
Ketika baru saja selesai sarapan Zahra mengajak Aulian untuk melihat-lihat kampungnya dengan berjalan kaki menyusuri pemandangan didesa.
"Indah juga ternyata ya Zahra kampung kamu ini, dan aku juga sudah lama tidak melihat pemandangan sawah yang begitu menyejukkan begini ketika pagi", kata Aulian kepada Zahra sambil melihat hamparan sawah yang ada didepannya.
Wajar saja sejuk, karena kampungnya Zahra masih berada dikaki bukit, dan udara pagi dikampungnya Zahra sangat sejuk dan dingin.
"Iya Abang pemandangan seperti ini sangat sulit untuk kita jumpai dikota", jawab Zahra kepada Aulian.
"Oh ya, apakah kamu sudah bilang sama Ibu tentang untuk mengajaknya tinggal bersama kita nanti Zahra?? ", tanya Aulian kepada Zahra sambil melihat kearahnya Zahra.
"Sudah Abang dan Ibu katanya ikut saja sama Zahra", jawab Zahra kepada Aulian.
"Rencana Abang seperti yang sudah pernah Abang bilang kekamu Zahra, nanti itu lahan yang ada disebelah kanan dan kirinya rumahnya Zahra akan Abang beli untuk memperluas rumahnya Zahra", kata Aulian kepada Zahra.
"Terserah Abang saja, lagi pula kasihan juga sama para boduguard yang kesusahan untuk tidur begitu tadi malam, karena rumahnya Zahra kurang tempat untuk beristirahat mereka", jawab Zahra kepada Aulian.
"Dan lahan yang sebelah kiri itu sudah menjadi lahannya Zahra Abang, sudah Zahra beli dengan hasil uang gajinya Zahra sendiri, tapi yang sebelah kanan memang ada rencana untuk Zahra beli, tapi belum kebeli karena uangnya Zahra tidak cukup, sebab pemilik lahan meminta bayaran sebesar lima ratus juta rupiah", sambung Zahra lagi kepada Aulian, membuat Aulian sangat terkejut karena Zahra ternyata bisa sangat mandiri sekali seperti itu.
"Bangga Abang sama kamu Zahra", kata Aulian sambil tersenyum senang dan bangga kepada Aulian.
"Mumpung Abang disini bagaimana kalau kita kerumah pemilik lahan itu Zahra, supaya bisa sekalian Abang bayar itu lahannya", kata Aulian kepada Zahra.
"Baiklah Abang ayo Zahra antar", jawab Zahra kepada Aulian.
Akhirnya Zahra dan Aulian berjalan menyusuri jalan perkampungan lagi untuk menuju kerumah pemilik lahan yang ada disebelah rumahnya Zahra, hanya beda gang dan beda Rt saja rumahnya dari rumah Zahra.
"Oh ya Zahra kalau boleh tahu lahan yang sebelah kiri rumah kamu itu, dulu kamu membelinya dengan harga berapa Zahra??", tanya Aulian sambil berjalan berdampingan dengan Zahra.
"Dulu tiga ratus juta Abang, dia mintanya sekitar tiga ratus lima puluh, tapi Zahra tawar tiga ratus dan alhamdulillah dia setuju karena dia saat itu sedang membutuhkan uang sekali untuk melunasi hutang-hutangnya dibank", jawab Zahra kepada Aulian.
Banyak warga yang melihat kearah Aulian dan juga Zahra ketika mereka berdua melalui rumah-rumah tetangganya Zahra.
Para tetangganya Zahra sangat kagum dan terpesona melihat ketampanan dari Aulian yang jarang mereka lihat didesanya, dan mereka banyak menyebut jika Aulian sangat serasi dengan Zahra yang dari dulu sudah terkenal cantik itu.
Ketika dipertengahan jalan Zahra dan Aulian mereka berpas-pasan dengan Indra yang sedang lari pagi ditemani oleh Zain.
"Tuan, Nyonya", sapa Indra dan Zain sambil menundukkan sedikit badan mereka kepada Aulian Zahra.
"Tuan Aulian mau kemana, mau saya antar", tanya Zain kepada Aulian.
"Mau kerumah pemilik lahan yang ada disebelah kanan rumahnya Zahra Zain", jawab Aulian kepada Zain.
"Oh saya mengenal orangnya Tuan, jika Tuan mau bisa saya bantu urus", jawab Zain dengan sopan kepada Aulian.
