LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
BERGADANG


__ADS_3

"Ya sudah ayo, cepetan ambil Iyas, takut Zahra nanti tambah panas badannya, karena ketakutan ditinggal sendirian lagi", jawab Bunda Lili kepada Kak Qiyas.


Kak Qiyas langsung saja mengambil obat tidur yang berada didalam kotak obat yang ada didalam kamarnya, dan Kak Qiyas mempunyai obat itu hanya untuk berjaga-jaga saja jika pekerjaannya sedang banyak-banyaknya atau sedang menumpuk dan dikejar deadline.


"Ini Bund", kata Kak Qiyas kepada Bunda Lili yang sudah berada didalam kamarnya Kak Anin dan sedang menenangkan Zahra.


"Iya terimakasih", jawab Bunda Lili sambil menerima obat tidur yang diberikan oleh Kak Qiyas.


Sedangkan Aulian dan Papah Ziyas yang juga ada didalam kamar situ hanya bisa memperhatikan mereka saja.


"Zahra cepatlah tersenyum seperti tadi siang ketika bersamaku, sakit dan sedih rasanya hatiku melihatmu seperti ini, dan aku tidak bisa memelukmu untuk menenangkanmu", batin Aulian bersedih melihat Zahra yang seperti itu.


"Zahra", panggil Bunda Lili dengan lembut kepada Zahra.


"Bunda-Bunda tolong jangan kasih tahu masalah ini kepada Ibu dan adik Zahra dikampung ya, Zahra tidak mau membuat mereka bersedih karena Zahra", kata Zahra dengan tiba-tiba kepada Bunda Lili.


Ternyata Zahra diam saja daritadi sambil melihat kelangit-langit kamar karena Zahra sedang kefikiran Ibu dan juga adiknya dikampung jika sampai mereka mengetahui akan keadaannya sekarang.


"Bunda, Kak Iyas, Kak Kia, Aul, Papah dan semuanya berjanji tidak akan memberitahu Ibu dan adik kamu, asal Zahra mau meminum obat ini yah", kata Bunda Lili penuh dengan perhatian kepada Zahra.


"Itu obat apa lagi Bund??", tanya Zahra kepada Bunda Lili.


"Ini obat hanya untuk sementara saja ko, besok-besok juga Zahra sudah tidak minum obat ini lagi", jawab Bunda Lili kepada Zahra.


"Bund Iyas mau kembali kekamar dahulu ya", kata Kak Qiyas kepada Bunda Lili.


"Iya tidurlah sana temani istrimu", jawab Bunda Lili kepada Kak Qiyas.


"Kakak kekamar dulu ya Zahra", kata Kak Qiyas kepada Zahra, dan Zahra hanya mengangguk saja memberikan jawaban.

__ADS_1


Memang waktu terus berjalan dan tanpa terasa waktu juga hampir menunjukkan pukul dua pagi.


"Aul, Bund Papah mau kekamar juga ya", kata Papah Ziyas kepada Aul dan juga Bunda Lili.


Papah Ziyas sebelum keluar dia berjalan mendekati Zahra terlebih dahulu.


"Nak, lawan rasa trauma kamu, jika bukan kamu sendiri yang melawan siapa lagi, kuatlah untuk dirimu sendiri, karena suatu saat kamu akan menjadi seorang istri dan juga ibu, janganlah terus berlarut dalam kejadian itu, menataplah masa depan, masih ada orang-orang yang sayang dan perduli denganmu, Allah ada dihatimu Nak, kuatlah.... Bukan Dokter atau obat yang menyembuhkan, akan tetapi tekat dan niatlah didalam dirimu yang bisa menyembuhkan segala rasa yang ada didalam diri", kata Papah Ziyas sambil mengusap lembut pipinya Zahra.


"Kami semua sayang kamu Zahra, ada Aul yang Papah jamin akan setia kepadamu, jika kamu sungkan kepada kami, pandanglah Aul sebagai calon suami yang selalu melindungimu, agar kamu tidak takut lagi dan tidak merasa sendirian lagi disini", sambung Papah Ziyas lagi kepada Zahra dan masih dengan mengusap pipinya Zahra yang basah karena menangis.


Semua perkataan dari Papah Ziyas membuat Zahra meneteskan air matanya lagi. Bukan air mata karena bersedih tentang kejadian tadi, akan tetapi air mata karena dia merindukan Ayahnya yang sudah meninggal.


"Papah terimakasih, Zahra merasa sedikit terobati rasa rindunya Zahra kepada Ayah, dengan adanya Papah", kata Zahra sambil menggengam tangan Papah Ziyas.


