
Akhirnya mobil yang disopiri oleh Adzriel sampai juga didepan teras rumah yang ditempatin Zahra dalam seminggu ini. Dan Zahra langsung saja turun dari dalam mobil ditemani Aulian.
"Abang mau mampir dulu kah?? ", kata Zahra kepada Aulian.
"Tidak lagi pula ini sudah malam juga Zahra", jawab Aulian kepada Zahra.
"Sekarang Zahra masuk, bersih-bersih jika belum sholat isya' sholat dulu ya sayang terus tidur", pesan Aulian kepada Zahra sambil mengusap kepalanya Zahra yang terturup hijab.
"Oh ya, besok Abang jemput ya, sekalian nanti Zahra bikinkan bekal untuk Abang", kata Aulian lagi kepada Zahra.
"Iya Abang siap, Abang juga hati-hati dijalan yah", jawab Zahra kepada Aulian sambil tersenyum.
"Abang pamit ya, Assalamu'alaikum", kata Aulian sedang Adzriel dia hanya membunyikan klakson kecil kepada Zahra.
"Wa'alaikumussalam Abang, hati-hati kalian berdua dijalan", jawab Zahra sambil mengangguk kepada Adzriel juga.
Dan setelah itu Adzriel menjalankan mobilnya untuk pulang kerumah mereka masing-masing. Akan tetapi ketika sampai didepan pintu gerbang Aulian menyuruh Adzriel untuk berhenti sejenak didepan para satpam dan anak buahnya.
"Kalian semua jaga rumah ini dengan baik-baik, dan jaga juga calon istri saya, jangan sampai dia lecet seujung kuku pun, faham kalian semua", pesan Aulian kepada para anak buahnya dan juga satpamnya dengan tegas.
"Baik Tuan", jawab serempak para anak buahnya Aulian dan juga satpamnya.
Setelah mengatakan itu Aulian menyuruh Adzriel menjalankan mobilnya lagi untuk pulang kerumah, dan para anak buahnya Aulian mereka juga langsung menutup pintu gerbangnya.
"Itu apakah benar rumahnya Zahra Aul, apa kamu yang membelikannya untuk Zahra, tidak mungkin kan Zahra mengontrak rumah sebagus itu?? ", tanya Adzriel kepada Aulian dengan penasaran sambil menyetir mobil.
"Itu rumah hadiah pernikahan untukku dengan Zahra dari Papah Ziyas Dzriel, ketika Zahra memintaku untuk mencarikannya rumah kontrakan, Papah langsung menyuruh Zahra tinggal disitu saja", jawab Aulian kepada Adzriel.
"Terus lusa kan hari pesta resepsinya Kak Qiyas dan Kak Kia, apakah Zahra sudah merubah keputusannya Aul untuk mau diajak datang bersamamu?? ", tanya Adzriel lagi kepada Aulian sambil masih menyetir mobilnya.
"Belum Dzriel, dia masih tetap tidak mau datang bersamaku", jawab Aulian kepada Adzriel dengan pasrah.
"Kamu yang sabar saja, berdoa terus semoga Allah mau merubah keputusannya Zahra supaya bisa datang bersamamu nanti dipesta resepsinya Kak Qiyas", jawab Adzriel kepada Aulian yang duduk didepan bersamanya.
"Iya aamiin, terimakasih ya Dzriel sudah mengantarkanku pulang, kamu hati-hati dijalan", kata Aulian ketika dia sudah keluar dari dalam mobilnya Adzriel.
Karena ternyata tanpa mereka sadari mereka sudah sampai dirumahnya Papah Ziyas, dan jarak rumah yang ditempati Zahra dengan rumahnya Papah Ziyas tidaklah terlalu jauh sekali.
"Iya sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu, Assalamu'alaikum", kata Adzriel kepada Aulian.
Dan Adzriel langsung saja menjalankan mobilnya ketika sudah mendapatkan jawaban dari Aulian.
Ketika Aulian masuk kedalam rumah dan ingin menaiki tangga, Aulian tidak sengaja melihat Papah Ziyas sedang menonton televisi diruang Keluarga.
"Papah belum tidur Pah?? ", tanya Aulian dan dia langsung duduk dishofa seberangnya Papah Ziyas.
Papah Ziyas langsung mengalihkan pandangannya kearahnya Aulian yang duduk dishofa seberangnya.
"Iya lagi seru nih film actionnya", jawab Papah Ziyas kepada Aulian.
__ADS_1
"Bagaimana lamarannya Hafiz lancarkan, dan ini kamu baru pulang?? ", tanya Papah Ziyas kepada Aulian.
"Iya Pah, tadi mengantarkan Zahra dahulu, dan alhamdulillah lancar acaranya", jawab Aulian kepada Papah Ziyas.
