
Ketika Aulian sudah sampai dikantor, dia mendengar bisikan dan pembicaraan para karyawannya yang sangat penasaran akan ada acara apa dikantor mereka bekerja. Mereka tidak tahu saja jika hari itu akan diadakan syukuran yang kedua pernikahan Kakaknya Qiyas dengan Kakak Iparnya Kia CEO diPerusahaan Ibrahim Company.
Ada kejadian dikantornya yang membuat Kakaknya Qiyas sangat marah sama resepsionis kantornya sebelum acaranya dimulai. Jika Aulian berada diposisi seperti itu, mungkin dia akan sama marahnya seperti Kakaknya Qiyas.
Cuman bedanya Aulian masih bisa mengontrol emosinya, jika Kakaknya Qiyas sudah terlanjur marah dia tidak akan melihat tempat itu dimana Kakaknya akan melampiaskan amarahnya.
"Heh, Kakakku emang sangat sabar, akan tetapi jika sudah marah aku tidak mau ikut campur", batin Aulian ketika sudah ikut keluar melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Masyaallah cantiknya", batin Aulian yang melihat Zahra sedang berdiri disamping Kakak iparnya Kia.
Jika yang lain pada tegang, beda cerita dengan Aulian yang malah curi-curi pandang dengan Zahra.
Zahra yang saat itu masih fokus dengan atasannya Kia, dia tidak sempat memperhatikan sekitar dan orang-orang yang melihat kejadian itu, jadi dia tidak tahu jika dia daritadi dilihatin oleh Aulian dan tidak cuman Aulian, Fadhil pun juga sama seperti Aulian yang curi-curi pandang kepada Zahra.
Sedangkan Fadhil juga menyadari dan melihat sendiri jika Aulian adik kandung bossnya itu selalu melihat kearahnya Zahra.
Ketika masalah sudah selesai dan beres semua para anggota keluarga, para sekretaris termasuk Zahra dan Aulian mereka semua pada langsung menuju keruangannya Qiyas.
Hanya para Keluarga Irawan dan Ibrahim saja yang pada masuk keruangannya Qiyas, sedangkan para sekretaris yang ada disitu mereka semua menunggu diluar, kecuali Zahra yang ikut masuk juga, karena dia wanita sendiri yang menjadi sekretaris dibandingkan yang lain.
Fadhil yang melihat Zahra ikut masuk, perasaan dia menjadi was-was karena didalam ruangan atasannya Qiyas ada Aulian yang Fadhil sangat yakinin jika Aulian mempunyai rasa kepada Zahra, sama seperti dirinya.
"Kenapa juga Zahra harus ikut masuk kedalam, didalam kan ada Tuan Aulian", batin Fadhil ketika melihat Zahra ikut masuk keruangan kantornya Qiyas Kakaknya Aulian.
Aulian daritadi yang selalu mencuri pandang dengan Zahra pun juga tak luput dari pandangan Papahnya Ziyas.
Yang lain pada khawatir dengan Kia karena kejadian tadi si Aulian malah daritadi bahkan dia tidak mendengarkan apa yang dibicarakan semua orang yang ada diruangannya Qiyas, Aulian malah fokus keZahra yang sedang duduk disebelah Bundanya.
Ayah Ibrahim sedang menenangkan Mamah Dian yang sedih dengan masalah tadi, sedangkan Papah Ziyas dan Bunda Lili sedang sibuk dengan fikirannya masing-masing, dan yang pasti mereka semua sedang khawatir dengan keadaannya Kia tentang masalah tadi.
"Aul, tolong kamu beritahu kepada bawahannmu untuk mengabarkan acaranya diundur setelah sholat dhuhur", kata Papah Ziyas dengan tiba-tiba sambil mengecek hpnya, takutnya ada email penting.
".................... "
Papah Ziyas berbicara kepada Aulian sambil melihat hpnya. Karena tidak ada tanggapan dari Aulian Papah Ziyas langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat kearah Aulian yang sedang duduk dishofa berseberangan dengannya yang duduk disebelah Ayah Ibrahim.
Papah Ziyas lalu melihat kearah pandang Aulian, ternyata arah pandang Aulian tertuju kepada Zahra yang sedang duduk disebelah istrinya.
Ketika dilihat Papah Ziyas Zahra sedang menerima telefon yang diperkirakan Papah Ziyas adalah client Kia jadi dia tidak sadar kalau Zahra daritadi sedang dilihatin anaknya Aulian.
__ADS_1
Eheemmm
Papah Ziyas sengaja berdeham untuk mengalihkan pandangannya Aulian. Akan tetapi gagal usahanya Papah Ziyas.
Eheemmm
Papah Ziyas berdeham untuk kedua kalinya, bukannya Aulian yang sadar eh malah Bunda Lili yang merespon.
"Papah kenapa sih daritadi berdeham terus, kenapa haus?? ", tanya Bunda Lili kepada suaminya Papah Ziyas.
"Ituuu", kata Papah Ziyas mengkode dan mengasih tahu istrinya untuk melihat kearah Aulian dengan ekspresi muka.
Bunda Lili lalu melihat kearah Aulian terus melihat kearah yang dilihat Aulian. Ketika Bunda Lili melihat kearah yang dilihat Aulian adalah Zahra Bunda Lili menggelengkan kepalanya.
"Dasar ini anak, Kakaknya lagi keadaan seperti ini, bisa-bisanya dia malah seperti itu", batin Bunda Lili sambil menggelengkan kepalanya melihat kearah Aulian.
