LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
KERINDUANNYA ZAHRA


__ADS_3

Aulian lalu mencoba membuka pintu rumah dengan kunci yang diberikan oleh Papahnya tadi. Ketika Aulian sudah membuka pintu rumahnya, Aulian dibuat sangat terkejut mengetahui isi dalam rumah yang akan dia tempati itu.


"Sungguh Papahku sangat the best sekali, dia mengerti akan warna kesukaanku dan apa saja bentuk rumah yang aku inginkan", kata Aulian ketika dia sudah masuk dan menutup pintu tumahnya dari dalam.


Karena Aulian ketika pertama masuk, dia melihat rumahnya yang dalamnya sangat simple akan tetapi tetap nyaman dan elegan. Rumah dengan tiga lantai itu sungguh-sungguh sangat sesuai rumah impian dan kriterianya Aulian sekali.


"Bahkan dapur dan semua isi dirumah ini sudah sangat komplit sekali, tinggal menambahi saja nanti sesuai apa yang diinginkan Zahra", kata Aulian lagi berbicara sendiri ketika sudah melihat-lihat didalam rumahnya.


Ketika Aulian membuka kaca pembatas besar yang ada disitu, Aulian langsung melihat kolam renang yang ukurannya tidak bisa dibilang kecil maupun tidak bisa dibilang besar.


"Ok ada kolam renang tidak apa-apa, walau tidak terlalu suka renang, siapa tahu nanti bisa bikin aku bermesraan dengan Zahra didalam kolam renang ini", kata Aulian sudah mulai melantur.


"Aiiish, begininih jika didalam rumah sendirian, bawaannya mikir yang jorok-jorok", kata Aulian sambil tertawa sendiri.


Aulian lalu melanjutkan jalannya lagi melihat-lihat menuju kedalam kamar-kamar yang ada dibawah yang jumlahnya lebih dari dua kamar.


"Oke kamarnya besar, siapa tahu nanti bisa main sepak bola sama Zahra, dia gawangnya aku bolanya", kata Aulian lagi sambil cekikikan sendiri ketika dia melihat kamar yang ukuruannya sangat besar, dan Aulian perkirakan jika itu adalah kamar utama dirumah itu.


Aulian lalu menaiki tangga untuk melihat-lihat yang ada dilantai dua rumahnya itu. Aulian melihat dilantai dua yah begitu-begitu saja yang membuat Aulian langsung berfikir akan dia dirombak lagi sesuai keinginannya Zahra nanti.


"Waduh, jam setengah satu belum sholat, sholat dhuhur dahulu lah, mana ini musholanya", kata Aulian sambil turun lagi kebawah untuk mencari mushola.


Setelah Aulian menemukan mushola yang ada dirumah barunya, dia segera menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu.


Berbeda dengan Aulian, Zahra yang tadi melanjutkan tidur lagi dan baru bisa bangun ketika jam sembilan pagi ketika itu Aulian dan Zain sedang ketemuan diCafe.


Zahra lalu berusaha untuk duduk dan menyesuaikan pandangannya terlebih dahulu. Ketika bangun Zahra sudah merasa lebih fresh dari sebelumnya, dan panas dibadannya pun sudah mendingan, walapun masih hangat.


Zahra yang sudah sepenuhnya sadar, dia melihat ada sebuah makanan diatas meja sebelah ranjang. Dengan hati-hati Zahra mengambilnya dan hanya memakannya sedikit sekali, karena Zahra dia tidak merasakan lapar dan tidak nafsu makan sebenarnya.


Setelah itu Zahra mencoba keluar dari dalam kamarnya Kak Anin sambil membawa piring bekas makannya tadi. Zahra sangat-sangat bersyukur sekali bisa sedikit melawan rasa trauma yang ada didalam dirinya, karena semenjak meninggalnya Ayahnya Zahra sudah bertekad didalam dirinya harus kuat menghadapi setiap cobaan yang ada dan tidak boleh terlalu merepotkan orang lain.

__ADS_1


"Non Zahra sudah bangun, sini biar Bibi saja yang membawa piringnya kedapur", kata pembantu yang ada dirumahnya Papah Ziyas yang tadi mengantarkan makanan untuk Zahra.


"Tidak perlu Bi, bibi lanjutkan saja mengepelnya, biar Zahra sendiri yang bawa kebawah", jawab Zahra ramah kepada pembantu tersebut.


"Baik Non, terimakasih banyak", jawab pembantu itu kepada Zahra sambil tersenyum dan dibalas senyum juga oleh Zahra.


Zahra lalu berlangsung pergi dari hadapan si Bibi dan melanjutkan lagi jalannya menuruni tangga untuk menuju kedapur.


"Sudah cantik, ramah, baik lagi, sungguh Tuan Aul dan Tuan muda Qiyas beruntung sekali bisa mendapatkan wanita-wanita seperti itu", kata pembantu itu ketika melihat Zahra sudah menuruni tangga.


"Beruntung lagi aku bisa bekerja sama keluarga baik seperti Keluarganya Tuan Ziyas", kata pembantu itu lagi sambil melanjutkan mengepelnya.


