LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
AKHIR DARI IBU KANI


__ADS_3

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang terutama Aulian pun tiba. Dan saat ini dua buah Keluarga semuanya sudah berkumpul diruang tamunya Zahra untuk menyaksikan lamarannya Aulian kapada Zahra.


Singkat cerita lamarannya Aulian untuk Zahra sudah berjalan dengan sangat lancar dan penuh dengan kekhidmatan serta kebahagiaan terpancar disemua wajahnya orang-orang yang hadir.


Berita tentang Ibu Kani yang berbuat ulah lagi dirumahnya Zahra tadi sudah tersebar luas dengan cepatnya disatu kampungnya Zahra.


Ibu Kani pun sudah diamankan pihak kepolisian setempat dan banyak para warga yang memberikan saksi atas tuntutannya Papah Ziyas.


Bahkan Zain pun yang notabennya anak kandung dari Ibu Kani sendiri dia hanya diam tanpa bisa membantu Ibunya sama sekali.


Bukan maksud hati Zain ingin menjadi anak durhaka, akan tetapi disituasi seperti ini Ibunyalah yang sangat bersalah atas keadaan yang menimpa Ibunya sendiri, dan disini Zain dia menempatkan posisi sebagai sekretaris dari atasannya dan melakasanakan kewajibannya sebagai bawahan.


Zain hanya diam saja karena fikir Zain percuma saja berbicara kepada Ibunya, sebab Ibunya saja sudah tidak menganggapnya lagi sebagai anak, dan bahkan Ibu Kani pun susah untuk diberitahu oleh orang lain.


Didalam hatinya Zain, Zain selalu berdoa semoga dengan adanya hukuman dari Papah Ziyas membuat Ibunya sadar dan tidak menjadi orang yang sombong lagi.


Sama halnya dengan Zain, Pak Didi yang selaku Ayah Zain dan suami dari Ibu Kani, dia juga hanya pasrah dan melihat saja ketika melihat istrinya dibawa paksa oleh Pak Polisi.


Ibu Kani sangat marah dan memberontak ketika tadi akan dibawa oleh Pak Polisi, alhasil Pak Polisi membawa paksa Ibu Kani untuk masuk kedalam mobil Polisi.


Ibu Kani dia dikenai Pasal tentang pencemaran nama baik dan fitnah yang telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum dari Pasal 310-321 KUHP dan Ibu Kani juga dikenakan Pasal tentang perbuatan yang tidak menyenangkan dan masuk kedalam Bab Kejahatan didalam Kemerdekaan seseorang yang diatur dalam Pasal 335 KUHP.


Dan Papah Ziyas menuntut penuh perbuatannya Ibu Kani, supaya Ibu Kani bisa dipenjara sesuai perbuatannya yang sudah keterlaluan kepada Zahra selama ini, serta Papah Ziyas menuntut Ibu Kani dengan denda sebanyak satu miliar rupiah kepadanya.


Banyak saksi yang memberatkan atas laporannya Papah Ziyas, dan kemungkinan besar Papah Ziyas akan menang melawan Ibu Kani dipersidangan nanti.


Ibu Kani menyesal pun sudah terlambat, karena ketamakan dan kesombongannya sendirilah yang membuatnya hancur dengan perlahan. Ingin memohon kepada Zahra dan Papah Ziyas untuk mencabut tuntutannya, Ibu Kani pun gengsinya setinggi langit, alhasil dia membujuk suaminya yaitu Pak Didi untuk mencarikannya Pengacara yang handal untuk mengeluarkannya dari penjara.


Kembali lagi keZahra dan juga Aulian yang mereka saat ini masih berkumpul bersama dengan Ibu Dina dan Firman diruang tamu rumahnya Zahra, sedangkan para kerabat dan tetangga yang lainnya sudah pada pulang kerumah mereka masing-masing.

__ADS_1


Papah Ziyas dan semuanya baru saja menunaikan sholat ashar, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.


"Sepertinya Papah mau pamit pulang Zahra, karena ini sudah sore, takut nani jika sampai rumahnya kemalaman", kata Papah Ziyas kepada Zahra dan masih didengar yang lainnya.


"Baiklah Pah, hati-hati dijalan sama Bunda dan lainnya", jawab Zahra kepada Papah Ziyas dengan tersenyum.


"Aul jangan macam-macam disini lho ya, jika Papah tahu habis riwayat kamu sama Papah", pesan Papah Ziyas kepada Aulian membuat Aulian tertawa kecil dibuatnya.


Karena Aulian dan keempat bodyguard yang lain mereka masih menginap ditempatnya Zahra dan pulang besok seninnya.


Setelah Keluarga Irawan berpamitan semua dengan Keluarganya Zahra, Ibu dan juga Firman serta ada beberapa kerabat yang masih disitu, akhirnya Papah Ziyas dan lainnya berlalu pergi meninggalkan rumahnya Zahra dan kembali pulang kerumah mereka.


Aulian yang menginap dirumahnya Zahra, dia tadi sudah diijinkan oleh bodyguardnya kepada Pak Rt untuk menginap satu malam dirumahnya Zahra dan Aulian akan tidur bersama Firman dikamarnya Firman, sedangkan para bodyguard tidur diluar bahkan ada yang diruang tamunya Zahra.


Indra dan Zain mereka juga belum ikut pulang berama Papah Ziyas dan lainnya, karena mereka berdua disuruh Aulian ikut dengannya, dan Indra dia menginap dirumahnya Zain, sekalian Zain melepas rindunya dengan Bapaknya yaitu Pak Didi.


Ketika Zain sudah sampai dirumahnya, Zain dan Pak Didi mereka berpelukan dengan begitu eratnya karena sudah beberapa bulan tidak bertemu.


