
"Apa Aul yang ingin kamu sampaikan kePapah?? ", kata Papah Ziyas kepada Aulian.
Saat ini Papah Ziyas dan Aulian sedang berada diruang kerjanya Papah Ziyas, setelah selesai sarapan pagi tadi.
"Pah Aul rencana mau membeli sebuah rumah yang nantinya akan Aul tempati setelah menikah Pah, akan tetapi keadaannya lagi seperti ini, bolehkah Zahra tinggal disana terlebih dahulu sebelum menikah sama Aul Pah", kata Aulian kepada Papah Ziyas.
Papah Ziyas masih dengan setia mendengarkan lanjutan dari perkataannya Aulian.
"Aul sudah memikirkan ini dari semalam Pah, dan lagi tadi Zahra meminta Aul untuk mencarikan kontrakan lagi untuknya, tapi Aul rasanya berat sekali Pah, Aul takut jika kejadian ini akan terulang kedua kalinya kepada Zahra",, sambung Aulian lagi kepada Papahnya.
"Baik, Papah mengerti maksud kamu Aul", jawab Papah Ziyas kepada Aulian.
"Papah ingin bicara sama kamu ya salah satunya membicarakan Zahra Aul", kata Papah Ziyas lagi kepada Aulian.
"Kamu tidak perlu membeli rumah lagi, Papah sudah membelikan rumah untuk kamu dan juga Zahra, itu sebagai hadiah pernikahan kalian besok, akan tetapi kondisinya begini, Papah juga tidak tega membiarkan Zahra tinggal sendirian, jadi Papah mengijinkan jika Zahra boleh menempati rumah itu sebelum menikah sama kamu", sambung lagi perkataannya Papah Ziyas kepada Aulian.
Aulian yang mendengar Papahnya membelikannya hadiah sebuah rumah, Aulian sungguh sangat terkejut sekali.
"Papah membelikan sebuah rumah untuk Aul?? ", tanya Aulian dengan sedikit tidak percaya.
"Iya, rumahnya dijalan", Papah Ziyas lalu mengatakan letak rumah yang untuk Aulian dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Papah Ziyas, hanya sekitar lima belas menit saja jika mengendarai kendaraan.
"Dan ini kuncinya, coba kamu lihat saja sendiri nanti", sambung Papah Ziyas lagi sambil memberikan sebuah kunci rumah kepada Aulian.
"Terimakasih banyak Pah", jawab Aulian sambil mengambil kunci rumah itu dengan tersenyum senang.
"Akan tetapi untuk sementara ini, Zahra biarkan saja menginap dirumah ini dulu, untuk memulihkan masa traumanya, dengan didampingi oleh Dokter Diva Aul", kata Papah Ziyas kepada Aulian.
"Dan Dokter Diva akan kesini nanti sore sekitar jam tiga", kata Papah Ziyas lagi.
"Iya Pah, Aul usahakan nanti sudah pulang sebelum jam tiga sore", kata Aulian kepada Papahnya.
"Dan itu bagaimana dengan Rizky dan Keluarganya Aul, sudah kamu urus semuanya?? ", tanya Papah Ziyas kepada Aulian.
__ADS_1
"Sudah Pah, semuanya beres dan hari ini Aulian akan memberikan kesaksian lagi kepada Polisi agar polisi bisa lebih pasti menentukan hukuman yang pantas untuk Rizky karena tuntutan kita, dan untuk masalah Keluarganya tinggal nunggu besok senin Pah, karena hari ini Kakak akan memberikan balasan untuk Keluarga mereka, dan besok senin juga Papah lihat saja dikoran, surat kabar, bahkan media sosial akan keluar terus itu beritanya tentang Rizky", jawab Aulian panjang lebar kepada Papahnya.
"Tapi kamu sudah melaksanakan sesuai dengan apa yang Papah minta kan, jangan sampai nama Zahra dibawa-bawa", kata Papah Ziyas lagi kepada Aulian.
"Sudah Pah sesuai rencana kita, dan untuk lebih lanjutnya Papah nanti tanya saja keKak Iyas", jawab Aulian kepada Papahnya.
"Baiklah, itu saja yang ingin Papah sampaikan kekamu, kamu boleh keluar Aul", kata Papah Ziyas kepada Aulian.
"Baik Pah, Aul sekalian mau ijin keluar sebentar ada urusan", kata Aulian kepada Papahnya. Dan Papah Ziyas hanya mengangguk kepada Aulian.
Dan setelah itu Aulian berlalu keluar dari dalam ruang kerja Papahnya. Sesampainya diruang tamu Aulian duduk sebentar untuk menelfon seseorang.
"Halo selamat pagi dan Assalamu'alaikum Tuan Aulian", kata seseorang yang ditelefon olej Aulian.
