LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
SAKIT TAK BERDARAHNYA FADHIL


__ADS_3

"Tuan Fadhil",


"Zain",


"Selamat siang",


Kata Zahra menyapa Fadhil dan juga Zain yang sedang berada didalam lift yang sama.


"Kamu kenal dengan Zain Zahra?? ", tanya Fadhil kepada Zahra.


"Dia teman saya dari kecil dan kebetulan juga kita satu kampung Tuan", jawab Zahra kepada Fadhil dengan menundukkan wajahnya.


"Apa benar yang dikatakan oleh Zahra Zain?? ", tanya Fadhil beralih kepada Zain.


"Benar Tuan, bahkan dari SD sampai SMA kita satu sekolahan terus", jawab Zain dengan jujur, dan tatapan matanya masih menyiratkan kesukaannya dengan Zahra, hanya sedikit tidak seperti sebelumnya.


Fadhil pun merasa ada yang aneh dengan cara Zain menatap Zahra, dan Zain pun juga merasa begitu ketika melihat Fadhil yang menatap Zahra.


Mereka berdua sama-sama membatin didiri mereka masing-masing.


"Sepertinya Zain juga menyukai Zahra, aku yakin itu", batin Fadhil sambil melirik kearahnya Zain.


"Kasihan sekali Tuan Fadhil, dia harus mempunyai saingan yang berat yaitu Tuan Aulian, Tuan Fadhil apa tidak tahu jika Zahra dan Tuan Aulian sudah semakin dekat, dan aku yakin sekali rantang itu pasti untuk Tuan Aulian", batin Zain yang tadi sekilas melihat tatapan sukanya dari Fadhil keZahra.


Setelah mendengar jawaban dari Zain, mereka bertiga sama-sama diam, dengan fikiran mereka masing-masing. Terutama Fadhil yang selalu melihat kearah rantang yang dibawa oleh Zahra.


"Itu rantang yang Zahra bawa untuk siapa ya, apa jangan-jangan untuk Tuan Aulian, semoga saja tidak", batin Fadhil sambil terus melihat kearah rantang yang Zahra bawa.


"Zahra apa boleh saya bertanya kepadamu?? ", kata Fadhil kepada Zahra.


"Iya Tuan silahkan", jawab Zahra sambil menganggukkan kepalanya.


"Itu rantang yang kamu bawa untuk siapa ya?? ", tanya Fadhil dengan sangat hati-hati kepada Zahra.


Belum sempat Zahra menjawab pertanyaan dari Fadhil, terdengarlah bunyi lift yang terbuka.


Ting


Zahra langsung saja melangkahkan kakinya untuk keluar, ketika baru beberapa langkah keluar dari lift Zahra ternyata sudah ditunggu oleh Aulian yang sengaja menunggu Zahra datang.


Aulian ketika itu dia tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari lift, dan ketika melihat lampu tombol dilift berhenti tepat dilantai ruangannya, dia sudah sangat antusias sekali. Dan ketika Aulian melihat Zahra keluar dari lift disambutlah Zahra dengan senyum manisnya, akan tetapi ketika Aulian melihat kedua laki-laki yang berada dibelakangnya Zahra senyum Aulian langsung saja pudar.

__ADS_1


Zahra yang mengetahui arah pandangnya Aulian dia langsung saja menjelaskan kepada Aulian, dan entah kenapa Zahra tidak mau Aulian nanti salah faham kepadanya.


"Tadi tidak sengaja bersamaan Abang masuk keliftnya, sudah yuk kita makan siang", ajak Zahra kepada Aulian dengan tersenyum yang menenangkan, karena Zahra merasa Aulian sedang cemburu dengan Zain dan juga Fadhil.


"Abang, apa tidak salah dengar aku tadi?? ", batin Fadhil ketika dia mendengar Zahra memanggil Aulian dengan panggilan Abang.


"Jadi benar rantang itu untuk Tuan Aulian", sambung batin Fadhil lagi.


"Tuan Aulian", sapa Zain dengan sedikit menundukkan badannya dan setelah itu dia langsung berlalu pergi dari hadapan mereka dan kembali keruang kerjanya.


Aulian hanya diam saja ketika disapa oleh Zain tadi. Dan Zain sengaja langsung berlalu pergi dari situ karena Zain tidak mau ikut campur kedalam kisah cinta mereka yang rumit itu, walaupun Zain sendiri juga cinta sama Zahra, akan tetapi Zain sudah tidak ingin lagi mengetahui apa yang berhubungan dengan Zahra, karena Zain takut hatinya nanti tidak akan bisa move on dari Zahra.


"Tuan Aulian", sapa Fadhil dan ternyata dia ikut keluar dari lift bersama Zain tadi.


"Kamu kenapa ikut keluar, bukannya lantai ruang kerja kamu masih satu lantai diatas", tanya Aulian kepada Fadhil dengan bernada tegas dan dingin.


"Tidak apa-apa Tuan, saya hanya ingin bertanya kepada Zahra saja dan tadi Zahra juga belum menjawab pertanyaan dari saya Tuan", jawab Fadhil dengan sopan tapi juga tak kalah dinginnya seperti Aulian.


Aulian langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Zahra yang daritadi mengamati percakapan antara dirinya dan juga Fadhil.


Zahra yang mengetahui arti tatapan dari Aulian kepadanya, Zahra langsung saja menjawab jujur kepada Fadhil, karena Zahra tidak mau ada perselisihan antara dirinya dan juga Aulian.


"Oh ini saya ingin makan siang bersama tunangan saya Tuan Fadhil", jawab Zahra sambil terus melihat kearahnya Aulian.