"Ayo kita masuk dulu", ajak Pak Didi kepada Zain dan juga Indra.


Zain dan Indra mereka lalu masuk kerumah mengikuti Pak Didi yang sudah duduk dikursi yang ada diruang tamu rumahnya Zain.


"Pak, maafkan Zain karena tidak bisa membantu Ibu, disini Zain hanya menjalankan tugasnya Zain sebagai sekretaris diKeluarga mereka, jika Ibu yang benar Zain akan membelanya mati-matian walau Ibu sudah tidak menganggap Zain sebagai anaknya, akan tetapi disini Ibulah yang bersalah kepada Keluarganya Tuan Ziyas Pak", kata Zain kepada Pak Didi sambil bersimpuh didepan kakinya Pak Didi yang sedang duduk itu.


Pak Didi lalu membangunkan Zain untuk duduk disampingnya, akan tetapi sebelum Pak Didi menjawab perkataan dari Zain dia sudah disela dahulu oleh Indra.


"Em permisi Pak, Zain, bolehkah saya beristirahat dahulu", kata Indra dengan sopan kepada Pak Didi dan Zain, karena Indra sengaja menghindar sebab itu menurutnya urusan Keluarga.


"Maaf Mas Indra, Mas Indra bisa beristirahat didalam kamar saya, itu pintunya yang bercat warna biru, jika berantakan maaf ya Mas, karena sudah lama tidak saya tempatin, ayo saya antar Mas", kata Zain kepada Indra sambil berdiri.

__ADS_1


"Tidak perlu Zain, biar saya jalan kesana sendiri, kamu selesaikan dahulu urusanmu dengan Bapakmu", jawab Indra kepada Zain dengan tersenyum.


"Terimakasih ya Mas", kata Zain lagi, dan Indra hanya mengangguk saja kepada Zain, setelahnya Indra berlalu mencari kamarnya Zain sesuai petunjuknya Zain ketika sudah permisi terlebih dahulu dengan Zain dan Pak Didi.


"Kamu tidak bersalah Zain, yang beralah itu Bapak, karena sampai sekarang Bapak tidak bisa menasihati Ibu kamu", kata Pak Didi kepada Zain ketika Indra sudah berlalu masuk kedalam rumah.


"Sudah jangan fikirkan masalah ini lagi ya, kamu fokus saja sama pekerjaan kamu, biar Bapak saja yang mengurusi masalah Ibu kamu dan bolehkah Bapak bertanya kepadamu Zain", kata Pak Didi lagi kepada Zain.


"Apa ini tentang Zahra Pak", kata Zain kepada Bapaknya dan dijawab anggukan oleh Pak Didi.


"Iya Zain, sungguh Bapak sangat terkejut ketika mendengar Zahra akan datang bersama calon suami beserta Keluarganya, Bapak langsung teringat dengan kamu Nak, dan Bapak semakin terkejut ketika tadi Bapak melihat kamu menjadi bagian dari Keluarga calon suaminya Zahra, apa kamu tidak apa-apa Nak, bagaimana perasaan kamu sekarang Zain?? ", kata Pak Didi panjang lebar kepada Zain.


Sebelum menjawab Zain dia tersenyum terlebih dahulu kepada Bapaknya, dan setelah itu Zain lalu menceritakan semuanya kepada Bapaknya ketika pertama kali mengetahui Zahra adalah calon istri dari atasan yang sangat dihormati olehnya, Zain juga menceritakan bagaimana rasanya patah hati waktu itu, semuanya Zain ceritakan kecuali satu pertemuannya dengan Ameera hingga sekarang masih berkomunikasi belum Zain ceritakan kepada Bapaknya.


Zain juga mengatakan kepada Bapaknya jika dirinya sudah move on dan ikut bahagia atas lamaran serta sebentar lagi pernikahan antara Zahra dan juga atasannya Aulian. Sungguh Zain saat ini dia sudah menata hati dan sudah tidak cemburu sama sekali dengan Aulian.


Semua jawabannya Zain ternyata Indra mendengarnya semua tanpa sepengetahuannya Zain, karena tadi Indra ingin bertanya kepada Zain tentang suatu hal, dan dia tidak sengaja mendengar dan mengetahui jika Zain dari dulu sangat mencintai calon istri dari atasannya Aulian.


"Syukurlah kamu bisa bangkit Nak, Bapak senang mendengarnya, percayalah pasti kamu mendapatkn gantinya yang lebih baik dari Zahra, karena memang Zahra tidak ditakdirkan menjadi jodoh kamu", kata Pak Didi lagi kepada Zain sambil tersenyum menyemangati Zain.


"Iya Pak, dan sekarang Zain sangat bersyukur Zahra bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Zain, karena Zahra memang pantas mendapatkan itu Pak", jawab Zain kepada Bapaknya.


"Sudah kalau begitu kamu istirahat saja sana, kamu pasti capek kan", kata Pak Didi kepada Zain.


"Baik Pak", jawab Zain dan setelah itu Zain berlalu masuk kedalam rumahnya dan beristirahat diruang keluarganya. Sedang Indra sebelum ketahuan Zain dan Bapaknya, dia sudah kembali masuk kedalam kamarnya Zain lagi.


Aulian yang juga sudah merasa capek dia lalu beristirahat didalam kamarnya Firman, sedangkan Zahra dia masih melepas rindu dengan Ibu serta adiknya Firman diruang Keluarga yang ada dirumahnya. Ibu Dina dan Firman mereka bercanda serta menggoda Zahra sambil menonton televisi bersama-sama.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


***TBC***


__ADS_2