
Ayahnya Khansa yang awalnya berwajah tegas dia langsung memasang wajah ramah kepada Hafiz, serta Mamahnya Khansa pun juga sama halnya dengan suaminya.
Dan itu membuat Hafiz bertanda tanya dan bingung dengan perubahan ekspresi ramah yang tiba-tiba ditunjukkan oleh kedua orang tuanya Khansa kepadanya.
"Sebenarnya kedatangan kamu kemari ada apa Nak?? ", tanya Ayahnya Khansa dengan ramah kepada Hafiz.
Sebelum menjawab Hafiz tersenyum sambil mengambil nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang sedang bertalu-talu itu.
"Sejujurnya saya datang kesini untuk melamar anak anda Tuan", Jawab Hafiz dengan mantap kepada Ayahnya Khansa.
Yang mana langsung membuat Ayah Fikri dan Mamah Yuli tersenyum dengan lebar, berbeda dengan Khansa yang dia langsung melototkan matanya karena sangat terkejut.
"Se......... ", perkataan Hafiz terpotong dengan perkataan dari Ayah Fikri.
"Panggil Ayah saja Nak, sama seperti dulu", kata Ayah Fikri yang membuat Hafiz tambah bingung, begitupun dengan Khansa yang mendengarnya.
"Dulu, maksudnya Ayah apa sih?? ", kata Khansa dengan suara kecil dan masih setia mengintip serta menguping pembicaraan antara Hafiz dan kedua orang tuanya.
"A..... Ayah", kata Hafiz dengan kaku memanggil Ayah Fikri.
"Lanjutkan Nak tadi kamu mau berbicara apa?? ", kata Ayah Fikri lagi kepada Hafiz dengan ramah
"Sebelumnya saya minta maaf A.... Ayah, karena datang kesini dengan tiba-tiba dan langsung ingin melamar anak anda, beberapa hari yang lalu ketika saya main kePerusahaan Kakak Ipar sahabat saya, saya tidak sengaja melihat Khansa dan saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya A... Ayah, dan saya belum pernah sama sekali yang namanya pacaran Ayah, jadi saya putuskan untuk langsung mendatangi anda dan meminta restu melamar Khansa untuk menjadikannya istri saya A.... Ayah", kata Hafiz yang langsung disambut senyum senang cerah ceria oleh kedua orang tuanya Khansa.
"Iya boleh Nak, Ayah menerima lamaranmu, dan besok minggu depan kamu bisa menikah dengan anak Ayah Khansa, untuk urusan yang lainnya serahkan saja pada saya dan Ayah kamu", jawab Ayah Fikri dengan tersenyum dan langsung membuat Hafiz serta Khansa membuka mulut mereka lebar-lebar karena mereka tidak menyangka dengan jawaban dari Ayah Fikri yang juga dianggukin oleh Mamah Yuli.
Yang paling terkejut disini adalah Khansa, pasalnya biasanya jika ada laki-laki yang datang kerumahnya dan untuk bertemu dengannya, dia harus melalui perbagai banyak pertanyaan dari Ayahnya, dan Ayahnya juga sering menolak lamaran serta sering mengusir laki-laki yang mendekati Khansa yang menurut Ayahnya kurang baik.
Ini Hafiz bahkan tidak ditanyai apapun sudah langsung main terima saja membuat Khansa rasanya gatal ingin segera menanyakannya dengan kedua orang tuanya.
Sedangkan Hafiz dia terkejut karena fikirnya dia akan dicerca beribu pertanyaan dan tendangan maut dari Ayahnya Khansa karena sudah berani meminang anaknya, tapi ternyata dugaannya salah sama sekali, dan Ayah Fikri bahkan berkata dengan lancarnya mengatakan jika minggu depan dia dan Khansa disuruh untuk menikah.
"Akan tetapi besok kamu harus membawa terlebih dahulu kedua orang tua kamu beserta Kakek dan Keluarga kamu kesini ya Nak", sambung lagi perkataannya Ayah Fikri kepada Hafiz.
"Ba....... Baik A...... Ayah", jawab Hafiz dengan gagap.
