
"Jika kamu sudah menikah dengan Aul, kamu boleh ko memeluk Papah, untuk melepaskan rindu kamu kepada Ayah kamu", kata seseorang yang langsung mengalihkan pandangannya Zahra dan juga Bunda Lili.
"Papah", kata Zahra yang langsung melihat kearahnya Papah Ziyas.
"Bertahanlah Nak, jika tidak ada halangan Papah akan mempercepat pernikahanmu dengan Aul Zahra", kata Papah Ziyas sambil mengusap lembut kepalanya Zahra dengan sayang.
"Zahra ikut bagaimana baiknya Pah", jawab Zahra kepada Papah Ziyas.
Ketika mereka bertiga sedang pada melow-melow tiba-tiba mereka mendengar salam dari dalam rumah dengan suara yang cukup keras.
"Assalamu'alaikum, assalamu'alaikum, pada dimana sih ini orang?? ", kata orang itu dengan suara lantang.
"Bi, Papah sama Bunda kemana sih?? ", tanya orang itu lagi kepada pembantunya Papah Ziyas yang sedang berada didapur.
"Itu mereka Non, sedangkan Tuan Qiyas sama Nona Kia mereka baru saja pulang", jawab pembantunya Papah Ziyas.
"Kamu ini ya, kamu jika melihat Alifa sama Nela teriak-teriak begitu langsung kamu marahi, tapi sekarang kamu sendiri yang berteriak-teriak seperti itu", kata Papah Ziyas kepada anak tertuanya yaitu Kak Anin sambil menjewer telinganya Kak Anin.
Papah Ziyas, Bunda Lili dan Zahra ketika mendengar salam dengan suara lantang begitu, Papah Ziyas langsung berjalan masuk kedalam rumah untuk melihat siapa orang yang mengucapkan salam dengan suara lantang seperti itu. Dan ternyata anak sulungnyalah yang berteriak-teriak tadi, yaitu Kak Anin.
Ketika Papah Ziyas akan masuk kedalam rumah dia langsung berpas-pasan dengan Kak Anin yang akan menemui Papah Ziyas, Bunda Lili dan Zahra yang ada dibelakang rumah. Papah Ziyas langsung saja menjewernya, dan membuat Kak Anin mengaduh kesakitan.
"Aduuuh, ampun Pah", jawab Kak Anin sambil mengusap telinganya yang tertutup hijab.
"Sini ayo ikut Papah", kata Papah Ziyas kepada Kak Anin dan langsung berlalu dari hadapannya Kak Anin.
Kak Anin lalu mengikuti Papahnya dan ternyata mengajaknya masuk kedalam ruang kerjanya Papah Ziyas.
"Kakak, sekarang dirumah ini ada Zahra dan dia sementara tidur dikamar lama kamu...... Kata Papah Ziyas belum selesai sudah terpotong oleh perkataannya Kak Anin.
"Zahra tidur disini Pah, tumben ada apa?? ", kata Kak Anin kepada Papah Ziyas.
"Makanya kalau orang tua berbicara belum selesai itu jangan dipotong", jawab Papah Ziyas dengan gemas kepada Kak Anin.
"Maaf Pah", jawab Kak Anin sambil tertawa kecil terhadap Papahnya.
__ADS_1
Papah Ziyas lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Zahra, dan Papah Ziyas juga menceritakan tentang Rizky yang sudah dipenjara, serta tentang rencana untuk memberi pelajaran kepada Ibunya Rizky.
Kaka Anin yang mendengar kisahnya Zahra dia sangat terkejut dan kasihan sekali dengan Zahra. Dan ketika Kak Anin mendengar jikaZahra juga dihina oleh Mamahnya Rizky dia jadi teringat dengan kejadian dulu dengan Mamahnya Rizky.
"Anin setuju Pah dengan rencana Papah, memang istrinya dari Tuan Ferdinan itu sangatlah sombong", jawab Kaka Anin kepada Papahnya.
Dan Kak Anin lalu menceritakan tentang pengalamannya ketika bekerja sama dengan Mamahnya Rizky.
Dulu Mamahnya Rizky pernah memesan kain kepada suami Kak Anin yang pengusaha kain itu dengan jumlah yang tidak sedikit dan dengan jumlah total harga yang juga tidak sedikit. Sebelum dikirim kepembeli pihak dari suaminya Kak Anin sudah mengecek semua dari kondisi, jumlah, kainnya, bahannya dan lain-lainnya sudah sesuai dengan pesanannya Mamahnya Rizky.
Akan tetapi ketika sampai dibutiknya Mamahnya Rizky ternyata jumlah kainnya tidak sesuai dan tidak ada satu roll kain. Pihak dari Mamahnya Rizky dia meminta ganti rugi dengan harus mengirimkan kain yang sama seperti kain yang hilang itu.
Suaminya Kak Anin langsung saja mengirimkan kain yang sama itu kepada Mamahnya Rizky akan tetapi suami Kak Anin juga menyelidiki tentang masalah hilangnya satu roll kain yang harganya tidaklah murah itu.
