LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
CERITA ADZRIEL 2


__ADS_3

Sesampainya diResto Hui Adzriel dibuat terkejut sekali ketika melihat sekretaris dari CEO Perusahaan Ibrahim Company. Dan wanita itu juga sama-sama terkejutnya ketika melihat Adzriel.


"Tuan Adzriel silahkan duduk", kata Kia CEO Perusahaan Ibrahim Company kepada Adzriel. Ketika Adzriel sudah sampai dimeja yang mereka pesan.


Saat itu Kia belum menikah dengan Qiyas Kakaknya Aulian. Dan Kia kebetulan juga sudah datang terlebih dahulu dari Adzriel.


"Maaf ini siapa ya Nona Kia?? ", tanya Adzriel kepada Kia sambil menunjuk sopan seorang wanita berhijab yang duduk sampingnya.


Dan Adzriel langsung mengetahui jika gadis bercadar itu Nona Kia CEO dari Perusahaan Ibrahim Company karena sudah diberitahukan oleh sekretarisnya terlebih dahulu.


"Oh ini sekretaris saya dan dia juga sekaligus tangan kanan saya, namanya Zahra", jawab Kia ramah kepada Adzriel.


"Maaf Tuan untuk kejadian tadi", kata Zahra kepada Adzriel.


Gadis yang bertabrakan dengan Adzriel tadi adalah Zahra sekretarisnya Kia. Zahra saat itu tadi sedang terburu-buru karena atasannya Kia dia sudah datang terlebih dahulu dari dirinya.


Zahra bisa terlambat karena dia ketika berangkat dari rumah kontrakannya dijalan terjebak macet, alhasil seperti tadilah kejadiannya. Dan karena terburu-buru juga Zahra tidak sengaja bertabrakan dengan Adzriel.


"Kamu sudah kenal dengan Tuan Adzriel Zahra?? ", tanya Kia kepada Zahra ketika Kia mendengar perkataannya Zahra kepada Adzriel.


"Be......... ", perkataanya Zahra terpotong dengan perkataannya Adzriel.


"Oh tadi kita tidak sengaja saling bertabrakan, insiden kecil saja Nona", kata Adzriel menyela perkataannya Zahra. Dan dijawab Oh ria saja oleh Kia.


"Baiklah, bisa kita mulai sekarang Tuan?? ", kata Kia kepada Adzriel.


"Silahkan Nona", jawab Adzrie kepada Kia.


"Ayo Zahra dimulai", perintah Kia kepada Zahra. Dan dijawab anggukan dan senyuman oleh Zahra.


"Masyaallah manisnya senyumnya", kata batin Adzriel yang melihat senyumnya Zahra.


Zahra langsung saja membuka berkas-berkas yang dia bawa dan juga serta menjelaskan apa saja proyek yang sedang mereka tangani. Ketika Zahra memperlihatkan diagram yang ada dilayar laptopnya, penjelasan Zahra terhenti karena pertanyaan dari Adzriel.


"Maaf Nona layar laptopnya sedikit retak, apakah ini gara-gara bertabrakan tadi dengan saya?? ", tanya Adzriel kepada Zahra.


"Oh iya retak, bukannya sebelumnya layar laptop kamu tidak retak Zahra?? ", kata Kia kepada Zahra karena Kia ikut-ikutan melihat kearah laptopnya Zahra.


"Tidak apa-apa Tuan, lagi pula itu saya yang salah, yang penting masih berfungsi dengan baik dan masih menyala", jawab Zahra kepada Adzriel.


Zahra lalu melanjutkan lagi presentasinya kepada Adzriel dan menjelaskan ini itu tentang proyek kerjasama yang sedang mereka tangani dengan keuntungan yang menjanjikan. Akhirnya setelah sekitar dua jam, meeting berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kedua belah pihak.


Selama meeting berjalan, Adzriel sangat terkesan dengan cara Zahra menjelaskan, sangat rapi dan jelas sekali, hingga timbullah rasa penasaran dihatinya Adzriel akan sosok seorang Zahra.


"Saya puas dengan meeting hari ini Nona, semoga proyek kita ini bisa berjalan dengan lancar sampai akhir", kata Adzriel kepada Kia.


Adzriel ingin menjabat tangannya Kia, akan tetapi Kia langsung saja menangkupkan kedua tangannya didadanya, dan Zahra pun melakukan hal yang sama kepada Adzriel.


Sungguh meeting yang pertama kalinya Adzriel lakukan bersama kedua wanita yang benar-benar mengerti syariat agama, begitulah isi benak dihatinya Adzriel.


"Aamiiin, kalau begitu kami permisi dulu Tuan Adzriel", pamit Kia kepada Adzriel. Dan Zahra dia hanya tersenyum serta membungkukkan sedikit badannya sebelum dia pergi.


