
Satu minggu sudah ternyata sudah berlalu dari kehebohan pesta resepsinya Kak Qiyas dan Kia. Dan saat ini Aulian beserta keluarga besarnya sedang perjalanan menuju kePanti Asuhan yang sering dikunjungi oleh Keluarganya.
Ketika sudah diperjalanan selama tiga puluh menit akhirnya Aulian beserta Keluarga besar kecuali Zahra mereka sudah sampai semua diPanti Asuhan, termasuk dari Keluarganya Ayah Ibrahim, yaitu Mamah Dian, Kia dan juga Kak Qiyas.
Ketika Aulian baru saja selesai membantu Papah Ziyas menurunkan barang-barang bawaan yang dibawa oleh Keluarganya, Aulian dia ijin kepada Papah Ziyas untuk melihat-lihat dan jalan-jalan kesekitar Panti asuhan.
Ketika Aulian berjalan kebelakang panti asuhan, Aulian mendengar suara seorang perempuan yang sangat dia kenali sekali. Aulian mencari sumber suara itu, dan ketika Aulian melihat gazebo, Aulian melihat perempuan yang sangat dia kenali sekali.
Aulian bersembunyi tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan gazebo tersebut, akan tetapi Aulian masih bisa mendengar dengan jelas pembicaraan dari anak panti kepada perempuan tersebut.
"Kak, Kakak sudah lama ya tidak berkunjung dan main kesini", tanya salah satu anak panti laki-laki kepada orang yang dipanggil Kakak itu.
"Iya, maafkan Kakak ya, karena Kakak kemarin-kemarin masih sibuk sekali", jawab Kakak itu kepada semua anak panti.
"Tapi kan Kakak sekarang sudah ada disini, dan ini Kakak sudah membawakan sedikit makanan untuk kalian, ya walau tidak banyak, kalian bisa berbagi satu sama lainnya, karena berbagi itu in...... ", kata orang yang dipanggil Kakak itu sengaja menjeda perkataannya.
"Indaaaaah", jawab kompak semua anak panti yang ada didepannya sekitar sepuluh orang itu.
Panti asuhan itu kira-kira sudah menampung setidaknya lima puluh orang anak terlantar dan yang tidak mempunyai orang tua, dan ada juga yang sengaja diserahkan orang tuanya karena mereka sangat-sangat tidak mampu menghidupi anak mereka.
Aulian sendiri masih mendengarkan sambil terus bersembunyi dengan perasaan yang sangat terenyuh sekali mendengar dan melihat pemandangan didepannya.
"Yeee terimakasih Kak Zahra", jawab salah satu anak panti perempuan yang berusia tujuh tahun kepada orang yang dipanggil Kak Zahra itu.
Yaps orang itu adalah Zahra readers, dan panti asuhan itu adalah miliknya Zahra. Ceritanya dulu ketika Zahra pertama kali menerima gaji pertamanya, dia begitu terkejut dan syok karena dia menerima gaji yang begitu banyak dari Kia yaitu atasannya.
Dan rincian tentang bonusnya pun juga banyak, karena sering membantu Kia memenangkan tender. Zahra yang saat itu dia sangat bersyukur sekali atas rejeki yang diterimanya itu dia langsung mentransfernya kerekening Ibunya dikampung dan sisanya yang masih banyak dia niatkan untuk membantu sekitar.
Ketika hari minggu Zahra sengaja membeli nasi box berjumlah sekitar dua puluh kotak untuk dibagikan keanak-anak jalanan dan orang-orang yang membutuhkan.
Singkat cerita ketika Zahra ingin memberikan nasi box kepada seorang Ibu-ibu dan anaknya yang berusia tiga tahun yang sedang tiduran digubuk reot yang tidak layak huni dan tidak jauh dari pinggiran kota, Zahra lalu berbincang sebentar dengan Ibu-Ibu itu.
