
Ketika Zahra baru saja sampai dirumahnya Papah Ziyas untuk melangsungkan pernikahannya dengan Aulian esok harinya diMasjid yang tidak jauh dari rumahnya Papah Ziyas, Zahra dia langsung saja disuruh masuk kedalam kamar tamu yang sudah disediakan oleh Bunda Lili, dan Bunda Lili sengaja menyuruh Zahra untuk tidur didalam kamar tamu bukan didlam kamarnya Kak Anin seperti yang kemarin ditempatinnya karena supaya Bunda Lili serta Ibu Dina bisa mengawasi Zahra yang akan didatangi oleh Aulian dengan diam-diam.
Terlebih juga Ibu Dina dia juga tidak kuat jika harus naik turun tangga. Sebab itu Ibu Dina sengaja memilih untuk tidur bersama Zahra, sedangkan Firman dia tidur didalam kamar tamu yang lainnya.
Untuk urusan pernikahannya Aulian dan juga Zahra Firman sudah berbicara kepada Ibunya dan Kakaknya Zahra, jika nanti yang akan menikahkan Kakaknya Zahra adalah Pak Penghulu, walau Firman tahu jika dia adalah wali nikahnya Kakaknya Zahra, akan tetapi Firman sendiri dia masih merasa belum pantas untuk menikahkan Kakaknya Zahra.
Jadi Firman sebelum undangan tersebar kemarin, dia sudah membicarakannya terlebih dahulu kepada Ibunya, Kakaknya, Aulian dan para Keluarga Irawan yang lainnya. Dan mereka setuju-setuju saja yang penting syarat sahnya pernikahan sudah terpenuhi semuanya.
"Nak ini adalah pemberian dari Ayah kamu dahulu yang diberikan olehnya kepada Ibu ketika kami menikah dulu, simpanlah jika kamu mau pakailah Nak, karena hanya ini yang bisa Ibu berikan kepadamu", kata Ibu Dina kepada Zahra sambil memberikan sebuah gelang pemberian suaminya dahulu kepada Zahra.
Zahra dan Ibunya saat ini sedang berada berdua didalam kamar tamu rumahnya Papah Ziyas dan mereka juga sedang duduk dipinggir ranjang sambil mengobrol antara Ibu dan anak.
Zahra yang menrima pemberian dari Ibunya dan mendengar perkataan dari Ibunya dia tanpa sadar menitikkan air matanya karena merasa senang dan juga terharu secara bersamaan.
"Ibu, terimakasih banyak ini adalah hadiah yang paling berharga diantara semua hadiah yang diterima Zahra saat ini Bu", kata Zahra kepada Ibunya dan dia langsung memeluk Ibunya dengan erat.
"Masih ada satu lagi yaitu sebuah cincin dan itu akan Ibu berikan kepada adik kamu Firman nanti ketika dia akan menikah, kamu tidak marah kan Zahra", kata Ibu Dina lagi kepada Zahra, ketika pelukan mereka sudah terlepas dan Zahra langsung saja tersenyum ketika mendengarnya.
"Tidak apa-apa Ibu, Firman juga kan anaknya Ibu, terimakasih Ibu, Zahra sangat sayang sekali kepada Ibu", jawab Zahra kepada Ibu Dina sambil tersenyum manis.
"Besok kamu akan menjadi seorang Istri Zahra, jadilah Istri yang baik untuk suami kamu ya Nak, sayangilah dia sepenuh hati kamu, jika kalian sedang berada difase jenuh atau saling marahan, ingatlah pengorbanan kalian, ketulusan hatinya dan yang terpenting bicarakan berdua dengannya ya Zahra, saling jujur satu sama lainnya, jangan sampai ada yang namanya kurang komunikasi, dan jangan ada sekecil apapun kebohongan diantara kalian ya Nak ", nasihat dari Ibu Dina kepada Zahra.
"Iya Ibu akan selaluZahra ingat pesannya Ibu dan ijinkan Zahra malam ini untuk tidur dipangkuannya Ibu sebelum Zahra menjadi istrinya Abang Aul ya Bu", kata Zahra kepada Ibu Dina sambil merebahkan kepalanya diatas paha sang Ibu.
