
Aulian yang tadi menggandeng Zahra keluar dari dalam Cafe, akhirnya mereka sudah sampai dimobilnya Aulian. Aulian reflek langsung membukakan pintu mobil sebelah sopir untuk Zahra.
Zahra yang tiba-tiba tersadar dari keterkejutannya tadi, dia langsung menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam mobilnya Aulian.
Aulian yang melihat Zahra yang tiba-tiba menghentikan langkahnya, dia langsung bertanya kepada Zahra.
"Kenapa Zahra, ayo silahkan masuk", kata Aulian kepada Zahra.
"Maaf Tuan, saya pulang sendiri saja, tidak baik kita hanya berdua saja didalam mobil apalagi ini sudah malam", kata Zahra kepada Aulian.
"Eeh, eh panggil apa tadi", kata Aulian kepada Zahra.
"Eem abang Aul, Zahra pulang saja sendiri", kata Zahra lagi sambil mengganti panggilannya kepada Aulian dengan menunduk malu.
"Nah gitu kan enak didengar", kata Aulian dengan tertawa kecil.
"Memang ini sudah malam, yang bilang ini subuh siapa, sudah tahu malam mau sok-sokan pulang sendiri, harga diri abang terhina Zahra, sudah ayo masuk, kalau tidak mau masuk, abang masukin lho", kata Aulian panjang lebar dan ambigu diakhir kalimat. Membuat Zahra langsung mengangkat wajahnya melihat kearah Aulian yang sedang tertawa aneh karena perkataannya sendiri.
"Sudah ayo buruan masuk, sudah jam sembilan lebih ini, nanti setannya tambah banyak", kata Aulian lagi kepada Zahra. Dan Zahra langsung saja masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Aulian tadi.
Aulian langsung saja menutup pintu mobilnya ketika Zahra sudah masuk kedalam mobil. Setelah itu Aulian dia langsung memutari mobil untuk masuk kedalam mobil yang dikursi kemudi.
"Sudah siap kan Zahra", tanya Aulian kepada Zahra dan dijawab anggukan oleh Zahra.
"Baiklah, dinama alamat rumah kamu Zahra, akan abang antar pulang", tanya Aulian lagi sambil menjalankan mobilnya.
Zahra langsung saja memberikan alamat rumahnya kepada Aulian, dan Aulian dia langsung faham alamat itu karena alamat rumahnya Zahra tidak jauh dari Cafe yang mereka singgahi.
Jalanan yang sepi karena jam sudah mulai malam, jadi cuma beberapa menit saja diperjalanan akhirnya Aulian dan Zahra sudah sampai dirumah kontrakannya Zahra.
"Benar ini Zahra rumah kamu", tanya Aulian kepada Zahra ketika mereka baru sampai dijalan depan rumahnya Zahra.
"Iya, tepatnya rumah kontrakanku bang, karena saya cuma sendirian dikota ini", jawab Zahra membuat Aulian langsung mengalihkan pandangannya kearah Zahra.
"Kamu tidak punya saudara sama sekali Zahra disini?? ", tanya Aulian kepada Zahra.
__ADS_1
"Tidak punya Abang, saudara kandung saya cuma adik saya yang tinggal dikampung bersama Ibu, dan jika saudara-saudara dari orang tua saya, ada dikota lain", jawab Zahra jujur kepada Aulian.
Aulian yang mendengar rasanya dia semakin yakin akan hatinya ingin segera meminang Zahra dan menjadikan Zahra sebagai istrinya, agar Aulian bisa melindungi Zahra yang sendirian dikota ini, dan Aulian juga tidak ingin terjadi apa-apa kepada Zahra yang sendirian dikontrakannya.
Mobil yang dikendarai oleh Aulian sudah sampaindipelataran rumahnya Zahra, dan Aulian juga ikut turun ketika Zahra turun dari mobilnya.
"Kamu sendirian Zahra dirumah ini", tanya Aulian dengan nada yang benar-benar khawatir kepada Zahra.
"Iya Abang", jawab Zahra kepada Aulian.
"Sudah malam, Abang pulang dulu ya, kamu hati-hati didalam rumah, kunci semua pintu dan jendelanya, jika ada yang mengetuk pintu malam-malam jangan langsung dibuka, besok Abang kesini lagi, kita berangkat kerja sama-sama ya, selamat malam Zahra", kata Aulian kepada Zahra sambil mengusap kepala Zahra yang tertutup hijab dengan lembut. Membuat perasaan nyaman dan hangat timbul dihatinya Zahra.
Zahra hanya menjawab dengan senyuman manis dibibirnya kepada Aulian, dan Aulian juga sudah sangat cukup melihat senyum manisnya Zahra.