Ternyata Ibu-ibu itu seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya karena tabrak lari ketika suaminya sedang memulung, dan waktu itu anaknya masih berumur satu tahun. Zahra yang kasihan melihatnya dia dengan setulus hati mencarikan kontrakan untuk Ibu itu beserta anaknya.
__ADS_1
Dan tiba-tiba ada ide terlintas diotaknya Zahra. Zahra mencari kontrakan rumah yang ukuran rumahnya cukup besar, dan untuk ditempatin Ibu itu beserta anaknya dan anak-anak jalanan yang tidak mempunyai rumah dan tempat tinggal.
Dan Ibu itu yang disuruh merawat dan mengurus semua anak dengan biaya yang selalu Zahra berikan setiap bulannya dari gaji yang diterimanya.
Yang awalnya hanya berjumlah sepuluh orang, sekarang sudah menjadi lima puluh orang, dengan niat yang tulus dari Zahra ada saja yang menyumbangkan sebagian rejekinya kepanti asuhan miliknya Zahra. Seperti Papah Ziyas yang sering menyumbangkan rejekinya kePanti asuhannya Zahra.
Zahra juga sudah mengurus surat-suratnya keRt dan Rw serta Kelurahan untuk menjadikan rumah kontrakan itu sebagai panti asuhan, dan semakin kesini alhamdulillah Zahra sudah tidak mengontrak lagi dirumah itu melainkan rumah itu sudah sepenuhnya miliknya Zahra semenjak satu tahun yang lalu, karena Zahra sudah membelinya dengan mencicilnya setiap bulannya dulu.
Papah Ziyas dia sungguh tidak mengetahui jika Panti Asuhan yang sering didatanginya dua tahun belakangan ini adalah miliknya Zahra, dan Papah Ziyas pasti sangat terkejut sekali nanti jika mengetahui Panti Asuhan yang sering disumbangnya adalah miliknya Zahra.
Ketika Zahra dan para anak-anak yang lainnya menikmati makanan yang dibawa oleh Zahra, Aulian dia langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Dan Aulian langsung saja melangkahkan kakinya kearah gazebo dimana Zahra dan anak-anak panti pada sedang berkumpul.
Zahra hari itu juga sudah diberitahu oleh pengurus panti jika nanti ada dua buah Keluarga yang akan datang memberikan sumbangan kePanti Asuhannya, akan tetapi Zahra tidak mau menemui mereka, dan Zahra menyerahkan sepenuhnya kepada pengurus panti Asuhan yang dipekerjakannya.
Sekarang pengurus panti asuhannya tidak Ibu itu saja yang ditolong Zahra dulu, melainkan ada empat orang, yang lainnya seorang janda yang tinggal tidak jauh dari panti asuhan, sedangkan yang dua lagi mereka sepasang suami istri yang kurang mampu dan tidak memiliki anak.
Walau bergaji kecil mereka masih mau mengabdi dan membantu Zahra mengurus panti asuhan miliknya, bahkan sudah banyak yang diadopsi oleh beberapa Keluarga anak-anak dari panti asuhannya Zahra.
Zahra dan anak-anak panti langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara orang yang baru datang tersebut.
Dan Zahra langsung terkejut melihat Aulian ada didepannya, sambil tersenyum kepadanya.
"Aa.... Abang", jawab Zahra dan dia langsung berdiri dari duduknya karena terkejut.
"Tidak apa-apa Zahra, Abang tidak marah ko, ternyata ini kegiatan yang tadi malam Zahra katakan kepada Abang, kenapa tidak cerita Zahra, jika kamu mau mengunjungi juga panti asuhan ini?? ", tanya Aulian kepada Zahra dengan bernada lembut
Karena Aulian kemarin sudah mengajak Zahra kepanti Asuhan, akan tetapi Zahra tidak bisa karena katanya ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkannya.
