
Zahra yang tidak mau jika masalahnya terus berlanjut, akhirnya dia memberanikan diri berbicara kepada Aulian.
"Abang, Abang jangan marah begini ya, maafkan Zahra jika ada perkataanZahra tadi membuat Abang menjadi maraha ", kata Zahra sambil melihat kearahnya Aulian.
Aulian bukannya menjawab perkataannya Zahra, dia malah sedang asik mengetik sesuatu dipesan ponselnya untuk seseorang.
Ketika sudah selesai dan langsung mendapat balasan dari yang dikirimin pesan, Aulian langsung saja menyalakan mesin mobilnya, dan terus tancap gas. Rupanya Aulian mengirim pesan pada Kakak Iparnya Kia untuk meminjam Zahra, dan tidak kembali lagi kentor, dan dijawab Iya serta hati-hati sama Kia.
Zahra yang melihat Aulian malah menyalakan mesin mobil dan tancap gas pergi dari kantor tempat dia bekerja, membuat Zahra menjadi bingung dengan tingkahnya Aulian, karena dia ingin bekerja, malah diajak pergi lagi, begitulah sekiranya batin Zahra.
"Abang, Abang kita mau kemana, Zahra mau bekerja lagi Abang?? ", kata Zahra kepada Aulian.
Aulian masih saja bungkam dalam diamnya, dia tidak menjawab sama sekali perkataannya Zahra.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aulian sampai juga, dan ternyata Aulian mengajak Zahra kerumahnya.
"Turun Zahra", kata Aulian menyuruh Zahra turun.
Zahra yang bingung pun dia menuruti perkataannya Aulian. Bunda Lili yang sedang berada diruang tamu dan sedang membaca majalah dia mendengar suara mesin mobil, Bunda Lili lalu beranjak berdiri dari duduknya untuk melihat siapakah yang datang.
"Tumben jam segini pulang, sama Zahra juga, apa ada yang ketinggalan??", tanya Bunda Lili kepada Aulian dan juga Zahra yang ada dibelakangnya Aulian.
Aulian dan juga Zahra yang melihat Bunda Lili mereka langsung saja menyalami tangannya Buda Lili.
"Tidak Bund, ada sesuatu yang harus Aul bicarain dengan Zahra, dan Aul fikir lebih baik berbicara dirumah ini daripada dirumahnya Zahra, atau dikantor, karena kita nanti cuma berdua saja", jawab Aulian kepada Bundanya.
Dan Zahra yang mendengarnya dia hanya menyembunyikan senyumannya.
"Oh, ya sudah selesaikan dengan kepala dingin jika ada masalah, jangan berlarut-larut tidak baik, dan teruntuk kamu Aulian, jadi cowok jangan terlalu pencemburu karena bisa jadi Zahra lama-kelamaan tidak nyaman denganmu dan memilih laki-laki lain", nasihat Bunda Lili untuk Zahra dan juga Aulian, terutama Aulian, dan Bunda Lili sambil melirik kearahnya Zahra.
Sedangkan Zahra dia tersenyum mendengar perkataan dari Bunda Lili sambil menutupi mulutnya karena memang benar apa yang dikatakan oleh Bunda Lili.
"Iya-iya Bund", jawab Aulian sambil memajukan sedikit bibirnya, dan setelah itu dia berlalu pergi untuk masuk kedalam. Sedangkan Bunda Lili hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dari Aulian.
"Kamu yang sabar ya Zahra menghadapi Aulian, dia memang sudah dewasa dalam pemikiran, akan tetapi jika sudah menyangkut hati dan wanita yang dia cintai, dia akan menjadi anak kecil lagi", kata Bunda Lili kepada Zahra.
"Iya Bund", jawab Zahra sambil mengangguk dan tersenyum.
Iya Zahra sudah memanggil Bunda Lili dan Papah Ziyas dengan panggilan Bunda dan Papah, semenjak kemarin Zahra yang sudah menerima lamaran dari Aulian dan dia diajak kerumahnya Aulian untuk makan malam bersama.
"Ya sudah Bunda masuk dulu ya, kamu silahkan duduk dulu, tunggu saja Aulian keluar, kalau dia lama, kamu tinggal pulang saja Zahra, biar dia tahu rasa", kata Bunda Lili kepada Zahra.
__ADS_1
Baru saja Bunda Lili melangkah satu langkah, Aulian datang dari dalam rumahnya.
"Aul sudah disini Bund, enak saja Bunda menyuruh Zahra untuk pulang", kata Aulian kepada Bunda Lili sambil berjalan mendekati Bunda Lili.
"Ya sudah kamu temani Zahra dulu, selesaikan kesalah fahaman kalian, Bunda mau kekamar, kata Bunda Lili langsung berlalu pergi dari hadapan Zahra dan juga Aulian.
Bagaimana Bunda Lili tahu jika Zahra dan Aulian sedang berselisih faham, karena Bunda Lili yang melahirkan Aulian, jadi dia sangat tahu ekspresi Aulian yang tadi ketika baru saja datang, ingin marah akan tetapi tidak bisa.
"Aya Zahra ikut Abang", kata Aulian kepada Zahra dengan ekspresi yang masih datar saja.
Ketika Zahra mengikuti Aulian berjalan dibelakangnya, ternyata Aulian mengajak Zahra duduk digazebo depan dekat dengan taman kecil yang ada dihalaman rumahnya Aulian.
Zahra langsung saja duduk digazebo itu ketika dia melihat Aulian juga langsung duduk. Ketika baru beberapa menit duduk digazebo, datanglah pembantu yang bekerja dirumahnya Aulian membawa sebuah nampan yang diatasnya ada minuman dan beberapa camilan untuk Zahra dan juga Aulian.
