
Pesta pernikahannya Aulian dan juga Zahra benar-benar sudah selesai dan ballroom hotel pun sudah benar-benar sepi sekitar pukul tiga sore.
Para Keluarga yang tadi ikut masuk dan ikut membantu Zahra melepaskan aksesoris pernikahannya dan juga gaun pengantinnya pun mereka semua sudah pada kembali kedalam kamar mereka masing-masing.
Aulian dan Zahra mereka saat ini masih berada dihotel dan sedang beristirahat, walau cuma beberapa jam saja tidak dipungkiri Aulian dan juga Zahra mereka sangat capek sekali menyalami para tamu undangan yang jumlah lumayan banyak itu.
Tidak cuma Zahra dan Aulian saja yang masih berada dihotel, para Keluarga yang lain pun sama mereka masih berada dihotel, kecuali Kak Qiyas dan Kia beserta baby twins dan Papah Ziyas dan juga Bunda Lili serta Ayah Ibrahim dan Mamah Dian mereka sudah pada kembali kerumah mereka masing-masing tadi pada pukul dua siang.
"Sayang, bangun yuk sholat ashar dulu, sudah jam empat ini lho??", kata Aulian kepada Zahra yang masih terlelap tidur disampingnya itu.
Karena tadi setelah kepergian semua Keluarganya dari dalam kamar mereka, dan ada yang berpamitan pulang kepada mereka juga, Aulian dan juga Zahra mereka berdua sekitar jam setengah tiga sore tadi beristirahat sejenak untuk melepaskan rasa penat ditubuh mereka.
Zahra yang mendengar Aulian menyuruhnya bangun, dengan perlahan-lahan dia membuka matanya dengan wajah natural polosnya yang sungguh sangat cantik ketika bangun tidur.
Aulian yang melihat wajah cantik alami dari sang istri Zahra dia langsung saja menghujami banyak ciuman diwajahnya Zahra, hingga membuat Zahra merasa kegelian dan langsung tertawa dengan kelakuan Aulian diwajahnya.
"Stop Abang, geli", kata Zahra sambil tertawa dan juga sambil menahan wajahnya Aulian.
"Ayo makanya bangun, bangun tidak, atau Abang akan berbuat lebih dari ini lho", kata Aulian kepada Zahra sambil terus menciumin wajahnya Zahra.
"Baik-baik, Zahra akan bangun akan tetapi stop dulu Abang, jangan diciumin terus", kata Zahra kepada Aulian.
"Kalau Abang tidak mau bagaimana??", jawab Aulian sambil menggoda Zahra.
"Ya Zahra akan membalas Abang??", jawab Zahra kepada Aulian dan dia langsung menarik kepalanya Aulian dan langsung mencium Aulian tepat dibibirnya Aulian.
Aulian yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Zahra dia langsung tersenyum dan membalas ciumannya Zahra kepadanya.
"Sudah Abang, mandi yuk, katanya mau sholat", kata Zahra yang sudah melepaskan ciumannya terlebih dahulu.
"Mandi berdua ya", jawab Aulian sambil tersenyum nakal kepada Zahra.
"Terserah Abang saja", jawab Zahra lagi kepada Aulian dan dia langsung saja beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju kedalam kamar mandi.
Aulian yang melihat Zahra beranjak kedalam kamar mandi, dia langsung saja terburu-buru menyusul Zahra yang sudah masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Didalam kamar mandi pun Aulian melakukan aksinya untuk menggoda Zahra, yang mana membuat kegiatan mandi mereka menjadi lama sekali.
Aulian dan Zahra tidak melakukan itu didalam kamar mandi, akan tetapi Aulianlah yang selalu menggoda Zahra dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan untuk mereka berdua.
.............>>>>><<<<<..............
Tadi ketika Adzriel setelah berkata seperti itu kepada Mayang yang ada didalam kamar mandi, dan sudah berlalu keluar dari dalam kamarnya, Mayang dia menangis sejadi-jadinya, sambil berkata dengan lirih sekali.
"Aku tidak percaya jika itu juga ciuman pertamamu Om, aku tidak percaya", kata Mayang dengan lirih, dan diakhir kata dia langsung berteriak dengan begitu kerasnya.
Wajar saja Mayang begitu marah dan terluka dengan apa yang dilakukan Adzriel kepadanya, karena Mayang dari kecil juga dididik seperti Zahra untuk selalu menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan.
Bahkan dia bersentuhan dengan laki-laki yang bukan saudaranya pun tidak pernah, dan pergaulannya dengan seorang laki-laki hanya sebatas Ayah, Kakak kandung laki-lakinya dan juga saudara-saudara laki-lakinya, yaitu para sepupu-sepupunya saja.
Mayang sendiri anak kedua dari pasangan Ibu Ajeng dan Ayah Rahman, Mayang memiliki seorang Kakak yang bernama Kak Arjuna dan dia berumur sama seperti Kak Qiyas, hanya saja Kak Arjuna belum menikah.
Ibu Ajeng sendiri dia adalah adik kandung dari Ayahnya Zahra, yang otomatis Mayang dan juga Kak Arjuna mereka adalah adik sepupunya Zahra.
