
Semua sudah selesai dikerjakan kini dia bingung harus apa lagi. Memandang ke depan dilihatnya Dani sibuk main hp tanpa mempedulikannya dengan muka kesal. Ngambeklah itu,Mita menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala. Heran sama kelakuan kakaknya cowo kok ngambekan.
Naik ke tempat tidur tapi serasa menjadi orang pesakitan padahal dia kan sudah sehat,segar dan bugar jadinya turun lagi. Terus duduk dikursi sambil main hp,hanya itu yang bisa ia lakukan malah tidak ada mood terasa bosan. Dani meliriknya jadi heran tapi malas menanggapi.
Matanya memandang ke arah pintu mengharapkan kehadiran beberapa orang,suster atau dokter memeriksa kesehatannya lalu dia akan bertanya kapan bisa pulang dengan muka penuh harap menantikan jawaban 'sekarang' hanya itu...
"Pagi...!" tiba-tiba saja ada yang datang mengagetkan Mita hingga terlonjak tapi langsung tersenyum senang seperti keinginannya.
"Wah...sudah cantik dan segar sudah mandi nih ceritanya pengen pulang ya?" Mita mengangguk semangat dengan mata berbinar.
"Sudah rapi kamarnya sudah gak sabar pengen pulang nih!" sambung suster melihat ruangan tampak rapi.
"Iya suster." jawabnya dengan malu-malu. Melihatnya suster jadi tertawa.
"Apa bisa pulang hari ini suster?" tanyanya ragu dengan muka cemas,ada perasaan takut tidak bisa pulang hari ini sedangkan dia ingin sekali pulang sesegera mungkin.
"Ahahahaa...insya Allah ini diperiksa dulu kalau hasilnya bagus bisa pulang kok." Mita tersenyum kecut,masih menunggu lagi alamat bosan habis apalagi kalau sendirian tidak ada yang menemani. Membayangkan hal itu ia jadi murung.
"Hari ini kan hari minggu otomatis dokternya libur jadi boleh pulang setelah nunggu keputusan dokter..." suster itu tersenyum sudah biasa melihat ekspresi para pasien yang merasa bosan selama dirawat dirumah sakit. Sudah biasa pula mendengar rengekan para pasien yang pengen bisa cepet pulang.
"Haah..." Mita terperangah,makin lemaslah dia mendengar ucapan suster.
"Jadi harus nunggu dokter dulu!" tanyanya dengan muka sedih.
"Iya..."
"Bisa gak usah nunggu keputusan dokter suster saya akan bertanggung jawab dengan diri saya sendiri? Saya sudah sehat kok gak ada keluhan sama sekali." ucapnya meyakinkan,sungguh dia tidak bisa membayangkan tinggal dirumah sakit lebih lama lagi. Suster itu menggelemah lemah dengan tatapan prihatin.
"Nanti coba saya hubungi dokter Shiela kalau diijinkan pulang hari ini langsung dikabari." ini seperti sedang membujuknya,dikira anak kecil kali.
"Ini hasilnya sudah normal semua kok jadi jangan terlalu dipikirnya nanti sakit lagi. Di bawa happy aja boleh kok kalau mau jalan-jalan keluar sekalian berjemur bagus untuk kesehatan...bisa sama masnya." suster itu melihat ke arah Dani seperti meminta persetujuan.
"Kasihan adiknya mas pasti bosan." sambung suster itu sambil merapikan alat-alat yang digunakan memeriksa Mita.
"Saya permisi ya...tenang nanti langsung dikabari ok." suster itu seperti memberi harapan palsu karena belum ada kejelasan. Mita menarik napas panjang.
"Pantesan kakak santai hari Minggu toh..." ucapnya malas.
"Ayok jalan-jalan!" Dani mengalah,mengikuti kemauan adiknya. Sebetulnya kasihan juga sama adiknya.
Mita berjalan mendahului diikuti Dani dibelakang. Kini dia sudah bisa tersenyum lebar,pikirannya juga terasa bebas mungkin karena melihat tembok terus beberapa hari ini jadi semua nampak dibatasi kurang leluasa.
"Dek pelan-pelan dong jalannya fokus...fokus!" protes Dani kesal dan menekan ujung kalimatnya. Pasalnya dia takut adiknya jatuh. Dari tadi jalan tapi memandang ke semua arah.
__ADS_1
"Eeee...maaf!" Dia bergerak mundur dengan kedua tangan ke depan seperti bertumpu saat tanpa sengaja akan menabrak seseorang lalu bernapas lega malapetaka tidak jadi menghampiri.
"Eh...gimana sih gak lihat-lihat hampir nabrak orang kan?" gerutunya kesal,Mita santai saja cuma nyengir. Dia terus berjalan menuju taman rumah sakit yang ternyata ditanami bunga mawar,cantik sekali penuh warna. Sedang mekar-mekarnya. Matanya langsung terbelalak dengan senyum terkembang. Dia tertarik untuk mencium baunya.