"Terus apakah suami kamu sudah mengetahui kenapa bisa hilang itu kainnya?? ", tanya Papah Ziyas kepada Kak Anin.
"Sudah Pah, ternyata kain itu sengaja disembunyikan digudang butik oleh para anak buahnya, karena disuruh oleh istrinya Tuan Ferdinan itu Pah, dan kain itu ditumpuk dengan kain-kain yang lain Pah jadi tidak terlalu kelihatan jika tidak diamati dengan jeli", jawab Kak Anin kepada Papah Ziyas.
"Terus apa yang dilakukan oleh suami kamu ketika mengetahui kecurangan itu Anin?? ", tanya Papah Ziyas lagi kepada Kak Anin.
"Ya Mas Asraf mulai saat itu dia tidak mau lagi menerima orderan dari istrinya Tuan Ferdinan lagi Pah, dan Mas Asraf mencoba mengikhlaskan satu roll kain itu Pah, walau Mas Asraf harus rugi sekitar dua puluh lima juta dulu Pah", jawab Kak Anin yang sedang menceritakan pengalamannya dulu dengan Mamahnya Rizky.
"Dilarang Mas Asraf Pah, katanya dia tidak mau merepotkan Papah ataupun Iyas nantinya",, jawab Kak Anin kepada Papah Ziyas.
"Kita itu satu Keluarga Kak, besok lagi kalau ada apa-apa cerita sama Papah atau sama Bunda, biar kami bisa membantu anak-anak Papah yang sedang membutuhkan bantuan, ingat ya Kak", petuah dari Papah Ziyas kepada Kak Anin.
"Ingat Pah, maafin Anin dan Mas Asraf ya Pah", jawab Kak Anin kepada Papah Ziyas.
"Iya, dan ingat jangan tanya-tanya kepada Zahra ya Kak, anggap saja kamu tidak tahu, karena kami sedang berusaha memulihkan rasa trauma didalam dirinya Zahra", kata Papah Ziyas lagi kepada Kak Anin.
"Siap Pah, Anin bisa diandalkan", jawab Kak Anin sambil mengangkat tangannya hormat.
"Kamu sendirian kesininya, mana Asraf dan anak-anak kamu?? ", tanya Papah Ziyas kepada Kak Anin.
"Lagi diajak pergi sama Mas Asraf Pah kerumah adiknya Mas Asraf", jawab Kak Anin kepada Papahnya.
__ADS_1
Sementara Zahra dan Bunda Lili mereka saat ini sudah pada masuk kedalam ruang Keluarga dan sambil menonton televisi.
Walau mata Zahra menonton televisi, akan tetapi seperti kosong penglihatannya Zahra. Dan Bunda Lili yang melihat Zahra tanpa ekspresi sama sekali, dia menjadi bingung apa yang harus Bunda Lili lakulan.
Dan tiba-tiba Bunda Lili dikejutkan dengan seseorang yang langsung duduk disebelahnya.
"Astaghfirullah Anin, kamu membuat Bunda jantungan saja", kata Bunda Lili yang terkejut kepada Kak Anin.
"Maaf Bund", jawab Kak Anin kepada Bunda Lili sambil tertawa.
Kak Anin lalu mengalihkan pandangannya kearahnya Zahra yang diam saja seperti melamun dan tidak terganggu sama sekali dengan kebirisikan antara dirinya dan Bunda Lili.
"Coba kamu ajak bicara", kata Bunda Lili yang melihat arah pandangnya Kak Anin.
Kak Anin lalu berjalan mendekati Zahra yang duduk dishofa seberang kirinya Bunda Lili.
"Zahra, hey Zahra", panggil Kak Anin dengan suara lembutnya kepada Zahra sambil menggoyangkan lengannya Zahra.
Zahra yang merasa terganggu dengan guncangan dilengannya, akhirnya Zahra tersadar dari kegiatan melamunnya.
"Eh maaf Kak, ada apa ya??, apa Kak Anin tadi mengatakan sesuatu kepada Zahra?? ", kata Zahra kepada Kak Anin.
"Tidak ada sih, eem bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan saja, mumpung anak-anak lagi diajak Mas Asraf, bagaimana Zahra?? ", kata Kak Anin kepada Zahra.
"Nanti jam tiga Zahra akan konsultasi sama Dokter Diva Kakak, ini saja sudah jam setengah dua belas", kata Bunda Lili yang mendengar perkataannya Kak Anin.
"Maaf Kak, Zahra lagi tidak mau keluar rumah, Zahra inginnya didalam rumah saja", jawab Zahra menolak ajakannya Kak Anin.
"Baiklah, lain kali saja kalau begitu ya", jawab Kak Anin kepada Zahra. Dan Zahra hanya mengangguk kepada Kak Anin sambil tersenyum kecil.
ππππππππππππ
Upnya besok lagi ya, Author mau nyuci motor dahulu, emak-emak selagi bisa dikerjain sendiri kenapa harus minta tolong suamiππππ
Sini yang mau ikutan tak cuciin motornya, asal totalan nantinya πππ
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***