"Iya silahkan Nona-Nona", jawab Adzriel sambil tersenyum formal kepada Kia dan Zahra.

__ADS_1


Sepeninggalan Kia dan Zahra, Adzriel mengatakan dan menyuruh sesuatu kepada sekretarisnya.


"Fredik tolong carikan laptop yang terbaik dan kalau sudah dapat perlihatkan dulu kepadaku", perintah Adzriel kepada Fredik sekretarisnya.


"Baik Tuan", jawab Fredik kepada Adzriel.


Beberapa hari kemudian laptop yang dibutuhkan oleh Adzriel sudah Fredik dapatkan, dan Fredik saat ini sedang memperlihatkannya kepada Adzriel diruangan kantornya Adzriel.


"Ini bagus, sesuai dengan apa yang saya harapkan", kata Adzriel sambil melihat laptop yang dia pesan kepada Fredik.


"Baiklah saya suka, sekarang tolong kamu antar laptop ini untuk sekretarisnya Nona Kia yang bernama Zahra Fredik", perintah Adzriel lagi kepada sekretarisnya.


"Baik Tuan", kata Fredik dan setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan ruangannya Adzriel untuk mengantarkan langsung laptopnya kepada Zahra.


Beberapa menit kemudian sampailah Fredik diPerusahaan Ibrahim Company dan saat ini dia sedang berada dilift untuk menuju keruangannya Kia berada.


Setelah sampai keluarlah Fredik dari dalam lift dan dia langsung melihat Zahra berada diruangannya yang tembus pandang dengan pintu yang terbuka lebar.


"Permisi Nona", kata Fredik kepada Zahra yang berada diruangannya.


"Oh Tuan, anda kan sekretaris dari Tuan Adzriel, mari silahkan duduk", kata Zahra ketika dia melihat Fredik yang menyapa dirinya dan mempersilahkan Fredik duduk dishofa yang ada diruangannya.


"Ada apa ya Tuan, apakah anda ingin menanyakan proyek yang sedang kita tangani?? ", tanya Zahra sopan kepada Fredik sekretarisnya Adzriel ketika dirinya dan Fredik sudah duduk dishofa yang ada diruangannya.


"Bukan Nona, saya kesini karena disuruh Tuan Adzriel untuk mengantarkan ini kepada Nona Zahra", kata Fredik sambil menyerahkan sebuah tas yang berisi laptop keluaran terbaru dengan harga yang sangat mahal sekali.


"Masyaallah cantik sekali laptop ini, dan ini saya yakin sangat mahal sekali Tuan, karena ini laptop keluaran terbaru ditahun ini", kata Zahra sambil membuka tas dan melihat laptopnya.


Zahra yang mendengar perkatannya Fredik dia reflek melototkan matanya karena terkejut sekali.


"Maaf Tuan buat apa Tuan Adzriel memberikan saya laptop yang begitu mahal begini, dan sekali lagi saya tidak bisa menerimanya Tuan", kata Zahra dengan sopan kepada Fredik sambil mendorong kecil laptonya kearahnya Fredik.


"Itu untuk menggantikan laptop Nona yang sudah retak kemarin Nona, dan untuk itu saya mohon terimalah saja Nona, jika Nona tidak mau Nona Zahra bisa mengembalikan sendiri kepada Tuan Adzriel Nona, karena saya disini hanya menjalankan perintah saja Nona", jawab Fredik panjang lebar kepada Zahra.


"Baiklah nanti akan saya antarkan sendiri kepada Tuan Adzriel Tuan, terimakasih atas penjelasannya Tuan Fredik", kata Zahra dengan ramah kepada Fredik.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nona, banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan", pamit Fredik sambil berdiri dengan sedikit membungkukkan badannya kepada Zahra. Dan dibalas juga hal yang sama oleh Zahra.


Setelah kepergian dari Fredik Zahra duduk termenung sambil melihat terus kearah laptop yang berada diatas meja yang baru saja diberikan Adzriel kepadanya. Hingga Zahra tidak menyadari jika atasannya Kia berdiri didepan pintunya dan melihat Zahra melamun daritadi.


Eheeeemm


"........... ..... " Tidak ada sahutan dari Zahra.


Eheeeemm


Deheman untuk kedua kalinya, dan Zahra langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh Nona Kia", kata Zahra langsung sigap berdiri menyambut Kia.


"Kamu kenapa melamun sambil melihat kearah laptop itu terus Zahra, kamu baru membeli laptop lagi ya Zahra, bagus lagi dan ini keluaran terbaru", kata Kia ketika sudah duduk dishofa yang tadi diduduki oleh Fredik sambil melihat laptop yang ada diatas meja.


