LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
SADAR


__ADS_3

Sekitar lima belas menitan Zahra pingsan, akhirnya Zahra menunjukkan tanda-tanda yang mulai sadar dari pingsannya. Saking begitu emosionalnya Zahra membuat Zahra ketika bangun merasakan lemas dibadannya dan pusing dikepalanya.


"Assh", kata Zahra ketika mulai membuka matanya sambil memegangi kepalanya yang pusing.


Semua orang yang berada didalam kamarnya Zahra mereka pada bersyukur karena Zahra sudah sadarkan diri dari pingsannya dan dia tidak mengalami hal yang kenapa-kenapa.


"Ini nak minum teh hangat ini dulu", kata Ibu Dina memberikan teh kepada Zahra.


Kia mencoba membantu Zahra duduk dari tidurnya untuk meminum tehnya. Kak Anin dia langsung saja keluar dari dalam kamarnya Zahra untuk memberitahukan semuanya tentang keadaannya Zahra.


"Aulian syukurlah Zahra dia sudah sadar didalam, dan dia masih membutuhkan waktu dulu untuk beristirahat", kata Kak Anin dengan senang kepada Aulian akan tetapi masih didengar semua orang yang berada diruang tamu rumahnya Zahra termasuk para kerabat dan saudaranya Zahra.


Aulian yang waktu itu sedang menunduk, dia lansung mendongakkan kepalanya ketika mendengar perkataannya Kak Anin. Dan perkataannya Kak Anin disambut syukur suka cita oleh semua orang termasuk Aulian sendiri dan dia langsung tersenyum dengan senang mendengarnya.


"Syukurlah",


"Alhmdulillah",


Kata semua orang secara bersamaan.


"Kak ijinkan Aul melihat Zahra ya Kak sebentar saja", kata Aulian sambil berdiri dihadapannya Kak Anin.


"Eeeetss, tidak boleh jangan sekarang Aul, keadaannya Zahra masih berantakan tidak secantik tadi bahkan dia sekarang sedang tidak memakai hijabnya", jawab Kak Anin sambil menahan pundaknya Aulian.


"Sudah Aul, duduk saja dahulu lagi, nanti jika Zahra sudah lebih baik, dia juga akan keluar juga ko", kata Papah Ziyas kepada Aulian membuat Aulian langsung menurut apa kata dari Papahnya dan Aulian kembali duduk lagi ditempatnya tadi.


"Begini saja Kak, sampaikan kepada Ibunya Zahra dan lainnya acaranya dilanjutkan nanti saja sekitar jam dua bagaimana bapak-bapak, ibu-ibu semuanya, supaya Zahra bisa beristirahat dengan cukup dahulu, lagi pula ini juga sudah jam sekitar setengah dua belas siang", kata Papah Ziyas kepada Kak Anin dan para kerabatnya Zahra.


"Baiklah Tuan kami semua setuju, lagi pula kesehatannya Zahra yang terpenting, kita semua juga tidak mengharapkan hal ini terjadi tadi, masalah ini diluar kuasa kita", jawab salah satu kerabatnya Zahra kepada Papah Ziyas.


"Bagaimana yang lainnya Bapak-bapak dan Ibu-ibu", kata Papah Ziyas lagi kepada yang lainnya.


"Iya Tuan kami setuju", jawab salah satu perwakilan dari kerabatnya Zahra dan dianggukin juga yang lainnya.


"Ok Papah, Anin sampaikan juga kepada yang lain yang ada didalam kamar ya", kata Kak Anin kepada Papah Ziyas dan dijawab anggukan oleh Papah Ziyas.


Kak Anin langsung saja masuk kedalam kamarnya Zahra lagi, dan ketika Kak Anin masuk dia melihat Zahra sedang menangis dipelukannya Ibu Dina.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa, Ibu tidak marah ya Nak, tidak salah kamu juga berani melawan Ibu Kani, lain kali jangan begitu lagi ya Nak", kata Ibunya Zahra yang didengar oleh Kak Anin ketika Kak Anin sudah masuk lagi kedalam kamarnya Zahra.