"Kenapa mengantar Zahra dahulu, memangnya apa Zahra kamu ajak keacaranya Hafiz Aul?? ", tanya Papah Ziyas dengan bingung.
"Bukan Pah, ternyata calon istrinya Hafiz dia sahabat dekatnya Zahra, dan Zahra tadi lupa memberitahukan kepada Aul, jika Zahra disuruh untuk menemani sahabatnya itu, jadi disana Aul dan Zahra sama-sama terkejutnya Pah", jawab Aulian kepada Papah Ziyas.
"Oh begitu, tapi kamu tadi tidak marah kan sama Zahra?? ", tanya Papah Ziyas kepada Aulian, karena Papah Ziyas sudah tahu karakternya Aulian.
"Sedikit tadi Pah, tapi sekarang sudah terselesaikan dengan baik", jawab Aulian kepada Papahnya sambil tertawa kecil.
"Dan terus Zahra sudah mau kamu ajak berangkat bersama dipesta resepsinya Kak Iyas belum Aul?? ", tanya Papah Ziyas kepada Aulian.
"Belum Pah, dia masih dengan jawabannya yang dulu, ingin datang sendiri dipesta resepsinya Kak Iyas",, jawab Aulian dengan lesu.
"Kalau dia tidak mau tidak perlu dipaksa Aul, akan tetapi jika kamu bisa berhasil mengajak Zahra datang bersamamu kepesta resepsinya Kak Iyas, Papah janji akan segera menikahkanmu dengan Zahra bagaimana, bisa menerima tantangan dari Papah, tapi dengan satu syarat jangan memaksa Zahra jika dia tidak mau datang bersamamu", kata Papah Ziyas kepada Aulian. Membuat Aulian tertantang untuk lebih menaklukkan hatinya Zahra lagi.
"Ok, siapa takut, Aulian akan mengajak Zahra kepesta resepsinya Kak Iyas nanti, kita lihat saja nanti Pah, siapa yang menang Papah atau Aul", jawab Aulian kepada Papah Ziyas dengan semangat.
"Papah tunggu hasilnya nanti Aul", jawab Papah Ziyas juga kepada Aulian sambil menaikan sebelah alisnya.
"Sudah Aul masuk dulu Pah, mau istirahat capek, itu Bunda apa sudah tidur Pah?? ", kata Aulian kepada Papah Ziyas.
"Iya Bunda sudah tidur daritadi, ya tidurlah sana", jawab Papah Ziyas kepada Aulian sambil menonton filmnya lagi.
Aulian langsung berlalu menaiki tangga untuk menuju kekamarnya. Dan sesampainya dikamar dia bersih-bersih badannya untuk tidur. Sebelum tidur dia mengecek ponselnya lagi, dan ada satu pesan masuk dari Zahra yang langsung dibuka oleh Aulian.
"Cincin yang ada dijari manisku ini, bukan hanya penanda Zahra menjadi miliknya Abang seorang, akan tetapi juga pengingat Zahra jika Zahra saat ini sudah terikat dengan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi imam dihidupnya Zahra💗", caption yang ditulis Zahra dibawah fotonya.
Aulian dia tersenyum senang melihat dan membaca pesan yang dikirimkan Zahra untuknya.
"So cute my future wife, and i love you so much Zahra🤗", balas Aulian kepada Zahra.
Dan setelah mereka berbalas pesan, Aulian serta Zahra lalu mengistirahatkan tubuh mereka untuk mengumpulkan tenaga supaya besok bisa menjalankan rutinitas mereka dengan tubuh dan fikiran yang fresh.
......... °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°..........
Dibeda tempat, tepatnya rumahnya Hafiz. Tadi sepulang dari rumahnya Khansa Hafiz didalam mobil lebih banyak senyumnya daripada berbicaranya, karena Hafiz malam itu benar-benar merasa bahagia sekali.
Bahkan ketika sampai rumah dan Hafiz ingin tidur dia masih banyak senyum sambil membayangkan wajahnya Khansa yang tadi terlihat sangat cantik dengan makeup yang tidak berlebihan dan pas diwajahnya Khansa menurut Hafiz.
Dan sungguh Hafiz lebih bahagia lagi, ketika Khansa sudah mengetahui dan diingatkan lagi cerita tentang masa kecilnya membuat sikapnya Khansa yang awalnya selalu jutek dan galak kepadanya, tadi lebih banyak senyum dan malu kepadanya.
"Hari ini aku sungguh bahagia sekali, ingin rasanya cepat-cepat mengucap ijab kabul atas namanya Khansa", kata Hafiz sambil tiduran diranjangnya dengan tangan yang dilipat dibelakang kepalanya.
Hafiz lalu mengambil ponselnya yang dia letakkan diatas meja samping ranjangnya dan mencoba menghubungi Khansa.
