
Zain yang baru saja pulang dari kantor polisi bersama Putra yang juga ikut kekantornya Aulian, mereka berdua tidak sengaja berpas-pasan dengan Papah Ziyas yang baru saja datang juga.
Mereka berempat termasuk sekretaris dari Papah Ziyas berada didalam satu lift yang sama.
Zain pun dia menyapa ramah dan sopan kepada Papah Ziyas dan Papah Ziyas juga membalas sapaan dari Zain serta bertanya juga kepada Zain.
"Darimana kamu Zain??", tanya Papah Ziyas kepada Zain.
"Dari kantor polisi Tuan", jawab Zain dengan jujur kepada Papah Ziyas.
Papah Ziyas terkejut mendengar jawabannya Zain yang mengatakan baru saja dari kantor polisi.
"Kantor Polisi, apa ada masalah Zain??'', kata Papah Ziyas kepada Zain dengan sangat terkejut dan juga sangat penasaran sekali.
Zain tahu jika dia berbohong pastinya akan ketahuan juga oleh Papah Ziyas, jadi Zain lalu menjawab perkataan dari Papah Ziyas dengan jujur.
Zain lalu menceritakan tentang masalah yang baru saja dialami oleh Aulian yang direstoran tadi, dan Zain juga menceritakan kepada Papah Ziyas jika semua itu karena berkat bantuannya Putra.
Papah Ziyas sangat terkejut mendengar cerita dari Zain jika anaknya Aulian hampir saja akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan itu dan Papah Ziyas langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Putra yang sedang berdiri dibelakangnya Zain.
Putra pun dia hanya tersenyum sopan sambil mengangguk kepada Papah Ziyas ketika Papah Ziyas melihat kearahnya.
"Terus bagaimana kelanjutannya, apakah si Macel itu sama sekretarisnya sudah dijatuhi hukuman oleh Pak Polisinya Zain??'', tanya Papah Ziyas kepada Zain.
Namun sebelum Zain menjawab tiba-tiba terdengar bunyi ting, yang menandakan jika lift yang mereka naiki sudah sampai dilantai yang mereka tuju.
Semua orang yang berada didalam lift langsung saja keluar ketika pintu lift sudah terbuka.
Papah Ziya langsung saja menyuruh Zain untuk mengikutinya masuk kedalam ruang kerjanya Aulian dan diikuti oleh Putra juga.
__ADS_1
Walau tidak disuruh oleh Papah Ziyas, Zain memang ingin menemui Aulian untuk melaporkan hasil dari masalah Macel tadi.
Papah Ziyas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dia langsung saja membuka pintu ruang kerjanya Aulian, dan ketika masuk tadi Papah Ziyas dan lainnya melihat Aulian sedang menelfon seseorang.
"Nanti Abang telefon lagi ya sayang", kata Aulian yang sekilas didengar oleh Papah Ziyas dan juga yang lainnya.
Dan Papah Ziyas serta Zain menebak jika Aulian sedang telfon-telfonan sama Zahra.
"Papah, Zain, Tuan Putra??", kata Aulian ketika dia sudah mematikan sambungan telefonnya tadi.
"Aul kenapa kamu tidak bercerita kepada Papah jika kamu hampir saja mengalami kejadian yang akan merusak kehidupanmu??", kata Papah Ziyas kepada Aulian dan dia juga sudah duduk dikursi yang ada didepan meja kerjanya Aulian.
"Bukannya tidak mau cerita Pah, hanya saja Aul belum sempat menceritakannya kepada Papah, kita duduk dulu dishofa sana Pah, Biar Zain dan juga Tuan Putra ini bisa ikut duduk", jawab Aulian kepada Papahnya dan langsung mengajak Papah dan lainnya untuk duduk dishofa yang ada didalam ruangannya.
Mereka semua lalu berjalan kearah shofa yang ada didalam ruangannya Aulian.
"Bagaimana Zain dengan masalah tadi??", tanya Aulian kepada Zain ketika mereka semua sudah pada duduk dishofa yang ada disitu.
"Anda tenang saja Tuan, saya sudah sering menangani kasus seeprti ini, dan kemungkinan besar anda menang adalah sembilan puluh sembilan persen", kata Putra kepada Aulian sambil tersenyum.
