
Tiba-tiba pelayan rumah yang mengintip Qiyas dan Aulian dia berteriak histeris memanggil Bunda Lili.
Pasalnya pelayan itu melihat Qiyas mengajak naik Aulian keatas pohon mangga dengan satu kaki Aulian yang sebelah kanan masih terikat dengan tali panjang yang dibawa Qiyas tadi.
Ketika sudah sampai didahan yang cukup besar dan tidak terlalu tinggi, paling sekitar tiga meteran dari bawah, Qiyas menghentikan gerakannya. Aulian yang terus mengikuti dibelakang Kakaknya dia juga ikutan berhenti ketika melihat Kakaknya berhenti.
"Duduk diam disini", perintah tegas Qiyas kepada Aulian, dan Aulian langsung saja menuruti perintah dari Kakaknya.
Qiyas lalu mengikat kaki kirinya Aulian juga dengan sangat erat, setelah itu Qiyas lalu mengikat ujung tali yang satunya kedahan yang sedang diduduki oleh Aulian.
Ketika sudah selesai menalikan tali didahan dan sekiranya sudah cukup kuat, dengan teganya Qiyas langsung mendorong tubuh Aulian, sontak saja Aulian dia berteriak histeris karena terkejut dengan dorongan dari Kakaknya Qiyas, dan Aulian dia bergelantungan dengan kaki yang berada diatas sedangkan kepalanya berada dibawah karena kedua kakinya yang ditali erat oleh Kakaknya.
Qiyas setelah melakukan hal itu kepada adiknya Aulian, dengan tanpa merasa kasihan kepada Aulian dia lalu turun dari atas pohon mangga itu.
"Kakak-kakak jangan tinggalin Aul disini, Kak Aul takut, ampun Kak, Aul janji tidak akan membuat Kakak marah lagi", kata Aulian dengan menangis ketika melihat Kakaknya sedang menuruni pohon mangga.
Qiyas tidak mendengarkan perkataan dari adiknya Aulian hingga kakinya benar-benar sudah sampai diatas tanah. Setelah sudah benar-benar turun Qiyas lalu mendongakkan kepalanya keatas melihat adiknya Aulian yang sedang bergelantungan diatas pohon dengan cara terbalik begitu.
"Kakaaaak", kata Aulian dengan wajah menangis dan memelas kepada Kakaknya Qiyas yang ada dibawahnya.
Qiyas tidak menanggapi panggilan dari Aulian, dia langsung saja berlalu meninggalkan Aulian masuk kedalam rumah dan terus masuk kedalam kekamarnya.
Pelayan tadi yang melihat tindakannya Tuan mudanya Qiyas, dia langsung berteriak-teriak memanggil Bunda Lili. Teriakan dari pelayan itu tidak cuman Bunda Lili saja yang keluar melainkan hampir semua pelayan yang ada dirumah itu pada keluar semua. Dan bertepatan juga dengan Papah Ziyas yang baru saja masuk kerumahnya, karena sudah jam lima sore waktu Papah Ziyas pulang dari bekerja.
"Ada apa Bi Min teriak-teriak begitu", tanya Papah Ziyas kepada pelayannya yang bernama Mimin yang sedang berteriak-teriak.
"Ada apa sih, siapa tadi yang berteriak-teriak", kata Bunda Lili dengan tergesa-gesa yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Ada apa Min??,
"Ada apa??,
"Kenapa Min teriak-teriak begitu??,
__ADS_1
Tanya Papah Ziyas, dan Bunda Lili serta tanya hampir semua pelayan kepada pelayan yang bernama Mimin itu.
"Anu itu, anu Tuan, nyonya, Anu-anu", kata Mimin dengan nafas tersendal-sendal karena masih terkejut dengan apa yang dia lihat tadi.
"Anu-anu apa Min, yang jelas", kata tegas dari Papah Ziyas kepada Mimin.
"Itu Tuan besar, Tuan Muda Aulian", kata Mimin dengan tergesa-gesa sambil terus menunjuk kearah samping rumah.
Semua orang yang ada disitu termasuk Bunda Lili dibuat gemas dengan perkataannya Mimin yang tidak lancar.
"Kamu ini mau ngomong apa sih Min, Tuan muda Aulian kenapa?? ", tanya Bunda Lili dengan gemas kepada pelayannya yang bernama Mimin.
"Aul............... ", perkataannya Papah Ziyas terpotong karena dia mendengar teriakan seseorang yang memanggil namanya dan nama Istrinya Bunda Lili dari samping rumahnya.