"Ayo Nak, silahkan diminum dan dicicipi camilannya, kamu sudah makan belum, biar Mamah siapin ya?? ", kata Mamah Yuli kepada Hafiz membuat Hafiz jadi merasa aneh dengan sikapnya kedua orang tuanya Khansa.
"Mamah itu juga kenapa sih bikin aku mati penasaran saja", kata Khansa lagi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ma...... Mah?? ", kata Hafiz mengeja panggilan Mamah untuk Mamah Yuli.
"Iya Mamah, kan Mamah juga Mamahnya Hafiz", kata Mamah Yuli kepada Hafiz dengan tersenyum manis.
"I..... Iya", jawab Hafiz dengan kaku sambil meminum tehnya.
"Ini kenapa sih, mereka jadi aneh kepadaku, jika tidak cinta kepada anaknya sudah pergi aku daritadi", batin Hafiz sambil tersenyum kaku kepada kedua orang tuanya Hafiz.
"Ayah, Kakek serta semua Keluarga kamu bagaimana Nak kabarnya, sudah lama Ayah tidak berkomunikasi dengan mereka", tanya Ayah Fikri kepada Hafiz.
"Alhamdulillah mereka baik Ayah, dan Ayah bagaimana bisa mengenal dengan Ayah dan Kakek saya?? ", kata Hafiz kepada Ayah Fikri. Dan itu membuat Khansa memasang telinga dengan baik-baik karena dia juga sangat penasaran sekali dengan jawaban dari Ayahnya.
"Dia lupa Ayah", kata Mamah Yuli dengan tertawa kecil kepada suaminya sambil melirik Hafiz.
"Besok saja sekalian ada Keluarga kamu disini, nanti akan kami ceritakan", jawab Ayah Fikri membuat Khansa langsung memajukan bibirnya karena sebal mendengar jawaban dari Ayahnya.
"Oh Ok, emm Ayah sudah lumayan malam, saya pamit pulang ya Ayah, Mamah, sampaikan salam saya untuk Khansa", kata Hafiz kepada Ayah Fikri dan Mamah Yuli sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Jangan lupa ya Nak besok Ayah tunggu selepas sholat maghrib datang kerumah ini beserta Keluarga kamu, dan bolehkan Ayah meminta nomor telefonnya Ayah dan Kakek kamu Nak", kata Ayah Fikri kepada Hafiz.
"Oh boleh Ayah, sebentar", jawab Hafiz sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
"Jangan lupa ya Nak besok Ayah dan Mamah tunggu", pesan lagi dari Ayah Fikri untuk Hafiz ketika sudah menerima nomor kontak dari Ayah dan Kakeknya Hafiz.
"Wa'alaikumussalam Nak, hati-hati ya dijalan", jawab Mamah Yuli dan Ayah Fikri secara bersamaan.
Hafiz lalu menyalakan mobil mewahnya dan mengendarainya menuju kerumahnya untuk segera bertemu dengan Keluarganya terutama Ayahnya, sedangkan Kakeknya Hafiz sedang berada diTurki untuk mengunjungi sanak saudara yang ada disana.
"Ayah, Mamah Khansa mau bertanya kepada kalian", kata Khansa yang sudah keluar dari persembunyiannya dan langsung menemui kedua orang tuanya.
"Tanya apa Khansa, besok saja ya, Ayah capek dan satu lagi, besok kamu ijin tidak perlu berangkat kekantor dahulu karena besok Keluarganya Hafiz akan datang kesini, jadi kamu dirumah bantuin Mamah dan yang lainnya saja", kata Ayah Fikri kepada Khansa dan dia langsung berlalu masuk kedalam kamarnya.
"Mamah ini kenapa sih, Khansa bingung Mah, Mamah bisa jelaskan kepada Khansa?? ", kata Khansa kepada Mamahnya dengan ekspresi bingungnya.
"Sudah tunggu saja besok ya, dan ingat perintah dan pesan Ayah tadi Khansa, jangan sampai membuat Ayah marah ya Nak", jawab Mamah Yuli kepada Khansa dan dia juga langsung berlalu meninggalkan Khansa yang sedang berada diruang tamu.
