
"Bunda tidak mau, Papah kamu buatkan kopi susu saja", jawab Bunda Lili kepada Aulian.
Dan setelahnya Aulian langsung berlalu pergi keluar kamar menuju kedapur untuk menyuruh bibi membuatkan minumannya.
Aulian yang sudah menyuruh Bibi dia langsung saja berlalu masuk kedalam kamarnya Zahra lagi sambil membawa buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotongin sama pembantunya.
"Zahra makan dulu buah-buahannya ya", kata Aulian ketika baru saja sampai didalam kamarnya Zahra sambil memperlihatkan buah-buahan yang sedang dibawanya.
"Sini Aul biar Bunda yang menyuapi Zahra", kata Bunda Lili sambil mengambil piring buah yang dibawa oleh Aulian.
"Tidak perlu Bund, biar Zahra makan sendiri", kata Zahra yang merasa tidak enak kepada Bunda Lili.
"Tidak apa-apa, tidak setiap hari juga ko, sudah aaa", kata Bunda Lili sambil menyodorkan satu potongan buah kemulutnya Zahra.
Zahra antara enak dan tidak enak dengan Bunda Lili akhirnya membuka mulutnya ketika menerima suapan dari Bunda Lili. Sedang Aulian dan Papah Ziyas mereka masih memperhatikan Bunda Lili dan juga Zahra.
"Aul ayo ikut Papah diruang kerja", kata Papah Ziyas mengajak Aulian menuju keruang kerja yang ada dirumah itu.
Dan ternyata Papah Ziyas cuma hanya ingin membahas pekerjaan kepada Aulian, dan tentang masalahnya Kak Qiyas dengan seorang wanita yang mengaku hamil anaknya Kak Qiyas (lihat episode diBissmillah with you dari yang menyulut emosinya Qiyas ya readers).
Kembali lagi Zahra dan Bunda Lili ketika Bunda Lili sedang asik menyuapi Zahra sambil mengobrol, tiba-tiba ponselnya Zahra yang berada diatas meja berdering dengan kerasnya, dan ketika Zahra melihat kearah nama yang tertera dipanggilan masuk, dia menjadi bingung antara ingin mengangkatnya atau tidak.
Bunda Lili yang melihat Zahra bingung dan tidak segera mengangkat telefonnya, membuat Bunda Lili memberanikan diri bertanya kepada Zahra.
"Siapa Zahra kenapa tidak diangkat telefonnya, siapa tahu itu penting?? ", kata Bunda Lili kepada Zahra yang melihat Zahra tidak segera mengangkat telefonnya.
"Dari Ibu Bunda", jawab singkat dari Zahra kepada Bunda Lili.
"Angkat saja tidak apa-apa, katakan sejujurnya tentang keadaanmu jika Ibu kamu bertanya tentang kamu", jawab Bunda Lili kepada Zahra sambil tersenyum khas seorang ibu.
Antara ragu dan tidak, akhirnya Zahra mengangkat sambungan video call dari Ibunya.
"Assalamu'alaikum Ibu", salam dari Zahra kepada Ibunya ketika dia sudah mengangkat sambungan video call dari Ibunya.
"Wa'alaikumussalam Nak, wajah kamu terlihat seperti pucat sekali, apa kamu sedang sakit Nak?? ", kata Ibu Dina Ibunya Zahra kepada Zahra dengan nada yang khawatir.
"Lagi kurang enak badan saja ko Bu, Ibu tenang saja, disini juga ada Bunda Lili ko Bu", jawab Zahra kepada Ibunya dan Zahra langsung memperlihatkan Bunda Lili kepada Ibunya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Bu, bagaimana keadaan Ibu sama Firman disana?? ", kata Bunda Lili kepada Ibunya Zahra ketika sudah mengambil alih ponselnya Zahra.