"Eh...kok gak wangi sih!" senyumnya langsung pudar berganti dengan dahi mengernyit saat hidungnya mencoba menghirup bau bunga tapi tidak tercium wanginya. Mengamati seksama pohon mawar didepannya.
"Bukan mawar lokal ini mah import setahuku mawar lokal wangi baunya...cuma dua warna merah sama pink doang." sambil terus mengamati bagian daun dan batang.
"Daunnya lebih besar dan gak terlalu bergerigi eh gak berduri...." dia tampak terkejut.
"Bukannya mawar lokal berduri ya?" tanyanya pada diri sendiri sambil berpikir keras.
"Ini bermacam-macam warna ada kuning,pink candi ini kalau gak salah...wow ada yang campur warnanya subhanallah bisa eksotik gini warnanya." teriaknya dengan rasa kagum dan senang membuatnya hilang akal tidak sadar lingkungan. Dani menarik napas panjang melihat sikap adiknya.
"Apaan sih dek ngomong sendiri pake teriak-teriak gak jelas ntar dikira orang gila." protes Dani dengan muka kesal karena tahu sejak tadi diperhatikan orang-orang sekitar,malu jadinya. Mita mengangkat alis tak peduli.
"Kak ini ngomongin bunga mawar kakak suka yang mana?" tunjuknya satu persatu pada bunga mawar didepannya. Dani menghela napas merasa aneh sama pertanyaan adiknya. Laki-laki kok disuruh milih bunga.
"Gak ah aku gak suka bunga kecuali bunga bank." jawab Dani sambil tersenyum cengengesan. Mita langsung melotot lalu mendelik kesal.
"Sekarang masih suka bunga bank coba nanti kalau sudah jatuh cinta sampe mati sama perempuan pasti nyarinya bunga beneran buat dikasih sama pujaan hati." cibirnya sambil menatap sinis tapi Dani malah meremehkan seperti tidak akan pernah tertarik sama yang namanya perempuan.
"Aku kasih tau ya kak gak boleh suka sama bunga bank riba itu..." ucapnya sewot dan dibalas dengusan.
"Kapan?" tanyanya dengan dahi berkerut. Seingatnya ia mengambil bunga bank untuk dibagikan pada orang yang pantas menerima. Sempat terpikir ingin menyimpan uang dibank syariah yang katanya lebih amanah dalam hal bunga kan dilarang oleh agama islam jika ada riba sedangkan kalau disimpan dirumah juga tidak aman tapi rupanya hanya namanya saja syariah nyatanya sama saja. Setelah mensurvei pajak dan bunganya beda dikit terus jauh dari rumah. Paling malas sama yang jauh-jauh. Tidak tahu dosanya segimana hanya berupaya melakukan semampunya.
"Dulu pas masih sekolah bapak ninggalin tabungan itu bunganya kakak ambil beberapa bulan sekali buat tambahan pengeluaran sehari-hari." perasaannya langsung campur aduk antara merasa berdosa memakan uang riba dan tidak berdaya juga karena dulu sama-sama tidak tahu. Mau marah tapi sama siapa?
"Ingat gak dulu berapa jumlahnya?" Dani terlihat bingung lalu menggeleng pelan. Mita terduduk lesu,merasa sedih. Kemudian menarik napas panjang.
"Insya Allah deh nanti uangnya aku ganti terus kasih sama orang yang membutuhkan. Semoga Allah mau mengampuni dosa kita memakan uang riba." ucapnya tertunduk sedih. Kembali menatap bunga mawar yang berjejer didepannya jadi ingat obrolan sebelumnya.
"Ini aku serius mau dijadiin referensi buat jualan bunga mawar,suka sama warnanya cantik." paksanya Dani menatap malas.
"Anggap aja mereka perempuan,kakak suka yang mana?" Mita mengajak Dani berimajinasi membayangkan bunga mawar seperti perempuan.
"Ada-ada saja kamu mana bisa perempuan disamakan dengan bunga mawar. Bodinya aja jelas beda,gak lurus kaya batang bunga mawar apalagi mawar kan berduri bisa digebukin kalangan perempuan kalau mereka denger disamakan bunga mawar." protesnya lagi. Mita menghela napas,susah bicara sama kakaknya.
"Siapa yang nyuruh nyamain bodi aku juga gak sudi aku mintanya mengibaratkan kecantikan bunga mawar sebagai perempuan menurut kakak mana yang menarik buat kakak..." ucapnya geram dengan gerakan seperti ingin mencekik saking kesalnya.
"Buruan pilih warna yang kakak suka?" Dani langsung berpikir.
"Huh...disuruh milih warna bikin rusuh jadi kemana-mana ngomongnya...ngeselin." omelnya membuat Dani memasang tampang kesal.
