LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
SICK


__ADS_3

Hari berganti hari ternyata cepat juga tiba waktunya dimana hari pernikahannya Hafiz dan juga Khansa dilaksanakan.


Tadi Hafiz dengan lancar sudah mengucapkan ijab kabul atas namanya Khansa tepat dijam sembilan pagi.


Tidak cuma Hafiz dan juga Khansa saja yang merasa sangat bahagia sekali, Ayah Fikri dan Ayah Mirac pun mereka berdua juga sangat bahagia sekali, karena persahabatan mereka bisa terjalin hingga sekarang menjadi besan.


"Sungguh sayang hari ini Mas sangat bahagia sekali", kata Hafiz kepada Khansa yang sedang duduk dipanggung pelaminan sambil mencium keningnya Khansa.


"Aku juga Mas, tidak menyangka aku akan menikah secepat ini dengan sama Mas Hafiz pula", jawab Khansa kepada Hafiz dengan tertawa kecil.


"Terus maksud kamu, Yunda mau menikah sama orang lain begitu? ", kata Hafiz dengan sedikit cemberut kepada Khansa.


"Bukan begitu suamiku, maksudnya kemarin jika kita tidak bertemu kembali diperusahaannya Nona Kia, mungkin sekarang aku belum menikah, dan sungguh Mas Hafiz adalah laki-laki pertama yang kukuh dalam pendiriannya ketika mendekatiku, serta tidak Yunda sangka juga, ternyata Mas Hafiz adalah laki-laki yang dulu sangat Yunda sukai", jawab Khansa sambil melihat kearahnya Hafiz yang hari itu sangat tampan sekali karena baju pengantin yang dipakainya dan juga sambil memegang tangannya Hafiz dengan lembut dan mesra.


Membuat para tamu undangan yang melihat kemesraannya Hafiz dan juga Khansa mereka menjadi Baper terutama para kaum jomblowan dan jomblowati.


"Mas sudah tidak sabar untuk nanti malam bersamamu sayang", goda Hafiz kepada Khansa. Membuat Khansa langsung tersipu malu dibuatnya.


"Eheeem, sabar nanti juga ada saatnya", kata Aulian yang tiba-tiba sudah diatas panggung pelaminan, membuat Hafiz dan Khansa langsung berdiri dari duduknya.


Hafiz yang mendengar perkataannya Aulian dia hanya tertawa saja, sedang Khansa dia malu kepada Aulian.


"Eh Bro Aulian, terimakasih sekali sudah menyempatkan datang kepesta sederhanaku ini dan terimakasih juga atas hadiah yang kemarin kamu kirimkan ke aku serta Khansa", kata Hafiz kepada Aulian.


"Sama-sama Fiz, semoga sakinah, mawadah, dan warrohmah", kata Aulian sambil memeluk Hafiz dengan gaya laki-laki. Setelahnya Aulian mengucapkan selamat kepada Khansa dengan saling menangkupkan kedua telapak tangan masing-masing didada mereka.


"Tuan Hafiz selamat ya, tolong jaga Khansa dengan baik ya Tuan, walau Khansa orangnya galak, akan tetapi dia baik ko aslinya", kata Zahra kepada Hafiz dengan tertawa kecil sambil melirik Khansa yang juga sedang melototkan matanya kepadanya Zahra.


"Tenang saja, walau dia galak, dia tetap sebagian dari tulang rusukku ko Zahra", jawab Hafi kepada Zahra, sambil menggoda Khansa, membuat Khansa tersenyum senang mendengarnya.


"Sudah jadi seorang istri jangan galak-galak lagi ya Sa sama Tuan Hafiz, walau sikapnya sebelas dua belas dengan Abang Aul, dan lebih parah dia Tuan Hafiz tetaplah suami kamu", kata Zahra kepada Khansa sambil bercipika cipiki khas perempuan.


Hafiz yang mendengar perkataannya Zahra dia lalu tertawa keras sekali dan langsung saja mengalihkan pandangannya semua orang kearahnya Hafiz.


Sedang Aulian dia masih setia menunggu didekatnya Khansa, dan Aulian juga tertawa mendengar perkataannya Zahra kepada Khansa.


"Siap ustadzah Zahra, dan semoga kamu secepatnya menyusul kita ya sama Tuan Aulian", jawab Khansa kepada Zahra yang juga tertawa sama seperti Aulian ketika mendengar perkataannya Zahra tadi.


Setelah mengucapkan selamat Zahra langsung turun dari panggung pelaminan untuk bergantian dengan para tamu undangan yang lain.