Sedangkan Fadhil yang mendengar jawaban dari Zahra dan adegan romantis didepannya tiba-tiba hatinya merasa sudah sakit dahulu sebelum berjuang.


"Tunangan", ulang Fadhil ketika mendengar jawaban dari Zahra.


"Iya Zahra tunanganku, memang belum saya rayakan, tapi setidaknya Zahra sudah menerima lamaran dari saya Fadhil", jawab Aulian dengan dingin.


Aulian lalu mengambil pergelangan tangan Zahra yang tertutup bajunya dan dengan sengaja Aulian memperlihatkan cincin indah yang melingkar dijari manisnya Zahra.


"Lihat, sudah ada cincin indah yang melingkar dijari manisnya, jadi saya mohon dan tolong jangan mengganggu Zahra lagi Fadhil", kata Aulian dengan dingin kepada Fadhil.


Fadhil dia tidak mampu berkata-kata lagi karena masih terkejut mendengar perkataan dari Zahra dan juga Aulian, bahkan Fadhil tidak bisa menjawab perkataan dari Aulian.


"Sudah Abang, ayo Zahra sudah keburu lapar", ajak Zahra dan dia langsung saja menarik lengannya Aulian dengan lembut, dan Zahra sengaja menarik lengannya Aulian karena Zahra tidak mau berlanjut yang tidak dia inginkan dengan Fadhil.


Setelah kepergian dari Zahra dan juga Aulian, Fadhil pun masih terpaku ditempat dengan fikiran yang tiba-tiba menjadi ngeblank.


"Tidak-tidak ini pasti tadi aku salah dengar", kata Fadhil untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Untuk memastikan kebenarannya, Fadhil dengan langkah kaku dia berjalan menuju keruang kerjanya Zain. Karena fikir Fadhil Zain pasti mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui.


"Mas Fadhil, kamu apa mau bertanya tentang mereka?? ", tanya Zain yang melihat Fadhil masuk keruangannya, karena Zain sudah menebak jika Fadhil pasti nanti akan bertanya tentang Zahra dan juga Aulian kepadanya.


"Apa kamu sudah tahu Zain", jawab Fadhil kepada Zain. Dan Zain hanya menjawab anggukan saja dikepalanya.


"Sejak kapan??, kenapa saya tidak mendengar kabar itu, bahkan Tuan Qiyas biasa saja, dan Tuan Ziyas pun dia tidak menyiapkan syukuran atau pesta apapun untuk Tuan Aulian?? ", tanya Fadhil lagi kepada Zain.


"Saya tidak tahu kapan Mas tepatnya, akan tetapi saya tahu hampir dua mingguan ini Mas", jawab Zain, dan Zain lalu menceritakan awal mulanya dia tahu jika Zahra adalah tunangan dari Aulian ketika diCafe kemarin.


"Apa benar yang kamu ceritakan Zain?? ", tanya Fadhil lagi kepada Zain.


"Benar Mas", jawab Zain lagi.


"Bukannya kamu juga menyukai Zahra Zain, apa kamu tidak sakit hati ketika mengetahui berita itu?? ", tanya Fadhil kepada Zain.


"Apa sangat kelihatan sekali ya Mas", jawab Zain sambil tertawa kecil.


"Ya awalnya saya sedih dan hancur hatiku Mas, karena saya menyukai dan mencintai Zahra sejak saya kecil Mas, tapi jika Zahra bahagia dengan Tuan Aulian, aku akan belajar mengikhlaskannya Mas, karena sejatinya mencintai tidak harus memiliki, dan jika kita melihat orang yang kita cintai bahagia, kita juga akan ikut bahagia Mas, itu yang saya coba rasakan, karena saya yakin Tuan Aulian bisa membahagiakan Zahra", sambung Zain lagi dengan panjang lebar kepada Fadhil.


Fadhil pun yang baru mengetahui juga jika Zain sudah mencintai Zahra sejak kecil dia menjadi tambah bingung dan tambah ngeblank fikirannya.


"Bukannya Tuan Fadhil juga menyukai Zahra ya?? ", tanya Zain kepada Fadhil.


"Iya Zain, benar apa yang kamu katakan, saya juga menyukai Zahra, mungkin lebih tepatnya saya mulai mencintai dia, diwaktu saya ingin benar-benar serius dengan seorang wanita, ternyata wanita itu tidak ditakdirkan untukku", jawab Fadhil sambil melamun.


"Sebagai laki-laki pantang bagi saya harus merebut hati seorang wanita yang wanita itu jelas-jelas sudah memilih laki-laki lain Mas, lebih baik saya menjomblo daripada harus berjuang untuk wanita yang benar-benar sudah tidak mau sama saya", kata Zain kepada Fadhil lagi.


"Benar kata kamu Zain, jadi lebih baik saya harus belajar menerima kenyataan ini, karena seperti kata kamu, jika mencintai tidak harus memiliki", jawab Fadhil kepada Zain.


"Iya Mas, saya doakan semoga Mas Fadhil cepat mendapatkan wanita yang lebih baik lagi, agar Mas Fadhil bisa segera membina rumah tangga, karena umur dari Mas Fadhil kan sudah matang", doa Zain sambil tertawa kecil kepada Fadhil.


"Halah, bilang saja kalau umurku sudah tua, sok-sokan bilang sudah matang segala", jawab Fadhil kepada Zain dan membuat Zain langsung tertawa mendengarnya.


Akhirnya mereka berdua tertawa bersama-sama, dan sejenak melupakan rasa patah hati mereka dengan Zahra dan juga Aulian.


⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛


Lanjur Part selanjutnya tidak nih readers 😁😁


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕

__ADS_1


***TBC***


__ADS_2