"Boleh Zain, urus sampai bisa dapat tanah itu ya, dan pastikan harganya jangan sampai terlewat batas, karena saya tahu kisaran berapa harga tanah dikampung", jawab Aulian kepada Zain.
__ADS_1
"Jika tanah yang sebelah kirinya Nyonya Zahra bagaiamana Tuan, apa perlu kami urus sekalian", kata Indra kepada Aulian.
"Tidak perlu, tanah itu sudah dibeli Zahra dari dulu", jawab Aulian kepada Indra, membuat Zain sedikit terkejut tidak menyangka karena Zahra sudah sampai bisa membeli tanah sendiri, Zain langsung merubah mimik mukanya sebelum Aulian menyadari keterkejutannya.
"Oh ya Zahra, apakah tanah itu sudah ada surat-surat sama sertifikatnya?? ", tanya Aulian kepada Zahra.
"Belum Abang, Zahra tidak sempat dan belum ada waktu untuk mengurusnya", jawab Zahra kepada Aulian.
"Kalian dengar apa kata Zahra, dan kalian tahu kan apa yang harus kalian lakukan", kata Aulian kepada Zain dan Indra.
Mereka berempat yang sedang mengobrol dipinggir jalan menjadi bahan tontonan secara sembunyi-sembunyi oleh para warga dan tetangganya Zahra.
Pasalnya Zahra bisa berdekatan dengan tiga orang laki-laki yang semuanya bisa dikatakan tampan, terutama dengan Zain sendiri semenjak bekerja menjadi sekretarisnya Aulian penampilannya berubah sekali menjadi seratus delapan puluh derajat, penampilan dia sekarang sudah seperti Indra maupun Aulian, sangat khas orang-orang kota, serta wajahnya Zain pun menjadi bersih dan terawat berkat pekerjaannya yang mengharuskan tampil sempurna didepan client.
Bahkan para wanita dan gadis dikampungnya Zahra pada pangling kepada Zain, dan yang dulunya mereka biasa saja sama Zain, sekarang mereka pada tebar pesona kepada Zain ketika mengetahui jika Zain masih menginap dirumahnya.
Bahkan tubuhnya Zain sekarang lebih proposional dibandingkan dulu yang cenderung kurus. Karena Zain semenjak menjadi sekretaris dia jadi lebih giat lagi berolahraga.
"Faham Tuan, secepatnya kami akan mengurus surat-surat serta sertifikat tanahnya", jawab Indra dan Zain pun juga mengangguk menanggapi jawabannya Indra.
"Baiklah kalau begitu saya sama Zahra mau melanjutkan lagi jalan-jalannya dan kalian cepat pergi kerumah orang yang mempunyai tanah sebelah kananya Zahra", kata Aulian kepada Indra dan Zain.
"Baik Tuan", jawab Indra dan Zain secara bersamaan sambil membungkukkan badannya kepada Aulian dan Zahra.
"Abang sudah cukup panas ini, kita pulang saja yuk, mau tidak", kata Zahra kepada Aulian.
"Iya sudah ayo, lain kali jika Abang kesini nanti ajak Abang jalan-jalan lagi ya Zahra", jawab Aulian kepada Zahra.
"Siap calon suamiku", jawab Zahra kepada Aulian membuat Aulian reflek mengusap lembut kepalanya Zahra yang tertutup hijab itu.
Sesampainya dirumah, Aulian melihat Firman sedang menyapu dan membersihkan lahan sebelah kirinya rumah Zahra. Memang dari dulu sebelah kanan dan kiri rumahnya Zahra adalah lahan kosong, yang dibiarkan pemiliknya tanpa dirawat atau dibangun rumah.
"Saya kesana dulu ya Zahra", kata Aulian kepada Zahra sambil menunjuk Firman yang sedang mengumpulkan daun kering untuk dibakar.
Firman hari itu memang ijin satu hari tidak masuk sekolah, karena fikir Firman tidak setiap hari Kakaknya akan dirumah dan hari itu Firman ingin seharian dirumah bersama Kakaknya. Walau sudah dilarang Ibu Dina dan juga Zahra, Firman tetap kekeh tidak mau berangkat sekolah.
"Baiklah Abang, kalau begitu Zahra masuk dulu ya, Abang mau dibuatkan minum apa, emm dirumah sedang banyak mangga, Abang mau Zahra buatkan jus mangga, sekalian Zahra nanti buatkan untuk yang lainnya", kata Zahra kepada Aulian.
"Boleh juga Zahra, seperti biasa, masih hafal kan kesukaannya Abang", jawab Aulian kepada Zahra.
