
"Tahu Tuan", jawab Zain dengan menutupi kesedihannya. Dan kali ini Zain tidak bisa membantu Ibunya, walau Zain bekerja dengan Keluarga Irawan, akan tetapi kali ini Ibunya sudah sangat-sangat keterlaluan sekali.
Semua orang masih menyaksikan dan mendengarkan setiap perkataan dari Papah Ziyas. Kak Qiyas pun juga sama marahnya karena walau baru sebentar mengenal Zahra, akan tetapi Kak Qiyas juga mengetahui jika Zahra adalah wanita yang baik.
"Sudah Tuan, biarkan saja perkataannya, mari kita silahkan masuk", kata Ibu Dina Ibunya Zahra kepada Papah Ziyas. Yang langsung membuat Ibu Kani memasang wajah sombongnya kepada Ibu Dina.
"Maaf Ibu Kani, jangan sembarangan berkata seperti itu kepada Zahra jika tidak ada buktinya, dan mohon jangan membuat kegaduhan disini", kata Pak Rt yang langsung maju berbicara kepada Ibu Kani.
Belum sempat Ibu Kani menjawab, datanglah seorang laki-laki yang seumuran dengan Papah Ziyas langsung memanggil Ibu Kani.
"Ibuuuuu, cukup jangan membuat kegaduhan dengan Zahra, kenapa Ibu daridulu tidak pernah lelah menghina Keluarganya Zahra", kata orang itu dan ternyata laki-laki itu adalah suaminya Ibu Kani alias Bapaknya Zain.
Bapaknya Zain yang bernama Pak Didi itu dia mendapat laporan dari tetangganya jika istrinya yaitu Ibu Kani sedang membuat kegaduhan dirumahnya Zahra, sontak Pak Didi dia langsung menuju kerumahnya Zahra dan terus meninggalkan kegiatannya tadi dirumah.
"Ibu benci dengan mereka, karena dia anak kita Zain jadi membangkang dengan Ibu, sebab Zain sejak kecil sudah tergila-gila dengan anak miskin itu", teriak Ibu Kani sambil menunjuk Zahra kepada suaminya yang bernama Pak Didi itu.
Semua perkataannya Ibu Kani membuat semua orang langsung pada terkejut lagi terutama Zahra dia langsung melihat kearahnya Zain. Sedangkan Zain dia menggelengkan kepalanya dengan takut dan malu yang bercampur menjadi satu.
Papah Ziyas pun tak kalah terkejutnya dengan Zahra, akan tetapi ini tidak waktunya untuk menanyai Zain tentang Zahra. Aulian yang juga mendengarnya dia biasa saja karena dari awal Zain sudah menceritakan semuanya kepadanya.
"Itu bukan salahnya Nak Zahra Ibu", jawab Pak Didi kepada Istrinya dengan sedikit menahan amarahnya.
"Maaf Pak apakah anda suaminya?? ", tanya Papah Ziyas kepada Pak Didi menyela pembicaraan dari sepasang suami istri itu.
"Iya Tuan, dan mohon maafkan kesalahan dari istri saya Tuan", kata Pak Didi kepada Papah Ziyas.
"Mohon maaf dengan berat hati saya katakan, saya tidak bisa menerima maaf dan kesalahan dari istri anda, istri anda harus menerima hukuman dari Keluarga Irawan karena sudah berani menghina dan memfitnah menantu Keluarga Irawan Tuan, dan tadi anda juga mengatakan jika sudah daridulu istri anda menghina menantu kami", kata Papah Ziyas dengan tegas kepada Pak Didi.
"Baiklah Tuan, silahkan saya ridho jika Tuan ingin menghukum istri saya, lagi pula saya juga sudah lelah menasihatinya", jawab Pak Didi pasrah kepada Papah Ziyas.
__ADS_1
"Apa yang akan anda lakukan kepada saya, saya tidak takut saya orang kaya dikampung ini", kata Ibu Kani dengan sombongnya kepada Papah Ziyas.
"Berapa uang yang anda miliki Nyonya, uang yang anda miliki saja paling tidak ada seperempatnya dengan uang yang saya miliki, bahkan kekayaan yang anda miliki tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan yang saya punya Nyonya", balas Papah Ziyas tak kalah sombongnya dengan Ibu Kani. Dan Papah Ziyas sengaja menyombongkan diri dihadapannya Ibu Kani.
"Berapa bisnis yang anda miliki Nyonya, berapa aset tanah yang anda miliki, berapa rumah yang anda miliki, itu semua tidak ada apa-apanya dengan kekayaan yang saya miliki Nyonya, jika untuk membeli semua aset yang anda miliki termasuk rumah Anda, uang saya paling tidak terlihat berkurang sama sekali Nyonya, coba sebutkan berapa total semuanya", sambung Papah Ziyas lagi kepada Ibu Kani membuat Ibu Kani langsung diam dengan wajah marahnya.
Papah Ziyas sengaja menyombongkan diri untuk membalas kesombongannya Ibu Kani. Mamahnya Rizky saja bisa Papah Ziyas kalahkan, apalagi cuma Ibu Kani yang hanya orang kaya dikampungnya, Papah Ziyas bagai membersihkan daki saja dari tubuhnya.
Orang seperti Ibu Kani memang pantas berhadapan dengan orang seperti Papah Ziyas, supaya Ibu Kani bisa sadar, bahwa diatas langit masih ada langit lagi.