Dan Ibu Dina dia langsung mengusap lembut rambutnya Zahra ketika Zahra merebahkan kepalanya dipahanya.
Singkat cerita pagi pun menjelang, Zahra setelah selesai sholat subuh tadi dia langsung disuruh sarapan dan membersihkan dirinya untuk mempersiapkan dirinya dirias sejak pagi.
Zahra sama sekali dia tidak keluar dari dalam kamarnya, sarapan selalu dibawakan oleh pembantu dirumahnya Papah Ziyas atau Ibu Dina sendiri yang membawakannya untuk Zahra kedalam kamar.
Setelah Zahra sudah selesai bersih-bersih dlbadannya semua dan sudah siap untuk dimakeup, Zahra mulai didandani dan dimakeup oleh para MUA yang disewa oleh Bunda Lili yang sudah datang dari sejak tadi pagi jam enam pagi.
Zahra mulai didandani dari jam tujuh tadi, pagi itu rumahnya Papah Ziyas sangatlah sibuk dan ramai sekali, bahkan para Keluarga besarnya dan saudara-saudaranya Zahra juga mulai berdatangan sekitar pukul tujuh dan setengah delapan tadi.
__ADS_1
Seperti biasa ketika baru saja sampai dirumahnya Papah Ziyas, mereka semua pada terkagum dengan rumah megahnya Papah Ziyas yang jarang dilihat mereka dikampung.
Dirumahnya Papah Ziyas sendiri dihalaman rumahnya juga sudah disulap dengan sedemikian rupa untuk menjamu para Keluarga semua dan para sanak saudara yang pada hadir diacara sakralnya Zahra dan Aulian.
Walau hanya mengundang Keluarga inti saja sudah termasuk banyak sekali yang datang, karena Keluarga dari Papah Ziyas termasuk Keluarga besar, yang dari Luar Negeri pun pada datang semuanya, dan mereka juga sekalian menginap disalah satu hotelnya Papah Ziyas yang akan diadakannya resepsinya Zahra dan Aulian esok paginya nanti.
Sekitar pukul setengah sembilan pagi Zahra sudah selesai dirias oleh para MUA, Zahra sangat-sangat begitu cantik sekali. Dengan kebaya yang melekat indah dibadannya Zahra, walau terlihat simple kebaya itu didesain dan dipesan kepada desainer terkenal yang harganya pun tidak main-main, itu semua adalah permintaannya Aulian.
Ditambah riasan yang natural, simple namun terlihat elegan membuat Zahra semakin cantik saja, tidak lupa henna dengan ukiran indah tergambar cantik ditangan mulusnya Zahra.
"Mbak Zahra sungguh sangat cantik sekali Mbak, Mbak Zahra manglingi sekali, saya jamin nanti Tuan Aulian dia pasti akan terpesona sekali melihat Mbak Zahra", kata MUA yang sedang merias Zahra.
"Mbak ini bisa saja", jawab Zahra sambil tersenyum kecil kepada MUA itu.
"Mbak itu terlihat sekali jika orangnya jarang dandan, jadi ketika dirias begini muka Mbak berubah sekali, sangat cantik dan berbeda sekali dengan wajah aslinya Mbak tadi", kata MUA yang satunya lagi.
"Sudah selesai kan", kata Ibu Dina yang tiba-tiba sudah masuk kedalam kamar tempat Zahra sedang dirias.
"Sudah Bu", jawab salah satu MUA yang tadi merias Zahra.
"Ayo Mbak bantu saya", kata Ibu Dina kepada para MUA.
Sebelum Aulian keluar dari dalam kamarnya, Zahra dia sudah keluar terlebih dahulu didampingi oleh Ibunya dan para MUA serta para saudara-saudara perempuannya untuk menuju kemasjid.
"Masyaallah Nak, kamu sangat cantik sekali", kata Mamah Dian kepada Zahra.
Dan semua para Keluarga, Saudara yang pada melihat Zahra baru saja keluar dari dalam kamar mereka langsung terkagum dengan Zahra yang begitu sangat cantik sekali ketika sudah selesai dimakeup.