"Masih dong, tanpa gula dan es batu", jawab Zahra sambil tertawa kecil.
"Pintarnya, istri siapa sih ini", kata Aulian menggoda Zahra membuat Zahra tertawa kecil dibuatnya.
"Sudah Abang, Zahra masuk dulu ya tidak enak nanti dilihat Ibu sama yang lainnya", kata Zahra kepada Aulian, dan Zahra langsung saja masuk sedangkan Aulian hanya tertawa kecil kepada Zahra.
__ADS_1
Aulian langsung saja mendekati Firman yang sudah mulai membakar daun-daun kering yang sudah dikumpulkannya tadi.
"Sedang apa Firman?? ", tanya Aulian kepada Firman ketika sudah sampai didekatnya Firman.
"Oh ini sedang bersih-bersih Kak, supaya tidak terlalu kotor sama rimbun itu rumputnya", jawab Firman sambil memotongi rumput-rumput yang menjalar kemana-mana.
"Sini biar Kakak bantu kamu Firman", kata Aulian membuat Firman langsung menghentikan kegiatannya.
"Eh tidak perlu Kak, nanti Kakak bisa gatal-gatal karena disini banyak serangga dan semutnya", jawab Firman kepada Aulian dengan tidak enak.
"Tidak apa-apa sekali-kali mencoba hal baru tidak apalah, membuat Kakak tertantang untuk mencobanya", jawab Aulian kepada Firman.
"Yakin ini Kakak mau bantuin Firman?? ", tanya Firman untuk memastikan lagi kepada Aulian.
"Yakin, sini ajarin Kakak yah", jawab Aulian sambil merebut sabit yang dibawa oleh Firman.
Firman lalu mengajari Aulian untuk memakai sabit dan memangkas semua daun yang sekiranya terlalu menjuntai dan dan kurang rapi. Sedangkan Firman sendiri terus mengumpulkan daun-daun kering untuk dibakar hingga terlihat lebih bersih dari sebelumnya.
Walau Aulian belum pernah menggunakan alat-alat pertanian seperti itu dia cepat sekali belajarnya walau masih dengan perlahan-lahan memakainya. Zahra yang melihat Aulian dari jendela dapurnya dia tersenyum sendiri, karena tidak menyangka orang seperti Aulian mau melakukan kegiatan berkebun seperti itu.
Bahkan Zahra yang selama tinggal dirumahnya Aulian belum pernah melihat Aulian ikut membantu tukang kebunnya.
"Ternyata capek dan menyenangkan juga ya berkebun, karena kita tidak menggunakan otak saja, tapi lebih dominan keotot", kata Aulian kepada Firman yang sedang menyapu.
"Iya Kak, bahkan dulu waktu Ayah masih ada, didepan rumah kami ada kebun bunganya, karena Kak Zahra sangat suka sekali sama semua bunga", jawab Firman kepada Aulian yang sedang mengumpulkan daun-daunan sama rumput yang dipotonginya tadi.
"Masa sih, ko sekarang tidak ada Firman?? ", tanya Aulian kepada Firman.
"Itu karena tadi dibuat keluar masuk truk yang membawa bahan-bahan bangunan untuk membangun rumah ini Kak dulu, dan Kak Zahra dia belum sempat membuatnya lagi, karena masih sibuk", jawab Firman sambil duduk dibawah pohon mangga yang ada disitu.
Membuat Aulian yang mendengar perkataannya Firman dia langsung diam sambil memikirkan sesuatu dengan terus melihat kearah depan pekarangannya rumah Zahra.
Dan Zahra yang sudah selesai membuat jus dia langsung memberikannya kepada Aulian, Firman dan penghuni rumah lainnya termasuk para bodyguardnya Aulian yang juga Zahra buatkan jus mangganya.
"Terimakasih Sayang", kata Aulian kepada Zahra ketika menerima jus mangga pemberiannya Zahra.
"Sama-sama, Abang kalau sudah selesai mandi dulu sana, istirahat itu lihat wajah sama tangan Abang pada merah-merah dan bentol-bentol", kata Zahra kepada Aulian.
Karena kulit Aulian yang putih bersih jadi sangat terlihat jelas sekali jika lagi merah-merah begitu.
Aulian langsung saja bangkit untuk mandi, dan berlalu masuk kedalam rumah, sedangkan Zahra juga langsung memberikan jus mangga buatannya untuk para bodyguardnya Aulian.
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1