
Aulian dan juga Zahra setelah sholat dhuhur mereka melanjutkan untuk beristirahat siang, dan mereka berdua benar-benar tidak jadi untuk datang kepesta pernikahannya Zain dan juga Ameera.
Sore harinya ketika mereka sudah terbangun dari tidur sore mereka, Zahra yang masih merasakan pusing dikepalanya, dia dibantu Aulian untuk berganti baju saja, karena badannya Zahra benar-benar sangat lemas sekali, tidak kuat untuk mandi.
Setelah sholat ashar pun Zahra memutuskan untuk membaringkan badannya lagi diatas ranjang, sedang Aulian dia masih tetap menemani Zahra sambil mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum selesai.
"Nanti tolong bangunin Zahra lagi ya Abang, badan Zahra rasanya benar-benar sangat lemas sekali Abang", kata Zahra kepada Aulian.
"Iya sayang tidak apa-apa", jawab Aulian kepada Zahra sambil tersenyum.
Zahra lalu menyelimuti tubuhnya lagi sambil berusaha memejamkan matanya lagi, padahal Zahra sudah seharian beristirahat akan tetapi entah kenapa badannya masih sangat lemas sekali.
Malam harinya ketika makan malam bersama Ibu Dina dan juga Firman dimeja makan, Zahra yang wajahnya terlihat sangat pucat sekali membuat Ibu Dina juga sangat khawatir sekali kepada Zahra.
"Nak wajah kamu sangat pucat sekali, kamu sebenarnya sakit apa Zahra??", tanya Ibu Dina kepada Zahra dengan sangat khawatir sekali.
Zahra dan juga Aulian yang mendengar perkataan dari Ibu Dina mereka lalu saling pandang dan juga saling melemparkan senyuman.
"Zahra tidak sakit apa-apa ko Bu", jawab Zahra kepada Ibunya yang duduk dikursi seberangnya.
"Masa kamu tidak sakit apa-apa Nak, wajah kamu pucat sekali begitu, dan kamu sendiri seharian tidak keluar dari dalam kamar", kata Ibu Dina lagi kepada Zahra.
"Zahra benar memang tidak sakit apa-apa ko Bu, istrinya Aul cuma sedang mengandung cucunya Ibu saja, jadi dia menjadi lemas dan tidak kuat untuk bangun seperti sekarang", jawab Aulian kepada Ibu Dina.
Ibu Dina sangat terkejut sekali mendengar kabar bahagia itu dan dia juga sangat senang sekali mendengar kabar dari Aulian, begitupun Firman yang juga ada disitu, dia juga sama bahagianya mendengar kehamilan dari Kakaknya Zahra.
"Alhamdulillah selamat Nak, Ibu sangat senang sekali mendengarnya, dan Ibu sebentar lagi akan mempunyai seorang cucu sendiri", kata Ibu Dina kepada Zahra sambil tersenyum senang sekali.
"Firman juga senang Kak, nanti Firman sebentar lagi akan mempunyai seorang keponakan", kata Firman kepada Kakaknya Zahra sambil memakan makanannya dan juga sambil tersenyum.
"Apakah Papah dan Bunda sudah kamu beritahu Nak Aul??'', tanya Ibu Dina kepada Aulian.
__ADS_1
"Belum Bu, belum sempat kami beritahu, besok saja Aul undang mereka dan juga Kak Anin serta Kak Qiyas untuk makan malam disini sekalian memberitahu kabar kehamilannya Zahra", jawab Aulian kepada Ibu mertuanya.
"Iya ide yang bagus itu, Ibu setuju, sudah lama juga kita tidak makan malam bersama dirumah ini", kata Ibu Dina dengan tersenyum mendengar perkataannya Aulian.
"Ya sudah mari kita lanjutkan makannya, dan kamu Nak harus makan yang banyak ya supaya asupan gizi untuk kamu dan calon bayinya juga terpenuhi, karena sekarang kamu makan untuk dia juga", kata Ibu dina kepada Zahra.
"Iya Bu", jawab Zahra kepada Ibunya sambil tersenyum.
"Oh ya Ibu, apakah stok buah-buahan dikulkas masih banyak??", tanya Aulian kepada Ibu Dina disela-sela makannya.
"Sepertinya hanya tinggal jeruk sama apel merah saja deh Nak, tapi coba nanti biar Ibu cek lagi", jawab Ibu Dina kepada Aulian.
