LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
CERITA AYAH HAFIZ


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, akan tetapi Aulian belum bisa memejamkan matanya karena dia sudah tidur tadi, padahal Firman, Zahra dan Ibu Dina mereka sudah pada tidur daritadi.


Aulian langsung saja keluar dari dalam kamarnya Firman, dan berjalan keluar rumah. Ketika sampai diruang tamu Aulian melihat salah satu bodyguardnya sudah tertidur dengan nyenyaknya dishofa yang ada disitu.


Aulian lalu melanjutkan lagi jalannya keluar rumah, dan ketika baru sampai dipintu rumahnya Zahra dia melihat kedua bodyguardnya sedang main catur, dan satunya lagi sedang memainkan ponselnya.


"Tuan, Tuan belum tidur?? ", tanya salah satu bodyguardnya yang sedang main catur melihat Aulian berjalan kearahnya. Membuat kedua bodyguard yang lain langsung sigap ketika melihat Aulian.


"Santai saja, teruskan saja kegiatan kalian, saya tidak bisa tidur, bolehkan saya ikut bergabung duduk disini bersama kalian", kata Aulian membuat ketiga bodyguardnya saling pandang.


"Si...... Silahkan Tuan", jawab salah satu bodyguardnya yang bermain ponselnya tadi. Dan dia langsung berdiri untuk memberikan tempat duduk kepada Aulian.


"Siapa nih yang menang dalam bermain caturnya", tanya Aulian dengan santai kepada para anak buahnya.


"Belum ada Tuan yang menang", jawab salah satu bodyguard yang bermain catur tadi.


"Baiklah ayo siapa yang mau main denganku, sudah lama ini saya tidak main catur", kata Aulian mulai menyusun lagi permainan caturnya dari awal.


"Ayo Tuan sama saya saja", jawab salah satu bodyguardnya.


Dan Aulian menghabiskan malamnya dikampungnya Zahra dengan bermain catur bersama bodyguardnya hingga berulang kali. Aulian menang sampai tiga kali sedangkan bodyguardnya menang satu kali.


Para bodyguardnya tidak menyangka jika majikan mereka ternyata orangnya begitu asik jika lagi senggang begitu dan mereka semakin betah saja bekerja diKeluarga Irawan.


.......... °°°°°°°°°°°°°°°..........


Ketika Hafiz yang baru saja sampai rumah mewahnya, tepatnya rumah kedua orang tuanya, dia langsung disambut senyum oleh kedua orang tuanya didepan pintu utama rumahnya, membuat Hafiz semakin terheranan melihatnya, karena biasanya orang tuanya tidak pernah seperti itu ketika menyambutnya pulang kerumah.


"Ayo Nak kita duduk dulu yuk diruang Keluarga", kata Mamahnya Hafiz yang bernama Ola.


Hafiz menurut saja sambil menunjukkan wajah bingungnya ketika tubuhnya ditarik menuju keruang Keluarga oleh Mamahnya.


"Anak Ayah ternyata sudah besar, kenapa tidak bilang Nak jika kamu ingin melamar seorang wanita", kata Ayahnya Hafiz yang bernama Mirac itu dengan tersenyum.


"Ayah tahu darimana, apa Ayahnya Khansa sudah menghubungi Ayah?? ", tanya Hafiz kepada Ayahnya.

__ADS_1


"Iya Nak, dia sudah menghubungi Ayah ketika kamu baru saja pulang dari rumahnya", jawab Ayah Mirac kepada Hafiz.


"Ayah bisa jelaskan kepada Hafiz ada hubungan apakah sebenarnya antara Ayah dan Ayah Fikri?? ", tanya Hafiz dengan sangat penasaran sekali sambil mendesak Ayahnya bercerita.


"Sebetulnya Fikri menginginkan kamu tahunya nanti saja Nak, tapi tidak apalah kalau Ayah akan menceritakannya kepadamu sekarang", jawab Ayah Mirac kepada Hafiz.


"Ceritakan cepat Ayah", kata Hafiz tidak sabaran kepada Ayahnya, membuat Ayah Mirac dan Mamah Ola tertawa kecil melihatnya.


"Sabar kenapa sih Nak", kata Mamah Ola kepada Hafiz sambil tertawa kecil.


"Fikri dan Ayah dulu adalah teman dari SMA sampai Kuliah Nak, kami teman dekat, dia sering main kerumahnya Ayah yang dulu, dan Ayah pun sering main kerumahnya dulu, bahkan Kakek serta Nenek kamu sangat mengenal serta sudah menganggap Fikri sebagai anaknya juga, begitupun dengan Ayah yang juga sudah dianggap anak oleh kedua orang tuanya Fikri.


Singkat cerita ketika kamu dan Khansa masih kecil, kamu waktu itu baru berusia enam tahun dan Khansa lima tahun, kamu sangat membenci sekali dengan Khansa, karena Khansa selalu merusuhi kamu ketika kamu main dengan Kakaknya Khansa, dulu Khansa waktu kecil sangat chubby dan sedikit berisi, membuat kamu ilfill hingga kamu sampai marah-marah kepada kami untuk jangan main lagi kerumahnya Khansa.


Dan Hafiz dia masih setia menyimak dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Ayahmya.


Akan tetapi berbeda dengan Khansa dia sangat menyukai kamu, dan ketika kamu tidak main lagi kerumahnya, Khansa sering menanyakanmu dan sampai dia tidak mau makan karena merindukanmu.


Ketika kamu berumur tujuh tahun kita pindah keTurki lagi dulu karena Ayah sedang merintis Perusahaan baru lagi disana, membuat hubungan Ayah dan Fikri menjadi renggang karena jarak dan kesibukan kita masing-masing.