"Wa'alaikumussalam Alhamdulillah baik Bu, Ibu dan Pak Ziyas sekeluarga semuanya bagaimana juga kabarnya", tanya Ibu Dina kepada Bunda Lili masih disambungan video call.
Sedang Zahra dia masih diam menyimak pembicaraannya antara Bunda Lili dan Ibunya.
"Baik juga Alhamdulillah Bu, oh ya Ibu tidak perlu khawatir Zahra juga anak kami, kami akan menjaganya bagaimana pun keadaannya, apalagi Zahra sedang sakit begini Bu", kata Bunda Lili kepada Ibu Dina.
"Masyaallah, terimakasih banyak Bu, sudah merepotkan Ibu, Nak Aulian dan juga Pak Ziyas", kata Ibu Dina kepada Bunda Lili.
"Tidak merepotkan ko Bu, ponselnya saya berikan keZahra lagi ya Bu, jika Ibu ingin berbicara lagi kepada Zahra", kata Bunda Lili kepada Ibu Dina.
"Iya Bu, terimakasih", jawab Ibu Dina kepada Bunda Lili dengan tersenyum ramah.
Dan setelahnya Bunda Lili memberikan ponselnya kepada Zahra.
"Nak, jaga kesehatan ya disana, istirahat yang cukup, uang tidak dibawa mati ko Nak, akan tetapi jika uang yang kamu miliki kamu amalkan, amal itu yang akan membantumu diakhirat kelak Nak, jangan terlalu memusingkan masalah anak-anak panti, karena mereka sudah pada diatur sendiri rejekinya Nak oleh Allah, jika kamu tidak bisa menunjang mereka percaya Allah akan memberi jalan lain kepadamu ko Nak", kata Ibu Dina kepada Zahra ketika ponselnya sudah dipegang oleh Zahra lagi.
Bunda Lili yang mendengar perkataan dari Ibunya Zahra, dia tersenyum senang, karena memang Ibu Dina orang baik dan menurun keZahra.
"Iya Bu doakan Zahra supaya cepat sembuh, dan Ibu sama Firman disana juga jaga diri kalian baik-baik ya Bu", kata Zahra kepada Ibunya sambil tersenyum.
Awalnya Ibu Dina menolak, akan tetapi setelah diberi pengertian oleh Zahra, Ibu Dina akhirnya menurut saja, bahkan Aulian juga mencarikan setidaknya dua orang pembantu untuk bekerja dirumahnya Ibu Dina, karena Aulian sangat kasian sekali melihat Ibu Dina yaitu Ibu mertuanya yang sudah berumur harus mengerjakan pekerjaan rumah sendirian jika Firman sedang sekolah.
Zahra sendiri sudah dari dulu ingin mencarikan setidaknya satu orang pembantu untuk membantu Ibunya dirumah, akan tetapi selalu ditolak oleh Ibu Dina, karena Ibu Dina merasa kasihan dengan Zahra yang sudah capek-capek bekerja dan banyak tanggungan yang harus dipegangnya, dan kali ini ketika Aulian ingin memberikan dua orang pembantu kepada Ibu mertuanya, Zahra menyuruh Aulian untuk berbicara sendiri langsung kepada Ibunya.
Ibu Dina yang tidak enak dengan Aulian akhirnya setuju-setuju saja, dan semenjak saat itulah keseharian dari Ibu Dina menjadi lebih ringan, bahkan dia sudah tidak lagi mengerjakan pekerjaan rumahnya.
"Ibu selalu mendoakanmu dan adik kamu Firman, baiklah kalau begitu Ibu tutup dulu ya Zahra telefonnya, kamu banyak-banyak istirahat disana jangan sering merepotkan orang lain selagi kamu bisa mengerjakannya sendiri, Assalamu'alaikum", pesan Ibu Dina kepada Zahra sebelum menutup panggilan video callnya dan sambil tersenyum.
"Wa'alaikumussalam Bu, terimakasih banyak", jawab Zahra sambil tersenyum juga kepada Ibunya dan setelah itu sambungan video call mereka benar-benar terputus.
