
Aulian dan Zahra yang baru saja masuk kedalam ruang kerjanya Aulian, tiba-tiba Zahra melihat wajah mendungnya Aulian yang sedang duduk dishofa.
"Abang kenapa, apa lagi capek ya banyak pekerjaan, atau Abang marah sama Zahra?? ", tanya Zahra dengan lembut kepada Aulian.
"Abang tidak suka dan kurang suka dengan tadi Zahra yang berada didalam satu lift bersama mereka berdua Zahra", kata Aulian dengan nada yang cemburu.
"Maksud Abang Tuan Fadhil dan Zain?? ", tanya Zahra kepada Aulian sambil terus membuka dan menyiapkan makanan yang dia bawa tadi.
Perkataan dari Zahra hanya mendapat anggukan saja dari Aulian.
"Kami tidak sengaja Abang tadi, Zahra juga tidak janjian ingin berada dalam satu lift bersama mereka", jawab Zahra kepada Aulian sambil mengambilkan makanan untuk Aulian.
"Sudah ayo makan, cemburunya dilanjut lagi saja, Zahra sudah lapar sekali ini", kata Zahra sambil menyerahkan piring yang sudah berisi nasi beserta lauk pauknya keada Aulian.
"Banyak sekali Zahra kamu masaknya", tanya Aulian kepada Zahra.
"Iya, kirain Zahra tadi pagi Abang mau sarapan dirumahnya Zahra, sudah sengaja Zahra banyakkin masaknya, dan ini juga Zahra tadi pagi belum sarapan, jadinya masih banyak begini, daripada mubadzir ya Zahra bawa saja semuanya, biar bisa dihabiskan oleh Abang, kan Abang makannya banyak, segini saja kan mudah bagi Abang untuk menghabiskan", kata Zahra kepada Aulian.
Aulian yang mendengar Zahra belum sarapan tadi pagi, dia langsung saja menghentikan gerakan makannya dan langsung khawatir serta mencerca berbagai perkataan kepada Zahra.
"Jadi Zahra belum makan dari pagi, kenapa Zahra, apa gara-gara Abang, bagaimana nanti kalau Zahra sakit, pokokknya Zahra sekarang harus makan yang banyak", kata Aulian kepada Zahra.
"Sudah Abang, Zahra tidak apa-apa ya, sudah yuk makan", jawab Zahra kepada Aulian. Dan Zahra langsung saja memakan makanannya setelah membaca doa tadi.
Bukannya makan Aulian malah masih dengan setia melihat kearahnya Zahra yang sedang makan.
"Abang", panggil Zahra disela-sela makannya.
"A...... Perkataan dari Aulian terpotong karena Zahra langsung saja menyuapkan satu sendok makanan kedalam mulutnya Aulian.
Bukannya marah Aulian dia malah tersenyum dengan apa yang dilakukan Zahra kepadanya, dan Zahra pun tertawa dengan apa yang dia lakukan terhadap Aulian.
"Sudah Abang, makanya makan, jangan melihat kearah Zahra terus dosa, belum halal tahu", kata Zahra lagi kepada Aulian.
Dan Aulian langsung saja melanjutkan makannya lagi sambil membahas seputar pekerjaannya dan pekerjaannya Zahra.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai juga makan siangnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah",kata Aulian ketika baru saja selesai makan.
"Abang kenyang sekali Zahra, masakannya Zahra selalu bisa bikin Abang ingin menambah lagi dan lagi", kata Aulian kepada Zahra.
"Abang juga, sudah tahu kenyang masih dipaksakan juga untuk menghabiskan masakannya Zahra, tapi Zahra juga senang sih, masakannya Zahra jadi habis tidak tersisa begini", kata Zahra kepada Aulian dengan ekspresi yang sangat bahagia sekali.
"Lagi pula itu lauk sama nasinya tinggal sedikit begitu, kan sayang Zahra kalau tidak habiskan, bisa mubadzir nanti", jawab Aulian kepada Zahra.
"Abang sudah sholat belum, kalau belum sholat dhuhur dulu sana", kata Zahra sambil membereskan peralatan makan yang ada diatas meja.
"Sudah daritadi Zahra, jika Zahra sendiri?? ", tanya Aulian kepada Zahra.
"Zahra lagi berhalangan Abang", jawab Zahra dan hanya dijawab Oh ria oleh Aulian.
Ketika Zahra berpamitan kepada Aulian untuk mencuci rantang yang dia bawa, walau Aulian sudah melarangnya, tetap saja Zahra ingin mencucinya sendiri. Aulian lalu memejamkan matanya untuk sejenak sambil menunggu Zahra, setelah beberapa menit akhirnya Zahra pun selesai dan ingin berpamitan kembali bekerja kepada Aulian.
"Abang", panggil Zahra kepada Aulian sambil menggoyangkan badannya Aulian.
"Eh iya Zahra sudah selesai?? ", tanya Aulian kepada Zahra yang sudah duduk dishofa seberangnya.
"Abang sepertinya capek sekali, Zahra mau kembali kekantornya Nona Kia ya Abang, Abang bisa istirahat saja dulu didalam", kata Zahra keads Aulian.