Aulian sebelum benar-benar pergi dia membunyikan klakson kepada Zahra dan Zahra hanya tersenyum serta mengangguk menanggapi klaksonnya Aulian.
Zahra langsung saja masuk kedalam rumahnya ketika mobilnya Aulian sudah membelokkan stirnya untuk pergi dari pelataran rumah kontrakannya.
Didalam rumah Zahra langsung bersandar dibalik pintu sambil memegangi dadanya yang berdetak cukup cepat itu.
"Sungguh nyaman sekali rasanya ketika Tuan Aulian mengusap kepalaku", kata Zahra pelan untuk dirinya sendiri sambil memegang kepalanya yang diusap oleh Aulian tadi.
Setelah berdoa melalui batinnya, Zahra lalu mengambil nafas panjang untuk menetralkan rasa berdebarnya yang cukup kencang itu.
Zahra lalu menuju kedalam kamarnya untuk berganti pakaian tidur dan setelah itu dia bersih-bersih didalam kamar mandi. Setelah selesai Zahra langsung membaringkan badannya diranjangnya.
"Ya Allah kenapa tadi aku tidak menolak ketika Tuan Aulian mau menjemputku, kenapa tadi aku malah diam saja", kata Zahra untuk dirinya sendiri.
"Besok aku harus bagaimana, apa harus aku suruh sarapan bersama, atau langsung berangkat saja, aduh aku bingung", kata Zahra bingung sendiri untuk menghadapi hari esok.
"Biarlah lihat besok saja bagaimana kondisinya, sudah tidur ah sudah jam sebelas ternyata, cepat sekali rasanya malam ini", kata Zahra lagi dan berusaha untuk tidur.
Aulian yang tadi baru saja pergi dari rumahnya Zahra, dia memberhentikan mobilnya sebentar ketika sudah cukup jauh dari jarak rumahnya Zahra. Aulian langsung mengambil hpnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, saya ada pekerjaan untukmu", kata Aulian kepada orang yang ada diseberang telefon.
__ADS_1
"............... ... "
"Tolong kamu setiap hari awasi rumah calon istriku, jangan sampai terjadi apa-apa dengannya, jika kamu dan anak buah kamu sampai kecolongan, kalian akan tahu akibatnya", kata Aulian lagi kepada anak buahnya.
"............... ... "
"Alamatnya nanti saya kirim lewat pesan, mulai malam ini kalian semua harus berjaga disekitar rumah calon istriku, jangan sampai bikin dia curiga, kalian faham", perintah Aulian lagi.
"............... ... "
"Baiklah, saya tutup dulu telefonnya, kamu ingat jangan lupa harus setiap saat beri laporan kesaya terus", kata Aulian lagi dengan tegas. Dan setelah mendapat jawaban dari yang ditelefon, Aulian langsung saja mematikan sambungan telefonnya.
Ketika Aulian sudah selesai menelfon Aulian langsung saja melanjutkan perjalanannya untuk pulang kerumahnya. Setelah sekitar empat puluh menit mengendarai mobilnya, akhirnya Aulian sampai juga dia dirumahnya.
Ketika sudah masuk kedalam kamarnya, Aulian langsung saja membersihkan badannya dan setelah itu dia hanya memakai celana kolor yang biasa untuk dia tidur tanpa baju, karena Aulian jika tidur dia tidak bisa kalau disuruh memakai baju, bahkan terkadang dia hanya memakai ****** ***** saja.
"Zahra", kata Aulian dengan membayangkan wajahnya Zahra.
"Aku tidak bisa jika begini terus, aku harus melakukan sesuatu", kata Aulian lagi dengan merancang sebuah rencana.
Sambil memejamkan matanya Aulian merancang sebuah rencana untuknya dan Zahra, hingga lama-kelamaan Aulian benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Berbeda dengan Zahra hingga jam menunjukkan pukul dua belas malam pun, dia belum bisa memejamkan matanya karena kefikiran untuk esok hari yang Aulian katanya akan menjemputnya.
Zahra langsung saja menyalakan murotal al-qur'an dan dia ikut mengaji menirukan suara murotal yang dia dengar sambil memejamkan matanya hingga tanpa Zahra sadari, dia sudah terlelap dalam tidurnya.
Zahra dan Aulian mereka tidak menyadari jika apa yang mereka lakukan ketika mereka baru saja sampai tadi dirumahnya Zahra dan mereka baru saja turun dari mobil ada sepasang mata yang melihat semua apa yang dilakukan oleh Aulian kepada Zahra.
Bahkan adegan romantis Aulian yang mengusap lembut kepalanya Zahra yang tertutup hijab pun dia juga melihatnya.
"Mungkin kamu benar-benar bukan jodohku Zahra", kata orang itu yang melihat interaksi antara Aulian dan Zahra.
π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°π°
Kira-kira siapa orang itu Readersπ
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***