
"Kamu!!!, kamu kan penjaga toko roti tadi yang baru saja saya datangi", kata Hafiz sambil menunjuk wajahnya Ameera.
Iya gadis yang baru saja bertabrakan dengan Hafiz adalah Ameera, pemilik toko roti Ameera bakery sekaligus sahabatnya Zahra.
"Memang kenapa kalau saya karyawan toko roti, tidak boleh begitu saya main kesini", kata Ameera dengan nada jutek.
"Ini juga salah kamu, kenapa kamu berjalan tidak melihat kedepan malah melihat kekanan dan kekirimu terus", jawab Hafiz tidak kalah juteknya dengan Ameera.
"Kamu juga salah, sudah tahu saya tidak melihat kedepan kenapa malah menabrak saya, sengaja ya, biar bisa dekat dengan saya", jawab Ameera lagi kepada Hafiz dengan wajah marahnya.
"Gadis sinting", kata Hafiz dan langsung saja dia meninggalkan Ameera yang sedang kesal.
"Dasar laki-laki gadungan, tidak meminta maaf malah langsung menyelonong pergi begitu saja", gerutu Ameera untuk Hafiz dan Ameera tidak lagi melanjutkan jalan-jalannya akan tetapi dia langsung saja pulang kerumahnya.
............. °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°.............
Jam pulang kantor pun tiba, ketika Zahra ingin pulang dan akan membuka pintu ruangannya, Zahra sudah dikejutkan oleh kedatangan Aulian yang sudah terlebih dahulu membuka pintu ruangannya.
"Astaghfirullah Tuan Aulian", kata Zahra yang terkejut ketika melihat Aulian tiba-tiba membuka pintu ruangannya.
"Eh, manggilnya.... ", kata Aulian kepada Zahra.
"Tapi kita sedang berada dikantor Tuan", jawab Zahra kepada Aulian.
"Kan kita cuma berdua saja Zahra", kata Aulian lagi kepada Zahra.
Belum sempat Zahra menjawab, tiba-tiba ada suara yang mengejutkan mereka berdua.
"Eh kamu disini juga Aul", kata seseorang yang mengejutkan Zahra dan juga Aulian.
"Kan Aul lagi berusaha Kakak", jawab Aulian kepada Kakaknya Qiyas yang tadi menyapa Aulian.
"Tuan Qiyas, Nona Kia", sapa Zahra kepada Qiyas serta Kia yang akan pulang dan melewati ruangannya.
Qiyas sengaja datang menjemput istrinya Kia dikantornya, dan ketika Qiyas serta Kia berjalan melewati ruangannya Zahra, Qiyas melihat ada adiknya Aulian sedang berada diruangannya Zahra.
__ADS_1
"Sudah jangan lama-lama berduaannya nanti banyak setan yang datang", nasihat dari Kak Qiyas untuk Aulian dan juga Zahra.
"Iya Kak, ini Aul sama Zahra juga mau pulang", jawab Aulian kepada Kakaknya Qiyas.
"Ya sudah, kita pulang dulu kalau begitu, Assalamu'alaikum", kata Kak Qiyas kepada Aulian dan juga Zahra. Dan Kak Qiyas dan juga Kia mereka langsung saja berlalu pergi dari hadapannya Zahra dan juga Aulian.
"Wa'alaikumussalam", jawab Zahra dan Aulian secara bersamaan.
"Ayo Zahra, kita pulang?? ", kata Aulian kepada Zahra.
"Kita?? ", kata Zahra dengan bingung.
"Iya kita, kamu dan aku kan menjadi kita, kita bersama dipelaminan ", kata Aulian sambil menggombal kepada Zahra.
"Jadi Abang kesini karena ingin menjemput Zahra?? ", tanya Zahra kepada Aulian.
"Bukan Zahra", jawab Aulian kepada Zahra.
"Jika bukan, kenapa malah disini Abang?? ", kata Zahra dengan sedikit menutupi rasa sedihnya, karena mendengar jawaban Aulian yang ternyata bukan menjemputnya.
Zahra yang mendengar dihatinya merasa lega dan senang yang entah kenapa Zahra tidak bisa mengartikannya.
"Abang kenapa selalu menyebut Zahra calon istrinya Abang, kan Zahra sudah menolak dan Zahra juga tidak memberikan kepastian kepada Abang", tanya Zahra dengan ekspresi serius kepada Aulian.
"Karena ucapan itu doa Zahra, siapa tahu setiap kali Abang menyebutmu calon istri Abang, Tuhan akan mengabulkannya untuk Abang, dan hati kamu juga mau terbuka untuk Abang Zahra", jawab Aulian dengan tersenyum manis kepada Zahra.
"Abang serius sama kamu Zahra, Abang ingin menjadikan kamu istri Abang selamanya Zahra, Abang insyaallah menerimamu luar dan dalam, Abang insyaallah juga menerima semua kekuranganmu Zahra, melangkahlah disurganya Allah bersamaku Zahra, Abang akan berusaha membahagiakanmu, Abang akan berusaha menjadi imam yang terbaik untukmu Zahra, belajarlah menerima Abang, untuk status kamu yang anak orang miskin Abang tidak memperdulikan semua itu Zahra, bagi Abang mencari seorang istri bukan dari itu semua, tapi dari akhlak wanita itu sendiri, pantaskah untuk bisa menjadi calon ibu untuk anak-anakku kelak. Menikahlah denganku Zahra", kata Aulian panjang lebar dengan sangat romantis kepada Zahra. Membuat Zahra sampai menitikkan air matanya karena terharu.
