LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
CERITA AULIAN KECIL 3


__ADS_3

Ketika mereka semua yang ada didalam rumahnya Papah Ziyas sudah melaksanakan sholat maghrib, termasuk Papah Ziyas, Bunda Lili dan kedua anak mereka yaitu, Kak Iyas dan juga yang paling kecil Aulian.


Dan disinilah Papah Ziyas serta Bunda Lili sedang berada diruang Keluarga rumah mereka.


"Bund, tolong panggilkan Iyas dan juga Aulian ya, itu si Anin apa belum pulang Kuliah Bund?? ", kata dan tanya Papah Ziyas kepada istrinya Bunda Lili.


"Lagi perjalanan pulang katanya Pah, tadi dia katanya mengerjakan tugas dulu diperpustakaan kampusnya", jawab Bunda Lili kepada suaminya Papah Ziyas.


Waktu itu Kak Anin belum menikah dan dia masih kuliah. Dan jarak umur antara Kak Anin dan Kak Qiyas sekitar empat tahunan, jadi Kak Anin sudah kuliah sekitar semester empat.


"Ya sudah Bunda panggilkan Iyas dan Aul dulu kalau begitu ya Pah", kata Bunda Lili lagi kepada Papah Ziyas. Dan dijawab anggukkan oleh Papah Ziyas.


Setelah berkata seperti itu Bunda Lili langsung beranjak dari duduknya dan berlalu pergi untuk memanggil anak-anaknya Qiyas dan juga Aulian yang berada dikamar mereka masing-masing.


"Iyas, lagi sedang apa??, Bunda boleh masuk tidak", kata Bunda Lili sambil mengetuk pintu kamarnya Qiyas.


Qiyas yang didalam mendengar pintunya diketuk, dia langsung saja beranjak dari atas ranjang untuk membukakan pintunya.


"Bunda, ada apa Bund?? ", tanya Qiyas ketika dia sudah membuka pintu kamarnya.


"Lagi sedang apa nak, dipanggil Papah diruang Keluarga", kata Bunda Lili kepada Qiyas.


"Lagi mengaji Bund, baik sebentar Iyas mau manaruh Al-Qur'an dulu, setelah itu Iyas akan menemui Papah", jawab Qiyas kepada Bundanya.


"Ya sudah, Bunda mau kakamar adik kamu dulu ya Aulian kalau begitu", kata Bunda Lili kepada Qiyas.


"Iya Bund", jawab Qiyas setelah itu dia menutup pintunya dan bersiap-siap untuk turun kebawah keruang keluarga menemui Papahnya.


"Aul, ayo tadi sore Papah bilang apa sama kamu", kata Bunda Lili ketika sudah masuk kekamarnya Aulian.


"Iya Bund Aul ingat, tapi Aul takut sama Papah dan Kakak", jawab Aulian kepada Bunda Lili.


"Berani berbuat berani bertanggung......... Bunda Lili sengaja menjeda perkataannya dan langsung disambung oleh Aulian.

__ADS_1


"Jawab", sambung Aulian.


"Pinter anak Bunda, ayo cepetan turun kasihan nanti Papah menunggu kita lama", ajak Bunda Lili kepada Aulian.


Dengan terpaksa akhirnya Aulian mengikuti Bunda Lili dibelakangnya untuk turun kebawah, menemui Papahnya yang sudah menunggu diruang Keluarga.


Ternyata diruang Keluarga sudah ada Kakaknya Qiyas yang sudah duduk bersama Papahnya menunggu Aulian ikut bergabung.


Sebelum Aulian dan Bundanya datang, Papah Ziyas dia bertanya dan menasihati sebentar kepada Qiyas.


"Tadi sore kenapa adik kamu Aul kamu buat seperti itu Yas?? ", tanya Papah Ziyas kepada Qiyas.


"Tadi sore Aul berisik dan mengganggu Iyas terus Pah yang lagi mengerjakan PR dan tugas sekolah, terus karena tidak Iyas tanggapin dia menggoda Iyas dengan cara mengambil buku tugas yang sedang Iyas kerjakan dan setelah itu tanpa sengaja bukunya Aul robekin Pah", jujur Qiyas kepada Papahnya.


"Walaupun adik kamu jahil dan salah, kamu sebagai Kakak jangan begitu ya, harus memberi contoh yang baik kepada Aul, kan kasihan tadi Aul, coba kalau jatuh tadi bagaimana", nasihat dari Papah Ziyas kepada Qiyas.


"Jangan diulangin lagi ya Yas", kata Papah Ziyas lagi kepada Qiyas.


"Baik Pah", jawab Qiyas menurut kepada Papahnya.


