
"Dia", kata Adzriel dan Hafiz secara bersamaan sambil menunjuk kearahnya laki-laki yang sedang terkejut melihat Aulian.
Sedangkan Via dia masih memperhatikan semua apa yang dilakukan oleh Aulian.
"Siapa sih wanita itu", kata Via yang bisa didengar oleh temannya Jeva, karena Via tidak bisa melihat dengan jelas karena wajahnya Zahra sedikit tertutup oleh badannya Aulian.
"Kamu sedang membicarakan apa sih, kenapa masih melihat kearahnya Aulian terus daritadi?? ", tanya Jeva temannya Via kepadanya.
"Itu aku penasaran bagaimana wajah dari tunangannya Aulian?? ", kata Via kepada Jeva.
"Whatttt!!!!", kata Jeva dengan terkejut.
"Kamu bilang Aulian sudah bertunangan, jangan mengaco deh kamu", kata Jeva kepada Via.
"Siapa juga yang mengaco, tadi Aulian sendiri yang bilang kepadaku jika dia sudah bertunangan dan tunangannya ternyata ada dicafe ini juga", jawab Via kepada Jeva.
"Tapi tunggu deh kenapa mereka sedang seperti itu, apa tunangannya Aulian ketahuan selingku**h?? ", tanya Jeva lagi kepada Via.
"Sepertinya tidak, jika dia ketahuan selingkuh pasti wanita itu dia sedang bingung, itu lihat dia saja santai begitu", jawab Via lagi kepada Jeva.
"Ternyata seleranya Aulian cantik juga, dan berhijab sesuai dengan karakternya Aulian yang taat beragama", kata Jeva ketika sudah melihat mukanya Zahra.
Karena Aulian ketika masa kuliah dia terkenal senang mengikuti kajian-kajian dan acara tentang keagamaan, bakti sosial dan acara kepedulian dengan sesama.
Via yang juga sudah bisa melihat wajahnya Zahra, dia rasanya ingin marah kepada Zahra, karena sejujurnya didalam hati kecilnya Via, Via juga mengakui jika Zahra termasuk wanita yang cantik.
"Sialan cantik juga itu tunangannya Aulian, ini bagaimana ceritanya aku bisa merebut hatinya Aulian?? ", batin Via ketika sudah bisa melihat wajahnya Zahra karena Aulian dia sudah duduk disampingnya Zahra.
"Sepertinya kamu harus mundur Via, karena tidak mungkin Aulian akan berpaling kepadamu, jika tunangannya cantik begitu", kata Jeva kepada Via.
"Tidak ada kata menyerah untukku, karena mereka hanya baru bertunangan", kata Via dengan menggebu kepada Jeva temannya.
__ADS_1
"Terserah kamu saja Via, yang penting aku sudah mengingatkan, jangan sampai kamu berurusan dengan Keluarga Irawan", kata Jeva lagi kepada Via.
Via hanya diam saja tanpa menjawab perkataannya Jeva, dan Via dia masih terus memperhatikan gerak-geriknya Aulian dengan hati yang dipenuhi dengan amarah.
"Sialan aku kalah cepat ternyata", kata batin Via lagi.
"Jeva ayo aku sudah selesai kita pulang saja darisini", ajak Via kepada Jeva. Dan hanya dijawab anggukkan oleh Jeva.
Dan lalu setelah itu mereka benar-benar pergi dari cafe itu meninggalkan Aulian, Zahra dan juga laki-laki yang duduk dengan Zahra tadi.
Kembali keAulian, Zahra dan teman laki-lakinya Zahra yang Aulian sudah ikut duduk bergabung disampingnya Zahra.
Zahra yang duduk berdekatan disampingnya Aulian jantung dia sudah berdetak dengan sangat kencang sekali.
"Zain, bagaimana kamu bisa mengenal dengan Zahra?? ", tanya Aulian kepada laki-laki yang tadi satu meja dengan Zahra dengan muka yang serius karena menahan marah.
Entahlah Aulian kenapa bisa ingin marah, padahal Zahra sudah menolaknya, dan Zahra juga tidak memberikan kepastian yang pasti kepada Aulian.
"Zahra adalah teman masa kecil saya Tuan, dan Zahra juga satu kampung dengan saya", jawab Zain dengan mantap kepada Aulian, sambil melirik kearahnya Zahra.
Sedangkan Zahra dia sudah tidak naf**u makan lagi hidangan yang dia pesan, melainkan dia hanya duduk kaku disebelahnya Aulian yang seperti sedang mengintrogasi Zain.
