LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
BAHAGIANYA AULIAN


__ADS_3

Ada dua pasang mata yang tadi tidak sengaja melihat Zahra dan Aulian turun dari mobil yang sama, dan Aulian serta Zahra dengan saling tertawa dan tersenyum serta saling menatap yang sedikit berbeda dari yang lain membuat kedua pasang mata itu langsung saja membuat hati mereka menjadi tidak karuan.


Siapa lagi kalau bukan Fadhil dan juga Zain. Fadhil yang saat itu sedang akan masuk kedalam lift bersama Zidan dia tidak sengaja melihat kedekatan antara Zahra dan Aulian yang begitu dekat, hingga membuat hatinya semakin sakit rasanya.


"Darimana Zahra dan Tuan Aulian ya, bukannya Tuan Aulian tadi bekerja diruangannya, kenapa tahu-tahu mereka berdua turun dari mobilnya Tuan Aulian secara bersamaan", batin Fadhil ketika melihat Zahra dan Aulian tadi.


Sedangkan Zain dia yang baru saja masuk karena tadi sedang menemui client diluar dan baru saja sampai didekat meja resepsionis pun sangat terkejut ketika melihat Zahra dan Aulian yang begitu sangat dekat, dan Zain juga melihat Zahra bisa tertawa lepas begitu dengan Aulian membuat hatinya tiba-tiba menjadi sakit sekali.


"Tuan Aulian kan itu, dan wanita itu seperti Zahra yang aku kenal, iya dia Zahra,...... sudah sejauh mana mereka dekat, kenapa Zahra bisa begitu dekat dan bisa tertawa lepas seperti itu, berbeda tertawanya jika bersamaku", batin Zain ketika dia melihat Aulian masuk kedalam kantor bersama seorang wanita dan Zain langsung saja mengenali wajah Zahra saat wajah Zahra tanpa sengaja terlihat jelas dimatanya karena tidak terhalang tubuhnya Aulian.


"Hatiku sakit", batin Zain lagi sambil menghirup nafas dalam-dalam, karena rasanya dadanya tiba-tiba menjadi terasa sesak.


Setelah naik lift yang khusus untuk para petinggi Perusahaan, akhirnya Zahra dan Aulian sampai juga dilantai ruangannya Qiyas berada.


Ketika didalam lift tadi Zahra dan Aulian mereka berdua saling diam, karena mereka dilanda kecanggungan yang luar biasa, dan karena didalam lift itu hanya ada mereka berdua saja.


"Ya Allah, kapan sampainya lift ini, rasanya seperti lama sekali", batin Zahra waktu itu ketika didalam lift berdua saja bersama Aulian.


"Ini liftnya yang lama, atau hanya perasaanku saja yang tidak karuan karena berduaan bersama Zahra begini", batin Aulian juga ketika berduaan didalam lift bersama Zahra tadi.


Dan disinilah mereka berdua, yaitu Zahra dan Aulian yang sudah sampai didepan pintu ruangannya Qiyas, dan Aulian sebagai laki-laki gentle dia langsung saja membukakan pintu untuk Zahra serta juga mempersilahkan Zahra masuk lebih dulu.


Dan Zahra ketika diperlakukan begitu oleh Aulian dia tersenyum tulus dan manis tanpa dibuat-buat, sebagai bentuk rasa terimakasih kepada Aulian, serta Aulian pun juga membalas senyumannya Zahra kepadanya.


"Permisi Tuan", kata Zahra ketika sudah masuk keruangan Qiyas Kakaknya Aulian.

__ADS_1


Ketika Zahra dan Aulian masuk mereka melihat Papah Ziyas dan para sekretaris yaitu, Zidan, Fadhil dan juga Liem sedang menghadap kepada Papah Ziyas karena tugas tadi yang diberikan oleh Papah Ziyas kepada mereka bertiga.


Sedangkan para sekretaris tadi yang juga melihat siapa yang baru saja masuk keruangannya Qiyas adalah Zahra dan Aulian mereka juga langsung menunduk sopan kepada Aulian, sebagai tanda hormat mereka. Dan Aulian hanya mengangguk menanggapi sapaan para sekretaris kepadanya.


Fadhil juga melihat Zahra dan Aulian masuk secara bersamaan, serta dia melihat wajahnya Aulian yang sangat cerah bahagia, membuat hatinya semakin was-was karena Fadhil takut, jika dia nanti akan keduluan oleh Aulian untuk mendekati Zahra.


Papah Ziyas hanya mengangguk menanggapi Zahra yang menyapanya ketika masuk ruangan. Dan Zahra langsung saja masuk kekamar yang ada disitu untuk memberikan obat kepada Qiyas yang tadi dia beli. Sedangkan Aulian dia malah langsung asik duduk dishofa yang tadi dia duduki sebelumnya sambil mendengarkan Papahnya dan para sekretaris berbicara.


