
Pagi hari berikutnya adalah hari dimana resepsi pernikahannya Kak Qiyas dan Kia. Hafiz tentu saja dia datang bersama Khansa, sedang Adzriel dia datang sendirian saja, ya maklum saja, kedua sahabatnya Aulian dan Hafiz mereka sudah mempunyai pasangan mereka sendiri-sendiri, sedangkan dia belum mempunyai pasangannya sendiri.
Fadhil pun sama seperti Adzriel dia juga datang sendiri, karena dia belum menemukan wanita penggantinya Zahra yang cocok dengan hatinya.
Sedang Zain dia tentu saja datang bersama Ameera. Yups Ameera bagaimana Ameera bisa dan mau datang bersama Zain, begini readers ceritanya.
*Flashback On*
Ameera yang waktu itu menerima ponselnya Hafiz dia langsung berkata dan membuat Hafiz sangat terkejut sekali.
"Zahra", kata Ameera yang membuat Zain terkejut mendengar Ameera mengenal Zahra.
"Kamu mengenal dengan Zahra Ameera?? ", tanya Zain dengan terkejut kepada Ameera.
"Iya dia sahabat dekatku sejak kami masuk kuliah dahulu", jawab Ameera dengan dingin kepada Zain, membuat Zain semakin terkejut mendengarnya.
"Baiklah Ameera akan aku ceritakan semuanya, karena aku ingin memulai kisah awal denganmu jadi tidak mau ada yang aku tutup-tutupin darimu", kata Zain kepada Ameera dengan tegas.
"Zahra dia teman satu kampung denganku hanya beda Rt. saja, sejak kecil kita selalu main bersama, sekolah pun dari SD sampai SMA kami selalu bersama, tepatnya akulah yang menginginkan bisa satu sekolah dengannya Ameera, keluargaku termasuk keluarga terpandang dikampungku dan Ibuku sangat membenci Zahra karena dia dari Keluarga miskin", cerita Zain kepada Ameera.
Dan Ameera masih setia mendengarkan dengan perasaan yang campur aduk menjadi satu. Karena Ameera merasa cemburu, kasihan, sedih dan marah kepada Zain dan juga Zahra. Akan tetapi didalam hatinya dia menanamkan fikiran jika Zahra disini tidaklah salah.
Zain lalu menceritakan semua kisahnya tentang Zahra, tentang Ibunya yang selalu menghina Zahra pun Zain ceritakan juga kepada Ameera.
Ameera tidak bisa membohongi perasaannya jika dia ada rasa cemburu dengan Zahra dan rasa kasihan dengan Zahra secara bersamaan. Akan tetapi Ameera dia masih bisa menyembunyikan ekspresinya itu dihadapannya Zain.
Zain melanjutkan ceritanya ketika dia diusir ibuny karena ingin menikahi Zahra, sungguh cerita Zain yang itu membuat Ameera semakin cemburu saja mendengarnya.
Semuanya Zain ceritakan dan tidak ada lagi yang ditutup-tutupi lagi dari Ameera, hingga diwaktu dia patah hati dan Ameera selalu menghibur serta memberinya suport membuat Zain bangkit dari keterpurukannya, dan lama-kelamaan ada benih-benih cinta yang masih kecil hinggap dihatinya Zain kepada Ameera.
"Sungguh Ameera, perasaaan ini untuk Zahra sudah tidak ada lagi, bahkan Zahra sendiri dia tidak mengetahui jika aku mencintainya selama ini, Zahra mengetahui jika aku mencintainya itu karena Ibuku kemarin yang menghina sambil membocorkannya kepada Zahra Ameera", kata Zain lagi sambil meyakinkan Ameera.
"Aku pribadi sekarang hanya menganggap Zahra sebagai teman sekaligus atasanku yang harus aku hormati Ameera tidak lebih dari itu, karena aku benar-benar ingin memulainya dari awal denganmu dan menjadikanmu istriku Ameera", kata Zain lagi pasrah kepada Ameera yang daritadi hanya diam saja.
Ameera ingin mencari kebohongan dari matanya Zain, akan tetapi didalam penglihatannya Ameera, Ameera melihat Zain sangat-sangat bersungguh-sungguh kepadanya.
"Baiklah, nanti malam datang kerumahku, dan temui kedua orang tuaku, buktikan jika kamu sungguh-sungguh serius denganku Zain", jawab Ameera akhirnya kepada Zain.
"Ada satu lagi Ameera yang ingin aku beritahu kepadamu", kata Zain kepada Ameera.
"Apa itu Zain?? ", jawab Ameera kepada Zain.