Zahra dan Aulian mereka datang diacara pesta resepsinya Hafiz dan juga Khansa sekitar pukul setengah sebelas siang, karena Zahra tadi harus menemani Kia terlebih dahulu untuk meeting dengan para Koleganya.

__ADS_1


Zahra dia datang bersama Aulian menggunakan pakaian batik couple yang mereka beli kemarin dimall sekalian membeli kado untuk Hafiz dan juga Khansa.


Zahra dan Aulian mereka terlihat sangat serasi sekali. Kado yang dibelikan Zahra untuk Hafiz serta Khansa sudah Aulian kirimkan kemarin kekantornya Hafiz satu hari sebelum acara pernikahannya Hafiz. Sekalian juga Aulian memberikan tiket liburan untuk Hafiz dan juga Khansa.


Zain dan Ameera sendiri mereka datang kepesta pernikahannya Khansa dan juga Hafiz sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Aulian yang mengetahui jika Zain juga ingin datang kepesta pernikahannya Hafiz serts Khansa, Aulian langsung saja mengijinkan Zain ketika Zain datang keruangannya untuk meminta ijin kepadanya.


Aulian dan Zahra mereka sedang asik sambil menikmati acara dan juga menikmati hidangan yang disediakan. Setelah dirasa cukup lama Zahra mengajak Aulian untuk pulang.


"Abang kita pulang yuk", ajak Zahra kepada Aulian.


"Iya ayo, sudah cukup lama juga kita disini Zahra", jawab Aulian kepada Zahra.


Akhirnya setelah berkata seperti itu Zahra dan Aulian mereka beranjak berdiri dan pergi dari pesta resepsinya Hafiz dan Khansa.


Aulian yang melihat Zahra dari awal masuk kedalam mobil, hanya diam saja sambil terus memejamkan matanya membuat Aulian menjadi khawatir.


"Kamu tidak apa-apa Zahra", tanya Aulian kepada Zahra ketika memberhentikan sejenak mobilnya dipinggir jalan.


"Tidak apa-apa Bang, hanya pusing sedikit kepalanya", jawab Zahra masih dengan memejamkan matanya.


"Kita beli obat ya, atau kita mampir dulu kerumah sakit atau klinik terdekat ya Zahra", kata Aulian kepada Zahra dengan nada yang sangat khawatir sekali.


Memang Zahra sudah merasakan badannya kurang fit sejak tadi pagi ketika bangun tidur. Zahra dua sampai tiga hari belakangan ini memang sering melembur dan mengerjakan pekerjaannya dirumah hingga pukul tiga dini hari.


Hingga Zahra sampai melupakan jam makannya, jikalaupun jam sholat Zahra hanya sholat saja dan setelahnya dia langsung melanjutkan lagi pekerjaannya yang sedang dikejar deadline itu. Karena pekerjaannya Zahra sudah ditunggu oleh Kia untuk dipelajari lebih lanjut, karena itu adalah berkas kerjasama dari beberapa Perusahaan yang baru saja disetujui oleh Kia kemarin.


Aulian yang mendengar perkataannya Zahra dia langsung saja menjalankan lagi mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan yang cukup kencang.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Aulian dan juga Zahra sampai juga dirumah yang ditempatin oleh Zahra.


"Zahra masuk dulu ya Abang, apakah Abang ingin mampir dulu?? ", kata Zahra kepada Aulian sambil menahan rasa pusing dikepalanya.


"Tidak perlu Zahra, Abang akan kembali lagi kekantor sebentar, Zahra istirahat saja ya nanti biar Abang bilang sama Kak Kia", kata Aulian kepada Zahra.


Zahra hanya mengangguk saja kepada Aulian sambil tersenyum setelah itu Aulian dia masuk lagi kedalam mobil, seperti biasanya Aulian akan membunyikan klakson dengan suara kecil ketika akan pergi dan Zahra dia lalu melambaikan tangan kepada Aulian.


"Halo Assalamu'alaikum Aulian, ada apa tumben menelfon Kakak?? ", tanya Kia ketika sudah menerima sambungan telefonnya Aulian.


Aulian ketika sudah keluar dari rumahmya Zahra, dia langsung menepikan mobilnya sebentar dipinggir jalan tepat didepan rumahnya Zahra. Aulian lalu mengambil ponselnya dan menelfon Kia, Kakak Iparnya.


"Wa'alaikumussalam Kak, em Zahra biar istirahat saja ya dirumah ya Kak, dia tidak bisa melanjutkan kerjanya lagi karena tadi setelah pulang dari pernikahaannya Hafiz wajah dia terlihat pucat dan katanya kepalanya juga pusing", kata Aulian kepada Kia, istri dari Kakaknya Qiyas.