Bunda Lili yang masih setia duduk dipinggir ranjang, dia juga mendengar pembicaraan antara Zahra dan Ibu Dina.
"Ibu kamu sangat pintar mendidik kamu Zahra, hingga kamu bisa menjadi seorang wanita yang baik dan sholehah seperti ini", kata Bunda Lili kepada Zahra sambil tersenyum manis.
"Bunda jangan terus-terusan memuji Zahra, membuat Zahra takut Bund", jawab Zahra kepada Bunda Lili.
__ADS_1
Bunda Lili reflek tertawa kecil mendengar perkataanya Zahra. Dan tiba-tiba Zahra serta Bunda Lili dikejutkan dengan kedatangannya Aulian yang tahu-tahu sudah masuk kedalam kamarnya Zahra.
"Zahra masakannya sudah pada siap, ayo Zahra dan Bunda kita makan", kata Aulian kepada Zahra dan Bundanya.
Walau waktu masih menunjukkan puluk enam sore kurang lima belas menit, masih jauh bisa dikatakan untuk makan malam. Akan tetapi Aulian tetap mengajak Zahra dan Bundanya untuk makan bersama.
"Sudah jam segitu tanggung Aul, Papah kamu mana Aul?? ", kata Bunda Lili kepada Aulian.
"Diruang Keluarga Bund", jawab Aulian kepada Bunda Lili.
"Bunda makannya nanti saja Aul mau sholat maghrib dulu sama Papah, kamu saja yang temanin Zahra makan, kasihan jika dia harus makan sendiri, tidak apa-apa kan Nak?? ", kata Bunda Lili lagi kepada Aulian dan juga Zahra.
"Tidak apa-apa Bund", jawab Zahra dengan tersenyum kepada Bunda Lili.
"Kalau begitu Bunda mau keluar dulu mau mencari Papah", kata Bunda Lili lagi kepada Aulian dan Zahra.
Dan Aulian serta Zahra mereka berdua hanya mengangguk saja kepada Bunda Lili. Dan setelah berkata seperti itu, Bunda Lili beranjak dari duduknya lalu keluar dari dalam kamarnya Zahra untuk mencari Papah Ziyas.
"Mau makan disini Abang ambilkan, atau makan diruang makan saja Zahra?? ", kata Aulian kepada Zahra.
"Diruang makan saja Abang", jawab Zahra kepada Aulian.
"Yakin kuat, jika tidak kuat jangan dipaksakan, akan Abang ambilkan makanannya kesini", jawab Aulian kepada Zahra.
"Kuat ko Abang", jawab Zahra sambil tersenyum dan dia mulai berjalan pelan mendekati Aulian yang berada didepan pintu kamar.
Ingin rasanya Aulian memapah Zahra, akan tetapi Aulian takut, takut khilaf nantinya kepada Zahra.
"Hati-hati Zahra", jawab Aulian sambil ikut berjalan juga disampingnya Zahra takutnya Zahra pingsan lagi atau terjatuh.
Mereka berdua berjalan bersama menuju keruang makan. Dan sesampainya diruang makan, walau sakit Zahra masih tetap mengambilkan makanan untuk Aulian. Walau sebenarnya tadi Aulian sudah tidak mau, karena kasihan dengan Zahra, akan tetapi Zahralah yang terus memaksa.
"Terimakasih sayang", kata Aulian kepada Zahra ketika sudah selesai diambilkan makanan oleh Zahra.
"Sama-sama Abang", jawab Zahra sambil tersenyum manis kepada Aulian.
Dan mereka akhirnya makan dengan tenang dan Aulian yang makan sambil terus melihat kearahnya Zahra yang sedang duduk disebelahnya, membuat Zahra tertawa malu karena dilihatin Aulian terus dan juga membuat Zahra menjadi salah tingkah dibuatnya.
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***