Ayahnya Zahra sendiri dia anak nomor dua, Kakaknya Ayahnya Zarhra yang pertama bernama Pak Amrullah, dan Pak Amrullah itulah yang menemani Ibunya Zahra duduk diatas pelaminan mewakili adik laki-lakinya yaitu Ayahnya Zahra yang sudah meninggal.
Kenapa Kak Arjuna dan Zahra lebih tua Kak Arjuna, karena Ibu Ajeng Ibunya Mayang dia lebih dahulu menikah daripada Ayahnya Zahra.
Ibu Ajeng dia yang merasa aneh dengan Mayang yang biasanya selalu cerewet dan selalu makan banyak ketika melihat makanan yang enak, akan tetapi Mayang daritadi tidak terlihat diberbagai tempat membuat Ibu Ajeng sendiri dia merasa khawatir sekali.
Akhirnya ketika daritadi Ibu Ajeng tidak melihat Mayang dimana-mana, Ibu Ajeng mempunyai inisiatif untuk mendatangi kamarnya Mayang yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamarnya menginap.
"May kamu didalam sana Nak", kata Ibu Ajeng kepada Mayang sambil mengetuk pintu kamarnya Mayang.
Walau Ibu Ajeng galak, akan tetapi itu semua Ibu Ajeng lakukan hanya untuk kebaikannya Mayang yang terlewat polos dan lugu itu.
Ajeng sendiri dia tidak mau kuliah, ketika ditawari kedua orang tuanya dan juga Kak Arjuna untuk kuliah, Mayang memilih tidak mau Kuliah dan katanya ingin membantu Kak Arjuna saja mengembangkan lahan pertanian mereka.
Ya Kak Arjuna dia adalah seorang petani didesa tempat tinggalnya, Kak Arjuna setelah lulus SMA dia hanya fokus untuk mengembangkan hasil pertaniannya yang selama ini dijalankan oleh kedua orang tuanya.
Tanah seluas satu hektar yang dimiliki oleh Ibu Ajeng dan juga Pak Amrullah sudah ditanami berbagai sayuran, buah-buahan dan lainnya yang bisa menghasilkan uang jika masa panennya tiba.
__ADS_1
Dan ketika perkebunan serta pertanian itu dipegang oleh Kak Arjuna, hasil pertanian dan perkebunan milik Keluarganya Mayang menjadi berkembang pesat, bahkan sawah yang ada disekitar kebun Keluarganya Mayang sudah menjadi miliknya Kak Arjuna yang dibelinya berkat hasil uang dari penjualan hasil panen semuanya.
Ibu Dina yang tidak mendapat sahutan dari dalam kamarnya Mayang, dia langsung saja masuk kedalam kamarnya Mayang yang ternyata tidak dikunci itu.
"May??", panggil Ibu Ajeng lagi kepada Mayang yang sudah masuk kedalam kamar.
Ternyata setelah tiga puluh menit kepergian dari Adzriel tadi, Mayang masih berada didalam kamar mandi dan dia langsung saja memutuskan untuk sekalian mandi.
"May kamu didalam sana Nak??", kata Ibu Ajeng lagi kepada Mayang sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Mayang yang sedang mandi sambil masih mengeluarkan air matanya dia langsung menjawab perkataan dari Ibunya itu.
"Iya Bu, May lagi mandi", jawab Mayang dengan suara yang dibuat biasa saja, supaya Ibunya tidak khawatir kepadanya.
Dan Ibu Ajeng yang mendengar jawaban dari Mayang dia merasa lega sekali sambil menggerutu.
"Dasar anak perempuan, lagi mandi pintu kamarnya tidak dikunci begitu tadi", gerutu Ibu Ajeng untuk Mayang yang sedang mandi.
Mayang yang sudah selesai mandi, dia lalu melihat kedalam cermin yang ada didalam kamar mandi, untuk melihat matanya apakah terlihat seperti sedang menangis atau tidak, karena Mayang tidak mau nanti jika Ibunya mengetahui jika dirinya baru saja selesai menangis.
Ketika dirasa sudah biasa saja wajah dan matanya, Mayang langsung saja keluar sambil melihat kekanan dan kekiri takutnya Ibunya masih ada didalam kamarnya.
"Cari siapa kamu May, dasar kamu ini kebiasaan pintu kamarnya tidak pernah dikunci, kamu itu anak perawan May, dan ini itu sebuah hotel besar", kata Ibu Ajeng kepada Mayang dan langsung menjewer telinganya Mayang.
"Ampun Bu, Mayang lupa", kata Mayang kepada Ibunya sambil mengusap telinganya yang dijewer oleh Ibunya tadi.
"Ya sudah Ibu keluar dulu, kamu kalau mau istirahat tutup pintunya dan jangan lupa dikunci", kata Ibu Ajeng kepada Mayang lagi.
"Siap Ibuku yang tersayang", kata Mayang kepad Ibunya.
Ibu Ajeng dia langsung saja berlalu keluar setelah berkata seperti itu kepada Mayang, dan Mayang pun dia langsung mengunci pintunya ketika Ibunya sudah berlalu keluar dari dalam kamarnya.
...πππππππππππππ...
***TBC***
__ADS_1