"Apakah kamu menyukai Zahra Zain", tanya Aulian karena Aulian merasa Zain ini menyukai Zahra dari tatapan matanya Zain melihat kearahnya Zahra.
"Tapi saya harap tidak, karena Zahra ini adalah calon istriku, dia itu tunanganku Zain", kata Aulian dengan mantap kepada Zain dengan muka yang serius.
Zahra yang mendengar perkataannya Aulian dia langsung saja mengalihkan pandangannya kearahnya Aulian dengan sedikit melototkan matanya.
Aulian yang menyadari jika Zahra melihat kearahnya, walau Aulian tidak melihat kearahnya Zahra. Aulian dia pura-pura tidak tahu dan masih duduk dengan posisi yang tegap dengan tangan yang berada diatas meja.
Sedangkan Zain dia sungguh sangat-sangat terkejut sekali mendengar berita itu langsung dari mulut atasannya Aulian. Walau jauh-jauh hari dia kemarin sudah menyiapkan hatinya jika Zahra tidak bisa menjadi jodohnya, tetap saja rasa sakit dihatinya ada. Karena Zain menyukai dan mencintai Zahra tidak cuma hitungan bulan saja, akan tetapi tahun.
__ADS_1
Zain lalu mengalihkan pandangannya kearahnya jari tangannya Zahra yang masih kosong tanpa adanya cincin pertunangan membuat Zain sedikit bertanda tanya.
Aulian yang menyadari arah pandang dari Zain yang melihat kearah jari tangannya Zahra yang berada diatas meja, dia mengerti akan maksut dari tatapannya Zain tersebut.
Aulian langsung saja mengambil dompetnya dan mengambil kain yang berwarna kuning emas berbentuk persegi kecil yang selalu ada didalam dompetnya, semenjak dia mengenal Zahra. Sebelumnya cincin itu selalu Aulian simpan didalam laci yang ada didalam lemarinya.
Setelah mendapatkan apa yang Aulian cari didalam dompetnya, Aulian langsung saja mengeluarkan kain itu dari dalam dompetnya.
"Maafkan Abang sayang, kemarin sudah membuatmu marah dan melepaskan cincin ini diatas meja kerjaku", kata Aulian sambil membuka kain itu, dengan memanggl dirinya dengan panggilan abang dan ternyata isinya adalah sebuah cincin emas serta Aulian langsung saja memasangkan cincin itu dijari manisnya Zahra.
Zahra yang tidak menduga dengan apa yang dilakukan oleh Aulian, dia diam-diam saja dan menerima apa yang dilakukan oleh Aulian pada jari tangannya.
Cincin yang diberikan untuk Zahra adalah cincin pemberian dari Bundanya Lili untuk Aulian. Cincin yang diberikan oleh Aulian dari Bunda Lili adalah cincin pernikahannya Bunda Lili dulu waktu muda dengan Papah Ziyas.
Sedangkan Kakaknya Qiyas dia juga mendapatkan sebuah cincin yang juga cincin pemberian dari Bundanya Lili. Bedanya Cincin yang untuk Kakaknya Qiyas adalah cincin turun temurun dari neneknya Aulian, karena Kakaknya Qiyas adalah anak sulung dan Aulian adalah anak bungsu dari Papah Ziyas dan Bunda Lili.
Ternyata cincin yang dari Bunda Lili pas sekali dijari manisnya Zahra. Dan Zahra dia sangat terpukau dengan cincin yang ada dijari manisnya, pasalnya bentuk ukiran dicincin itu sangatlah indah. Wajar saja dulu Papah Ziyas dia memesan khusus cincin itu untuk diberikan kepada Bunda Lili ketika mereka akan menikah.
"Masyaallah cantik sekali ternyata cincinya jika dilihat dari dekat", kata Zahra sambil melihat dengan seksama cincin yang ada ditangannya dan Zahra seperti mengiyakan perkataannya Aulian.
Zain yang mendengar perkataannya Zahra hatinya semakin hancur dan hancurnya seperti menjadi berkeping-keping hingga tak terlihat.
Sedangkan Aulian dia tersenyum bangga kepada Zain, dan dihatinya juga sangat senang sekali melihat ekspresinya Zahra.
ππππππππππππ
Siapa nih yang kemarin nebak Zain yang bersama Zahra, yeeeay tebakannya benar sekaliπππ.
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1