
Sedangkan Aulian dia tersenyum bangga kepada Zain, dan dihatinya juga sangat senang sekali melihat ekspresinya Zahra.
"Apakah kamu sudah tidak marah lagi denganku Sayang", kata Aulian berbohong dan berakting dihadapannya Zain.
Zahra yang masih terpukau dengan cincin itu, dia menjawab dengan asal perkataannya Aulian.
"Tidak", jawab Zahra asal kepada Aulian sambil terus melihat kearah cincin yang ada dijari manisnya.
Dan Zahra juga tidak sadar jika Aulian daritadi memanggil dia dengan panggilan sayang.
Zain yang sudah tidak kuat lagi dengan adegan romantis yang ada dihadapannya akhirnya dia berpamitan untuk undur diri dari hadapannya Zahra dan juga Aulian.
"Zahra aku takut mengganggumu dan Tuan Aulian, aku permisi dulu kalau begitu ya Zahra", kata Zain pamit kepada Zahra.
"Tuan Aulian saya permisi dulu", kata Zain kepada Aulian dengan sedikit membungkukkan badannya. Dan dijawab anggukan oleh Aulian.
Zahra yang terkejut mendengar perkataannya Zain, ingin rasanya dia mencegah Zain agar jangan pergi, supaya dia tidak berduaan dengan Aulian, akan tetapi gagal karena Zain sudah jauh dari jangkauannya. Tidak mungkin jika Zahra harus berteriak didalam Cafe hanya karena ingin memanggil Zain.
Sepeninggalan Zain, Aulian langsung saja bertanya lagi kepada Zahra. Dan Zahra juga langsung tersadar ketika Aulian bertanya lagi kepadanya tentang cincin itu.
"Apakah kamu benar-benar mau menerimaku Zahra, jika mau tolong jangan pernah melepaskan cincin itu dari jari manismu", kata Aulian lagi kepada Zahra.
"Cincin?? ", kata Zahra dengan bingung dan langsung tersadar akan kelakuannya tadi ketika memakai cincin itu dihadapannya Zain.
"Astaghfirullah apa yang aku lakukan tadi", batin Zahra bingung.
"Iya cincin, itu cincin pemberian dari Bundaku Zahra, dan cincin itu adalah cincin pernikahan Bundaku dengan Papahku", kata Aulian lagi kepada Zahra.
Zahra yang mendengar perkataannya Aulian, dia terkejut, pasalnya cincin yang dia pakai ternyata bukan sembarangan cincin, dan itu pasti sangat berharga bagi Aulian.
Adzriel dan Hafiz yang melihat semua tindakannya Aulian kepada Zahra, mereka terkejut dan tidak menyangka, jika Aulian benar-benar sangat menyukai wanita yang bernama Zahra itu.
"Sungguh sangat hebat itu wanita yang bernama Zahra bisa meluluhkan hati seorang Aulian", kata Hafiz yang dianggukkin oleh Adzriel
"Tapi temanmu itu lebih hebat Fiz, karena dia berani langsung melamarnya dan itu lihat, dia juga berani memberikan cincin pernikahan yang dari Bunda Lili", kata Adzriel kepada Hafiz.
"Iya juga ya", jawab Hafiz sambil memakan makanannya Adzriel.
Dan Adzriel yang mengetahui gerak tangannya Hafiz, lalu Adzriel reflek langsung saja memukul tangannya Hafiz.
"Enak saja, pesan lagi sana kalau punyamu sudah habis", kata Adzriel setelah memukul tangannya Hafiz.
"Bayari kamu ya, ya, ya Adzriel baik dan ganteng", kata Hafiz kepada Adzriel.
__ADS_1
"Jijik tahu, jika kamu yang bilang aku ganteng", kata Adzriel dengan muka sewot kepada Hafiz.
Sedangkan Hafiz yang mendengar perkataannya Adzriel dia hanya tertawa dan lalu memanggil waiters untuk memesan makanan lagi sambil menikmati pemandangan antara Aulian dan Zahra.