"Maaf anak muda, kalau saya boleh tahu siapakah nama anda, karena wajah anda mengingatkan saya dengan seseorang", kata Papah Ziyas kepada Putra.
"Nama saya Putra Darmawan Tuan saya seorang lawyer", jawab Putra kepada Papah Ziyas dengan ramah dan sambil tersenyum.
"Darmawan??, apakah kamu anaknya Tuan Sigit Darmawan??", kata Papah Ziyas kepada Putra.
"Benar Tuan, apakah anda juga mengenal Ayah saya seperti Tuan Aulian??", kata Putra kepada Papah Ziyas.
"Kenal sekali, Tuan Sigit Darmawan adalah Pengacara pribadi saya, tapi ko saya tidak pernah melihat anda jika saya berkunjung kerumahnya Tuan Sigit??", kata Papah Ziyas kepada Putra.
__ADS_1
"Iya saya dulu kuliah hukum diluar negeri Tuan, dan setelah lulus saya mendapatkan pekerjaan disana, jadi saya memutuskan untuk tinggal disana selama ini, dan saya baru saja kembali dari luar negeri selama dua minggunan ini Tuan", jawab Putra kepada Papah Ziyas masih sambil tersenyum.
"Apa kamu akan menetap disini juga nantinya Nak??', kata Papah Zyas lagi kepada Putra.
"Iya Tuan, rencananya saya akan menetap disini lagi, sekalian meneruskan usahanya Ayah, kasihan juga Ayah sudah mulai sakit-sakitan", jawab Putra kepada Papah Ziyas.
"Bagus itu, dan saya lihat kamu juga sudah mumpuni serta mempunyai skill untuk meneruskan kantor pengacaranya Ayah kamu", kata Papah Ziyas kepada Putra, dan Putra hanya tersenyum saja kepada Papah Ziyas.
"Oh ya Aul, jadikan Nak Putra ini sebagai pengacara pribadi kamu saja, kan selama ini juga kamu belum mempunyai pengacara pribadi, malahan kamu sering memakai jasanya Tuan Sigit", kata Papah Ziyas kepada Aulian.
"Iya Pah, rencananya sih begitu, bagaimana Tuan Putra, apakah kamu mau??'', kata Aulian kepada Papah Ziyas dan juga bertanya kepada Putra.
"Dengan senang hati Tuan Aulian", jawab Putra kepada Aulian sambil tersenyum, sedangkan Zain dia yang masih ada disitu hanya diam saja sambil mendengarkan percakapan dari semua orang.
Aulian serta Papah Ziyas mulai membicarakan tentang Macel lagi, dan Putra juga menjelaskan jika Macel serta sekretarisnya akan mendapatkan kurungan penjara yang lumayan lama sesuai dengan pasal dan undang-undang yang berlaku dinegara mereka.
Mereka semua berdoa semoga kejadian seperti ini tidak terulang untuk kedua kalinya.
Setelah berbincang hangat dan juga membahas tentang sidang yang akan dihadapi Macel dan juga Aulian minggu depan, Putra lalu berpamitan pulang kepada Aulian dan juga Papah Ziyas, serta Zain juga tentunya.
Zain langsung mengantarkan Putra hingga dia sampai didepan lift, sedangkan Papah Ziyas dia masih berada diruangannya Aulian untuk bertanya lebih detail lagi siapa itu Macel.
Setelah mendengar cerita dari Aulian, Papah Ziyas lalu memberikan nasehat serta ilmu kepada Aulian bagaimana menghadapi setiap masalah yang terkadang datang menimpa seorang pembisnis seperti mereka.
Sungguh Aulian sangat banyak belajar dari Papah Ziyas dan juga Kakaknya Qiyas. Dan Aulian berharap semoga kedepannya dia bisa menjadi laki-laki yang lebih sukses lagi dalam membangun bisnis serta memajukan Perusahaan dari Papahnya itu.
Dan Kak Qiyas dia juga sudah memegang Perusahaan Papah Ziyas yang lainnya, sedangkan Perusahaan yang itu sepenuhnya diberikan kepada Aulian.
...πππππππππππππ...
__ADS_1
***TBC***