
"Jika saya melapaskan dan memaafkannya, apakah dia bisa menyembuhkan rasa trauma didiri calon menantu saya, dan jika saya memasukkannya kedalam penjara pun, dia juga tidak bisa menyembuhkan rasa trauma didirinya Zahra, jadi sama-sama tidak bisa menyembuhkan ya saya harus beri hukuman dengan memasukkannya kedalam penjara Tuan Ferdinan, karena itu balasan atas perbuatannya", kata Papah Ziyas kepada Tuan Ferdinan.
"Jika saya memaafkan dan melepaskannya, itu sama saja saya tidak adil dengan Zahra, dan anak anda nanti tidak bisa merasakan balasan dari perbuatannya tadi kepada Zahra", kata Papah Ziyas lagi kepada Tuan Ferdinan.
"Tidak semua bisa diselesaikan dengan uang Tuan Ferdinan, harga diri seorang wanita itu tidak bisa dibeli dengan uang, hanya wanita murahan saja yang mau menjualnya dengan uang", sambung Papah Ziyas lagi.
"Terus apa Tuan yang harus saya lakukan untuk menebus semua kesalahan dari anak saya", tanya Tuan Ferdinan kepada Papah Ziyas.
"Sesuai hukum maaf saya harus mengatakan ini Tuan Ferdinan, saya harus menjebloskannya kedalam penjara Tuan, karena memang itu balasan yang pantas dia dapatkan karena sudah berani mencoba melecehkan seorang wanita, apalagi wanita itu calon menantu Keluarga Irawan", jawab Papah Ziyas dengan tenang kepada Tuan Ferdinan. Membuat Tuan Ferdinan langsung ketakutan karena takut karir dia akan hancur akibat anaknya yang dipenjara.
"Saya mohon Tuan, saya sebagai Mamahnya memohon kepada Tuan jangan memasukkannya kedalam penjara", gantian Mamahnya Rizky yang memohon kepada Papah Ziyas.
"Tidak bisa Nyonya, hukum harus ditegakkan, dan jika pelecehan itu terjadi kepada anda apa anda akan membebaskan pelakunya, saya yakin anda pasti akan memasukkannya kedalam penjara juga dan dengan waktu yang cukup lama", jawab Papah Ziyas mengskakmat Mamahnya Rizky.
Mamahnya Rizky langsung saja diam seketika mendengar perkataan dari Papah Ziyas.
Tiba-tiba Papah Ziyas mengambil ponselnya yang ada disaku celananya dan dia lalu menghubungi seseorang.
Semua yang dilakukan oleh Papah Ziyas diperhatikan oleh semua orang yang ada disitu, termasuk Tuan Ferdinan dan para anak buah yang masih didalam situ.
"Halo Tuan Edric apa kabar??", kata Papah Ziyas ketika sambungan telefonnya sudah diangkat oleh seseorang yang dipanggil Edric oleh Papah Ziyas.
"Halo juga Tuan Ziyas, tumben malam-malam begini menelfon saya, apakah ada yang bisa saya bantu?? ", jawah Tuan Edric kepada Papah Ziyas.
"Ada Tuan Edric, saya hanya mau bertanya soal tanah yang ada didaerah Karamel itu, apakah anda jadi menjualnya kepada saya?? ", tanya Papah Ziyas kepada Tuan Edric.
"Jadi jika Tuan Ziyas tidak menawarnya lagi, dan mau membayar dengan harga yang saya tentukan", jawab Tuan Edric dengan tertawa kecil kepada Papah Ziyas.
"Baiklah sesuai yang Tuan Edric inginkan akan saya bayar", jawab Papah Ziyas lagi dan juga dengan tertawa kecil.
"Saya senang mendengarnya Tuan, besok saya akan kekantor anda untuk menyerahkan surat-suratnya sekalian menerima uangnya Tuan Ziyas", jawab Tuan Edric kepada Papah Ziyas.
__ADS_1
"Baiklah besok saya tunggu dikantor saya, dan bawa semua surat-surat lengkapnya agar segera diurus oleh pengacara saya Tuan, dan untuk uangnya anda tenang saja, sudah saya siapkan", jawab Papah Ziyas kepada Tuan Edric.
"Kalau begitu saya tutup dahulu telefonnya Tuan Ziyas, senang bisa berbisnis dengan anda", kata Tuan Edric kepada Papah Ziyas.
"Senang juga berbisnis dengan anda Tuan Edric", jawab Papah Ziyas dan setelah itu sambungan telefonnya benar-benar terputus.
Papah Ziyas langsung memasukkan lagi handphonenya kedalam saku celananya, dan dia lalu melihat kearah Mamahnya Rizky.
"Nyonya selagi anda masih ada disini, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada anda, anda harus segera mengosongkan dua gedung yang anda sewa untuk butik dan juga salon anda Nyonya", kata Papah Ziyas kepada Mamahnya Rizky.