"Ibu saat ini sedang berada didalam peenjara karena ulahnya sendiri yang sudah sangat keterlaluan menghina Zahra Ameera, dia dituntut oleh Tuan Ziyas dipenjara dan juga dituntut ganti rugi sebesar satu miliar rupiah kepada Zahra Ameera", jawab Zain kepada Ameera dan langsung membuat Ameera terkejut dibuatnya.
Zain lalu menceritakan sikap dan sifat Ibunya bagaimana, bukan maksud hati Zain ingin menjelek-jelekkan Ibunya kepada Ameera, akan tetapi maksud Zain adalah supaya Ameera tidak terkejut ketika nanti Ameera menerimanya dan bertemu dengan Ibunya suatu saat nanti.
__ADS_1
Zain menceritakan semuanya tentang Ibunya bagiamana sikapnya jika dikampung, sungguh Zain sudah menceritakan semuanya tentang keluarga dan kehidupannya kepada Ameera.
Zain pasrah akan jawaban yang akan diberikan oleh Ameera kepadanya.
"Sekarang kamu sudah tahu Ameera, bagaimana keadaan Keluargaku yang sebenarnya berantakan karena ulah Ibuku yang tidak bisa berubah dari dahulu", kata Zain lagi kepada Ameera.
"Apakah kamu masih mau menyuruhku untuk datang kerumahmu Ameera setelah mengetahui semuanya tentang diriku", sambung Zain lagi kepada Ameera.
"Malam ini jam tujuh datang kerumahku Zain, aku tunggu", kata Ameera menjawab semua cerita dan perkataannya Zain.
Membuat Zain langsung semangat ketika mendengar perkataannya Ameera.
Singkat cerita malam pun tiba, Zain dia datang sendiri dirumahnya Ameera. Sungguh rumahnya Ameera sangtlah jauh berbeda dari rumahnya dikampung, jika dibandingkan dengan Keluarganya Zain, Keluarganya Ameera lebih kaya dari kekayaan Ibunya Zain.
"Kamu yang bernama Zain?? ", tanya Ayahnya Ameera yang bernama Amir.
"Iya Tuan, saya Zain", jawab Zain kepada Ayahnya Ameera dengan sopan.
"Apa benar kamu ingin melamar anak saya", tanya Pak Amir kepada Zain dengan tegas.
"Benar Tuan, sebelumnya maafkan atas kelancangan saya yang tiba-tiba datang sendirian kesini tidak bersama kedua orang tua saya untuk melamar putri bapak yang bernama Ameera, saya sungguh sangat serius dengannya Tuan", kata Zain dengan berani kepada Pak Amir Ayahnya Ameera.
Sedang Ameera yang bersembunyi dia terharu dengan keseriusannya Zain yang berani berbicara langsung dengan Ayahnya.
"Akan tetapi saya ingin menceritakan semuanya terlebih dahulu tentang keluarga saya Tuan", sambung Zain lagi kepada Pak Amir.
"Ayah ini, sudah kenapa sih aktingnya, kasihan Nak Zain itu yang daritadi dipelototin dan digalakin terus sama Ayah", kata Mamah Ani yang daritadi menyimak pembicaraannya suaminya dan Zain.
"Silahkan dinikmati Nak hidangannya, kami sudah tahu semuanya tentangmu dari Ameera, kami melihat ketulusan dan kesungguhanmu meminang anak kami Nak, tidak perlu takut kepada Ayahnya Ameera, dia tadi hanya bercanda denganmu", kata Mamah Ani kepada Zain sambil tersenyum khas seorang Ibu.
"Meera kesini Nak, Mamah tahu kamu sembunyi disitu", kata Mamah Ani memanggil Ameera.
Dan Ameera langsung keluar dari tempat persembunyiannya, serta langsung ikut bergabung duduk disebelah Mamahnya.
"Bagaimana Nak, apa kamu menerima lamarannya Nak Zain ini kepadamu?? ", tanya Mamah Ani kepada Ameera, sedang Ayah Amir dia masih diam sambil memperhatikan Zain terus, membuat Zain tidak nyaman dan canggung.
"Meera mau Mah", jawab Ameera sambil menunduk dan mengangguk kepada Mamahnya.
"Tuan, Nyonya apakah kalian tidak malu nantinya jika memiliki besan yang dipenjara seperti Ibu saya", jawab Zain dengan jujur ketika mendengar dan melihat jawabannya Ameera kepadanya.
"Yang terpenting kamu benar-benar serius dengan anak saya Zain, saya mau melepaskannya untukmu, untuk urusan Ibu kamu biarlah nanti orang juga akan lelah sendiri membicarakannya, yang terpenting anak saya bahagia denganmu dan kamu sendiri jangan mengecewakan kepercayaan kami Zain", jawab Pak Amir dengan tegas kepada Zain.