Bunda Lili langsung berdiri dan berjalan kearah belakang Aulian. Dan itu pun Aulian tidak menyadari itu. Tiba-tiba......
"Aduh, aduh, aduuuuuuh, Bundaaaaa", kata Aulian mengaduh kesakitan karena telinganya dijewer oleh seseorang dan Aulian langsung melihat kebelakang ternyata pelakunya adalah Bundanya sendiri.
Semua orang langsung melihat kearah Aulian karena mereka kaget dengan suara kesakitan Aulian, kecuali Papah Ziyas dia tidak kaget karena dia daritadi memperhatikan gerak gerik istrinya. Sedangkan Zahra dia langsung mematikan sambungan telefonnya karena terkejut.
Aulian tidak menyadari jika Zahra tertawa melihat kelakuannya yang cemberut dengan Bundanya.
"Ya Allah, ternyata kelakuan Tuan Aulian jika sama Ibunya bisa manja begitu, tambah ganteng, eeeeh...... Astaghfirullah", kata batin Zahra ketika melihat Aulian yang cemberut manja kepada Bunda Lili.
"Daritadi diajak ngomong sama orang tua tidak mendengarkan, ya Bunda jewer saja ini telinganya, kan telingamu ini tidak ada fungsinya", kata Bunda Lili sambil menjewer telinganya Aulian lagi.
"Aduh Bunda, ko dijewer lagi sih, sakit Bunda", kata Aulian sambil mengusap telinganya dan merengek kepada Bundanya.
Hihihihihi
Aulian langsung melihat kearah Zahra karena suara ketawa Zahra terdengar sampai kegendang telinganya. Aulian langsung mamasang sikap duduk yang gagah. Karena dia malu tadi kelepasan merengek kepada Bundanya dihadapan Zahra.
"Aduh aku lupa masih ada Zahra diruangan ini, pasti tadi dia lihat aku merengek kepada Bunda, malunya aku", batin Aulian ketika mendengar suara tawanya Zahra sambil membenahi duduknya agar terlihat gagah.
Sedangkan Zahra yang ketahuan mentertawakan Aulian, dia seketika langsung diam ketika Aulian langsung melihat kearahnya Zahra.
"Kelepasan aduh", batin Zahra ketika ketahuan mentertawakan Aulian sambil memukul kecil mulutnya dengan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Aduuuuuh", kata Aulian lagi.
Karena Bunda Lili gemas dengan kelakuan Aulian, jadi Bunda Lili langsung menjitak kepalanya Aulian dan langsung berlalu duduk kembali ketempat duduknya.
Ayan Ibrahim dan Mamah Dian mereka sedikit melupakan keadaan Kia karena terhibur dengan kelakuannya Aulian. Dan Papah Ziyas dia daritadi tertawa tapi tidak keras karena melihat adegan didepannya.
"Nak, kamu mau tidak menjadi menantu kami, menjadi istrinya dia", kata Bunda Lili to the point ketika sudah duduk dishofa disebelahnya Zahra sambil melirik kearah Aulian.
Zahra yang ditanya begitu dengan Bunda Lili dia langsung diam dan bingung sambil melihat kewajahnya Bunda Lili. Sedangkan Aulian dia malu, kaget dan deg-degan dengan perkataan Bundanya kepada Zahra.
"Maaf Nyonya saya tidak bisa", jawab Zahra sambil menundukkan wajahnya.
"Ya Allah kenapa hatiku sakit ketika menolaknya", batin Zahra lagi.
Tidak cuman Bunda Lili saja yang terkejut mendengar jawabannya Zahra, yang ada disitu semuanya terkejut, apalagi Aulian dia yang paling syok, karena disaat wanita lain kecuali Kia Kakak Iparnya pada berlomba ingin menjadi bagian Keluarga Irawan, Zahra justru menolak lamaran yang diajukan kepadanya.
Semua mata orang yang berada disitu langsung tertuju kepada Zahra.
"Saya tidak bisa Nyonya, karena saya merasa tidak pantas untuk menjadi anggota Keluarga Nyonya, saya orang miskin Nyonya, saya anak Yatim dan sekarang saya menjadi tulang punggung untuk Ibu dan adik saya yang masih SMP", jawab Zahra sambil menundukkan kepalanya.
Papah Ziyas dia tidak menyangka jika Zahra anaknya pekerja keras. Sedangkan Aulian dia semakin mengagumi Zahra.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar ruangan Qiyas terbuka dan keluarlah Qiyas sendirian. Dan orang-orang yang disitu langsung berdiri dari duduknya untuk menyamperin Qiyas ketika melihat Qiyas keluar.
Kecuali Aulian dia masih duduk karena masih larut dalam fikirannya yang semakin mengagumi Zahra.
Sedangkan Fadhil yang berada diluar, dibuat tidak tenang dalam duduknya karena ternyata Zahra berada didalam ruangan itu sangat lama, akan tetapi Fadhil masih bisa menyembunyikan rasa tidak tenangnya itu dengan cara bermain Hp.
"Semoga Zahra dan Tuan Aulian mereka tidak semakin dekat, entah apa saja yang dibicarain mereka, kenapa Zahra tidak keluar-keluar juga daritadi", batin Fadhil sambil terus melirik pintu ruangan kantornya Qiyas.
ππππππππππππ
Jika readers bingung bisa baca juga novel Kakaknya Aulian dulu ya readers yang BISSMILLAH WITH YOU π€π€π€, karena tidak sepenuhnya cerita ini berdisi sendiri ya readers. π€
ππππππππππππ
***TBC***
__ADS_1