"Bukan Nona Kia, itu pemberian dari Tuan Adzriel untuk tempo hari yang dia melihat layar laptop saya yang retak, katanya itu untuk saya Nona", jawab Zahra jujur kepada Kia.

__ADS_1


Kia yang mendengar perkataannya Zahra dia sungguh sangat terkejut sekali, karena Kia tidak menyangka jika Adzriel akan membelikan sekretarisnya Zahra sebuah laptop yang sangat mahal sekali.


"Apakah kamu serius Zahra", tanya Kia kepada Zahra.


"Iya Nona, baru saja Tuan Fredik sekretarisnya Tuan Adzriel yang mengantarkan laptop ini", jawab Zahra kepada Kia.


"Tapi saya tidak mau menerima laptop ini Nona, saya tidak mau disangka akan memberikan harapan kepada Tuan Adzriel Nona, saya ingin mengembalikan laptop ini segera Nona Kia", kata Zahra kepada Kia.


Karena bagi Zahra maupun Kia, hubungan mereka tidak cuma dengan atasan dan sekretaris saja, akan tetapi juga hubungan persahabatan seperti teman yang sudah sangat dekat.


"Apapun keputusanmu jika itu menurutmu yang terbaik, saya akan mendukungmu Zahra, jika kamu kefikiran latop ini terus kembalikan saja hari ini Zahra", kata Kia kepada Zahra sambil tersenyum, walau Zahra tidak bisa melihat senyumnya Kia, akan tetapi Zahra tahu jika Kia sedang tersenyum kepadanya dengan mata Kia yang terlihat sedikit menyipit begitu.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya Nona yang belum selesai", kata Zahra kepada Kia.


"Kan bisa dilanjutkan nanti, daripada ini laptop belum kamu kembalikan kamu akan kefikiran terus dan kamu menjadi tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaanmu Zahra", jawab Kia kepada Zahra.


"Baiklah Nona, terimakasih atas pengertiannya, saya akan bersiap-siap untuk mengembalikan laptop ini Nona", kata Zahra dengan tersenyum sangat manis kepada Kia.


"Oh ya Nona Kia kesini apa ingin membutuhkan sesuatu Nona", tanya Zahra kepada Kia.


"Tidak jadi nanti sajalah, setelah kamu pulang mengantarkan laptop ini", kata Kia kepada Zahra.


Setelah berkata seperti itu Kia berpamitan kepada Zahra dan berlalu masuk lagi keruangannya. Dan Zahra langsung saja membereskan serta memasukkan laptop itu ketempatnya semula.


Beberapa menit diperjalanan Zahra akhirnya sampai juga diPerusahaannya Adzriel dan Zahra langsung saja naik keatas setelah dipersilahkan oleh resepsionis yang berjaga didepan dengan Zahra yang mengatakan jika dia dari Perusahaan Ibrahim Company.


Dan disinilah Zahra sudah sampai diruangannya Adzriel. Sungguh Adzriel sangat terkejut tadi ketika mendengar dari sekretarisnya jika Zahra datang menemuinya, hingga jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang sekali.


"Ada apa Nona Zahra, apakah ada yang bisa saya bantu", tanya Adzriel yang sudah mempersilahkan Zahra duduk dishofa yang ada diruangannya.


"Begini Tuan Adzriel, saya kesini ingin mengembalikan laptop ini Tuan, saya tidak bisa menerimanya, maaf Tuan", kata Zahra kepada Adzriel sambil menyerahkan laptop yang dia bawa tadi.


Adzrile sangat terkejut mendengar Zahra menolak laptop pemberiannya dan dia datang sendiri hanya untuk mengembalikan laptop itu.


"Tapi kenapa Zahra, bukannya ini bisa untuk menggantikan laptop kamu yang sudah rusak", kata Adzriel kepada Zahra.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa dan juga Tuan bukan mahram saya, pantang bagi saya menerimanya Tuan", jawab Zahra kepada Adzriel dengan sangat sopan sekali.


Adzriel bukannya marah, dia semakin penasaran akan sosok seorang Zahra. Dan Zahra tanpa menunggu jawaban dari Adzriel dia langsung berpamitan untuk pulang dan kembali lagi kekantornya Kia.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan, sekali lagi saya minta maaf", kata Zahra sambil berdiri dan sambil membungkukkan badannya sedikit, setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan Adzriel yang masih termenung dengan perkataannya Zahra tadi.


Semenjak saat itu Adzriel hanya berani menyimpan rasa itu didalam hatinya saja, dan ketika Adzriel sedang meeting dengan Perusahaannya Kia dia hanya bisa sering curi-curi pandang saja kepada Zahra karena Adzriel tidak mau salah melangkah lagi.


*Flashback Off*


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Sebentar readers, lanjutnya dipart selanjutnya Ya, karena ini partnya sudah panjang😁😁


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


***TBC***

__ADS_1


__ADS_2