"Hallo Assalamu'alaikum Mas Hafiz", kata Khansa ketika mengangkat sambungan telefonnya dengan suara yang ramah bersahabat.
__ADS_1
Hafiz yang mendengar suara ramahnya Khansa dia lalu melihat kearah layar ponselnya untuk melihat nomor dan nama orang yang dia telefon. Hafiz takut jika salah menelfon orang, karena suaranya Khansa begitu merdu ditelinganya, apalagi Hafiz juga dipanggil dengan panggilan Mas.
"Wa'alaikumussalam ini benar Ayunda kan, yang mengangkat telefonnya?? ", tanya Hafiz dengan ragu-ragu.
"Iya benar Mas Hafiz, memangnya Mas Hafiz sebenarnya mau menelfon siapa??, cewek ya?? ", jawab Khansa kepada Hafiz.
"Iya mau menelfon Cewek, yaitu tunanganku, bentar-bentar", jawab Hafiz kepada Khansa.
Ternyata Hafiz lalu merubah panggilan biasanya menjadi panggilan video call. Membuat Khansa terkejut dan langsung segera menyambar hijabnya yang ada diatas mejanya.
"Mas Hafiz membuat Yunda terkejut, dengan merubah panggilan telefonnya", kata Khansa ketika sudah mengangkat panggilan video callnya Hafiz.
"Masyaallah, ini benar Ayunda calon istriku?? ", kata Hafiz masih tidak percaya juga.
"Benar Mas, ini Ayunda", jawab Khansa kepada Hafiz sambil tersenyum manis.
"Senang sekali rasanya Ayunda menjadi lembut tidak jutek lagi kepada Mas, dan Mas senang dengan panggilan barumu untuk Mas", kata Hafiz sambil tertawa senang kepada Khansa. Dan Khansa dia tersenyum mendengar perkataannya Hafiz.
"Besok berangkat kerja tidak Yunda, kalau berangkat nanti Mas antar ya", tanya Hafiz kepada Khansa.
"Berangkat Mas, baik nanti Ayunda tunggu", jawab Khansa kepada Hafiz.
"Baiklah sudah malam, Ayunda tidur ya, supaya besok badannya bisa fit dan segar", kata Hafiz perhatian kepada Khansa.
"Iya Mas, Mas Hafiz juga tidur ya, Assalamu'alaikum", kata Khansa kepada Hafiz.
"Wa'alaikumussalam Ayunda, mimpi indah", jawab Hafiz dan panggilan video call mereka langsung benar-benar terputus.
Hafiz begitu bahagia sekali mendengar Khansa sudah begitu lembut kepadanya. Rasanya cinta dia kepada Khansa semakin besar saja.
"Oh Ayunda Khansa", kata Hafiz sambil memejamkan matanya, dan lama-kelamaan dia menjadi tidur sendiri.
Berbeda dengan Hafiz, Khansa yang juga tidak bisa tidur karena masih terkejut ternyata Hafiz adalah anak laki-laki yang dulu disukainya membuat dia bertekad untuk merubah sikapnya kepada Hafiz.
Ketika Khansa sedang mengingat acara lamarannya tadi, Khansa dikejutkan dengan panggilan masuk diponselnya, dan ketika nama CEO sinting tertera dilayar ponselnya dia langsung ingin mencobanya menjadi lebih lembut kepada Hafiz.
Selama panggilan berlangsung, sungguh hatinya Khansa dibuat sangat berdebar sekali, dan apalagi ketika Hafiz merubah panggilannya menjadi panggilan video call sungguh tadi ponselnya Khansa terlempar kecil diatas ranjangnya.
Khansa langsung menyambar hijabnya yang tergeletak disembarang tempat yang ada didalam kamar, sambil mengucap bissmillah dan menormalkan eskpresinya Khansa langsung mengangkat panggilan video callnya Hafiz.
Dan ketika sambungan video callnya benar-benar terputus Khansa langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar, seperti lega sekali.
"Kenapa begini sekali sih rasanya cuma telfon-telfonan sama calon suami, seperti telfon-telfonan sama Presiden saja, jantungku rasanya mau copot", kata Khansa ketika sambungan video callnya dengan Hafiz sudah terputus sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mengusap lembut dadanya.
"Sudah tidur ah supaya besok bisa segar dan tidak malu-maluin jika dijemput pertama kali sama Mas Hafiz", kata Khansa untuk dirinya sendiri.
"Ternyata mencoba lembut dengan Mas Hafiz aneh juga, karena aku sudah terbiasa jutek dengannya, apalagi aku sengaja memanggilnya Mas, terasa aneh dilidahku", kata Khansa lagi sambil tertawa sendiri.
Dan setelahnya Khansa mencoba memejamkan matanya untuk tidur sambil membayangkan pertemuan esoknya dengan Hafiz.
__ADS_1
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
***TBC***