
Setelah siap, Aulian langsung saja mengetuk pintu rumahnya Zahra, dan ketika pintu sudah dibukakan oleh Zahra, Aulian benar-benar sangat dibuat terpesona dengan penampilan Zahra yang sangat-sangat sederhana sekali, akan tetapi menurut Aulian malah terlihat lebih terpancar aura kecantikannya Zahra.
"Masyaallah cantiknya calon istriku", batin Aulian ketika melihat Zahra yang baru saja membuka pintu rumahnya.
Aulian benar-benar sangat senang mengetahui jika Zahra belum mandi, karena memang itu tujuan awalnya dia ingin datang pagi sekali kerumahnya Zahra, ingin mengetahui kegiatan dan wajahnya Zahra yang baru bangun tidur dan juga belum mandi.
Syukur-syukur Zahra mau diajak sarapan bersama dengannya, begitulah doanya Aulian sebelum berangkat.
Dan alangkah tambah senangnya Aulian ketika Zahra bilang jika dia sedang memasak, tanpa fikir panjang Aulian meminta Zahra untuk sarapan bersama dengannya dan membuatkannya bekal.
Cuma beberapa menit akhirnya makanan yang daritadi sudah membuat perut Aulian keroncongan akhirnya sudah terhidangkan diatas meja.
"Makanan sederhana, tapi membuat aku seakan belum makan selama tiga hari saja, bikin perutku sangat tidak tahan ingin cepat-cepat diisi", kata batin Aulian waktu itu ketika melihat masakan sederhananya Zahra.
"Aduh, aku sudah sangat lapar sekali, dan ini malu-maluin saja kenapa perutku sampai berbunyi begini, ya sudah aku mau alasan dulu saja menumpang kekamar mandi", kata batin Aulian lagi.
Sungguh Aulian waktu itu ketika salah membuka pintu kamarnya Zahra, dia terpaku untuk sejenak, karena kamarnya Zahra yang sangat rapi, bersih dan juga harum. Serta cat dinding perpaduan antara warna cat hijau tosca dan putih membuat suasana sangat indah dan tenang secara bersamaan.
Singkat cerita ketika Aulian sudah selesai dari kamar mandi, Aulian memasukkan satu sendok masakan Zahra kedalam mulutnya, Aulian dibuat terheran dengan masakannya Zahra, karena masakannya Zahra rasanya mirip sekali dengan masakan Bundanya Lili.
"Masyaallah calon istri idaman sekali ini, masakannya benar-benar enak", batin Aulian ketika pertama kali makan masakannya Zahra.
"Dan rasanya mirip sekali dengan masakan dari Bunda Lili", kata batin Aulian lagi. Sambil terus memakan makanannya.
Setelah selesai sarapan Aulian menunggu Zahra yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kekantor. Mereka akhirnya berangkat kekantor bersama-sama pagi itu, diiringi dengan senyum dan canda tawa serta gombalan recehnya dari Aulian.
Ketika didalam mobil Aulian yang sangat senang hari itu, tidak henti-hentinya melontarkan kata-kata yang membuat Zahra tersipu malu dan juga senang.
"Zahra, kamu tahu tidak perbedaannya burung sama abang?? ", tanya Aulian kepada Zahra.
"Burung ya hewan, kalau Abang ya.......??", jawab Zahra sengaja menggantungkan perkataannya sambil tertawa kecil.
"Sudah pandai juga ya rupanya kamu, mungkin karena tertular Abang kali ya", kata Aulian sambil tertawa juga kepada Zahra.
Sedangkan Zahra dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar perkataannya Aulian.
"Perbedaannya itu, jika burung terbangnya keatas, kalau Abang terbangnya kearah kamu saja", kata Aulian sambil tertawa sendiri mendengar perkataannya. Membuat Zahra ikut-ikutan tertawa karena tingkahnya Aulian.
"Kamu tahu tidak Zahra, Abang sama semut itu ada persamaannya lho, banyak malah", kata Aulian lagi kepada Zahra sambil terus menyetir.
"Apa itu Bang?? ", kata Zahra penasaran.
__ADS_1
"Semut suka menggigit jika terancam, semut suka masuk kedalam tanah kalau membuat rumah, dan semut suka yang manis-manis jika ingin makan", jawab Aulian kepada Zahra.
"Terus persamaannya dengan Abang apa?? ", tanya Zahra yang masih bingung dengan perkataannya Aulian.
Mereka berhenti sejenak dilampu merah, dan Aulian gunakan kesempatan itu untuk menjawab pertanyaannya Zahra.
"Hahaha.......... ", belum menjawab Aulian sudah tertawa dulu membuat Zahra tambah bingung.
"Abang kenapa tertawa, bukannya menjawab?? ", kata Zahra lagi dengan ekspresi yang sangat penasaran sekali.
"Abang jawab satu saja, jika semut sukanya masuk kedalam tanah kalau Abang masuknya kedalam kamu saja", jawab Aulian menyeleneh dan diiringi suara tawanya yang cukup keras didalam mobil.
Sedangkan Zahra yang mendengar jawabannya Aulian, dia reflek dan tidak sadar memukul kecil lengannya Aulian, sambil tertawa juga.
"Aduh, KDPD ini namanya", goda Aulian kepada Zahra ketika dia mendapatkan pukulan kecil dilengannya oleh Zahra.
"KDPD apa lagi Abang?? ", tanya Zahra kepada Aulian.
"Kekerasan dalam pendekatan", jawab Aulian kepada Zahra. Membuat Zahra tersenyum kecil mendengarnya.