"Iiish mereka kenapa sih, semoga saja CEO sinting itu dan Keluarganya tidak jadi datang kesini", gerutu Khansa dan dia juga ikut berlalu masuk kedalam kamarnya dengan wajah cemberutnya.
.......... ********************..........
__ADS_1
Dilain tempat seseorang yang mendapat pesan dari Zain dia sangatlah terkejut setengah mati dengan perasaan yang sangat-sangat tidak bisa dia bohongi jika dia sungguh bahagia sekali.
Dia bingung ingin membalas apa kepada Zain, dan dia juga sampai kehabisan kata-kata untuk membalas pesan singkatnya Zain yang isinya membuat jantungnya seperti akan lepas dari tempatnya.
Disisi lain, Zain yang juga selesai berbicara dengan Bapaknya, dia hanya tersenyum sambil melihat kearah ponselnya terus.
"Dia pasti bingung dan terkejut ingin membalas apa kepadaku, emm kalau aku telefon dia bagaimana ya?? ", kata Zain untuk dirinya sendiri.
Zain lalu memberanikan diri menelfon gadis yang membuatnya nyaman akhir-akhir ini, dan ketika sambungan telefonnya Zain tersambung sontak saja membuat gadis yang ditelefon Zain sampai terlonjak kaget hingga ponselnya jatuh terlempar kebawah kakinya.
"Zain menelfonku, bagaimana ini, aduh jantungku", kata gadis itu ketika melihat nama Zain tertera dilayar panggilan masuknya.
"Ehem, Bissmillah", kata gadis itu sebelum mengangkat panggilannya Zain.
"Assalamu'alaikum Zain", kata gadis itu kepada Zain dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
"Wa'alaikumussalam calon istriku Ameera", jawab Zain yang membuat Ameera langsung tersenyum kegirangan dengan tanpa suara supaya tidak terdengar oleh Zain.
"Emm mak....maksudnya apa sih Zain, jangan bercanda yang seperti ini deh", kata Ameera pura-pura tidak mengerti kepada Zain.
Dan memang tebakan para readers benar, gadis itu adalah Ameera yang dipanggil Zain dengan panggilan My Future Wife, alias calon istriku.
"Aduh jadi gagap kan aku", batin Ameera sambil memukul kecil mulutnya.
"Saya tidak bercanda Ameera apakah kamu mau menjadi istriku?? ", jika mau besok ijinkan aku datang kerumah kamu untuk menemui kedua orang tuamu, karena niat baik tidak boleh ditunda-tunda lagi Ameera", kata Zain kepada Ameera.
Belum sempat Ameera menjawab, Zain langsung mengubah panggilannya menjadi panggilan video call.
Ameera yang terkejut melihat panggilan video callnya dari Zain dia langsung membenarkan letak kerudungnya dengan rapi, setelahnya dia langsung mengangkat sambungan video callnya Zain.
"Hay Zain", kata Ameera sambil melambaikan tangan kepada Zain ketika sudah mengangkat sambungan video callnya Zain.
"Maaf ya Ameera, saya belum bisa bertemu langsung denganmu saat ini, untuk mengutarakan perasaan saya ini, karena saya sedang pulang kampung sekalian mengantar atasan saya lamaran Ameera", kata Zain kepada Ameera melalui sambungan video call.
"Bagaimana jawabanmu Ameera, dengan pernyataanku yang tadi", sambung Zain lagi kepada Ameera.
Walau Zain belum sepenuhnya dan baru ada sedikit rasa kepada Ameera akan tetapi Zain sudah memantapkan hatinya untuk meminang Ameera menjadi istrinya, karena fikir Zain dengan berjalannya waktu jika Zain dan Ameera berjodoh Allah pasti akan membukakan pintu hatinya untuk mencintai Ameera dengan sepenuhnya.
Sedang Ameera diseberang sana dia bingung dan berfikir bagaimana caranya untuk memberikan jawaban kepada Zain.
__ADS_1
ππππππππππππ
***TBC***