Zahra sangat malu sekali ketika semua Keluarga memujinya terus menerus. Zahra lalu langsung saja keluar dari rumah untuk menuju kemasjid ketika sudah saling melempar senyum kepada semua orang.
Dan Zahra kemasjidnya dia menaiki mobil tidak mungkin jalan kaki, karena pasti akan lama sampainya, sedangkan Aulian nanti beserta kedua orang tuanya dan rombongan, mereka akan berjalan kaki menuju keMasjid tempat diadakannya acara pernikahannya dengan Zahra.
Sudah lima belas menit Zahra sampai didalam masjid, dan bersembunyi terlebih dahulu diruangan dekat Masjid yang sudah disediakan sambil ditemani oleh para sanak saudaranya yang dari kampung, lalu datanglah Aulian beserta rombongan.
__ADS_1
Zahra juga mendengar candaan dan godaannya Pak Penghulu kepada Aulian, bahkan Zahra sendiri dia juga tertawa mendegarnya.
Dan ketika Pak Penghulu membacakan Bassmalah, jantung Zahra yang awalnya biasa saja, langsung saja berdegub dengan begitu kencangnya.
Ketika Pak penghulu mengucapkan kalimat ijab kabul kepada Aulian, Zahra langsung teringat dengan Ayahnya yang sudah meninggal hingga tanpa sadar dia menitikkan air matanya karena rindu dan juga Ayahnya tidak bisa menyaksikan pernikahannya dengan Aulian.
"Hey janganlah menagis, nanti bedaknya luntur", goda saudaranya Zahra kepada Zahra.
"Aku cuma teringat dan rindu dengan Ayah saya Mbak", jawab Zahra kepada Saudaranya itu.
"Sssuusstt, sudah jangan sedih, Om Khalid beliau pasti juga menyaksikan kamu menikah dengan Aulian ko diatas sana, dan Mbak yakin beliau bahagia sekali kamu bisa menikah dengan orang yang baik seperti Aulian", hibur saudaranya Zahra kepada Zahra, dan Zahra hanya tersenyum kecil kepada saudaranya itu.
Hingga akhirnya Zahra mendengar suara Aulian yang begitu lantang, tegas dan juga lancar mengucap ijab kabul atas namanya membuat jantung Zahra semakin berdetak lebih kencang lagi, karena statusnya sudah berubah menjadi seorang istri dari Aulian Irawan.
"Selamat Zahra, kamu sudah sah menjadi istrinya Aulian, dan semua berjalan dengan lancar", para saudara yang menunggui dan menemani Zahra langsung pada mengucapkan selamat kepada Zahra.
Dan Zahra membalas ucapan para Saudara dengan tersenyum bahagia sekali.
Zahra juga mendengar Aulian mencarinya ketika sudah selesai mengucapkan ijab kabul, dan itu langsung membuat Zahra tertawa ketika mendengarnya.
Zahra langsung saja dibantu keluar oleh para saudaranya ketika ijab kabulnya sudah selesai, Zahra selalu mengumbar senyumnya kepada saudara dan Keluarga yang hadir padahal aslinya Zahra sedang menyembunyikan kegugupannya dan rasa malunya kepada semua Keluarga yang hadir dMasjid itu, terutama rasa malunya kepada Aulian yang melihatnya sampai tidak berkedip seperti itu.
Sesampainya disamping Aulian dan Zahra juga sudah duduk disampingnya Aulian, Zahra langsung saja disuruh untuk mencium tangannya Aulian sebagai tanda berbaktinya kepada sang suami.
Setelahnya Aulian langsung mencium keningnya Zahra, sambil tersenyum manis sekali kepada Zahra. Semua yang hadir pada merasa gembira sekali dengan pernikahannya Zahra dan juga Aulian.
Setelah selesai melakukan semua adat setelah ijab kabul dan juga sudah membacakan doa selesai ijab kabul, Zahra dan juga Aulian mereka kembali kerumahnya Papah Ziyas untuk mengadakan syukuran serta makan-makan dan juga foto-foto bersama semua Keluarga.
...πππππππππππππ...
Ini versinya Zahra readers, bersambung dahulu yak πππ
...πππππππππππππ...
__ADS_1
***TBC***