"Tidak perlu Bu, nanti biar Aul menyuruh Bibi untuk membeli stok buah-buahan saja yang banyak untuk dirumah, karena Zahra juga harus lebih banyak lagi makan buah-buahannya Bu", kata Aulian kepada Ibu Dina.
"Iya Nak Ibu setuju", jawab Ibu Dina kepada Aulian dengan senang.
Singkat cerita mereka semua sudah pada selesai makan malamnya dan Aulian juga sudah membantu Zahra untuk masuk kedalam kamar lagi.
Tidak ketinggalan pula Aulian lalu ikut merebahkan badannya disebelahnya Zahra, bukan untuk tidur bersama Zahra melainkan untuk mengajikan calon buah hatinya yang sedang dikandung oleh Zahra.
Zahra sangat tenang sekali ketika mendengar suara mengajinya Aulian yang sedang mengaji untuk calon buah hatinya itu.
Sambil mengusap lembut rambutnya Aulian yang sedang tiduran dekat dengan perutnya sambil mendekatkan wajahnya diperutnya, lama-kelamaan membuat Zahra bisa memejamkan matanya dengan perasaan yang amat sangat nyaman sekali.
Aulian yang sudah selesai mengajikan calon buah hatinya dia lalu mendongakkan kepalanya kearah wajahnya Zahra yang ternyata sudah tertidur sangat lelap sekali itu.
"Selamat bobok anak Ayah, tumbuh yang baik dan sehat didalam sana ya Nak, Assalamu'alaikum", kata Aulian kepada calon buah hatinya yang sedang dikandung oleh Zahra.
Setelah berpamitan kepada calon buah hatinya, Aulian lalu merubah posisi tidurnya supaya biasa sejajar dengan Zahra, dan Aulian juga mengucapkan kata-kata untuk Zahra sebelum dia tidur.
"Selamat tidur sayang, dan terimakasih", kata Aulian kepada Zahra sambil mencium pipinya Zahra.
__ADS_1
Aulian lalu menyelimuti tubuhnya dan juga tubuhnya Zahra menggunakan satu selimut yang sama, dan mereka lalu tidur dengan saling memberikan kehangatan satu sama lainnya.
Dan Aulian mensugesti fikirannya untuk tidur lebih anteng lagi, supaya tidak mengenai perutnya Zahra.
Karena terkadang Aulian dalam keadaan tidur dan tidak sadar kakinya sering menimpa perutnya Zahra.
Didalam tidurnya dia sudah membayangkan jika anaknya sudah lahir nanti dia akan lebih sering bermain dan menghabiskan waktu bersama Keluarga terutama untuk melihat tumbuh kembang sang calon buah hati.
Membayangkannya saja sudah membuat Aulian tersenyum sendiri.
Dan Aulian juga sudah merencanakan untuk mengajak Zahra chek kandungan ditempat yang menurutnya bagus.
Keluarga Irawan tidak akan mendapatkan cucu dari Zahra saja, melainkan dari Kia istrinya Kak Qiyas yang juga sedang hamil anak ketiga adik dari baby Zaiy, Zaida dan Zayyan yang saat ini sudah besar dan lagi sangat aktif sekali.
Sungguh Aulian tidak terburu-buru ingin mempunyai seorang anak dari Zahra, sekasih-NYA Allah saja fikir Aulian dan juga Zahra saat itu, akan tetapi Aulian merasa Allah sungguh sangat baik kepadanya dengan diberikan kepercayaan yang begitu cepat dengan kehamilannya Zahra didalam pernikahannya yang baru hitungan bulan saja.
Aulian yang belum bisa tidur, dia lalu membuka matanya lagi sambil terus memandang wajahnya Zahra yang sudah lelap tertidur disampingnya.
Aulian memandang Zahra sambil mengusap pipi dan rambutnya Zahra, dengan senyum yang terus terpatri dibibirnya.
"Terimakasih sayang, rasanya Abang sulit sekali malam ini untuk memejamkan mata, karena Abang takut jika Abang memejamkan mata, nanti esoknya Abang bangun rasa bahagia ini adalah cuma mimpi Abang semata", kata Aulian dengan pelan, sambil mengusap pipinya Zahra.
...πππππππππππππ...
Author gabut readers π€£π€£π€£
Semoga nyambung π
...πππππππππππππ...
***TBC***
__ADS_1