
Ketika semua sudah pada masuk dan melihat kondisinya Kia Kakak Iparnya Aulian. Papah Ziyas meminta Aulian untuk berbicara kepada bawahannya, karena acara syukuran kedua pernikahan Kakaknya akan diundur menjadi setelah dhuhur nanti.
"Aul tolong kamu katakan pada bawahanmu untuk menyampaikan kepada para karyawan bahwa acara akan diundur setelah sholat dhuhur, biar Kakak Iparmu bisa istirahat dulu", perintah Papah Ziyas kepada Aulian.
"Baik Pah", kata Aulian sambil melirik kearahnya Zahra sebelum dia keluar ruangan. Dan itu tidak luput dari pandangannya Papah Ziyas. Dan Papah Ziyas menggelengkan kepalanya melihat kelakuannya Aulian.
Aulian lalu berlalu keluar untuk memberitahukan kepada Indra sekretarisnya, dan menyampaikan pesan sesuai amanat Papahnya.
Ketika suara pintu ruangannya Qiyas terbuka, Fadhillah orang yang paling antusias, karena siapa tahu Zahralah orang yang keluar dari pintu tersebut. Dan ternyata apa yang diharapkan Fadhil tidak sesuai harapannya.
"Yah, aku kira Zahra tadi yang keluar", batin Fadhil ketika melihat ternyata Aulianlah yang keluar.
"Eh, tapi kan setidaknya jika Tuan Aulian yang keluar, Zahra didalam tidak ada yang mendekati", batin Fadhil lagi dengan begitu bahagia sambil melirik kearahnya Aulian yang sedang berbicara kepada Indra sekretarisnya.
"Eh ko Tuan Aulian berjalan kearah sini", kata batin Fadhil lagi yang melihat Aulian berjalan menuju ketempat duduk para sekretaris ketika Aulian sudah selesai berbicara kepada Indra.
Ditempat duduk itu ada sekretarisnya Papahnya dan Kakaknya Qiyas yang sudah menyelesaikan tugas dari Papah Ziyas untuk menyelesaikan masalah tadi, sedangkan sekretarisnya Aulian yang Zain dia sedang menemui Client diluar, jadi dia tidak bertemu dengan Zahra tadi.
Entah bagaimana reaksi semuanya yaitu Aulian, Fadhil, dan juga Zain jika mereka mengetahui satu sama lain, jika mereka bertiga menyukai satu wanita yang sama.
Dan entah bagaimana juga reaksinya Zain jika dia mengetahui atasan yang sangat dia banggakan dan hormati menyukai dan mempunyai rasa terhadap wanita yang sedari kecil dia cintai. Apakah Zain akan mengalah kepada Aulian, atau dia akan terus memperjuangkannya.
"Untuk kalian semua, Papah meminta kalian kembali bekerja ketempat kerja kalian masing-masing, karena acara akan diundur sampai nanti habis dhuhur", kata Aulian ketika sudah sampai didepan tempat duduk para sekretaris.
Aulian dia berbicara seperti itu dan sambil melirik kearahnya Fadhil, Fadhil belum tahu jika Aulian sudah mengetahui bahwa Fadhil juga menyukai Zahra. Fadhil ketika melihat Aulian berbicara kepada para sekretaris dia tidak melihat gelagat Aulian yang aneh kepadanya, karena Aulian pintar menyembunyikan perasaannya kepada orang yang dia anggap asing baginya.
"Baik Tuan", jawab serempak semua sekretaris yang ada disitu kepada Aulian.
Setelah berbicara begitu, Aulian dia berjalan menuju kelift untuk kembali keruangannya. Dan mengecek beberapa pekerjaan yang hanya tinggal sedikit.
Para sekretaris mereka semua pada bubar dan kembali keruangan mereka masing-masing. Fadhil yang melihat Aulian berjalan menuju kelift dia begitu bahagai karena fikir Fadhil Zahra dan Aulian mereka tidak berada disatu tempat yang sama lagi.
__ADS_1
"Akhirnya Zahra tidak satu ruangan dengan Tuan Aulian lagi", batin Fadhil ketika dia melihat Aulian masuk kelift.
Ketika lift yang dinaiki Aulian sudah sampai ketempat yang dia tuju, yaitu ruangannya Aulian langsung saja keluar dan langsung masuk keruangannya.
Aulian dia sampai larut dengan pekerjaannya, hingga dia sampai lupa jika masih ada Zahra diruangan Kakaknya Qiyas.
Sedangkan Zahra yang berada diruangannya Qiyas dia begitu khawatir dengan keadaan atasannya Kia, yang tiba-tiba menjadi demam dan panas tinggi.
Ketika Qiyas suami dari atasannya Kia meminta untuk membelikan obat, Zahralah yang berinisiatif untuk membelikan obat buat Kia.