__ADS_1


"Oh iya Aulian tidak apa-apa, lagi pula tadi Kakak juga sudah bilang sama Zahra setelah datang kepesta resepsinya Hafiz tidak perlu lagi datang kekantor, karena tadi juga Zahra ketika meminta ijin sama Kakak, wajahnya sudah terlihat sedikit pucat. Dan ketika Kakak tanya, apakah sedang sakit, kata Zahra dia hanya sedikit pusing dan lagi tidak enak badan Aulian", jawab Kia kepada Aulian.


"Baiklah Kak, terimakasih kalau begitu, Aul tutup dulu ya Kak telefonnya, Assalamu'alaikum", kata Aulian lagi kepada Kia.


"Iya Aul sama-sama, wa'alaikumussalam", jawab Kia kepada Aulian.


Dan setelah itu panggilan mereka benar-benar terputus. Ketika panggilan sudah terputus Aulian tidak langsung menjalankan mobil ya, akan tetapi dia berfikir sejenak tentang perkataan dari Kakak iparnya Kia.


"Masa Zahra sudah terlihat pucat dari sebelum berangkat kepesta pernikahannya Hafiz sih, tadi seingat aku Zahra wajahnya segar tidak ada pucat-pucatnya sama sekali", kata Aulian untuk dirinya sendiri sambil memainkan stir mobilnya.


Ya pantas saja jika Zahra terlihat baik-baik saja, karena tadi ketika Aulian belum menjemput Zahra datang kekantornya Kia, Zahra bercermin sejenak didalam kamar mandi dan dia memoleskan bedak tipis serta lipstik yang tipis diwajahnya, alhasil wajahnya Zahra terlihat lebih segar ketika Aulian menjemputnya.


Zahra memang sengaja bersolek dan berdandan, karena Zahra tidak mau membuat Aulian khawatir jika wajahnya terlihat pucat dihadapannya Aulian.


"Aku tidak bisa begini Zahra membuatku khawatir sekali", kata Aulian untuk dirinya sendiri sambil melihat jam ditangan kekarnya.


"Ingin aku kembali masuk kedalam lagi, tapi ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan sekarang juga", kata Aulian dengan sedih sambil memandangi tembok pagar rumahnya Zahra.


"Baiklah akan secepatnya aku selesaikan pekerjaanku, agar aku bisa cepat kesini lagi dan melihat kondisinya Zahra", kata Aulian lagi dan dia langsung saja mengendarai mobilnya menuju kekantornya.


Sesampainya dikantor sekitar pukul dua siang, Aulian sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi, Aulian langsung menunaikan kewajibannya terlebih dahulu yaitu sholat dhuhur, setelahnya Aulian langsung saja larut dalam pekerjaannya tanpa mengganti baju batiknya terlebih dahulu yang tadi dia pakai diacara pesta pernikahannya Hafiz.


Aulian begitu larut dalam pekerjaannya hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aulian yang teringat belum melaksanakan sholat ashar, dia langsung saja menunaikan sholat dahulu sebelum pulang.


Ketika Aulian baru saja selesai sholat ashar Aulian dikejutkan dengan suara dering ponselnya yang dia taruh diatas meja kerjanya.


"Ini kan nomor telefon rumahnya Zahra, ada apa ya tumben Zahra menelfonku menggunakan telefon rumah", kata Aulian sebelum mengangkat sambungan telefonnya.


"Halo Assalamu'alaikum Zahra, tum........ ", perkataannya Aulian terputus ketika Aulian mendengar perkataan dari orang yang menelfonnya.


"Halo Tuan Aulian, Wa'alaikumussalam ini Bibi Tuan, anu Tuan Non Zahra badannya panas sekali Tuan, dan sekarang Non Zahra sedang pingsan", kata pembantu dirumahnya Zahra dengan terburu-buru dan dengan nada suara yang sangat khawatir sekali.


Sungguh perkataan dari Bibi membuat Aulian seperti jantungan, karena dia terkejut sekali hingga tanpa sadar dia berteriak dengan keras sekali, membuat Indra yang meja kerjanya tidak jauh dari ruangannya Aulian langsung saja masuk keruangannya Aulian, karena mendengar teriakannya Aulian.


"Apaaaaaaaaa!!!!!!!! ", teriak Aulian dengan begitu kerasnya ketika mendengar perkataan dari Bibi.


"Tuan Aulian ada apa?? ", kata Indra ketika langsung masuk keruangannya Aulian dengan nada yang juga khawatir karena tiba-tiba mendengar teriakannya Aulian.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


***TBC***

__ADS_1


__ADS_2