"Terimakasih Tuan, Nyonya, terimakasih banyak mau menerima saya", jawab Zain dengan sangat bahagia sekali mendengar jawabannya Pak Amir Ayahnya Ameera.
"Bolehkah saya memakaikan cincin ini dijarinya Ameera Nyonya?? ", tanya Zain kepada Mamahnya Ameera.
__ADS_1
"Silahkan Nak", jawab Mamah Ani kepada Zain.
Dan Zain langsung memakaikan cincinnya yang sudah dia siapkannya dikantong celananya kejari manisnya Ameera.
Zain lalu meminta waktu sebentar kepada kedua orang tuanya Ameera untuk menelfon Bapaknya.
Dengan panggilan video call Pak Didi Bapaknya Zain dia lalu berbincang kepada Pak Amir Ayahnya Ameera.
Karena sebelum berangkat melamar Ameera, Zain sudah menceritakan semuanya kepada Bapaknya yang bernama Pak Didi, dan Pak Didi pun langsung bahagia dan mendoakan semoga acaranya lancar.
Sedang Ameera dia juga sudah bercerita tentang Zain yang ingin melamarnya malam itu kepada Khansa, akan tetapi dia belum bercerita kepada Zahra tentang Zain, fikir Ameera dia ingin bercerita kepada Zahra nanti jika mereka bertemu langsung dan waktunya juga sudah tepat.
Sebab Ameera masih sedikit terkejut mengetahui jika Zahra adalah wanita yang pernah dicintai oleh calon suaminya.
Melalui sambungan video calllah Mamah Ani dan Pak Amir mereka bisa mengenal Pak Didi. Karena Pak Didi tidak bisa datang mendadak kekota untuk mengantarkan Zain lamaran, sebab jarak yang ditempuh tidaklah dekat.
"Saya janji Tuan, Nyonya secepatnya saya akan ajak Bapak saya kekota untuk menemui kalian", kata Zain kepada kedua orang tuanya Ameera ketika panggilan video callnya sudah terputus.
"Silahkan Zain", jawab Pak Amir kepada Zain.
"Dan panggil kami Mamah sama Ayah saja ya Zain", kata Mamah Ani kepada Zain sambil tersenyum.
"Baik Mamah", jawab Zain sambil membalas senyumnya Mamah Ani.
Ketika dirasa sudah cukup berkunjungnya dan waktu pun juga semakin malam, Zain lalu berpamitan pulang kepada Ayah Amir dan Mamah Ani, akan tetapi sebelum pulang Zain meminta ijin mengajak Ameera besok untuk datang bersamanya kepesta resepsinya Kak Qiyas dan Kia kepada Ayah Amir dan Mamah Ani. Dan Ayah Amir serta Mamah Ani pun mengijinkannya.
Setelah itu Zain lalu pergi dan pulang kerumahmya setelah berpamitan kepada Ameera dan kedua orang tuanya.
Zain tidak tahu saja, ketika tadi Zain pergi dari toko rotinya Ameera, Ameera langsung saja pulang mengajak Ibunya untuk menemui Ayahnya dikantor, karena menurut Ameera kelamaan nanti jika harus menunggu waktu pulang kerja Ayahnya.
Mamah Ani dia sangat bingung kenapa Ameera terburu-buru ingin menemui Ayahnya sambil mengajaknya.
Dan ketika Ameera serta Mamah Ani sudah sampai dikantor Ayahnya, Ameera dan Mamah Ani segera masuk kedalam ruangannya Ayah Amir.
Ameera lalu menceritakan semuanya tentang Zain kepada kedua orang tuanya tanpa ditutup-tutupi. Awalnya kedua orang tuanya Ameera sangat terkejut mendengar semua cerita tentang Zain dari anak sulungnya itu. Akan tetapi dengan keseriusannya Ameera meyakinkan kedua orang tuanya, akhirnya Pak Amir mengijinkan Zain untuk datang kerumahnya malam harinya.
Pak Amir mau tidak mau harus merestui hubungan anaknya dengan Zain, karena Pak Amir tidak mau melihat Ameera terpuruk lagi ditinggal laki-laki yang dicintainya untuk kedua kalinya, karena tiga tahun yang lalu Ameera sudah pernah ditinggal pergi selama-lamanya oleh tunangannya karena terkena serangan jantung yang mendadak.
*Flashback Off*
ππππππππππππ
Begitulah readers kisahnya Zain - Ameera, kelanjutannya kita nanti bahas Aulian - Zahra yahπππππ
ππππππππππππ
__ADS_1
***TBC***