Tanpa terasa mereka berdua sudah sampai didepan pelataran kantornya Kakak Iparnya Aulian, yaitu Kia. Dengan sigap Aulian langsung turun dari mobil untuk segera membukakan pintu untuk Zahra.
"Sama-sama calon istriku", kata Aulian sambil mengusap lembut kepalanya Zahra yang tertutup hijab.
"Abang langsung saja ya", kata Aulian, dan Zahra hanya mengangguk kepada Aulian.
Sebelum Aulian benar-benar pergi dia membuka kaca mobilnya yang sebelah kiri, dan melihat kearahnya Zahra.
"Hati-hati Abang dijalan, jangan lupa bekalnya dimakan", kata Zahra untuk Aulian, dan Aulian hanya memberikan simbol love melalui jarinya dengan tersenyum manis kepada Zahra. Dan Zahra yang melihat jawabannya Aulian dia reflek tertawa sambil menutupi mulutnya.
Setelah itu Aulian dia benar-benar pergi dari hadapannya Zahra, dan Zahra langsung saja masuk kedalam kantor.
Ketika Zahra ingin masuk kedalam lift, dia diikuti oleh seseorang dibelakangnya, dan Zahra sangat terkejut ketika dia membalikkan badannya.
"Doorrr", kata seseorang itu mengagetkan Zahra.
"Astaghfirullah Khansa, kamu bikin aku jantungan tahu tidak", kata Zahra kepada teman kantornya yang bernama Khansa sambil memegangi dadanya.
"Ehem, kayaknya baru saja ada yang diantar oleh some o ne nih", kata Khansa menggoda Zahra sambil mengeja kata someone.
Zahra hanya tersenyum dan diam saja tidak menanggapi perkataan dari sahabatnya Khansa itu, karena Zahra tahu Khansa kalau bertanya pasti terus-terusan seperti tidak bisa berhenti.
__ADS_1
"Bukannya tadi itu adik Iparnya Nona Kia ya Zahra?? ", tanya Khansa kepada Zahra dan Zahra hanya mengangguk memberikan jawaban kepada Zahra.
"Waah hebat kamu Zahra, bisa meluluhkan hati Tuan Aulian yang terkenal sangat cuek dan dingin itu kepada semua orang kecuali Keluarganya", kata Khansa kepada Zahra. Membuat Zahra tiba-tiba langsung melamun sambil membatin.
"Cuek dan dingin, tapi sama aku dia malah seperti orang gila yang ngangenin eeh", batin Zahra dan Zahra langsung memukul kecil mulutnya karena keceplosan membatin yang tidak-tidak.
"Yee, diajak bicara malah diam saja, sambil memukulin mulutnya begitu, Zahra, hey Zahra", kata Khansa sambil menyadarkan Zahra dari melamunnya.
"Eh, apa Sa, maaf", kata Zahra menjawab Khansa.
"Pasti lagi mikirin Tuan Aulian kan tadi hayo ngaku deh Ra", goda Khansa kepada Zahra.
Tiba-tiba terdengar suara lift berbunyi, pertanda Zahra sudah sampai dilantai tempat ruangannya berada, dan ketika Zahra keluar dari lift, Khansa pun juga ikut keluar.
"Kamu kenapa mengikutiku, apa lagi perlu sama Nona Kia?? ", tanya Zahra kepada Khansa sambil duduk dikursi kerjanya.
"Aku butuhnya sama kamu, pokokknya kamu hutang penjelasan sama aku dan juga Ameera nanti sepulang kerja", kata Khansa kepada Zahra sambil duduk dikursi yang ada didepan meja kerjanya Zahra.
Dan Zahra hanya mengangguk memberikan jawaban kepada Khansa sambil matanya terus fokus kearah komputer didepannya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya cantik", kata Khansa lagi kepada Zahra.
"Hati-hati nanti ada CEO ganteng terjebak didalam lift lho", goda Zahra kepada Khansa.
"Jika beneran ada, akan aku potong saja sekalian itu kabel liftnya biar dia tidak bisa keluar", jawab Khansa kepada Zahra sambil berlalu keluar dari ruangannya Zahra. Dan Zahra hanya tertawa mendengar jawabannya Khansa.
Zahra sendiri dia mempunyai banyak teman dan yang benar-benar dekat dengan Zahra cuma dua saja, yaitu Khansa dan juga Ameera.
Mereka berdua adalah teman satu angkatan ketika kuliah dulu, dan teman pertama Zahra ketika Zahra pertama kali masuk kuliah. Dan untungnya lagi Khansa ternyata diterima bekerja diPerusahaan yang sama dengan Zahra, bedanya Khansa dibagian Manajer Keuangan diPerusahaan Ibrahim Company dan Khansa sudah bekerja terlebih dahulu dari Zahra.
Sedangkan Ameera dia membuka toko roti yang sedari dulu sudah dia rintis dari nol, dan sekarang Ameera sudah mempunyai tiga cabang toko roti yang berbeda tempat.
Khansa sendiri dia orangnya berhijab, tapi tomboy, galak dan jika berbicara selalu blak-blakan, jika dia tidak suka ya langsung bilang tidak. Jika Ameera dia juga berhijab akan tetapi orangnya sangat cerewet sekali sampai-sampai Zahra dan Khansa terkadang capek mendengarkan ocehan dari Ameera.
ππππππππππππ
Mulai muncul nih sahabat-sahabat rempongnya Zahraππ
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1