
...🥀🥀🥀...
" Tunggu Paman sebentar ya. Paman ke situ sebentar saja!" tunjuk Sadawira ke sebuah toilet bersih di depan mereka sebab untuk itulah sebenarnya ia datang kesana.
" O...paman kebelet pipis ya, hihihi?" tebak Neo terkikik-kikik.
Membuat Sadawira tergelak.
Usai membuat kandung kemihnya kini lega, Sadawira kini menggandeng tangan bocah itu dengan penuh keyakinan.
" Paman, kenapa semua orang melihatku?" tanya Neo yang merasa sekelilingnya kini memusatkan perhatian mereka berdua.
" Mungkin karena kita ganteng pagi ini!" sahut Sadawira yang membuat Neo malu.
" Kata Ibu aku memang tampan, hihihi!"
Dan dua laki-laki tampan berbeda usia yang kini berjalan penuh percaya diri itu, sukses membuat para guru yang melihat kini menunjukkan wajah khawatir.
Mereka lantas menyongsong Sadawira, sebab takut kalau-kalau Neo berbuat nakal dan menyusahkan pria penting itu.
" Astaga, pak Sada, apa yang kamu laku....."
Namun Sadawira seketika mengangkat tangannya sebagai balasan kepada para guru itu untuk diam dan tak mengkhawatirkan dirinya.
Membuat kesemuanya terkejut.
Dan tidak tahu kenapa, Neo terlihat semakin percaya diri saat tangan mungilnya di gandeng oleh paman tampan itu saat melintasi para murid lain yang kini juga menatapnya.
Tampilan Sadawira yang menunjukkan kualitasnya lewat pakaian yang di kenakan itu, jelas membuat siapa saja yang melihat bisa mendeskripsikan siapa sebenarnya seorang Sadawira.
Jelas dan tak terbantahkan.
Sang kepala sekolah yang juga melihat hal itu menjadi tak enak hati kepada Sadawira
Khawatir sebab mengira jika Neo pasti melakukan kesalahan hingga membuat Sadawira membawa anak itu.
" Bu, itu kenapa Neo bisa sama Pak Sada? Kenapa tidak kalian awasi?" tukas Ibu kepala sekolah yang kini resah.
Membuat para dewan guru yang lain juga tutur gelisah.
" Maaf sebelumnya Pak, murid saya yang baru ini memang sedikit lumayan. Biar saya...."
" Oh tidak, tidak! Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia biar duduk bersama sama, anda bisa memulai acaranya!"
" Apa?"
__ADS_1
Sungguh sulit di percaya, mereka pikir Sadawira akan marah atau berang. Sebab biasanya orang-orang yang memiliki kuasa seperti Sadawira ini selalu sibuk dan tak ada waktu untuk meladeni anak kecil.
Guru itu langsung mengangguk meski sedikit penasaran kenapa Neo mendapatkan atensi khusus dari Sadawira.
Juwi yang kini baru saja merasakan kelegaan, tampak kembali dengan wajah meringis, sebab selain bokongnya terasa pegal karena kelamaan duduk, bagian ujung usus besarnya juga terasa panas sebab rupanya dia mencret karena terlalu rakus saat makan makanan pedas.
Tau rasa nggak tuh?
" Lho Bu, Neo dimana?" tanya Juwi yang tak mendapati Neo di tempat duduknya.
" Tenang saja mbak, Neo ada di depan?" sahut Bu guru yang dimintai tolong Juwi tadi seraya tersenyum.
" Di - di depan, dengan siapa itu?" tanyanya yang tentu saja terkejut. Neo paling sulit dengan orang lain, tapi kenapa dia bisa gampang akrab dengan pria itu, siapa dia?
" Itu Pak Sa.."
Namun suara pembawa acara yang melengking itu membuat percakapan keduanya terinterupsi bahkan kini menguap. Membuat Juwi tak jadi mendapatkan informasi terkait siapa gerangan pria yang kini asik berbisik-bisik bersama Neo.
Seperti biasa, Juwi tak mau ambil pusing manakala melihat Neo duduk dengan orang lain. Itu hal lumrah, mungkin kebetulan saja. Yang penting anak itu tak lagi menangis sebab ia masih sedikit tersiksa dengan rasa anusnya yang seperti terbakar.
Sialan!
" Yang terhormat kepada Bapak Sadawira...."