Kembali lagi keAulian dan Zahra. Saat ini Zahra sangat dibuat bingung dan gundah akan keputusan yang akan dia ambil. Apakah harus menerima ataukah harus menolak Aulian.
Dihati kecilnya Zahra dia ingin sekali menerima, akan tetapi dia takut jika nanti banyak yang mempermalukan Aulian dan keluarganya jika Aulian mempunyai Istri yang miskin seperti dirinya.
"Tuan Aulian bo........ ", perkataannya Zahra terpotong dengan perkataan dari Aulian.
"Panggil Aul saja jika kita lagi berdua seperti ini", kata Aulian kepada Zahra.
"Saya tidak enak Tuan, bagaimana saya panggil Mas atau Abang saja ya, biar lebih sopan", kata Zahra dengan malu dan menundukkan kepalanya kepada Aulian sambil tanpa sadar terus mengusap cincin yang ada dijari manisnya.
"Abang saja tidak apa-apa Zahra", jawab Aulian sambil tersenyum senang sekali.
Karena Aulian tadi memanggil dirinya dengan panggilan abang pun karena reflek ingin memanas-manasi Zain.
Dan bagaikan ucapan itu doa, Zahra tanpa paksaan ingin sendiri memanggil Aulian dengan panggilan abang.
"Coba Zahra panggil aku dengan panggilan abang", kata Aulian kepada Zahra dengan tersenyum jahil.
"A...... A...... Abang Aul", jawab Zahra juga sambil tertawa sendiri karena lucu dan lidahnya juga terasa aneh karena belum terbiasa memanggil Aulian dengan panggilan abang.
"Haduh neng, hati abang tambah kesemsem sama eneng jika begini terus keadaannya", kata Aulian mulai kocak jika sudah berdua bersama Zahra.
"Itu mereka sedang apa Dzriel, kayaknya lagi seru begitu, apalagi Zahra sampai bisa tertawa begitu", kata Hafiz kepada Adzriel yang masih terus memperhatikan Aulian dan juga Zahra.
"Mana aku tahu, kan tahu sendiri daritadi aku disini bersamamu, jika ingin tahu sana saja samperi mereka", jawab Adzriel asal kepada Hafiz.
Dan tanpa diduga Hafiz pun langsung berdiri sambil membawa makanan dan minumannya, dan berlalu pergi berjalan menuju kemejanya Aulian dan juga Zahra.
Sedangkan Adzriel dia dibuat terbengong dengan tingkahnya Hafiz karena dia menjawab begitu dengan asal, akan tetapi langsung dilaksanakan oleh Hafiz.
Aulian yang melihat Hafiz berjalan kearahnya dia memberi kode melalui mulutnya agar jangan ikut bergabung dengannya dan juga Zahra, karena itu sama saja Hafiz mengganggunya.
Sudah tahu Hafiz orangnya rada-rada, mana tahu dia diberi kode begitu oleh Aulian, dan disinilah Hafiz sekarang sudah sampai didepan mejanya Aulian dan juga Zahra.
Aulian langsung memasang wajah sebal kepada Hafiz, sedangkan Zahra dia langsung melihat kearahnya Aulian, seperti bertanya kepada Aulian dia siapa.
Aulian yang mengerti akan tatapannya Zahra kepadanya, dia lalu menjelaskan dan memperkenalkan Hafiz kepada Zahra.
"Perkenalkan Zahra, dia sahabatku namanya Hafiz, dan dia pasti kamu juga sudah mengenalnya kan?? ", kata Aulian kepada Zahra sambil memperkenalkan Hafiz dan menunjuk Adzriel yang sedang berjalan kearah mereka.
__ADS_1
"Boleh saya bergabung disini Nona", kata Hafiz kepada Zahra.
"Si....... ", perkataannya Zahra terpotong oleh Aulian.
"Duduk sendiri dimeja kamu sana", jawab Aulian kepada Hafiz.
