LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA

LOVE STORY OF AULIAN - ZAHRA
TERBONGKAR


__ADS_3

Ketika mereka semua sudah pada duduk ditempat mereka masing-masing, Aulian sebelum mulai bertanya dia mengamati wajah dari orang-orang yang duduk didepannya, yaitu Tuan Macel, sekretarisnya dan juga laki-laki tadi yang memukul tangannya.


"Tuan siapa nama anda, dan bisa jelaskan kepada saya kenapa anda bisa berbuat seperti itu seperti tadi kepada saya??", kata Aulian mulai bertanya kepada laki-laki tadi.


Sedang Macel dia langsung saja melototkan matanya kepada laki-laki itu seperti nada mengancam lewat matanya.


Sama seperti atasannya yaitu Macel sekretaris perempuannya Macel pun juga langsung sedikit menahan wajah marahnya kepada Aulian.


Sebelum menjawab pertanyaannya Aulian, laki-laki itu dia melirik sinis terlebih dahulu kepada Macel yang duduk tidak jauh darinya itu.


"Perkenalkan Tuan Aulian, nama saya Putra Darmawan, saya seorang lawyer.........", kata laki-laki yang bernama Putra kepada Aulian namun langsung terpotong perkataannya oleh Aulian.


"Maaf memotong perkataanmu, nama kamu Darmawan, apakah kamu anaknya Tuan Sigit Darmawan??", kata Aulian kepada Putra.


"Iya Tuan, apakah anda mengenal Ayah saya??", kata Putra kepada Aulian.


"Saya mengenal dengan baik siapa Ayah anda Tuan Putra, dan bagaimana anda bisa mengetahui nama saya??", jawab Aulian sambil tersenyum tipis kepada Putra.


"Dari Tuan itu yang memanggil nama anda Tuan Aulian", jawab Putra kepada Aulian sambil menunjuk Macel


"Dan baiklah akan saya lanjutkan lagi perkataan saya kalau begitu Tuan Aulian", kata Putra lagi kepada Aulian dan Aulian langsung saja mengangguk kepada Putra.


"Tadi ketika anda dan sekretaris anda belum pada datang, saya mendengar pembicaraan dua orang yang anda anggap rekan bisnis ini, dan dia sudah merencanakan sebuah rencanan licik untuk menjebak anda Tuan Aulian", kata Putra kepada Aulian sambil melirik tajam kearahnya Macel, dan Macel langsung melototkan matanya dengan garang kepada Putra.


...*Flashback On*...


Macel dan juga sekretarisnya yang lagi menunggu Aulian serta Zain datang, mereka sedang membicarakan sebuah pembicaraan yang cukup serius sekali, namun Macel dan sekretarisnya mereka berdua tidak menyadari jika percakapan mereka terdengar jelas oleh Putra yang duduk dimeja belakang mereka.


"Santi nanti saya akan mengajak Tuan Aulian beserta sekretarisnya untuk makan-makan dulu sebelum membahas kerjasama kita, dan ketika pelayan sedang menyiapkan makanan untuk mereka, kamu campurkan obat ini kedalam makanannya Aulian dan juga sekretarisnya nanti", kata Macel kepada sekeretarisnya yang bernama Santi sambil memberikan dua buah botol obat yang sudah disiapkannya.

__ADS_1


"Ini obat apa Tuan??", tanya Santi kepada Macel ketika sudha menerima obat yang diberikan oleh Macel.


"Yang ini obat pencuci perut, yang ini obat tidur, yang obat pencuci perut nanti kamu berikan kepada sekretarisnya, sedangkan yang obat tidur nanti kamu berikan kemakanannya Tuan Aulian, dan jika sekretarisnya Aulian sudah merasakan sakit perutnya, pastilah Tuan Aulian nanti juga akan segera mengantuk, dan jika dia sudah tidak sadarkan diri, bawa Tuan Aulian keapartemen kamu, nanti baju serta celana dia kamu lepaskan semua, setelah itu baju kamu juga kamu lepaskan, dan kamu nanti tiduran bersama Tuan Aulian akan aku foto dan akan saya sebarkan kesemua para koleganya", kata Macel kepada Santi sekretarisnya dengan cukup serius.


"Karena saya ingin membalas dendam kepada Aulian karena dia sudah bisa memenangkan tender besar yang lagi diincar oleh Kakakku, dan Kakakku juga yang menyuruhku untuk melakukan semua ini, sekaligus berpura-pura untuk bekerjasama dengannya", sambung lagi perkataannya Macel kepada Santi.


Sedang santi dia hanya diam saja sambil terus mendengarkan perkataannya Macel.


"Apa kamu faham Santi??", tanya Macel kepada Santi.


"Tapi Tuan saya takut", kata Santi kepada Macel.


"Untuk apa kamu takut, jika kamu tidak mau melakukan perintahku, akan aku bunuh anak kamu!!!",, kata Macel kepada Santi sambil mengancamnya.


"Jangan Tuan, baik-baik akan saya laksanakan", kata Santi dengan takut karena ancaman dari Macel.