Tidak ada yang berani menyela perkataannya Papah Ziyas kepada Ibu Kani, mereka masih diam menyimak dan mendengarkan saja, termasuk Bunda Lili dan juga Aulian.
"Zahra apa daridulu Ibunya Zain sering menghina kamu, jawab jujur sama Papah Zahra", tanya Papah Ziyas dengan lembut lalu mengalihkan pandangannya kearahnya Zahra. Zahra lalu mengangguk dengan lemahnya sambil menunduk kepada Papah Ziyas.
Papah Ziyas yang melihat anggukan lemah dari Zahra dia semakin marah rasanya dan semakin besarlah rasa sayang untuk Zahra serta semakin mantap juga untuk menjadikan Zahra sebagai menantunya. Sungguh Papah Ziyas sangat tidak tega sekali melihat wajah sedihnya Zahra saat ini.
"Zain walau dia ibu kamu, ibu kamu tetap bersalah kepada Keluarga saya, dan kamu juga bekerja dengan Keluarga Irawan, kamu tahu Zain apa yang harus kamu lakukan?? ", kata Papah Ziyas kepada Zain dengan tegas.
Dan akhirnya yang Zain takutkan akan terjadi juga kepada Ibunya, atas kesalahan Ibunya sendiri.
Sedangkan Aulian dia hanya diam saja sambil terus memperhatikan Zahra yang sedang bersedih, tidak seceria tadi sebelum adanya Ibunya Zain.
"Sabar sayang, Abang yakin Papah bisa menyelesaikan masalah ini, dan setelah ini Abang akan membuatmu terus tersenyum", batin Aulian sambil melihat kearahnya Zahra terus.
Ibu Dina sendiri dia terus memeluk dan menenangkan Zahra yang sedang bersedih dan menangis itu karena perkataan dari Ibu Kani.
Para tetangga yang juga tidak menyukai perangainya Ibu Kani mereka pada berdoa supaya Ibu Kani mendapatkan hukuman dari Papah Ziyas yang akan membuatnya jera.
"Indra, kamu bantu Zain, serta kamu juga hubungi Liem sekretaris saya untuk mengajak pengacara saya juga datang kekantor polisi dan memasukkan masalah ini kejalur hukum dan meja hijau, saya menuntut penuh perbuatan Ibunya Zain, saya tidak terima dengan perkataan dari Ibunya Zain, dan rasa sakit serta menderitanya Zahra selama ini harus dibayar mahal olehnya", kata Papah Ziyas kepada Indra panjang lebar sambil menunjuk Ibunya Zain, yaitu Ibu Kani.
__ADS_1
"Baik Tuan", jawab Indra kepada Papah Ziyas.
Ibu Kani dia masih diam mendengarkan perkataannya Papah Ziyas, dan dia begitu syok jika mertuanya Zahra yaitu Papah Ziyas akan menuntutnya kekantor polisi, begitu juga Pak Didi yang antara sedih dan tidak dengan hukuman yang akan menimpa istrinya. Pak Didi sudah tidak bisa lagi membantu istrinya karena itu semua kesalahan dari istrinya sendiri.
Zain sendiri dia juga sedih mendengar hukuman yang diberikan oleh Papah Ziyas kepada Ibunya, akan tetapi mau bagaimana lagi Ibunya juga pantas mendapatkan hukuman itu.
"Kalian segera pergi dan kerjakan perintah saya, ajak juga empat bodyguard untuk mengawal kalian berdua", perintah Papah Ziyas lagi kepada Zain dan juga Indra.
"Baik Tuan", jawab Indra dan Zain secara bersamaan sambil membungkukkan badannya dan terus berlalu dari situ.
Para kerabatnya Zahra dan para tetangganya Zahra yang mendengar hukuman dari Papah Ziyas dari mereka kebanyakan menyumpahi Ibu Kani, dan senang mendengar hukuman yang ditimpakan kepada Ibu Kani dari Papah Ziyas.
"Anda tidak bisa menuntut saya dengan seenaknya anda sendiri, saya mempunyai banyak uang, dan saya bisa menyewa pengacara yang mahal dan handal untuk melawan anda Tuan", jawab Ibu Kani dengan sombongnya ketika Zain dan Indra sudah berlalu dari tempat itu.
"Silahkan Nyonya dan keluarkan semua uang yang anda punya, karena memang itu tujuan saya untuk menguras habis harta anda, supaya anda tidak sombong lagi didunia ini", jawab tenang Papah Ziyas kepada Ibu Kani.
"Lagi pula, anda juga pasti kalah Nyonya, uang habis dan anda dipenjara, hebat kan saya", sambung Papah Ziyas sambil tersenyum miring kepada Ibu Kani.
"Anda apa lupa Nyonya semua orang yang ada disini bisa menjadi saksi atas semua perkataan dan perbuatan yang baru saja anda lakukan kepada menantu saya Zahra Nyonya", sambung lagi perkataannya Papah Ziyas.
"Iya betul itu, kami siap menjadi saksi nanti dipersidangan", sahut salah satu warga yang juga geram atas sikapnya Ibu Kani, dan langsung disetujui semua para warga serta tetangga yang lainnya.
Walau sudah dihadapkan dengan keadaan sulit, Ibu Kani dia tetap tidak gentar dan dengan percaya dirinya dia tetap mendongakkan kepalanya pertanda dia masih belum goyah akan hukuman yang akan diterimanya.
Sedangkan Pak Didi, dia diam bak patung, karena bingung dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu istrinya.
ππππππππππππ
Sambung part sebelah ya readersπ
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***