bekas makan ke tempat cuci piring dan ingin meninggalkannya.
"Tolong dicuci sendiri piringnya kasihan emak sudah tua,sudah malam juga harus segera istirahat!" Dani mencuci piringnya lalu pergi dengan muka ditekuk. Emak hanya menyimak saja tapi beliau bisa mengira yang sedang terjadi. Beliau mulai memahami sifat Mita yang tidak akan keterlaluan sama orang kecuali orang itu melakukan kesalahan.
"Kenapa neng?" tanya emak sambil berbisik setelah Dani masuk ke kamarnya.
"Kak Dani menggadaikan sertifikat rumah ini." emak tersentak kaget.
"Hah...ke siapa?"
"Alhamdulillah ke kak Yahya." emak bernapas lega.
"Jadi tadi ke sana......" Mita mengangguk.
__ADS_1
"Berapa?"
"Tiga puluh juta."
Percakapan terhenti ketika tiba-tiba Dani kembali duduk dimeja makan dengan pandangan menunduk.
"Dek tiga hari lagi kakak menikah." bukan Mita yang terkejut tapi emak.
"Kenapa buru-buru harusnya kan lamaran dulu baru menikah?" Mita hanya menyimak.
"Kalau kelamaan perutnya akan kelihatan." emak dan Mita saling berpandangan.
"Hamil maksudnya mas?" Dani kembali mengangguk.
"Haah...kok bisa? Kapan?" Mita tepuk jidat,emak los kontrol pakai nanya kapan?
"Sudah Mak gak penting kapan kejadiannya." sela Mita tanpa sadar menikmati cangkang kepiting tanpa daging sambil menyeruput bumbu-bumbu yang masih melekat,terdengar keras dan nyaring. Itu adalah upayanya untuk meluapkan perasaan marah dan sakit hati yang langsung merasuk detik itu juga sekaligus menutupi perasaan.
"Apaan sih dek ini serius."
"Siapa bilang aku main-main,sayang sama bumbunya." kilahnya dan bikin geregetan yang mendengar. Terus menyeruput dan mengemut sampai habis.
"Aku mau minta tolong untuk persiapannya!" Mita mengangkat alisnya.
"Kenapa sih kalau butuh baru inget ngomong minta tolong?" terdengar nyolot. Siapa yang tidak marah jika serasa dimanfaatkan saat butuh bantuan?
"Kira-kira kakak marah gak kalau aku giniin?"
"Iya maaf."
"Maaf gak cukup kak...ini pernikahan kakak jadi urus sendiri lagipula aku gak ngerti soal beginian."
"Tolonglah dek ini cuma nikah siri untuk menutupi kehamilan dia karena kami belum sempat mendaftarkan diri ke KUA!"
"Yah percuma kalau gitu,nikah yang sah nanti bayinya lahir butuh buku nikah untuk akte kelahirannya."
"Mending diundur supaya bisa nikah sah,gimana sih?" Dani garuk kepala yang tidak gatal.
"Bingung kan? Makanya bikin anak dipikir dulu! Bikin anak bisa dadakan nikah gak bisa dadakan,banyak yang harus diurus selain mendaftar ke KUA juga itu barang seserahan,semua pake uang." cibir Mita dengan kejam dan sadis. Saat ini dia merasa berdosa sekaligus menyesal tapi puas bisa meluapkan unek-uneknya. Terkadang untuk menyadarkan orang bisa menggunakan cara tidak peduli sama sekali dan biarkan yang berbuat yang bertanggungjawab dengan semua resikonya.
__ADS_1
"Ayo Mak kita tidur!" Mita menarik emak ke kamarnya karena dia sebetulnya ingin tidur bersama emak. Dia butuh seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya untuk sedikit mengurangi beban dihatinya.