
"Mayang, May, May", sayup-sayup ada suara seorant Ibu-ibu memanggil nama Mayang.
"Kamu melihat Mayang tidak??", tanya Ibu itu kepada salah seorang kerabat.
"Tidak Budhe", jawab orang yang ditanya oleh Ibu-Ibu itu.
"May", panggil Ibu itu lagi untuk kesekian kalinya.
Dan tiba-tiba ada seorang gadis langsung saja menyahut panggilannya Ibu-Ibu itu.
"May disini Bu", jawab seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dan Ibu itu langsung saja melangkahkan kakinya kearah kamar mandi, dan ketika kurang beberapa langkah lagi dekat kamar mandi keluarlah Adzriel dengan begitu gagahnya setelah melepas jas mahalnya terlebih dahulu tadi, membuat Ibu itu langsung saja menghentikan langkahnya untuk melangkah kearah kamar mandi.
"May kalian??", kata Ibu itu kepada gadis yang bernama Mayang sambil menunjuk Mayang dan juga Adzriel yang sedang berdiri dibelakangnya Mayang.
Mayang langsung saja mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk Ibunya, dan ketika melihat Adzriel dia langsung bingung dan takut jika Ibunya akan salah sangka kepadanya.
"Maaf Ibu ini tidak seperti yang Ibu kira", kata Adzriel yang faham akan maksud dari Ibunya Mayang.
"Suara Omnya enak didengar ditelingaku", kata Mayang reflek ketika mendengar suaranya Adzriel.
Ibunya Mayang langsung saja memukul kecil bibirnya Mayang, sedang Adzriel dia menahan senyumnya ketika mendengar perkataannya Mayang.
"Iya Ibu ini tidak seperti yang Ibu kira, kami tidak sedang berbuat apa-apa, tadi hampir saja berciuman tapi tidak jadi karena Mayang teringat dengan Ibu jika Mayang mempunyai seorang Ibu yang sangat galak kepada Mayang", jawab Mayang dengan polos dan aneh kepada Ibunya, membuat Adzriel sekuat tenaga menahan suara tawanya
ketika mendengarnya.
"Iish dasar anak ini", kata Ibunya Mayang kepada Mayang sambil menjewer telinganya Mayang yang tertutup oleh hijab itu.
"Maaf Bu, tadi adik ini tadi tidak sengaja menumpahkan es krimnya dijas saya, jadi dia hanya membantu saya untuk membersihkannya saja tadi didalam kamar mandi, dan kami tidak berbuat apa-apa tadi Bu", jawab Adzriel dengan ramah kepada Ibunya Mayang.
"Maafkan anak saya ya Tuan yang selalu ceroboh sama terlalu polos ini, padahal umurnya sudah dua puluh tahun, tapi kelakuannya masih seperti anak Tk saja", kata Ibunya Mayang kepada Adzriel.
"Iya Ibu tidak apa-apa", jawab Adzriel kepada Ibunya Mayang.
"Minta maaf kepada Tuan ini May, ayo cepetan", kata Ibunya Mayang kepada Mayang.
"Om, May minta maaf ya Om tadi tidak sengaja menumpahkan es krimnya Mayang, dan membuat Mayang tidak jadi memakan es krimnya", kata maaf Mayang yang aneh kepada Adzriel. Dan Adzriel semakin berusaha menahan suara tawanya ketika mendengar permintaan maafnya Mayang.
"Iya saya maafkan", jawab Adzriel sambil tersenyum ramah.
"Om tambah tampan ketika tersenyum", kata reflek Mayang ketika melihat Adzriel tersenyum.
"Maafkan anak saya ya Tuan, ayo ikut Ibu, buat malu saja kamu", kata Ibunya Mayang kepada Adzriel dan langsung saja menjewer telinganya Mayang sambil berlalu dihadapannya Adzriel. Dan Adzriel hanya mengangguk saja kepada mereka.
"Gadis kecil yang lucu, serta lugu dan.................", Adzriel sengaja menjeda perkataannya.
"Manis", sambung lirih perkataannya Adzriel sambil terus melihat kearahnya Mayang dan juga Ibunya yang berlalu dari hadapannya.
...πππππππππππππ...
__ADS_1
Singkat cerita, pesta syukuran pernikahannya Aulian dan juga Zahra selesai sekitar pukul satu siang. Walau masih ada sebagian Keluarga mereka dirumahnya Papah Ziyas, Aulian berpamitan sejenak kepada mereka semua untuk mengajak Zahra untuk menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu.
"Iya jika kalian mau istirahat juga tidak apa-apa ko Aul, kita memaklumi", kata Bunda Lili mewakili semuanya yang sedang berada diruang Keluarganya Papah Ziyas.
Dan yang lain mereka hanya tersenyum saja ketika mendengar godaannya Bunda Lili kepada Aulian.
"Baiklah jika Bunda mengijinkan, kebetulan Aul juga sudah ingin segera mempunyai baby dari Zahra", jawab Aulian kepada Bundanya sambil tertawa dan didengar oleh semua para Keluarganya yang lain.