Setelah itu Ibu Dina dia melepaskan pelukannya Zahra dan lalu Ibu Dina dia mengusap lembut air matanya Zahra yang terus keluar itu.


Ternyata tidak cuma Zahra saja yang menangis, ketika Kak Anin melihat kearah wajahnya Bunda Lili dan Kia, mereka juga ikut-ikutan menangis melihat keadaannya Zahra.


Zahra lalu mengalihkan pandangannya kearah Bunda Lili yang duduk didepannya, sedangkan Ibu Dina dia duduk disampingnya Zahra.


"Bunda", panggil Zahra kepada Bunda Lili. Dan Ibu Dina dia sengaja bangun dari duduknya untuk memberikan kesempatan kepada Bunda Lili untuk duduk ditempatnya.


"Bunda", kata Zahra lagi untuk Bunda Lili ketika Bunda Lili sudah berada disampingnya, dan Bunda Lili dia tersenyum manis kepada Zahra.


Zahra ingin memeluk Bunda Lili akan tetapi dia takut, jika Bunda Lili akan marah kepadanya karena sudah melihat tindakannya Zahra tadi yang tidak sopan kepada Ibu Kani.


Bunda Lili yang melihat Zahra ingin memeluknya akan tetapi dia merasa takut, akhirnya Bunda Lili langsung menarik Zahra kedalam pelukannya membuat Zahra langsung membalas pelukan dari Bunda Lili.


Kak Anin sekarang tahu kenapa semua orang pada menangis, karena Kak Anin saat ini juga sedang menangis melihat Zahra dan Bundanya sedang berpelukan.


"Bunda, apakah Bunda akan marah kepada Zahra karena sudah melihat perbuatannya Zahra tadi Bunda, maafkan Zahra Bunda", kata Zahra yang melepaskan pelukannya Bunda Lili sambil menunduk dan memegangi tangannya Bunda Lili.


"Bunda tidak marah sayang, adakalanya anak mudalah yang lebih benar dan bijak dibandingkan dengan orang tua, tindakanmu tadi bukanlah karena kurang ajar dengan Ibunya Zain, akan tetapi tindakanmu lebih tepatnya bisa dikatakan karena kamu sudah lelah dan rasa marah serta sedihmu yang disebabkan oleh Ibunya Zain yang tersimpan selama ini sudah tidak bisa ditampung lagi didadamu sayang", kata Bunda Lili sambil membelai lembut rambutnya Zahra yang cukup panjang itu.


"Bunda masih merestui Zahra menjadi istrinya Abang Aul Bunda", kata Zahra kepada Bunda Lili.


"Masih, kenapa tidak Zahra, kami semua masih menerima kamu menjadi menantu diKeluarga Irawan, bahkan Papah Ziyas tidak sedikitpun mempunyai niatan untuk membatalkan acara pernikahanmu dengan Aulian, percaya deh sama Bunda", jawab Bunda Lili kepada Zahra.


"Iya Zahra, Kakak juga tidak marah sama kamu ko", kata Kak Anin yang ikut-ikutan menimpali perkatannya Bunda Lili.


"Apalagi Kakak Zahra yang sudah mengenalmu cukup lama", kata Kak Kia yang juga menimpali perkataan dari Kak Anin.


Membuat Zahra dia langsung tersenyum manis kepada semuanya. Dan rasa sesak yang menghimpit didadanya perlahan berkurang karena kasih sayang yang ditunjukkan oleh semua orang kepadanya.


"Oh iya sampai lupa memberitahukan pesan dari Papah", kata Kak Anin kepada Zahra, Bunda Lili, Kia dan juga Ibu Dina.


"Apa itu Kak", tanya Bunda Lili kepada Kak Anin.


"Tadi Papah bilang jika acaranya akan diundur sampai jam dua nanti, supaya Zahra bisa beristirahat dahulu, dan mereka semua yang sedang diluar pada setuju dengan usulnya Papah Ziyas, serta mereka semua akan melakasanan sholat dhuhur berjamaah dahulu bersama-sama Bund", jawab Kak Anin kepada semuanya yang ada didalam kamarnya Zahra.