Gerak gerik Aulian selalu dilirik Papahnya, pasalnya Aulian duduk sendirian akan tetapi dia senyum-senyum tidak jelas. Dan itu membuat Papah Ziyas yang sedang berbicara kepada para sekretaris menjadi tidak konsen.


"Baiklah, kalian boleh kembali keruangan kalian masing-masing dan boleh mengerjakan pekerjaan kalian kembali", kata Papah Ziyas mengakhiri perbincangan dengan para sekretaris.


Zidan, Liem dan Fadhil yang mendengar perintah dari Papah Ziyas, mereka segera kembali bekerja dan kembali keruangan mereka. Akan tetapi sebelum pergi dari ruangan itu, Fadhil melirik sekilas kearahnya Aulian yang sedang duduk dishofa yang ada disitu, dia melihat Aulian senyum-senyum sendiri terus, membuat Fadhil semakin tidak konsen untuk mengerjakan pekerjaannya lagi.


Dan ketika para sekretaris sudah benar-benar pada keluar semua Papah Ziyas lalu berjalan menghampiri Aulian yang sedang duduk dishofa, dan Papah Ziyas sengaja memilih duduk disebelah Aulian.


"Lagi seneng nih kayaknya", kata Papah Ziyas kepada Aulian.


Aulian yang lagi melamun sambil senyum-senyum tidak jelas, dia langsung menjawab pertanyaan Papahnya dengan tidak sadar.


"Iya nih", jawab Aulian masih dengan melamun dan dengan menyandarkan kepalanya disandaran shofa sambil melipat tangannya dibelakang kepalanya.


"Senang kenapa, cerita dong", pancing Papahnya kepada Aulian.


"Tadi aku habis mengantar Zahra pergi beli obat keapotek, hmm coba saja Zahra mau menikah denganku", jawab Aulian masih dengan tidak sadar.

__ADS_1


Papah Ziyas pertama kali melihat anaknya Aulian sedang jatuh cinta malah seperti orang gila fikirnya, rasanya dia ingin sekali tertawa dengan keras dan menjitak kepalanya Aulian, akan tetapi Papah Ziyas dia tahan sekuat tenaga.


"Coba lamar, datangi rumahnya ketemu sama ibunya, siapa tahu dia mau?? ", pancing lagi Papah Ziyas.


"Boleh juga itu idenya, tapi apakah Papahku sama Bundaku mau menemaniku, menurut kaaaaammuu bagaiiiiiiiiimaaana, eeh Papah, sudah lama Pah, Papah duduk disitu, hehehe", kata Aulian yang ketika sampai dikata kamu bagaimana sangat pelan seperti slow motion karena dia kaget ketika menoleh kesampingnya ada Papahnya dan Aulian juga langsung tertawa kecil, sambil menegakkan duduknya dan mengusap tengkuknya karena malu.


Papah Ziyas langsung menjitak kepalanya Aulian membuat Aulian mengaduh sambil tertawa malu, karena ketahuan sedang melamunin Zahra.


"Baru beberapa jam kamu kenal Zahra sudah begini bentuknya, hari ini belum satu hari kamu sudah kayak orang gila melamunin Zahra, ingat Aul dosa, jika kamu suka langsung datangi ibunya sana, dan Papah sama Bundamu akan mendukung kamu, yakinkan Zahra jika dikeluarga kita tidak ada yang memandang kaya dan miskin, bikin buat dia yakin mau dan tidak malu serta minder bersanding dan berdampingan denganmu Aul, jangan menjadi laki-laki pengecut, nanti jika Zahra sudah diambil laki-laki lain baru nyesel", ceramah instan dari Papah Ziyas untuk Aulian.


"Beneran Papah dan Bunda mendukung Aul sama Zahra?? ", tanya Aulian dengan sangat antusias sekali.


Dan Papah Ziyas hanya mengangguk menanggapi perkatannya Aulian.


"Baiklah, Aul akan berjuang, akan tetapi Aul akan mencari tahu siapa itu Zahra dulu ya Pah", kata Aulian kepada Papahnya.


"Semangat Nak, itu baru anaknya Papah", kata Papah Ziyas menyemangati Aulian sambil merangkul pundaknya.


Papah Ziyas dan Aulian mereka tidak menyadari jika Bunda Lili mendengar semua pembicaraan antara Papah Ziyas dan Aulian, karena tadi Bunda Lili ingin keluar dari kamar pribadi yang ada diruangan kantornya Qiyas, akan tetapi langsung Bunda Lili urungkan niatnya dan Bunda Lili seketika mendengarkan dari celah pintu yang sengaja Bunda Lili buka sedikit.


"Semoga Zahra benar-benar jodohmu Nak, dia wanita baik-baik, pantas bersanding denganmu", batin Bunda Lili ketika melihat Papah Ziyas merangkul pundaknya Aulian.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Kayaknya ada yang patah hati ya readers, siapa itu orangnya 😁😁😁

__ADS_1


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


***TBC***


__ADS_2