"Biar saya yang akan membelikan obat Tuan Qiyas", kata Zahra kepada Qiyas suaminya Kia.
Aulian yang waktu itu dia sudah merasa capek dan pekerjaannya pun sudah selesai dia lalu keluar ingin menuju keruangannya Kakaknya Qiyas dan melihat keadaan Kakak Iparnya Kia.
Aulian sudah keluar dari lift lalu berjalan menuju keruangan Kakaknya Qiyas, dan ketika Aulian membuka pintu ruangan Kakaknya Qiyas dia dikagetkan dengan adanya seseorang yang berada tepat didepan pintu. Siapa lagi orangnya kalau bukan Zahra yang ingin keluar membeli obat.
Zahra yang bertugas untuk membeli obat, ketika dia akan membuka pintu untuk keluar dia dikejutkan oleh pintu yang sudah terbuka dari luar.
"Eh......... ", kata dua orang yang bersamaan.
Ternyata yang membuka pintu dari luar adalah Aulian yang akan masuk keruangannya Qiyas.
"Saya mau keapotek membeli obat untuk Nona Kia Tuan", jawab Zahra kepada Aulian sambil menundukkan wajahnya.
"Ayo saya antar, biar cepat sampai", kata Aulian sekalian pendekatan batinnya.
"Baiklah Tuan", jawab Zahra setelah tadi terdiam sejenak untuk berfikir.
"Yeeeeesss", batin Aulian berjingkrak bahagia sekali, karena Zahra mau menerima ajakannya.
Akhirnya mereka berdua pergi membeli obat untuk Kia menggunakan mobil Aulian. Semua karyawan yang tadi melihat CEO mereka berjalan dengan seorang perempuan mereka berfikir jika Zahra adalah calon istrinya, karena setahu mereka CEO mereka sangat cuek terhadap kaum hawa. Dan Aulian yang mendengar bisikan itu dia langsung mengaamiinin saja.
__ADS_1
Ketika didalam mobil terjadi keheningan antara Zahra dan Aulian. Jika Zahra diam karena kefikiran dan khawatir dengan Kia, berbeda dengan Aulian dia diam karena grogi dan deg-degan satu mobil bersama Zahra.
"Jantungku mau meledak Ya Allah, jangan diledakin dulu, hamba masih ingin hidup dan menikahi Zahra ya Allah", kata Batin Aulian dengan lebay.
"Ehemm", Aulian tidak sengaja berdeham, karena Aulian merasa kering tenggorokannya.
Zahra yang duduk disamping kemudi yang mendengar Aulian berdeham dia reflek melihat kearahnya Aulian.
"Tuan Aulian kenapa??, mau berhenti dulu biar saya beliin minum?? ", tanya Zahra kepada Aulian.
"Tidak usah Zahra, saya hanya grogi satu mobil sama kamu, jadi membuat tenggorokanku tiba-tiba kering, dan bodohnya aku Zahra, padahal ada dirimu yang bagaiakan oase yang harusnya bisa membuat aku adem yah", kata Aulian yang menggombal aneh kepada Zahra sambil tertawa.
Zahra langsung saja tertawa sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya ketika mendengar gombalannya Aulian tadi. Gombalannya Aulian sejenak membuat Zahra melupakan kekhawatirannya dengan Kia atasannya.
"Kenapa aku tidak risih ya satu mobil dengan Tuan Aulian, malahan rasanya nyaman bisa berdekatan dengan Tuan Aulian", batin Zahra yang melihat Aulian tertawa setelah menggombalinnya tadi.
Padahal Zahra jika harus terpaksa satu mobil dengan lain jenis, rasanya dia ingin cepat-cepat sampai dan turun ditempat tujuan.
"Saya ada minum dibelakang, tolong bisa ambilkan Zahra dikursi belakang?? ", kata Aulian meminta tolong kepada Zahra setelah bisa meredakan tawanya tadi.
"Bisa Tuan", jawab Zahra sambil tersenyum kepada Aulian.
"Tak butuh minuman keras untuk membuatku hilang kendali, cuman mencium aroma parfummu saja sudah membuatku mabuk kepayang Zahra", gombal Aulian lagi sambil menyetir ketika Zahra sedang mengambilkan minum dikursi belakang, dan Aulian tidak sengaja mencium aroma parfum yang dipakai Zahra.
"Ini Tuan", kata Zahra sambil menyerahkan minum kepada Aulian dan juga dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya kepada Aulian.
"Terimakasih Zahra", kata Aulian menerima minum dari Zahra dan lalu dia menepikan mobilnya dipinggir jalan sebentar untuk minum.
ππππππππππππ
Sambung part dua, kabooooooorrπππππ
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***