Yang lain termasuk Papah Ziyas dan Kak Qiyas mereka tertawa semua ketika mendengar jawabannya Aulian kepada Bunda Lili, sedang Zahra dia hanya tersenyum malu ketika mendengarnya.
"Ya sudah sana sok atuh, lagi pula sudah halal juga kan, yang terpenting Zahra jangan dibuat tidak nyaman denganmu, nanti tidak dapat jatah baru tahu rasa kamu", jawab Bunda Lili kepada Aulian, dan Keluarga semua langsung pada tertawa lebih keras lagi dari yang tadi termasuk Aulian dia juga ikut tertawa mendengar perkataannya Bunda Lili, dan terutama Papah Ziyas dia tertawanya yang paling keras diantara yang lain.
"Ya sudah yuk sayang, mereka yang menyuruh kita lho", kata Aulian kepada Zahra sambil menuntun dan membantu Zahra naik keatas menuju kedalam kamarnya.
Ketika Aulian dan Zahra sudah sampai didepan kamarnya Aulian, Aulian langsung saja membuka kamarnya yang sudah didekor juga dengan sebegitu romantisnya, membuat Aulian serta Zahra yang sudah masuk kedalam kamar mereka hanya bisa terbengong sambil berdiri didepan pintu yang sudah mereka tutup dari dalam itu.
"Kamar Abang sangat cantik sekali", kata Zahra ketika melihat semua hiasan yang sengaja sudah ditata begitu cantik untuk sang pengantin baru.
"Iya sangat cantik hingga membuat Abang sudah tidak sabar untuk melakukan itu dengan istriku yang lebih cantik ini", kata Aulian menimpali perkataannya Zahra.
Membuat Zahra langsung saja tertawa kecil ketika mendengar perkataannya suaminya itu.
"Sudah Abang bersih-bersih dulu sana, nanti gantian Zahra ya, Zahra mau melepaskan dan membersihkan makeup ini dulu Bang", kata Zahra kepada Aulian.
"Baiklah istriku", kata Aulian sambil mencium keningnya Zahra.
Aulian langsung saja berlalu menuju kedalam kamar mandi yang ada didalam kamarnya, sedangkan Zahra dia berjalan kearah meja rias yang ada didalam kamarnya Aulian untuk membersihkan makeupnya dengan peralatan makeupnya yang sudah dibawanya tadi sebelum masuk kedalam kamarnya Aulian, yang sekarang sudah menjadi kamarnya juga.
Zahra yang sudah selesai membersihkan makeupnya, dia lalu mulai melepas ciput dan juga dalaman hijab yang tadi dipakainya ketika dimakeup. Ketika sudah terlepas semua, Zahra mulai menyisir rambutnya itu.
Dan waktu Zahra sedang menyisir rambutnya dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, sungguh jantung Zahra sangat deg-degan sekali karena Zahra sebenarnya masih malu sekali dengan Aulian, tapi mau bagaimanapun juga Aulian sudah sah menjadi suaminya.
Walau Zahra mendengar langkah kakinya Aulian berjalan kearahnya, Zahra tetap masih terus menyisir sambil menenangkan jantungnya yang sedang bertalu-talu itu.
Aulian langsung saja mendekati Zahra dan itu semakin membuat jantungnya Zahra makin ingin lepas saja dari tempatnya.
"Rambut kamu panjang juga ya Sayang", kata Aulian ketika sudah sampai dibelakangnya Zahra sambil memeluk Zahra dari belakang.
"Iya A.....abang, Zahra belum potong rambut dari beberapa bulan yang lalu", jawab asal Zahra kepada Aulian dengan sedikit gugup.
Aulian yang mengetahui kegugupannya Zahra dia hanya tersenyum simpul saja.
"Tidak apa-apa, Abang suka ko", jawab Aulian sambil terus menciumin pipinya Zahra, membuat Zahra semakin deg-degan dan malu bercampur menjadi satu.
Sedang Aulian dia malah asik sendiri tidak henti-hentinya menciumin pipinya Zahra, dan ketika Zahra tanpa sengaja melihat kesamping bibirnya Zahra dan bibirnya Aulian tidak sengaja saling bersentuhan.
Sontak saja jantung Aulian juga ikut berdisko ria karena terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu. Begitupun dengan Zahra, dia dan juga Aulian mereka sama-sama langsung terdiam dan saling memandang tepat dibola mata masing-masing dengan bibir mereka yang saling menempel.
"Em, Zahra mandi dulu ya Abang", kata Zahra ketika tersadar terlebih dahulu, dan dia langsung saja beranjak dari duduknya dan berlalu menuju kedalam kamar mandi sambil berlari kecil.
__ADS_1
Ketika sudah sampai didalam kamar mandi, Zahra langsung menyandarkan badannya kepintu kamar mandi, dan dia juga langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar, serta sambil menenangkan jantungnya yang tak kunjung normal detakannya itu.