__ADS_1


"Bunda, Kak Anin dan Kak Kia jika ingin sholat dan beristirahat disini saja dikamarnya Zahra tidak apa-apa, akan tetapi maaf kamarnya Zahra jelek", kata Zahra kepada Bunda Lili, Kak Anin dan Kia membuat Bunda Lili, Kak Anin serta Kia tertawa kecil mendengarnya.


Rumah Zahra memang dikampung, akan tetapi setelah Zahra diterima bekerja dikantornya Kia sebagai sekretaris pribadinya Kia, Zahra sudah merenovasi rumahnya perlahan-lahan menjadi lebih baik dan lebih bagus dari sebelumnya, tanpa meninggalkan sentuhan tradisional didalam rumahnya Zahra, karena Zahra masih ingin ada kenang-kenangan dari Ayahnya dirumah itu.


"Mau dimana saja kita sholat dan beristirahat kita bisa ko Zahra, yang terpenting tempatnya bersih, nyaman dan aman", jawab Bunda Lili kepada Zahra.


"Emm Bunda mau keluar sebentar ya Zahra mau menemui Papah", pamit Bunda Lili kepada Zahra.


"Aku juga ya Zahra", sambung Kak Anin kepada Zahra.


Dan setelah itu Kak Anin dan Bunda Lili berlalu keluar dari dalam kamarnya Zahra ketika sudah mendapat anggukan dari Zahra. Tersisalah hanya Zahra, Kia dan Ibu Dina saja yang berada didalam kamar.


"Sepertinya Kakak juga mau keluar Zahra, mau melihat suami Kakak dahulu", kata Kia kepada Zahra. Dan tersisalah Zahra serta Ibunya saja ketika Kia sudah berlalu keluar.


"Itu tadi gadis yang bercadar yang terkahir keluar siapa Zahra?? ", tanya Ibu Dina kepada Zahra.


"Dia atasannya Zahra Bu, sekaligus calon Kakak Iparnya Zahra, dia istri dari Kakaknya Abang Aul Bu, namanya Kak Qiyas", jawab Zahra kepada Ibu Dina sambil menguncir rambutnya yang berantakan.


"Jadi dia yang sering kamu ceritakan kepada Ibu Zahra??", kata Ibu Dina lagi kepada Zahra dan dijawab anggukan oleh Zahra.


"Terus yang wanita berhijab satunya lagi dia siapa?? ", tanya Ibu Dina lagi kepada Zahra.


"Kalau itu namanya Kak Anin Bu, dia anak tertua dari Papah Ziyas, dia Kakaknya Kak Qiyas dan Abang Aul, dan Kak Anin sudah mempunyai dua anak perempuan yang lucu-lucu, dia berarti cucu-cucu Ibu juga kan?? ", jawab Zahra kepada Ibunya.


"Wah Ibu jadi tidak sabar ingin melihat anak-anaknya Kak Anin", kata Ibu Dina kepada Zahra dengan tersenyum senang.


"Sudah kamu istirahat dulu ya, Ibu mau menemui para tamu diluar, tidak enak jika Ibu didalam kamar terus begini", sambung perkataan Ibu Dina kepada Zahra. Dan Zahra hanya mengangguk saja.


Setelahnya Ibu Dina dia beranjak dari duduknya dan berlalu keluar dari dalam kamarnya Zahra.


"Terimakasih ya Allah sudah memberikan orang-orang ya baik dan sayang kepada Zahra, dan ampunilah hamba ya Allah karena sudah berbuat yang tidak baik tadi kepada Ibu Kani", doa Zahra didalam hati sambil mendongakkan kepalanya melihat kelangit-langit kamarnya.


Sedang diluar mereka semua pada menggoda dan menahan Aulian yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Zahra. Membuat para tetangga dan kerabatnya Zahra tertawa kecil dibuatnya.


🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈


Ada pelangi setelah badai, dan sebentar lagi kehidupan Zahra akan indah dan tidak akan ada lagi yang berani menghinanya πŸ˜‰πŸ˜‡πŸ˜Š

__ADS_1


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


***TBC***


__ADS_2