Adegan Papah Ziyas dan Zahra membuat Bunda Lili juga meneteskan air matanya begitu juga dengan Aulian yang matanya juga berkaca-kaca jika dia mengedip sekali saja pasti menetes juga air mata itu.


Setelah itu Papah Ziyas berlalu keluar untuk turun dan menuju kekamarnya kembali.


"Ayo diminum dulu Zahra obatnya yah", kata Bunda Lili lagi kepada Zahra sambil menyerahkan satu butir obat tidur.


Dan Zahra langsung saja menerimanya dan meminumnya.


"Bunda disinikan temani Zahra", kata Zahra kepada Bunda Lili.


"Iya Bunda disini, dan ada Aul juga disini dia akan tidur dishofa menemani kita disini", jawab Bunda Lili kepada Zahra, dan Zahra langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Aulian.


Aulian yang melihat Zahra melihat kearahnya, dia lalu tersenyum manis kepada Zahra, dan Zahra membalas senyum Aulian dengan tersenyum kecil.


Zahra sedang tiduran dipangkuannya Bunda Lili dan Bunda Lili juga lagi mengusap-usap kepalanya Zahra yang tertutup hijab dengan lembut, usapan yang dilakukan oleh Bunda Lili lama kelamaan membuat Zahra bisa tertidur dengan sangat pulas sekali karena efek obat tidur itu juga sudah bekerja ditubuhnya Zahra.

__ADS_1


Dengan perlahan Bunda Lili menaruh kepalanya Zahra diatas bantal. Dan Bunda Lili lalu menyelimuti Zahra agar Zahra bisa nyaman dalam tidurnya.


"Bund, jika Bunda capek Bunda tidur saja bersama Papah, biar Zahra Aul yang menjagain, dan pintu kamarnya dibuka saja Bund", kata Aulian kepada Bundanya ketika Bunda Lili baru saja menyelimuti Zahra, dan Aulian sudah berada disamping Bundanya.


"Tapi nanti kalau Papah kamu tahu bagaimana Aul?? ", tanya Bunda Lili kepada Aulian.


"Aul sudah ijin ko sama Papah Bund", jawab Aulian kepada Bunda Lili.


"Baiklah, jagain Zahra dulu ya Aul, Bunda mau tidur dulu sebentar, karena ini juga sudah mau jam tiga pagi, sebentar lagi juga adzan subuh", kata Bunda Lili kepada Aulian.


"Iya Bund", jawab Aulian kepada Bundanya. Dan Bunda Lili langsung saja meninggalkan Aulian bersama Zahra dengan pintu yang terbuka dengan sangat lebar.


Ketika Bunda Lili sudah keluar, Aulian lalu mendekati Zahra yang sedang tertidur dengan lelap itu. Aulian dengan sangat detail mengamati wajahnya Zahra.


"Sungguh kamu benar-benar sangat cantik Zahra, dan ketika sedang tidur begini kamu lebih dari kata cantik", kata Aulian sambil melihat wajahnya Zahra.


Setelah itu Aulian langsung saja berjalan kearah shofa yang ada didalam kamar itu. Dan Aulian mencoba merebahkan tubuhnya diatas shofa itu. Sebenarnya badan Aulian hari itu benar-benar sangat capek sekali.


Cuman beberapa menit Aulian memejamkan matanya, dia sudah sangat terlelap dalam tidurnya. Walau Aulian tidur diatas shofa bukan diatas ranjang, Aulian tetap bisa tidur dengan sangat nyenyak sekali, karena tubuhnya memang sudah butuh diistirahatkan daritadi.


Bunda Lili yang belum tidur, dia lalu keluar dari kamarnya dan berjalan pelan untuk melihat anaknya Aulian dan juga Zahra yang berada dalam satu kamar dan belum ada ikatan yang halal itu.


Ketika Bunda Lili sudah masuk kedalam kamarnya Kak Anin, Bunda Lili melihat Zahra masih lelap dalam tidurnya dan Bunda Lili lalu melihat kearah Aulian yang tertidur dishofa dengan sangat lelapnya dan sudah ada suara dengkuran halusnya juga dari bibirnya Aulian. Bunda Lili lalu berjalan kearah lemari untuk mengambil sebuah selimut untuk Aulian.


Setelah Bunda Lili menyelimuti Aulian dengan selimut yang tadi diambil itu Bunda Lili lalu berjalan keluar lagi untuk kembali kekamarnya.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


***TBC***

__ADS_1


__ADS_2