Sedang diluar kamar mandi, ketika Zahra sudah berlalu masuk kedalam kamar mandi, Aulian juga menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya sambil tersenyum bahagia sekali.
"Ya Allah, hamba semakin tidak tahan saja rasanya", kata Aulian sambil berbisik karena takut didengar Zahra yang sedang berada didalam kamar mandi.
"Boleh tidak sih jika aku dan Zahra tidak keluar lagi dari dalam kamar", kata Aulian untuk dirinya sendiri sambil duduk dipinggir ranjang yang penuh taburan dengan kelopak bunga itu.
Setelah berkata seperti itu, Aulian bukannya bersiap-siap untuk menunaikan sholat setelah menikah untuk pengantin baru dengan Zahra dan setelah itu menunaikan sholat dhuhur, dia malah asik menyandarkan badannya kekepala ranjang dengan tangan untuk menopang kepalanya.
Tanpa sadar Aulian cukup lama melamun dan terdiam, setengah jam kemudian, Zahra keluarlah dari dalam kamar mandi hanya menggunakan bathrobenya Aulian dengan handuk yang melingkar indah menutupi rambutnya yang basah.
Aulian yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dia lalu mengalihkan pandangannya yang awalnya kelangit-langit kamarnya langsung kearah pintu kamar mandi yang terbuka itu.
Dan ketika Aulian melihat Zahra keluar hanya menggunakan bathrobe dan handuk dikepalanya, fikiran kotor Aulian langsung terbang melayang kemana-mana.
Zahra begitu malu sekali kepada Aulian ketika dia keluar hanya menggunakan bathrobe saja, dan Aulian menatapnya dengan pandangan yang sungguh belum pernah dilihat Zahra selama ini mengenal Aulian.
"Emm, Abang Zahra boleh minta tolong tidak, tolong ambilkan bajunya Zahra dong dikamar tamu yang ditempatin Zahra sama Ibu, Zahra lupa tadi tidak mengambil sekalian", kata Zahra kepada Aulian sambil malu-malu dan masih berdiri didepan pintu kamar mandi.
Aulian dia langsung tertawa kecil ketika mendengar suaranya Zahra yang meminta tolong kepadanya, karena sudah berfikiran melayang sampai kemana-mana.
"Bagaimana kamu memakai bajunya Abang dulu saja sayang, itu ada didalam walkin closet sana, kelamaan sayang jika Abang harus turun terlebih dahulu untuk mengambilkan baju untuk kamu, karena lihat saja sekarang sudah jam berapa", kata Aulian kepada Zahra sambil menunjukkan jam yang tergantung indah didinding.
Zahra langsung saja melihat ke jam yang ada didalam kamarnya Aulian, dan ketika dia melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul dua siang, dia langsung menurut saja apa katanya Aulian.
Beberapa menit kemudian, Zahra keluar dari dalam walkin closetnya Aulian hanya memakai kemejanya Aulian yang berwarna biru muda yang sangat besar sekali dibadannya. Dan Zahra tidak memakai bawahan karena tidak ada yang muat dibadannya.
Aulian dia makin terpesona ketika melihat kaki mulusnya Zahra yang selama ini belum pernah dilihatnya. Aulian langsung saja menggelengkan kepalanya untuk menghalau fikiran kotornya karena dia sudah berwudhu dan sudah siap untuk melaksanakan sholat.
"Sebentar ya sayang Abang ambilkan mukenanya Kak Anin saja, yang kamarnya dekat", kata Aulian kepada Zahra dan terus berlalu dari hadapannya Zahra.
Sedang Zahra dia merasa semakin risih saja karena baru kali itu dia memakai pakain yang super minim dihadapan laki-laki, padahal Zahra sendiri juga tahu, tubuhnya sekarang juga sudah menjadi miliknya Aulian.
Lima menit kemudian Aulian sudah masuk lagi sambil membawa mukenanya Kak Anin dan roknya Kak anin juga untuk dipakai Zahra sementara dulu. Singkat cerita Aulian dan juga Zahra mereka sudah selesai melaksanakan sholat semuanya.
Dan ketika Zahra sudah melepaskan semua mukenanya, Zahra yang sedang duduk dipinggir ranjang langsung didekati oleh Aulian.
"Abang mau apa??", kata Zahra ketika Aulian semakin dekat dengannya.
Bukannya menjawab perkataannya Zahra Aulian dia semakin memajukkan badannya hingga Zahra sudah tiduran diatas ranjang, dan Aulian dia juga mengukung Zahra dengan kedua tangannya dan badannya pun juga berada diatas badannya Zahra.
...πππππππππππππ...
Hahaha penasaran kan, Aulian mau ngapain si Zahra π€£π€£π€£
Dan itu si Adzriel menurut readers enaknya jodohin tidak sama si Mayang?? π€π€π€¨
...πππππππππππππ...
__ADS_1
***TBC***