"Eh Zahra mau kemana??", tanya Kia yang berpas-pasan dengan Zahra ketika Kia akan menaiki tangga.


"Mau kedapur Kak menaruh ini piring, Kakak sendiri mau kemana?? ", jawab dan lalu tanya Zahra kepada Kia.


"Mau kekamar sebentar untuk mengambilkan ponselnya Kak Fasya", jawab Kia kepada Zahra.


"Oh ya sudah, Zahra kedapur dahulu Kak", kata Zahra lagi kepada Kia.


"Nona Zahra sedang apa?? ", tanya salah satu pembantu rumahnya Papah Ziyas yang lain.


"Mau cuci piring ini Bi", jawab Zahra sambil menunjukkan piring yang dia bawa.


"Sini Non, biar Bibi saja yang mengerjakan, Nona Zahra istirahat saja didalam", jawab Bibi kepada Zahra sambil meminta piring yang dibawa oleh Zahra.


"Baiklah, terimakasih ya Bi", jawab Zahra kepada Bibi itu.


Zahra yang niatnya mau duduk diruang Keluarga, ketika dia berjalan melewati pintu kaca yang besar Zahra melihat sebuah bangku dan meja yang berada dibawah pohon mangga belakang rumahnya Papah Ziyas, Zahra lalu membelokkan kakinya berjalan menuju kebangku itu dan langsung duduk disitu.


"Ayah Zahra rindu, ingin sekali diwaktu Zahra lagi sedang keadaan seperti ini, Zahra ingin memelukmu Ayah, sambil mencurahkan segalanya apa yang sedang Zahra rasakan", kata batin Zahra ketika dia sudah duduk dibangku tersebut, dan tanpa sadar Zahra meneteskan air matanya karena teringat dengan mendiang Ayahnya.

__ADS_1


"Ibu maafkan Zahra, Zahra belum bisa bercerita kepadamu, sungguh sangat baik sekali keluarganya Abang Aul Ibu, hingga membuat Zahra merasa mempunyai Keluarga dikota ini, tanpa mereka dikota ini, dan tanpa kedatangan Abang Aul kemarin, mungkin keadaannya Zahra tidak akan masih baik seperti ini", kata batin Zahra lagi sambil menangis dan lalu Zahra menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Ketika Zahra menangis dan teringat tentang kejadian kemarin yang menimpanya, Zahra dikejutkan dengan sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.


Ketika Zahra membuka kedua telapak tangan yang menutupi mukanya, Zahra lalu memeluk orang yang tadi memegang pundaknya dan juga sudah duduk disampingnya itu.


"Bunda", kata Zahra sambil memeluk Bunda Lili yang sudah duduk disebelahnya.


"Menangislah Nak, tidak ada yang melarangmu menangis, karena menangis juga dapat mengeluarkan racun yang ada didalam tubuhmu yang tidak bisa kamu ungkapkan melalui kata-kata", kata Bunda Lili kepada Zahra.


Bunda Lili yang waktu itu ingin membuat teh untuk Papah Ziyas dia tidak sengaja melihat Zahra yang melamun sambil menangis, dibangku dekat pohon mangga. Walau Zahra bukan terlahir dari rahimnya, akan tetapi Bunda Lili bisa merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Zahra.


"Bi, tolong antarkan teh ini untuk Tuan Ziyas ya yang sedang diruang tamu, katakan pada Tuan jika beliau mencari saya, saya sedang bersama Zahra dibelakang", kata Bunda Lili menyuruh pembantunya untuk mengantarkan teh yang baru saja dia buat itu.


Bibi lalu mengantarkan teh itu untuk Papah Ziyas yang sedang berada diruang tamu.


"Nyonya kemana Bi", kata Papah Ziyas yang melihat Bibi yang mengantarkan teh pesanannya.


"Lagi dibelakang Tuan bersama Nona Zahra, saya permisi dulu Tuan besar", kata pembantu itu dan hanya dijawab anggukan oleh Papah Ziyas sambil meminum tehnya.


Kembali lagi keZahra yang masih memeluk Bunda Lili. Dan Bunda Lili masih dengan setia mengusap lembut punggungnya Zahra.


"Bunda Zahra rindu dengan Ayah, Zahra juga sudah banyak merepotkan Bunda Lili dan sekeluarga", kata Zahra yang menangis dengan begitu derasnya.


"Kata siapa kamu merepotkan kami Nak, kami ini juga Keluargamu, jangan berkata seperti itu lagi ya Nak, jika tidak ingin Bunda marah kepadamu, Bunda ini juga Bunda kamu, Ibu kamu juga", kata Bunda Lili sambil mengusap air matanya Zahra.


"Jika kamu sudah menikah dengan Aul, kamu boleh ko memeluk Papah, untuk melepaskan rindu kamu kepada Ayah kamu", kata seseorang yang langsung mengalihkan pandangannya Zahra dan juga Bunda Lili.


🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊🎊


Lanjut Part 2, eh ko malah kayak youtubeπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚, lanjut part selanjutnya readersπŸ˜…

__ADS_1


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


***TBC***


__ADS_2