"Ternyata kamu masih memakai cincin dari Bundaku Zahra, jika kamu menerimaku pakailah terus cincin itu, tapi jika kamu menolakku, tolong berikan cincin itu sekarang juga kepadaku Zahra, dan Abang berjanji mulai hari ini adalah hari terkhir Abang mengganggumu dan kamu juga terkahir kali melihat Abang", kata Aulian dengan lembut kepada Zahra. Hingga Zahra dibuat bingung dan bimbang dengan keputusan yang akan dia ambil untuk Aulian.
Zahra lalu mengangkat tangannya yang ada cincin indah dari Bunda Lili yang dipakaikan Aulian kemarin. Zahra mengusap lembut cincin itu dengan perasaan bingung sekali.
Sedangkan Aulian dia pasrah dengan jawaban yang akan diberikan oleh Zahra. Memang terkesan tidak romantis melamar ditempat dan ruangan seperti itu. Karena sejujurnya Aulian sudah menyiapkan suatu tempat untuk melamar Zahra, akan tetapi karena suasana saat itu sangat mendukung sekali membuat Aulian tidak sengaja berbicara terus terang kepada Zahra.
............. °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°.............
__ADS_1
Jika Zahra sedang bimbang dan bingung dengan keputusan yang akan dia ambil untuk Aulian. Lain halnya dengan Zain. Dia yang saat ini sudah berada dirumah kontrakannya merasa sangat sedih sekali, karena cinta yang selama bertahun-tahun dia jaga dan dia yakini jika Zahra adalah jodohnya ternyata tidak sesuai dengan harapannya dan kenyataan yang Zain harapkan.
"Aku harus bisa benar-benar melupakanmu Zahra", kata Zain bertekad melupakan Zahra.
Zain lalu mengambil laptop yang baru dia beli ketika pertama kali mendapatkan gaji pertamanya bekerja dikantornya Aulian. Walaupun Aulian sendiri sudah memfasilitasi laptop kepada para sekretarisnya, akan tetapi Zain tetap ingin membeli laptop dari uangnya sendiri dan untuk menyimpan file-file pribadinya sendiri.
Walau sebenarnya Zain sudah mempunyai laptop sendiri, akan tetapi laptopnya tertinggal dikampung, dan Zain tidak sempat membawanya dulu ketika diusir oleh Ibunya.
Zain lalu membuka foto-foto Zahra waktu dulu dan pada waktu sekolah yang dia ambil secara candid. Dengan tekad yang bulat Zain menandai semuanya dan langsung menghapusnya secara permanen dari laptopnya.
"Aku pasti bisa, walau Zahra tidak mengetahui perasaan ini, aku fikir lagi itu lebih baik, jangan sampai Zahra tahu perasaanku kepadanya, karena aku tidak mau sampai merusak persahabatanku dengannya sejak kecil, dan pasti nanti kita akan menjadi canggung bila bertemu", kata Zain dengan dirinya sendiri.
Adzan maghrib pun berkumandang, dan Zain segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, setelah itu Zain teruskan untuk membaca Al-Qur'an.
Sekitar pukul setengah tujuh malam, Zain putuskan untuk mencari makan. Zain menaiki sepeda motornya dengan sangat pelan-pelan sekali sembari menikmati suasana malam. Tidak jauh dari rumah kontrakannya Zain sekitar satu kilometeran, Zain tiba-tiba tertarik dengan sebuah toko roti yang sering dia lihat setiap kali berangkat bekerja.
Dengan pasti Zain membelokkan motornya kearah toko roti itu. Entah apa yang ingin dibelinya Zain tidak tahu.
Setibanya didalam toko roti Zain melihat-lihat, ternyata, tidak cuma menjual roti saja, didalam toko roti itu juga terdapat tempat ngopi dan menjual berbagai dessert, pastry, makanan dan minuman serba coklat dan masih banyak yang lainnya.
Ketika Zain sedang mengamati suasana, Zain tiba-tiba ditanya oleh karyawan toko roti yang menghampirinya dan bertanya ingin memesan apa, dan Zain menyebutkan pesanan yang ingin dia makan dan minum.
Zain lalu memilih duduk dikursi dan meja yang kosong yang berada didekat jendela, sambil menunggu pesanannya datang, Zain melihat pemandangan diluar yang tembus oleh jendela kaca besar yang berada tepat sebelah tempat duduknya. Hanya beberapa menit saja pesanan yang Zain pesan sudah terhidang diatas mejanya.
Zain menikmati itu semua dengan wajah yang terlihat sekali jika dia sedang patah hati. Zain tidak tahu saja, ada seseorang yang memperhatikannya daritadi, dan entah kenapa orang itu selalu ingin melihat kearah wajahnya Zain.
Karena orang itu merasa apa yang dialami Zain sekarang sama seperti yang pernah dia rasakan dan alami dulu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺 🌺
Hahaha penasaran kan, Zahra itu menolak apa menerima si Aul😹😝😂
Siapa sih orang yang memperhatikan Zain?? 🤔🤔
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
__ADS_1
***TBC***