Dan singkat cerita ketika pelayan sudah menyiapkan makanan yang dipesan oleh Aulian, Santi yang ijin kekamar mandi, sebenarnya dia tidak kekamar mandi, melainkan menyetop seorang pelayan yang akan mengantarkan makanan untuk meja mereka.


Sang pelayan yang berada dibawah ancamanyya Santi dia berkata kepada Santi jika dia tidak mau terlibat dengan masalah yang dibuat oleh Santi.


"Iya, asal kamu diam saja, awas saja jika kamu sampai membocorkannya, akan aku sobek mulut kamu menggunakan pisau!!!",, kata Santi kepada pelayan itu dengan wajahnya yang sangat menyeramkan sekali.


Santi tidak tahu saja, jika semua aksinya direkam diam-diam oleh Putra, karena ketika Santi ijin kekamar mandi, Putra juga mengikuti Santi dari belakang.


...*Flashback Off*...


Aulian yang mendengar semua cerita dari Putra dia langsung saja memasang wajah marahnya sambil melihat kearahnya Macel dan Santi dengan wajahnya yang sangat terlihat sekali, jika dia sedang marah.


Begitupun dengan Zain, dia memasang wajah dingin bak seperti siap menerkam Macel dan juga Santi.

__ADS_1


"Apakah yang Tuan Putra ini bicarakan adalah benar Tuan Macel??", tanya Aulian dengan dingin dan sambil menahan marah kepada Macel.


"Jangan percaya kepada dia Tuan Aulian, mana berani saya melakukan itu kepada anda, dan jika saya bersalah mana buktinya Tuan??", kata Macel mengelak dari tuduhan yang mengarah semua kepadanya.


Putra dia tersenyum miring saja ketika mendengar perkataannya Macel, dengan santai dia mengambil ponselnya yang dia simpan didalam saku jasnya dan langsung membuka rekaman video yang tadi dia rekam ketika Santi memasukan semua obat kedalam makanannya Zain dan juga Aulian.


Macel dan juga Santi semakin melototkan matanya seperti ingin keluar saja dari tempatnya ketika mereka melihat dengan jelas bagaimana Santi ketika mengancam pelayan itu dan memasukkan obat itu kedalam makanannya Auliandan juga Zain.


Zain yang juga melihatnya dia juga ikut-ikutan marah seperti Aulian, bahkan dia lebih marah daripada Aulian, karena dia tidak terima ketika Aulian akan dijahati oleh orang lain, sebab Allah mengirimkan perantara melalui Aulianlah dia menjadi bisa hidup lebih baik lagi dikota dan bisa juga menikah dengan wanita baik-baik dikota itu.


"Tidak Tuan, saya tidak menyuruh sekretaris saya untuk memasukkan obat itu kedalam makanan anda Tuan, bisa jadi itu memang maksud licik dari sekretaris saya Tuan Aulian", elak Macel lagi sambil memojokkan Santi, dan Santi yang mendengarnya pun dia sangat marah sekali kepada Macel.


"Saya minta anda memakan ini Nona, dan ini juga belum saya makan, jika anda kabur pun semua bukti sudah mengarah semua kepada kalian berdua", kata Zain kepada Santi sambil mendorong makanannya kehadapannya Santi.


"Lebih baik kalian berdua saja yang menghabiskan makanan ini seperti perkataannya Zain, dan jika ingin saya maafkan kalian serta saya tidak akan melaporkan kalian kepada polisi, ayo cepat makan", kata Aulian sambil mendorong makanan yang dipesannya tadi kepada Macel.


"Iya Tuan, jika kalian tidak merasa bersalah dan seperti perkataannya Tuan Aulian tadi yang tidak akan melaporkan kalian kepada polisi, ayo cepat habiskan makanan ini semua", kata Putra juga kepada Macel dan juga Santi untuk segera menghabiskan makanannya Aulian dan juga Zain.


Dengan tatapan yang menahan marahnya kepada Aulian dan semuanya, Macel langsung memakan makanannya Aulian begitupun dengan Santi dia juga ikut makan makanannya Zain.


Baru sekitar tiga suapan sendok makan, obat yang diberikan oleh Santi tadi langsung bereaksi kepada Macel, dia langsung saja ambruk diatas meja karena mengantuk sekali, dan Santi yang melihatnya Mscel sudah tidak sadarkan diri dia semakin ketakutan sekali.


Aulian, Zain dan juga Putra mereka bertiga hanya menatap dingin kepada Santi ketika melihat Macel sudah tertidur ketika baru makan tiga sendok makanannya.


Sedang Santi yang lagi ketakutan dia tiba-tiba merasakan perutnya tiba-tiba melilit sangat sakit sekali, dan dia langsung saja berlari menuju ketoilet perempuan.


Aulian langsung mengkode Zain untuk mengikuti dan menjaga Santi dari luar toilet, sedang Aulian dan juga Putra mereka langsung saling pandang setelah kepergiannya Zain yag mengikuti Santi, mereka berdua seperti mempunyai dua pemikiran yang sama dengan saling mengkode lewat mata mereka.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


***TBC***


__ADS_2