Juwita yang kini kembali mulas akhirnya kembali saat guru muda yang bertindak sebagai pembawa acara itu menyapa sang donatur baru. Membuat Juwi kehilangan informasi penting tentang siapa sosok yang tengah duduk akrab bersama anak majikannya itu.
Tidak seperti Ibu yang tidak nyambung sewaktu ia membahas palu milik Thor, atau tameng milik Captain America.
Paman itu juga hapal semua tokoh Avengers mulai dari Hulk, Superman hingga Wonder Woman. Mungkinkah paman itu juga sangat menyukai tokoh superhero seperti dirinya?
Absolutly.
" Terimakasih kepada Bapak/ Ibu guru yang sudah mengundang hadirkan saya di tempat ini, saya berharap...."
Bahkan Neo masih tekun menyimak hingga pria itu menyelesaikan kalimat terakhirnya yang sebenarnya tak bisa ia cerna dengan sempurna karena bahasa orang tua yang kadang belum dia pahami.
" Wow, paman keren sekali!" puji Ne terkesima dengan pria yang kini kembali mendudukkan tubuhnya kembali tepat di sampingnya, membuat beberapa guru yang ada di dekat sana sedikit khawatir sebab takut kalau orang sepenting Sadawira akan terganggu.
" Maaf Pak sekali lagi, jika anda kurang nyaman, saya bisa membawa murid saya ke..."
" Oh tidak Bu, biarkan saja dia disini!"
Guru itu sedikit terkejut sebab dia sudah di tolak sebanyak dua kali.. Membutuhkannya yakin jika Neo benar-benar beruntung karena bisa dekat dengan donatur baru mereka itu.
" Oh iya boy, siapa namamu tadi, paman lupa!"
__ADS_1
" Paman tidak ingat?" tanya Neo sedikit kecewa.
" Kita kenalan lagi ya, panggil saja aku paman..."
" Paman ganteng, aku akan memanggil paman dengan sebutan paman ganteng!"
Membuat Sadawira terkekeh lagi. Sungguh anak yang menyenangkan.
" Jadi, siapa namamu?"
" Setelah ini jangan lupa lagi ya Paman, my name is..."
Sadawira tergelak demi merasai jika anak itu benar-benar seperti dirinya saat kecil.
" My name is Neo, keren kan paman?" terang Neo seraya mengangkat tangannya. Membuat Sadawira kembali tergelak.
" Good name!" puji Sadawira meladeni Neo dan kini menjadi tak memperhatikan pembawa acara yang tampak melanjutkan seremonial nya.
" Of course, Ibu bilang namaku memiliki arti pemberian Tuhan!" terang Neo percaya diri.
Sadawira tersenyum sambil tertegun, menatap seraut wajah yang kini dipenuhi oleh keceriaan sembari berpikir. Mungkinkah jika Neo ini merupakan anak yatim yang di tinggal mati oleh ayahnya. Tapi, masa iya dia di sini sendiri?
Sambutan demi sambutan yang membosankan kini beralih ke kegiatan dimana para murid sekolah dasar menunjukkan bakat mereka, menghibur dan membuat para tamu undangan tertawa.
Hingga, saat memasuki saat teduh hari ayah, anak - anak naik keatas panggung termasuk Neo dan mereka menyanyikan lagu bertajuk ayah dan tidak tahu kenapa membuat hati Sadawira merasakan ketentraman saat melihat wajah Neo.
🎶You did your best or did you? (Kau melakukan yang terbaik ataukah kau?)
Semua orang menatap lurus anak-anak yang kini menyanyikan lagu itu dengan koor terbaik mereka. Membuat para orang tua reflek mengangkat smartphone mereka lali mengarahkan benda pipih itu ke arah buah hati mereka.
Berharap bidikan video dan foto itu bisa mereka kenang di masa mendatang.
Sometimes I think I hate you (Terkadang aku berpikir aku membencimu)
I'm sorry, dad, for feeling this (Maaf, ayah, untuk merasakan ini)
Sadawira terus menatap bocah berambut hitam yang wajahnya benar-benar mirip dengannya itu sembari meresapi lirik lagu yang masih di alunkan dengan sangat baik itu.
I can't believe I'm saying it (Aku tidak percaya aku mengatakannya)
I know you were a troubled man (Aku tahu kau pria yang bermasalah)
I know you never got the chance (Aku tahu kau tidak pernah punya kesempatan)
To be yourself, to be your best (Untuk menjadi dirimu sendiri, untuk menjadi yang terbaik)
__ADS_1
~Father , Demi Lovato