"Memangnya siapa anda kenapa saya harus menuruti permintaan anda Tuan Ziyas", jawab Mamahnya Rizky dengan nada yang tinggi.
"Saya adalah pemilik tanah yang baru, dan semua gedung yang ada disitu akan saya ratakan semua serta akan saya tata ulang lagi Nyonya", jawab santai dari Papah Ziyas.
Aulian yang mendengarnya dia sedikit senang, karena Aulian tadi juga sakit hati kepada Mamahnya Rizky ketika tunangannya dikatakan wanita penggoda oleh Mamahnya Rizky.
"Apa buktinya jika anda adalah pemilik yang baru tanah itu", tantang Mamahnya Rizky kepada Papah Ziyas.
"Asal anda tahu saja Nyonya, Tuan Edric yang baru saja saya telefon dia adalah pemilik sah dari tanah yang anda sewa bangunannya itu Nyonya, dan waktu anda menyewa dulu, mereka semua adalah anak buahnya Tuan Edric Nyonya, dan sekarang sayalah pemilik tanah sahnya yang baru, jadi saya kasih tahu dari sekarang kepada anda untuk segera mengosongkan bangunan yang anda sewa itu Nyonya", sambung Papah Ziyas lagi kepada Mamahnya Rizky.
"Saya tidak mau dan saya tidak percaya kepada anda", jawab marah Mamahnya Rizky kepada Papah Ziyas.
"Terserah anda Nyonya", jawab tenang Papah Ziyas.
"Kalian bawa dia kekantor polisi terdekat, dan nanti saya akan menyusul kalian secepatnya", perintah Papah Ziyas kepada para anak buahnya untuk membawa Rizky kekantor polisi.
"Ayah, Mamah", kata Rizky dengan pelan memanggil kedua orang tuanya.
Sedangkan Tuan Ferdinan dia hanya menggelengkan kepalanya lemah mendengar panggilannya Rizky.
Akhirnya para anak buahnya Papah Ziyas membawa Aulian kekantor polisi yang terdekat dari rumahnya Papah Ziyas.
__ADS_1
"Kalian semua pasti akan menyesal melakukan ini kepada anakku dan keluargaku", teriak Mamahnya Rizky sambil menunjuk semua Keluarga Irawan.
"Sebelum kami menyesal, kalianlah yang akan menyesal terlebih dahulu, terutama anda Nyonya", jawab santai Papah Ziyas kepada Mamahnya Rizky.
"Ayah ayo kita pulang", kata Mamahnya Rizky kepada Tuan Ferdinan dan dia langsung saja beranjak pergi dari ruang tamunya Papah Ziyas.
"Saya permisi Tuan Ziyas", kata Tuan Ferdinan kepada Papah Ziyas. Dan Papah Ziyas dia hanya mengangguk saja kepada Tuan Ferdinan.
"Pah biar Iyas dan Aul saja yang menyusul para anak buah kita kekantor polisi, Papah dirumah saja, jagain Bunda dan yang lainnya", kata Kak Qiyas kepada Papah Ziyas ketika sudah tersisa mereka berempat saja diruang tamu itu.
"Iya Pah, lagi pula Aullah saksi dari kejadian itu biar Aul saja yang mengurusnya", kata Aulian juga kepada Papahnya.
"Baiklah terserah kalian saja, dan ada satu lagi yang ingin Papah sampaikan kepada kalian berdua", kata Papah Ziyas kepada Aulian dan juga Kak Qiyas.
"Kia permisi masuk dulu kalau begitu ya Pah, Kak, Aul", kata Kia yang mengerti kalau Papah Ziyas ingin berbicara hanya kepada suami dan adik iparnya saja.
"Kalian masukkan kasus ini kemedia cetak dan media maya, agar Keluarga mereka jera dan tidak sombong lagi, terutama Mamahnya Rizky itu, akan tetapi nama Zahra jangan dibawa-bawa, karena Papah takut jika Zahra melihat dan membacanya beritanya mental dia akan drop lagi, apa kalian faham maksud dari perkataannya Papah?? ", kata Papah Ziyas kepada Aulian dan juga Kak Qiyas.
"Faham Pah", jawab Kak Qiyas dan Aulian secara bersamaan.
"Baiklah kalian segeralah kekantor polisi dan segera urus masalah ini, serta kalian berdua hati-hati dijalan", kata Papah Ziyas kepada kedua anaknya itu.
"Kalau begitu kami permisi dulu Pah", pamit Kak Qiyas kepada Papah Ziyas dan sambil menyalami tangan dari Papah Ziyas.
Dan Aulian pun juga ikut-ikutan menyalami tangannya Papah Ziyas dan setelah itu mereka berlalu pergi untuk menuju kekantor polisi terdekat menggunakan mobilnya Aulian.
ππππππππππππ
Zahra biar tenang dulu readers makanya belum Author keluarinππππ
ππππππππππππ
__ADS_1
***TBC***