__ADS_1
"Bisa diem gak lagi mikir nih!" ucapnya ketus. Mita diam memilih menyabarkan hati.
"Aku dulu suka warna kalem tapi sekarang aku suka tantangan aku pilih merah." sambungnya percaya diri. Mita melongo melihat kepercayaan diri kakaknya yang lebih mendekati kesombongan.
"Merah dari suku mana?" tanyanya membuat Dani garuk kepala. Dia mana tahu suku bunga mawar setahunya suku bunga bank.
"Maksudnya suku lokal apa import?" Dani semakin bingung.
"Mawar lokal cantik,wangi tapi berduri dan gampang layu dan gugur kelopaknya sedangkan mawar impor lebih banyak warnanya,besar bunganya,lebih tahan lama, gak gampang layu,gak gampang lepas dari tangkainya,gak berduri tapi gak wangi." jelasnya panjang lebar sebelumnya pernah gogling di internet jadi tahu banyak. Tidak menyangka jika didalam negeri sudah jadi primadona untuk mempercantik taman.
"Kamu jelasin sampe detail gitu memusingkan...pikir sendirilah." mukanya tampak kesal.
"Nih aku jelasin lebih gamblang!"
"Bunga mawar jika digambarkan menurut pendapat aku nih ya kalau mawar lokal dia tu ibarat cewe yang cantiknya natural tanpa operasi alias perkawinan silang sama jenis lain,berduri bukan berarti dia galak hanya saja sebagai perlindungan orang boleh menikmati keindahan warnanya,wanginya tapi dia menolak diambil tanpa tujuan baik buktinya banyak yang terluka saat ingin memetiknya asal sampe ngilu kan kena durinya." jelasnya sambil membayangkan bunga mawar menurut versinya. Dani mencebik.
"Heh...analisismu dek kelewatan!" Dani melirik sambil tersenyum sinis.
"Petik bunga mawar pake sarung tangan pasti aman gitu aja kok masyalah." dengusnya sebal. Mita mengangkat alis.
"Justru itu orang yang pake sarung tangan identik dengan sikapnya yang hati-hati dan gak pengen menyakiti bunga mawar supaya apa...supaya pohonnya tetap bisa tumbuh subur dan bisa menikmati bunga lain yang akan tumbuh nanti. Perasaannya halus dan menyanyangi." sanggahnya berapi-api
"Halah kaya apa aja..." balas Dani meremehkan. Mita melotot lagi tidak habis pikir sama pikiran kakaknya.
"Kakak ini tipe orang yang hanya menikmati dan gak mau memahami alias gak pengertian..." tembaknya dan Dani melengos kesal,tidak menerima tuduhan adiknya.
"Ngarang kamu bahas bunga kok pake fitnah orang..." jawabnya ketus.
"Lanjut deh sama mawar import!" merasa tersudutkan Dani mengalihkan fokus pembicaraan.
"Mawar import ibarat cewe yang sudah oplas cantik sih,mempesona dari jauh tapi begitu didekati gak menarik karena gak wangi kaya cewe kalau gak wangi atau bau pasti kakak gak mau deket kan meski banyak kelebihan lain kaya tahan lama dan satu lagi aku gak suka gak punya duri artinya gak bisa melindungi diri sendiri,senang menonjolkan kecantikan biasanya suka klepek-klepek digombalin cowo dinikmat setelah itu dibuang begitu saja kaya barang gak terpakai." gambaran yang menyedihkan padahal hanya tanaman tapi bisa diartikan sepanjang itu.
"Bahasa mu dek anak siapa sih kamu?" Dani menjewer pipi adiknya sambil digerakkan ke kiri dan ke kanan gemas yang langsung ditepis sama tangannya.
"Terus kamu sendiri mau jadi yang mana?" Mita tersenyum licik.
"Aku..." tunjuknya pada diri sendiri sambil menjeda seakan ingin Dani semakin penasaran dengan ucapan selanjutnya,main tarik ulur biar semakin mendebarkan dan mengasikkan.
"Aku gak mau jadi keduanya karena aku manusia berakal tentu saja gak mau disamakan sama mawar memilih jalan lurus dong sesuai perintah Allah dan mereka kan tanaman gak berakal hanya bisa pasrah mau diapakan saja sama manusia.....hahaha...." puas sekali dia,ternyata semenyenangkan ini mengerjai kakaknya. Semakin kesal kakaknya semakin senang dia,sangat puas.
"Ayo balik ke kamar...hihihi..." ucapnya masih sambil terkikik geli. Dani mendengus kasar.
"Dosa kamu ngerjain kakak....." Mita tepuk jidat,ia lupa dan terbuai oleh suasana sehingga lepas kendali.
__ADS_1
"Ya Allah ingat Mita katanya mau berubah lebih baik kok seneng,bahagia membuat saudara sendiri kesal......ya Allah ampuni dosaku!" ucapnya dalam hati.