"Pagi juga dan Wa'alaikumussalam Zain, hari ini kamu ada acara apa tidak", kata Aulian dan ternyata Aulian menelfon Zain sekretaris keduanya sekaligus sahabatnya Zahra dan juga Rizky.
"Tidak ada Tuan, saya hari ini akan menyelesaikan pekerjaan saya yang belum selesai kemarin", jawab Zain kepada Aulian.
"Hari ini ada yang ini saya sampaikan dan tanyakan kekamu, apakah kamu bisa temui saya jam sembilan diCafe Weee yang ada dijalan Angkasa Zain?? ", kata Aulian kepada Zain.
"Baik saya tunggu Zain, kalau begitu saya tutup dulu telefonnya, Assalamu'alaikum", kata Aulian mengakhiri panggilan telefonnya.
"Iya Tuan Wa'alaikumussalam", jawab Zain dan akhirnya panggilan telefonnya benar-benar terputus.
Dirumahnya Zain yang saat itu sedang sarapan dia terkejut ketika mendengar suara dering ponselnya yang ada diatas meja.
Ketika Zain melihat dilayar ponselnya yang menelfon Aulian, dia tambah terkejut lagi, karena tidak biasanya Aulian menelfon Zain ketika hari minggu.
Zain lalu mengangkat sambungan telefonnya Aulian, dan Aulian mengatakan ingin bertemu dengannya dan ada yang ingin disampaikan dengannya membuat nafsu makan Zain tiba-tiba saja hilang, karena Zain merasa takut jika Aulian tidak suka dengan cara kerjanya.
"Kira-kira apa ya yang ingin disampaikan Tuan Aulian kepadaku, apa ini tentang pekerjaan, dan Tuan Aulian tidak suka dengan cara kerjaku, atau ini tentang Zahra", kata Zain untuk dirinya sendiri.
"Jam delapan, aku harus siap-siap aku tidak boleh telat, tidak enak nanti dengan Tuan Aulian", kata Zain lalu dia bangkit dan membereskan makanan serta berkas-berkas yang berserakan diatas meja.
__ADS_1
Setelah beres semua, Zain lalu menuju kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih badannya dan lalu bersiap-siap untuk berangkat menuju keCafe yang Aulian suruh.
Sedangkan Aulian setelah menelfon Zain tadi, dia mengecek email dahulu melalui ponselnya, dan setelah itu Aulian beranjak pergi akan berangkat keCafe Weee.
"Kamu mau kemana Aul?? ", tanya Kak Qiyas yang kebetulan melihat Aulian akan beranjak pergi karena Kak Qiyas akan menemui Papahnya menuju ruang kerjanya.
"Aul ada urusan sebentar Kak, sama sekretarisnya Aul", jawab Aulian kepada Kakaknya.
"Oh ya sudah hati-hati dijalan kalau begitu", jawab Kak Qiyas dan dia langsung berlalu masuk kedalam ruang kerjanya Papah Ziyas.
Aulian lalu keluar dari rumah dan menuju kedalam garasi untuk mengambil mobilnya yang sudah dipanasi oleh sopir pribadi rumahnya Papah Ziyas.
Sekitar tiga puluh menit berkendara, karena jalanan cukup sepi sebab hari itu hari minggu, akhirnya Aulian sampai juga diCafe Weee. Ketika Aulian masuk dia sudah melihat Zain duduk dimeja dekat jendela kaca. Dan Zain pun yang melihat Aulian masuk dia langsung saja berdiri untuk menyambut Aulian.
"Tuan Aulian", kata Zain kepada Aulian sambil membungkukkan badannya sedikit ketika Aulian sudah berada didepannya.
"Sudah tidak perlu terlalu formal, silahkan duduk kembali Zain", kata Aulian kepada Zain dan dia langsung saja duduk diikuti oleh Zain.
"Tuan, tidak seperti biasanya Tuan mengajak ketemuan begini dihari Minggu, apakah ada yang bisa saya bantu Tuan", kata Zain yang pertama membuka obrolan.
"Mungkin saya akan membutuhkan bantuanmu, akan tetapi ini bukan tentang pekerjaan kantor Zain", jawab Aulian kepada Zain.
"Bukan pekerjaan kantor, apa itu ya", batin Zain ketika baru saja mendengar perkataannya Aulian dengan wajah bingungnya.
"Ini tentang Zahra Zain", kata Aulian lagi kepada Zain ketika Aulian melihat wajah kebingungannya Zain.
Sementara Zain dia terkejut sekali ketika mendengar Aulian mengatakan jika ini tentang Zahra.
ππππππππππππ
Lanjut tidak nihπ
ππππππππππππ
__ADS_1
***TBC***