
Ketika lagi lelap-lelapnya tidur, Aulian mendengar suara alarm yang dari ponselnya yang dia taruh diatas meja depannya.
Dengan mata mengantuk Aulian lalu berusaha duduk dari tidurnya. Ternyata jam menunjukkan pukul setengah lima subuh.
Dengan menahan kantuknya Aulian lalu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Zahra. Dia melihat Zahra masih terlelap dalam tidurnya. Akhirnya Aulian memutuskan untuk bersih-bersih dahulu badannya dan menunaikan sholat subuh dikamarnya.
Setelah sudah selesai Aulian memutuskan keluar dari dalam kamarnya untuk membangunkan Zahra untuk sholat subuh, ternyata ketika Aulian baru saja sampai didepan pintu dia melihat Bundanya sedang berusaha membangunkan Zahra.
"Nak ayo bangun yuk, sholat subuh kamu sholat tidak Zahra?? ", kata Bunda Lili mencoba membangunkan Zahra.
Dengan perlahan dan menahan pusing dikepalanya, Zahra mencoba bangun dari tidurnya.
"Maaf Bund, Zahra masih berhalangan, Bund bolehkah Zahra tidur lagi, kepala Zahra sangat pusing sekali rasanya", kata Zahra kepada Bunda Lili sambil memegangi kepalanya.
Aulian yang melihat Zahra begitu dia menjadi sangat khawatir sekali.
"Iya Nak, boleh Bunda tidak marah ko, ya sudah Bunda turun dulu ya mau sholat subuh dahulu", kata Bunda Lili kepada Zahra sambil tersenyum.
Setelah itu Bunda Lili lalu bangkit dari duduknya dan menggoda Aulian.
"Awas jangan macam-macam kalau Bunda tinggal Aul", goda Bunda Lili kepada anaknya Aulian.
"Siap Bund, Aul hanya akan satu macam saja", kata Aulian sambil mengangkat tangannya seperti hormat kepada Bundanya.
Bunda Lili terus berlalu saja dari hadapannya Aulian sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawabannya Aulian. Sedangkan Zahra dia hanya tersenyum sangat-sangat tipis sekali melihat kelakuannya Aulian.
"Abang", panggil Zahra kepada Aulian. dan Aulian langsung saja duduk dipinggir ranjang dekat kakinya Zahra.
"Ada apa calon istriku sayang", jawab Aulian kepada Zahra sambil tersenyum manis sekali.
"Abang apa masih mau dengan Zahra setelah apa yang terjadi kepada Zahra kemarin", kata Zahra kepada Aulian.
Ternyata yang bikin Zahra ketakutan tidak cuma kejadian itu saja, akan tetapi Zahra juga ketakutan jika Aulian akan meninggalkannya.
Sebelum Aulian menjawab perkataannya Zahra, dia tersenyum manis seakan menenangkan Zahra.
"Justru dengan kejadian itu, Abang semakin ingin lebih cepat menikahimu Zahra", jawab Aulian kepada Zahra dengan tersenyum.
"Hati Abang sakit dan sedih rasanya tidak bisa memelukmu untuk memberikan ketenangan dan kehangatan bagimu Zahra karena kita belum menikah, ingin rasanya Abang menggenggam tanganmu sambil mengajakmu keluar dari kejadian buruk itu, mau ya Zahra pernikahan kita dipercepat lagi, tolong terima Abang Zahra untuk bisa ikut membantumu keluar dari masa trauma kamu itu", kata Aulian lagi kepada Zahra.
__ADS_1
Dengan hati mantap Zahra memberikan jawaban kepada Aulian.
"Iya Abang Zahra mau, dan terimakasih Abang masih mau menerima Zahra sebagai calon istrinya Abang, setelah kejadian yang menimpa Zahra kemarin", kata Zahra mencoba tersenyum kepada Aulian.
"Kita kerumahnya Zahra menemui Ibu diundur dahulu ya Abang", sambung Zahra lagi.
"Iya sayang, Abang mengerti ko, sudah ya, Zahra tidur lagi saja, dan Abang mau bilang sama Zahra, nanti Abang mau keluar sebentar ya, ada urusan yang harus Abang selesaikan", kata Aulian kepada Zahra sambil tersenyum manis.
"Iya Abang hati-hati saja ya dijalan", jawab Zahra kepada Aulian.
"Tidak apa-apa kan, Abang tinggal, lagi pula dirumah nanti ada banyak orang ko untuk menemani Zahra", kata Aulian lagi kepada Zahra.
"Tidak apa-apa Abang, Zahra insyaallah berani", jawab Zahra lagi kepada Aulian sambil tersenyum.
"Oh ya Abang, emm ada satu lagi yang ingin Zahra bicarakan sama Abang", kata Zahra lagi kepada Aulian.
"Apa itu sayang", jawab Aulian dengan lembut kepada Zahra.
"Tolong carikan Zahra kontrakan lagi ya Abang, Zahra sudah tidak mau tinggal lagi dirumah itu, dan Abang tolong ambilkan barang-barangnya Zahra ya, terutama ponsel dan juga laptopnya Zahra", kata Zahra merasa tidak enak dengan Aulian.