"Papaaaaaaaah, Bundaaaaaaaaaaaa, tolong Aul", Kata Aulian dengan berteriak-teriak memanggil nama kedua orang tuanya, sambil menangis dengan kencang sekali, karena dia sudah takut dan kakinya pun sudah mulai lecet-lecet.
Papah Ziyas, Bunda Lili dan semua para pelayan termasuk satpam dan tukang kebun yang lagi berkumpul dan berbincang dipos satpam depan pun yang mendengar teriakannya Aulian mereka pada segera berlari keluar dan langsung menuju kesamping rumah.
"Auliaaaaan", teriak Bunda Lili ketika melihat Aulian dengan keadaan begitu.
"Aul", kata Papah Ziyas dan dia langsung mendekati Aulian yang sedang berada diatas pohon dengan keadaan yang seperti itu.
Sedangkan para pelayan, satpam dan tukang kebun pun juga pada terkejut melihat keadaanya Aulian.
Jangan ditanyakan bagaimana Qiyas, dia setelah masuk kekamarnya tadi, Qiyas langsung membenarkan bukunya yang robek tadi dan langsung melanjutkan menyelesaikan pekerjaan rumahnya lagi, tanpa memperdulikan kegemparan didalam rumahnya karena ulahnya kepada adiknya Aulian.
"Iya ini Tuan maksud Mimin tadi", kata Mimin kepada Papah Ziyas.
"Cepat ambil tangga, dan turunkan Aulian", perintah tegas Papah Ziyas kepada semua orang yang bekerja dirumahnya.
"Biar saya saja Tuan besar yang naik keatas, dan Tuan besar yang menangkap Tuan Muda dari bawah", kata tukang kebun yang bernama Pak Tirjo kepada Papah Ziyas. Dan Papah Ziyas langsung saja mengangguki perkataannya Pak Tirjo.
Pak Tirjo langsung saja naik keatas pohon, dan ketika sudah sampai didahan yang buat menalikan Aulian, Pak Tirjo dengan perlahan melepasakan ikatan tali tersebut setelah itu Pak Tirjo lalu menurunkan Aulian dengan perlahan-lahan sampai bisa ketangkap badannya Aulian oleh Papah Ziyas.
__ADS_1
Bunda Lili dia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Aulian, karena Bunda Lili sangat khawatir kepada Aulian, karena takut Aulian nanti bisa terjatuh.
"Alhamdulillah", kata semua orang ketika Aulian sudah ketangkap oleh Papah Ziyas dengan selamat.
"Ya Allah Nak, kenapa bisa sampai begitu, siapa yang melakukan itu kepadamu, kamu tidak apa-apakan?? ", kata Bunda Lili dengan nada yang sangat khawatir sambil memeriksa semua tubuhnya Aulian.
"Apa tadi ada orang lain yang masuk kesini Pak", tanya Papah Ziyas kepada penjaga dan satpam yang ada dirumahnya.
"Tidak ada Tuan, kami seharian berjaga terus didepan Tuan Ziyas", jawab salah satu penjaga rumahnya Papah Ziyas.
"Tuan Muda Qiyas yang melakukan itu kepada Tuan Muda Aulian Tuan Besar", adu Mimin yang mengintip tadi kepada Papah Ziyas.
"Iya Pah Kakak yang melakukan ini, tapi ini semua juga gara-gara Aul, yang salah duluan keKakak", jawab Aulian kepada Papahnya.
Papah Ziyas yang mendengar perkataan dari anaknya Aulian dia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, karena Papah Ziyas sudah tahu pasti jika anaknya Qiyas sampai melakukan hal yang tidak-tidak itu karena anaknya Qiyas sudah habis kesabarannya dan juga saking marahnya.
"Sudah-sudah ayo masuk semua, dan kamu Aulian nanti temui Papah diruang Keluarga setelah sholat maghrib dan mengaji", kata Papah Ziyas kepada semuanya, dan juga kepada Aulian.
"Baik Pah", jawab Aulian kepada Papahnya.
"Bund, itu kakinya Aul tolong obati yang lecet-lecet bekas tali tadi, takutnya nanti bisa infeksi", kata Papah Ziyas kepada Bunda Lili. Dan dijawab anggukkan oleh Bunda Lili.
Akhirnya mereka semua pada masuk kerumah kecuali para penjaga rumah dan satpam yang kembali berjaga didepan serta mereka melanjutkan aktifitas mereka masing-masing lagi yang tertunda tadi.
Dan Bunda Lili menuntun Aulian duduk dishofa yang ada diruang keluarga setelah itu Bunda Lili mengobati luka lecet dikakinya Aulian dengan obat yang tadi diambilkan oleh pelayan rumahnya.
ππππππππππππ
Masih berlanjut ya readers, belum Off Flashbacknya ππ
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1