"Maafkan Zahra ya Abang, Zahra bukan bermaksud membohongi Abang, akan tetapi Zahra belum siap bercerita kepada Abang", jawab Zahra sambil menunduk takut kepada Aulian.
"Kakak siapanya Kak Zahra, jangan marah sama Kak Zahra Kak, Kak Zahra dia wanita yang baik", kata salah satu anak panti asuhan laki-laki yang sudah berumur sepuluh tahun.
"Kakak tidak marah ko dek, dan perkenalkan nama Kakak Aulian, Kakak adalah calon suaminya Kak Zahra", kata Aulian menjawab perkataan anak panti tadi dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Kakak tidak marah, ya sudah kita bergabung sama yang lain yuk Zahra didalam", kata Aulian kepada Zahra.
"Anak-anak Kakak tinggal dulu ya, kalian lanjutkan saja makannya, dan buang sampahnya ketempat sampah ya, kalau sudah selesai makannya, masuk ya bergabung sama anak-anak yang lain", kata Zahra kepada anak-anak panti tadi yang bersamanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
"Iya Kak", jawab serempak anak-anak panti itu.
Dan setelahnya Zahra ikut Aulian masuk kedalam panti. Ketika Aulian dan Zahra sudah masuk mereka berdua langsung melihat Keluarga Irawan dan Keluarga Ibrahim sedang mengobrol dengan pengurus panti yang dikerjakan Zahra, yang bernama Bu Ika sama Bu Santi.
"Mbak Zahra", kata Bu Santi menyapa Zahra.
"Lho Nak, ko kamu bisa bersama Zahra?? ", tanya Bunda Lili kepada Aulian ketika mereka semua melihat Aulian masuk bersama Zahra.
"Nyonya sudah kenal dengan Mbak Zahra?? ", tanya Bu Ika kepada Bunda Lili.
Bu Ika adalah pemulung yang ditolong Zahra waktu itu. Sedangkan Bu Santi adalah janda yang rumahnya tidak jauh dari panti asuhan miliknya Zahra. Dan sepasang suami istri yang dikerjakan Zahra, suaminya yang bernama Pak Saipul adalah tukang bersih-bersih dan sedangkan istrinya yang bernama Ibu Jaenab sebagai tukang masak dipanti asuhannya Zahra serta untuk membantu pekerjaannya Ibu Ika dan Ibu Santi yang lainnya.
"Iya dia adalah calon istri anak saya Bu, Ibu sendiri juga kenal dengan Nak Zahra?? ", tanya Bunda Lili kepada Ibu Ika.
Sedangkan yang lainnya masih setia mendengarkan percakapan antara Bunda Lili dan Ibu Ika. Aulian sendiri dia sudah duduk dikursi sebelahnya Kak Qiyas, sedangkan Zahra dia sudah duduk juga disebelahnya Kia.
Zahra yang mendengarkan percakapan antara calon mertuanya dan pengurus pantinya, dia menjadi deg-degan sekali, bagaimana reaksi Keluarga calon suaminya jika mengetahui panti asuhan itu miliknya.
"Mengenal sekalilah Nyonya, Mbak Zahra ini yang membantu saya hingga bisa menjadi seperti ini, dan bahkan Panti Asuhan ini miliknya, saya cuma bekerja untuk Mbak Zahra Nyonya mengurus panti asuhannya", jawab Ibu Ika kepada Bunda Lili sambil tersenyum dan langsung membuat semuanya pada terkejut sekali, terutama Aulian dia sampai tidak menyangka jika Zahra bisa memiliki panti asuhan sendiri.
Pasalnya mereka semua tahunya jika Panti Asuhan yang sering mereka datangi adalah miliknya Ibu Ika, ternyata mereka salah besar, ternyata pemilik aslinya adalah orang yang begitu dekat dengan mereka, yaitu Zahra.
ππππππππππππ
Baca di****BISSMILLAH WITH YOU kisah yang dihari Minggu ya readersπ€π€
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1