Aulian yang mendengarnya pun dia hanya tersenyum, karena sebelum Zahra meminta kepadanya, dia sudah memikirkannya terlebih dahulu, dan Aulian pun sudah mempunyai kejutan untuk Zahra.
"Tenang Zahra, sudah Abang siapin ko, dan nanti Abang insyaallah akan mampir untuk mengambil barang-barangnya Zahra", kata Aulian kepada Zahra. Membuat Zahra tersenyum manis kepada Aulian.
"Hey Zahra, siapa yang bilang jika Zahra merepotkan Abang sama Keluarga Abang, biar mulutnya Abang kasih sambal saja", jawab Aulian mencoba bercanda kepada Zahra. Dan Zahra langsung tertawa kecil mendengarnya.
"*Nah s*enyum begitu kan tambah cantik", kata Aulian kepada Zahra.
"Zahra itu tidak merepotkan Abang dan Keluarga Abang, karena kita semua sayang sama Zahra, terutama Abang yang begitu menyayangi Zahra, Zahra itu juga anggota Keluarga diKeluarga Irawan, jadi yang namanya Keluarga harus saling membantu dan saling mengasihi satu sama lainnya", sambung Aulian lagi.
"Sudah ya, Zahra tidur lagi saja, nanti Abang akan menyuruh bibi mengantar sarapan untuk Zahra", kata Aulian kepada Zahra lagi.
"Iya Abang Zahra mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk Abang dan Keluarga semuanya", jawab Zahra dengan tersenyum kepada Aulian.
"Sama-sama calon istriku", jawab Aulian kepada Zahra dengan tersenyum juga tak kalah manisnya.
Setelah itu Aulian lalu beranjak bangun dari duduknya, untuk keluar dari kamar itu. Akan tetapi sebelum keluar kamar Zahra memanggil Aulian lagi.
"Abang", panggil Zahra kepada Aulian yang akan sampai didepan pintu.
__ADS_1
Aulian langsung saja menghentikan langkahnya dan langsung juga menghadap kearahnya Zahra.
"Iya Zahra", jawab Aulian kepada Zahra.
"Pintunya ditutup saja Abang tidak apa-apa, Zahra akan mencoba melawan traumanya Zahra", kata Zahra yang mengejutkan Aulian.
"Baiklah Zahra", jawab Aulian sambil tersenyum dan dia lalu berjalan keluar sambil menutup pintu kamar dari luar.
Sepeninggalan Aulian, Zahra benar-benar mencoba melawan rasa traumanya itu dengan sekuat tenaganya.
"Jika bukan aku siapa lagi, aku sudah terlalu banyak merepotkan Keluarganya Abang Aul, aku harus bisa, Ayah bantu Zahra dengan doamu", kata Zahra untuk dirinya sendiri.
Zahra yang masih merasakan pusing dikepalanya, dia lalu mencoba memejamkan matanya lagi.
Dengan berdoa dan kemantapan hati yang sangat dalam, perlahan tapi pasti walau sulit Zahra akhirnya bisa juga untuk tidur lagi tanpa ditemani oleh seseorang.
Waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dan kebetulan hari itu adalah hari Minggu, serta ada Kak Qiyas dan Kia yang belum pulang dari kemarin. Mereka semua saat ini sedang sarapan pagi bersama dimeja makan.
"Zahra tidak ikut makan Aul", tanya Kak Qiyas kepada Aulian.
"Aul suruh tidur lagi Kak, kasihan dia lagi pula katanya tadi kepalanya sangat pusing", jawab Aulian kepada Kak Qiyas. Dan hanya dijawab oh ria serta anggukan oleh Kak Qiyas.
Bunda Lili sebelum sarapan dia terlebih dahulu mengambilkan makanan untuk Zahra dan menyuruh bibi mengantarkannya kekamarnya Kak Anin.
"Bi, antarkan makanan ini untuk Nona Zahra yang ada dikamarnya Kak Anin, Bibi masuk saja pelan-pelan ya, biar tidak mengganggu Nona Zahra, biarkan dia beristirahat dulu, ini makanannya ditaruh dimeja sebelah ranjang saja ya Bi", kata Bunda Lili menyuruh pembantunya mengantarkan makanan untuk Zahra.
"Oh ya Aul nanti ada yang ingin Papah bicarakan sama kamu diruang kerja Papah setelah sarapan", kata Papah Ziyas kepada Aulian.
"Iya Pah, Aul juga ada yang ingin dibicarakan sama Papah", jawab Aulian kepada Papah Ziyas.
"Baiklah, kalau begitu cepat selesaikan sarapannya", jawab Papah Ziyas kepada Aulian.
Dan setelah itu tidak ada obrolan sama sekali lagi, mereka pada asik dan larut dalam makanan mereka sendiri-sendiri sampai selesai.
ππππππππππππ
Kira-kira apa ya readers yang ingin dibicarakan oleh Papah Ziyas dan Aulianπ€π€,
Sini komen siapa tahu ada masukan buat Authorπ
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***