Walau sifatnya Qiyas begitu kalau marah, akan tetapi jika sudah marah sesama saudara kandungnya, dia hanya bisa marah sebentar saja. Dan saat ini pun Qiyas sudah tidak marah lagi kepada adiknya Aulian. Akan tetapi Aulian masih saja takut dengan Kakaknya Qiyas.


Sedangkan Papah Ziyas yang melihat Aulian datang sambil mengumpet dibelakang istrinya dia tersenyum dan juga ingin tertawa rasanya, akan tetapi dia tahan.


"Sini Aul duduk sama Kakak, Kakak sudah tidak marah lagi ya sama adik Kakak yang kecil ini", kata Qiyas kepada Aulian sambil melambaikan tangannya memanggil Aulian.


"Itu, Kak Iyas sudah memanggil sana Aul, tidak apa-apa", kata Bunda Lili kepada Aulian yang bersembunyi dibelakangnya.


"Kalau begitu sama Papah saja sini nak", kata Papah Ziyas kepada Aulian.


Tanpa menunggu jawaban Aulian Bunda Lili langsung berjalan dan duduk disebelah Papah Ziyas, sedangkan Qiyas dia duduk dishofa seberangnya Papah Ziyas dan Bunda Lili. Aulian kecil dia terus saja menempel ditangan Bunda Lili ketika sudah duduk disamping Papahnya.


"Aul-aul, terkadang kamu menjengkelkan, jika lagi begini kasihan juga kamu, tapi juga lucu", kata Papah Ziyas ketika melihat tingkah Aulian ketika bersalah dengan diselingi ketawa kecil.

__ADS_1


Qiyas tanpa permisi dan berlalu pergi entah kemana, membuat Bunda Lili dan Papah Ziyas bertanya-tanya kemana Qiyas pergi.


Beberapa menit kemudian Kak Qiyas dia kembali lagi sambil membawa kotak obatnya yang dia ambil tadi didalam kamarnya. Dan ternyata Qiyas tadi pergi tanpa permisi kepada kedua orang tuanya karena ingin mengambil kotak obat yang ada dikamarnya untuk mengobati luka dikakinya Aulian. Sebab tadi tanpa sengaja Qiyas melihat kakinya Aulian yang luka ketika Aulian sudah duduk, karena Aulian hanya memakai celana pendek.


"Sini dek, duduk sama Kakak, biar bisa Kakak obatin itu kakinya", kata Kak Qiyas dengan lembut kepada Aulian kecil.


Aulian kecil yang mendengar perkataan dari Kakaknya Qiyas dia langsung berlari mendekati Kakaknya dan memeluknya serta dia juga menangis.


Kakaknya Qiyas yang melihat Aulian kecil menangis dipelukannya dia juga membalas pelukannya Aulian dan menenangkannya.


"Sudah-sudah tidak usah menangis lagi, Kakak sudah tidak marah lagi ya, sini duduk biar Kakak obatin itu kakinya", kata Kakaknya Qiyas dengan lembut setelah melepaskan pelukan mereka.


Aulian dia langsung saja duduk disamping Kakaknya Qiyas, dan dengan telaten Kakaknya Qiyas mengobati kaki kecilnya Aulian yang terluka karena ikatan tali dikakinya tadi ketika diatas pohon.


Papah Ziyas dan Bunda Lili mereka terharu senang, melihat kedekatan anaknya antara Qiyas dan juga Aulian. Dan Bunda Lili serta Papah Ziyas selalu berdoa semoga kedekatan mereka sampai maut yang memisahkan.


*Flashback Off*


"Tahu begitu kamu dulu tidak usah dibantuin, biar sekalian tidur saja dipohon ya, menyesal Papah men yuruh Pak Tirjo menurunkan kamu", kata Papah Ziyas menggoda Aulian ketika mereka berdua sedang mengenang masa kecil antara Qiyas dan juga Aulian.


Pak Tirjo sendiri adalah tukang kebun dirumah mereka, akan tetapi Pak Tirjo sudah lama meninggal ketika Aulian masih SMP, karena sudah tua.


"Papah memang tidak sayang Aul ya, tega benar berbicara begitu sama anaknya sendiri", kata Aulian kepada Papah Ziyas.


"Memang, baru sadar kamu, jika Papah tidak sayang kamu", kata Papah Ziyas dengan nada yang dibuat sewot.


Dan Aulian hanya memutar bola matanya melihat kelakuan dari Papahnya kepadanya. Sedangkan Papah Ziyas dia menahan tawanya agar tidak keluar sebab mereka berdua sedang berada diruangan kantornya Qiyas. Dan Kakaknya Qiyas dia sedang bersedih dengan masalah yang menimpa istrinya Kia tadi diloby kantor.


🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍🍍


Cukup kan tiga Up hari ini😁😁, Author mau merevisi Novel Bissmillah With You dulu ya readers, jadi Upnya lagi besok insyaallah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


***TBC***


__ADS_2