"Aku ini bertanya kepada Zahra, emang kamu apa namanya Zahra", jawab Hafiz dengan sebal.
"Dia kan aneh Aul orangnya, kenapa mesti ditanggapin sih", kata Adzriel kepada Aulian ketika dia sudah sampai dimejanya Aulian dan juga Zahra.
"Hallo Zahra, sudah lama kita tidak bertemu", sapa Adzriel kepada Zahra sambil langsung duduk dikursi seberang mejanya Aulian, dan diikuti oleh Hafiz yang duduk dikursi sebelahnya Adzriel.
Aulian dia memutar bola matanya malas melihat kelakuan kedua sahabatnya yang mengganggu momen antara dirinya dan juga Zahra.
"Adzriel awas ya ingat perkataanmu tadi", kata Aulian kepada Adzriel.
"Santai Aul, aku cuma menyapa Zahra sebagai kawan", jawab Adzriel kepada Aulian.
Zahra yang melihat kedekatan antara Aulian dan kedua temannya dia ikut bahagia, karena dari penglihatan Zahra, Zahra melihat jika Hafiz dan Adzriel adalah teman yang baik untuk Aulian.
"Nona, bagaimana apakah kamu menerima lamaran dari Tuan Aulian ini", tanya Hafiz sambil memakan makanannya, dan tanpa jaim sedikitpun dengan Zahra. Membuat Zahra tertawa kecil melihat kelakuan dari Hafiz.
"Sudahlah, kalian berdua tunggu saja undangan dariku dan juga Zahra, sudah kami permisi dulu mau pulang, sudah jam sembilan malam, aku mau mengantar Zahra pulang dulu, bye", kata Aulian sambil menaruh beberapa lembar uang seratus ribuan diatas meja serta Aulian langsung mengajak Zahra pergi dan juga Aulian langsung menggandeng pergelangan tangannya Zahra yang tertutup kain bajunya, jadi Aulian dan Zahra tidak bersentuhan kulitnya.
Aulian menggandeng Zahra hingga sampai didepan mobilnya. Dan ketika Aulian menyuruh Zahra untuk masuk kedalam mobilnya, Zahra langsung saja menolaknya.
"Dasar teman kampret itu si Aul, baru ikut bergabung malah ditinggal pulang", kata Hafiz sambil melahap semua makanannya dengan mulut penuh karena sebal dengan Aulian.
"Sekampret-kampretnya dia, lebih kampret kamu, lihat mukamu, makan saja begitu bentuknya, nanti mana ada wanita yang mau sama kamu Fiz", jawab Adzriel untuk Hafiz.
"Biar saja, yang penting perutku kenyang", kata Hafiz setelah menghabiskan minumnya secara langsung.
Sedangkan Adzriel dia menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu. Dan tiba-tiba terdengarlah bunyi yang cukup keras dari mulutnya Hafiz yang membuat Adzriel malu setengah mati.
Karena Hafiz dia bersendawa dengan cukup keras dan mengalihkan pandangan pengunjung yang lain yang mendengar sendawanya Hafiz. Setelah bersendawa dengan suara yang lumayan keras, Hafiz dia cuek-cuek saja tanpa malu sedikitpun. Berbeda dengan Adzriel yang langsung menutupi mukanya karena malu dengan kelakuannya Hafiz.
"Saya tidak mengenalnya, dia orang gila", kata Adzriel kepada pengunjung yang melihat kearah mereka berdua, dan Adzriel langsung berdiri pergi meninggalkan Hafiz sambil mengambil uang yang ditinggalkan Aulian diatas meja untuk dibayarkan dikasir.
Sedangkan Hafiz dia juga langsung terburu-buru berdiri dari duduknya ketika Adzriel sudah pergi meninggalkannya sendirian disitu.
ππππππππππππ
Gercep pokoknya si Aulian, takut jika Author akan pasangin Zahra dengan orang lainππ
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***