"Permisi Tuan Muda Aulian, dan Nona Zahra, silahkan diminum ini minumannya dan dimakan camilannya", kata pembantu itu sambil menaruh dua gelas minuman jus mangga dan beberapa camilan.
"Terimakasih mbak", kata Zahra kepada pembantunya Aulian dan sambil tersenyum. Sedangkan Aulian dia hanya mengangguk saja kepada pembantunya.
Setelah kepergian dari pembantu Aulian, Zahra dan Aulian mereka saling diam dengan fikiran mereka masing-masing.
Karena sudah tidak tahan dengan keadaan yang saling bungkam, Zahra lalu mengambil tasnya dan dia ingin beranjak pergi dari situ.
"Jangan pergi Zahra", kata Aulian kepada Zahra.
"Zahra bukan pergi Abang, daripada kita diam-diaman begini, dan Abang juga daritadi ditanya diam saja lebih baik Zahra pulang kerumah Abang, tidak mungkin juga Zahra kembali kekantor karena jamnya juga sudah jam segini", jawab Zahra masih dengan berdiri.
Aulian lalu menarik pelan tangannya Zahra agar Zahra kembali duduk disebelahnya lagi.
"Maafkan sikap Abang yang seperti anak kecil ini, Abang cemburu Zahra dari yang melihatmu satu lift dengan Zain dan juga Fadhil, ditambah juga perkataanmu tadi dilift tentang Zain, membuat perasaan cemburu itu semakin besar Zahra, maafkan Abang", kata Aulian kepada Zahra.
"Zain dan Fadhil mereka itu laki-laki, Abang juga laki-laki Abang sangat tahu jika mereka mempunyai rasa kepadamu Zahra", kata Aulian kepada Zahra lagi, dan Zahra masih dengan setia mendengarkan setiap perkataan dari Aulian.
"Zain menyukaiku, tidak mungkin", batin Zahra yang mendengar perkataan dari Aulian.
"Maafkan Abang ya Zahra", kata Aulian lagi dengan muka yang sangat memohon kepada Zahra.
Zahra yang sudah mendengar semua perkataan dari Aulian, dia hanya tersenyum manis kepada Aulian.
"Jangan diulangi lagi ya Abang, cemburu boleh asal jangan berlebihan, lebih baik kita ungkapkan saja apa yang kita rasakan kepada pasangan kita, daripada harus diam seperti Abang tadi, tidak baik", jawab Zahra kepada Aulian.
"Abang harus percaya kepada Zahra, karena rasa percaya adalah pondasi kita untuk menjalin sebuah hubungan Abang", kata Zahra lagi kepada Aulian.
__ADS_1
"Rasanya Abang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikah denganmu Zahra", jawab Aulian kepada Zahra dengan tertawa kecil.
"Aduh Zahra belum memberitahukan kepada Nona Kia Abang, jika Zahra tidak kembali kekantor", kata Zahra dengan tiba-tiba kepada Aulian.
"Tenang saja, sudah Abang ijinkan ko", jawab Aulian kepada Zahra.
"Kapan?? ", tanya Zahra dengan penasaran kepada Aulian.
"Ada deh tadi, pokokknya tenang saja, sudah Abang ijinkan beneran sama Kakak Ipar", kata Aulian lagi dengan sangat meyakinkan Zahra.
"Ya sudah, Zahra percaya sama Abang, awas saja ya jika berbohong", kata Zahra kepada Aulian.
"Memangnya Zahra mau apa jika Abang berbohong kepada Zahra", tanya Aulian kepada Zahra.
"Abang maunya diapain Zahra?? ", tanya Zahra kepada Aulian dengan diselingi tertawa kecil.
"Tahan-tahan Aul, ingin rasanya Abang menciummu sekarang Zahra", kata Aulian dengan gemas kepada Zahra.
Sedangkan Zahra dia tertawa mendengar perkataan dari Aulian.
"Yasudah nikah yuk", kata Zahra menggoda Aulian sambil tertawa kecil.
"Ayuk, besok ya kita menikah", jawab Aulian dengan serius kepada Zahra.
"Abang-abang Zahra cuma bercanda kenapa langsung dijawab serius", kata Zahra dengan tertawa dan dia langsung saja meminum minuman yang tadi dibuatkan oleh pembantunya Aulian.
"Yaaah lusa tidak jadi malam pertama dong, gagal deh padahal sudah membayangkan yang tidak-tidak", jawab Aulian dengan berpura-pura cemberut kepada Zahra, membuat Zahra langsung tersedak minumannya ketika mendengar perkataannya Aulian.
Aulian langsung saja menepuk-nepuk pelan punggungnya Zahra ketika Zahra tersedak tadi. Bukannya membantu meredakan rasa tersedaknya Zahra, Aulian malah berbicara yang menbuat Zahra reflek memukuli lengan dan pundaknya Aulian.
"Nah ini, tanda-tanda yang juga sudah tidak sabar ingin malam pertama sama Abang ya, sampai bisa tersedak begini, bilang saja kamu juga kepingin kan Zahra", kata Aulian dan langsung mendapatkan pukulan-pukulan kecil dilengannya dari Zahra.
Dan Aulian yang mendapatkan beberapa pukulan kecil dari Zahra, bukannya menahan tangannya Zahra dia malah langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Membuat Zahra dia juga ikut-ikutan tertawa melihat kelakuannya Aulian.
ππππππππππππ
ingat jangan cemburu lagi Aulπͺ, nanti ditinggalin Zahra Author tidak tanggung jawabππ
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1