Setelah selesai Aulian kembali duduk dishofa yang tadi dia duduki, karena Aulian hanya mencuci mukanya saja didalam kamar mandi.
"Biar Abang antar saja Zahra, dan sebelum itu Abang ingi berbicara serius kepada Zahra", kata Aulian kepada Zahra dengan ekspresi muka yang serius.
"*Mau berbi*cara apa Bang?? ", tanya Zahra yang tiba-tiba jantungnya menjadi berdebar-debar.
"Zahra, minggu besok kita main kerumahnya Zahra ya, dan Abang juga akan mengajak Papah, Bunda dan kedua Kakak-kakaknya Abang, untuk melamar secara resmi dihadapan orang tuanya Zahra", kata Aulian dengan serius kepada Zahra.
Zahra yang mendengarnya dia lalu tersenyum kepada Aulian. Zahra sendiri dia sudah bercerita semuanya kepada Ibunya jika dia sudah menerima lamaran dari adik Ipar atasannya Kia yaitu Aulian, dan Ibunya Zahra pun mendukung Zahra jika itu yang terbaik untuk Zahra serta yang terpenting Zahra bahagia ketika menjalaninya.
Zahra juga sudah menjelaskan kepada Ibunya jika dia maupun Aulian belum bisa berkunjung kerumah karena pekerjaan mereka masing-masing yang sangat banyak dan belum bisa ditinggalkan. Ibu Dina Ibunya Zahra pun memakluminya, akan tetapi Ibu Dina juga menasihati dan berpesan agar segera melamar resmi menemuinya. Zahra pun berjanji akan hal itu, dan inilah perkataan dari Aulian yang sangat dinantikan oleh Zahra.
"Iya Abang, Zahra mau, nanti Zahra akan kabari Ibu untuk kedatangan kita, agar beliau tidak terkejut nanti", jawab Zahra sambil tersenyum kepada Aulian.
"Alhamdulillah, ya sudah ayo, Abang antarkan Zahra kembali bekerja", kata Aulian kepada Zahra. Dan Zahra mengangguk kepada Aulian.
__ADS_1
Akhirnya mereka keluar dari ruangannya Aulian, ketika Aulian keluar dia berhenti sejenak dimeja kerjanya Indra.
"Indra saya mau keluar sebentar, jika ada yang mencari saya suruh dia untuk menunggu sebentar, dan perkenalkan dia Zahra dia adalah calon istriku", kata Aulian kepada Indra.
"Baik Tuan, Nyonya", kata Indra sambil membungkukkan badannya kepada Aulian dan juga Zahra.
Zahra yang mendapat perilakuan dari Indra membuatnya sedikit kurang nyaman, akan tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah itu Aulian dan juga Zahra melanjutkan lagi jalannya menuju kelift. Sebelum masuk kedalam lift Aulian membelokkan kakinya kearah ruang kerjanya Zain yang berada dekat dengan lift. Dan Zahra masih setia mengikuti Aulian dibelakangnya.
Zain pun yang mendengar ada suara langkah kaki mendekat kearah meja kerjanya, segera dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang, dan ketika mengetahui jika Aulian yang datang serta dibelakangnya ada Zahra, Zain langsung saja bergegas berdiri dari duduknya.
"Tuan", sapa Zain sambil membungkukkan badannya.
"Zain kamu sudah tahu jika Zahra ini calon istriku, kamu harus yang sopan jika memanggil dia, kalian memang teman masa kecil, tapi tunjukkan kesopananmu jika bertemu dengan Zahra dikantor, karena dia calon istri dari atasanmu, faham Zain", kata tegas Aulian kepada Zain.
"Faham Tuan, Nyonya", kata Zain sambil membungkukkan badannya kepada Aulian dan juga Zahra.
Sedangkan Zahra dia tersenyum kaku mendapat sapaan baru dari Zain untuknya.
Setelah memberi petuah kepada Zain, Aulian langsung saja mengajak Zahra pergi dari ruangannya Zain dan segera masuk kedalam lift. Didalam lift Zahra mencoba berkata kepada Aulian.
"Abang apa tidak berlebihan Abang berbicara begitu kepada Zain?? ", tanya Zahra dengan sangat hati-hati kepada Aulian.
"Berlebihannya bagaimana Zahra??, terus kamu maunya dipanggil Zahra begitu sama Zain", jawab Aulian dengan sedikit marah kepada Zahra.
Zahra yang mengetahui ada nada marah didalam perkataannya Aulian dia menjadi takut dan juga sedih.
"Bukan itu maksud Zahra Abang", kata Zahra kepada Aulian dan perkataannya Zahra tidak mendapat tanggapan dari Aulian.
Sampai lift terbuka dan mereka berjalan keluar menuju kemobil Aulian yang tadi sudah disiapkan oleh satpam Aulian masih saja bungkam dan diam saja kepada Zahra.
Sesampainya didalam mobil pun Aulian masih diam kepada Zahra yang sedang duduk disampingnya. Yang biasanya Aulian akan banyak bicara dan banyak menggombal receh kepada Zahra, sekarang Aulian hanya diam saja hingga mobil yang ditumpangi mereka sudah sampai dilobi Perusahaan Ibrahim Company.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Cielah sisumbu kompor lagi cemburu dan marah readersπππππ
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***