Sebelum Ayah pergi, Ayah dan Fikri yaitu Ayahnya Khansa, membuat kesepakatan untuk menjodohkanmu dengan Khansa ketika kamu dan Khansa sudah cukup berumur nantinya.


Hafiz yang sudah mendengar cerita keseluruhan dari Ayahnya, dia langsung tertawa dengan lebar sekali membuat Ayah Mirac menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya Hafiz yang seperti itu.


"Jangankan minggu depan, besok langsung nikah Hafiz mau Yah", jawab Hafiz yang membuat Ayahnya tertawa dengan keras sekali, dan Mamahnya juga ikut-ikutan tertawa juga, begitupun dengan Hafiz.


"Dasar kamu Nak, dulu saja kamu tidak mau dengannya, sampai kamu mendorong Khansa hingga jatuh dan terkilir kakinya, makanya jadi orang jika sudah benci jangan berlebihan, kualat kan kamu", kata Mamah Ola kepada Hafiz membuat Hafiz tidak lercaya mendengarnya.


"Masa sih Mah, Hafiz sampai begitu sama Khansa", jawab Hafiz tidak percaya sama Mamahnya.


"Untuk apa Mamah berbohong Hafiz, dulu juga ketika kamu marah sama Khansa, kamu juga sengaja mendorong Khansa yang sedang naik sepeda sampai dia masuk kedalam selokan depan rumahnya", jawab Ayah Mirac juga menambahkan perkataan dari Mamah Ola.


Membuat Hafiz tertawa lucu mendengarnya sekaligus tidak percaya secara bersamaan.


"Pasti kamu tidak percaya kan??, coba besok tanya saja sama calon mertuamu itu", kata Mamah Ola kepada Hafiz lagi.

__ADS_1


"Tapi Mah, kenapa Hafiz dan Khansa bisa tidak mengenali satu sama lainnya ketika kami bertemu kembali?? ", tanya Hafiz dengan heran kepada Mamahnya.


"Wajar saja kalian tidak mengenali lagi, dulu itu kulit kamu hitam wajah kamu pun juga hitam khas orang yang sering terkena sinar matahari terus, apalagi kamu dulu sering main sepak bola hingga lupa waktu, burik kamu tuh dulu, sedangkan Khansa dia dulu sangat chubby ya termasuk gemuklah, dan kamu fikir kamu ketemu lagi sama Khansa sudah berapa tahun Hafiz", kata Mamah Ola kepada Hafiz dengan sedikit gemas. Membuat Hafiz langsung memajukan bibirnya mendengar perkataan dari Mamahnya.


"Besok jangan lupa Fiz beli seserahan sama Mamah, untuk kamu serahkan kepada Khansa nantinya, sudah sekarang kamu istirahat, supaya besok bisa fit bodynya", kata Ayah Mirac kepada Hafiz.


"Baik Yah, kalau begitu Hafiz masuk kekamar dulu Yah Mah", kata Hafiz kepada kedua orang tuanya, dan dijawab anggukan saja oleh Mamah Ola dan Ayah Mirac.


Hafiz sendiri dia mempunyai seorang adik laki-laki yang masih kuliah dan satu lagi perempuan yang masih duduk dibangku SMA.


Hafiz lalu masuk kedalam kamarnya dengan perasaan gembira dan bahagia sekali, rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera memiliki Khansa sebagai istrinya.


Sedangkan Khansa sendiri yang sedang berada didalam kamarnya dia tidak bisa tidur karena dibuat penasaran dengan kedua orang tuanya.


"Jika aku begini terus bisa mati penasaran aku", kata Khansa sambil menutup mukanya dengan bantal.


Tiba-tiba Khansa mendengar ponselnya berbunyi yang menunjukkan ada pesan masuk keponselnya.


"Selamat malam calon istriku sampai jumpa besok dan minggu depan tidurmu akan selalu aku temani, atau mungkin kamu aku buat tidak bisa tidur setiap malam 😂", pesan nyeleneh dari nomor yang tidak dikenali oleh Khansa dengan ditambahi emoticon tertawa membuat Khansa langsung melototkan matanya, karena dia sudah tahu pesan itu dari siapa, siapa lagi kalau bukan Hafiz.


"Dasar CEO sinting😡", balas Khansa kepada Hafiz.


"Aduh calon istriku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bunting rupanya, sabar ya sayang, cuma menghitung hari saja ko", balas Hafiz kepada Khansa, dan Hafiz didalam kamarnya dia tertawa sendiri membaca balasannya untuk Khansa.


"😤😤😤😤", balas Khansa kepada Hafiz.


"😚😚😚😚😚", balas Hafiz kepada Khansa, dan Hafiz masih tertawa sendiri dibuatnya. Sedang Khansa dia cemberut melihat balasannya Hafiz.


"Aku doain semoga besok mobil kamu bannya kempes dan tidak jadi datang kesini😏", balas Khansa kepada Hafiz.


"Kan mobil aku tidak cuma satu Ayunda, jika kempes semua, tenang ada taksi atau grab ko", balas Hafiz kepada Khansa.


"Terserah!!!!!!!, dasar CEO edan", balas Khansa kepada Hafiz.


Tanpa Khansa sadari dia ternyata senang mendapat balasan dari Hafiz hingga ketika Hafiz ketiduran tidak membalas pesannya membuat Khansa berulang kali sering mengecek ponselnya sampai-sampai dia lelah sendiri dan lama-kelamaan matanya pun sudah mengantuk, karena juga jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

__ADS_1


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


***TBC***


__ADS_2