My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 44. Tekad yang bulat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Atana


Edwin terlihat memarkirkan mobilnya tepat di jam dua dini hari. Pekerjaannya sebagai dokter memang tak mengenal waktu.


" Kamu dari mana aja beberapa hari ini Win?"


Edwin sedikit terperanjat manakala Mamanya tiba-tiba muncul dan kini berdiri di ambang pintu. Tak menyangka jika wanita itu masih melek di jam seperti ini.


" Mama, kok belum tidur?" Edwin bertanya sambil menutup pintu mobilnya.


Namun bukannya menjawab, sang Mama malah terlihat menyuguhkan wajah kesal kepada anaknya. Membuat Edwin tak tenang.


Niat hati dia akan membicarakan hal penting ini dengan Mama saat fajar menyingsing nanti, tidak tahunya ia malah kepergok.


Edwin tahu betul jika Mamanya belum bisa menerima Claire, tapi Edwin tak bisa membohongi dirinya jika dia sangat mencintai Claire.


Lebih-lebih, orang tua serta keluarga Claire yang memberikan sinyal positif jelas tak bisa dia sia-siakan begitu saja. Ini merupakan kesempatan bagi Edwin.


" Tapi, bagaimana dengan orangtuamu?"


" Tenang saja Om, saya bisa menghandle nya!"


Kilasan percakapan antara dirinya dengan Papa Leo tiba-tiba muncul begitu saja. Membuat secuil rasa tak enak hati timbul dengan sendirinya.


Ya, ia memang sempat melihat keresahan yang terpancar jelas di wajah Papa Leo, tapi tentu dia tak ingin membuat kesalahan. Ia sudah lama menantikan hal ini, dan untuk urusan Mama, entahlah. Logikanya mendadak aus.


" Mama istirahat sana, ini sudah malam. Nanti tensi Mama naik lagi!" seru sembari mengusap lembut lengan Mamanya. Tak ingin meladeni kemarahan Mamanya di jam sepagi ini.


" Sebenarnya kamu dari mana aja Win? Jangan kurang ajar kamu!"


DEG!


Edwin yang di buntuti sang Mama hingga ke dapur akhirnya menghela napas. Ia memang akan menjelaskan secara rinci tentang apa yang kini menjadi buah pikirannya, tapi tidak di ajak seperti ini.


" Jawab Win!" hardik sang Mama yang akhirnya mau tidak mau membuat Edwin angkat bicara.


" Edwin baru ke Indonesia Ma!"


" Apa?"

__ADS_1


Edwin menatap murung sang Mama yang tampak membulatkan matanya karena terkejut bukan main, ia kemudian berlutut sembari menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan tatapan sendu.


" Edwin minta maaf karena baru membicarakan hal ini sama Mama. Tapi Ma, jika Mama ingin melihat Edwin bahagia, tolong restu Edwin dengan Claire Ma!"


Mama Edwin mendecak tak percaya. Putranya bahkan telah melangkah jauh tanpa sepengetahuan darinya


" Edwin baru bertunangan secara simbolis dengan Claire!"


What?


Maka tangan yang semula berada dalam genggaman anaknya, kini perlahan-lahan ia tarik sebab kecewa dengan keputusan anaknya yang tak mengajak sang Mama berunding.


" Maafkan aku Ma. Aku hanya tidak tega dengan Opa, juga Om Leo. Aku juga sangat mencintai Claire. Dia wanita yang baik, aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini!"


" Apa kamu sudah tidak menganggap Mamamu?" ucap Mama Edwin dengan tatapan kecewa.


Edwin bangkit dan kini menatap murung wajah Mamanya yang suaranya mulai terdengar bergetar.


" Tolong jangan pernah mengatakan hal itu lagi Ma. Mama adalah hidup Edwin. Tapi Edwin tidak bisa memilih salah satu dari Mama atau Claire!"


Sang Mama tak menjawab dan langsungnya pergi masuk kedalam kamarnya. Wanita itu menangis pilu disana. Sudah lama ini Edwin memang selalu merayunya untuk menerima wanita beranak satu itu. Ia bukan tak tahu jika Claire adalah wanita karir yang berasal dari keluarga terhormat. Tapi status yang di sandang saat ini, jelas membuat dirinya sebagai orangtua patut mengingatkan.


Edwin menyusul sang Mama dengan wajah sedih. Ia kembali bersimpuh di pangkuan sang Mama sembari menangis. Sungguh, ia tak bisa memilih antara Mamanya juga Claire.


" Itu tidak akan pernah terjadi!" sela Edwin cepat. Ia tak mau mendengar hal itu.


" Circle orang-orang bisnis sangat kejam. Kau harus tahu itu!" balas Mama Edwin yang sejatinya mengkhawatirkan anaknya. Ia tak ingin anaknya nanti mengalami sakit hati.


" Ma, jangan pikirkan yang tak perlu. Jika Mama pernah berkata Mama akan bahagia bila Edwin bahagia, maka kebahagiaan Edwin adalah jika Mama mau menerima Claire dan anaknya menjadi bagian keluarga kita Ma!"


Mama Edwin seketika termenung, hanyut dalam pikiran yang semrawut. Seperti anaknya tak bisa lagi di ingatkan. Kalau sudah begini, dia bisa apa?


" Jika Mama sudah setuju. Kita bisa melamar Claire secara resmi!"


Mama Edwin menatap lantai kamarnya dengan tatapan nanar. Entahlah, ia kini menjadi gamang dalam sekali waktu. Perasaannya mendadak tidak enak, tapi sejujurnya ia tak tega jika harus tak akur dengan anaknya hanya gara-gara wanita.


...----------------...


Indonesia


Pagi harinya Sadawira terlihat berlari mengelilingi halaman rumahnya yang luas, sengaja ingin berolahraga seperti yang dulu sering dia lakukan. Dengan mengenakan trining panjang dan bertelanjang dada, Sada memproduksi keringat di pagi itu dengan perasaan senang.

__ADS_1


Aroma pagi hari yang selama ini ia rindukan, benar-benar membuat dirinya seperti hidup kembali.


" Jangan tebar pesona terus sialan, di rumah ini hanya ada aku!" Zayn berseru seraya melemparkan sebotol air mineral kepada sahabatnya.


Tak mengira jika Sadawira bangun lebih pagi darinya.


Sadawira terkekeh saat menerima botol itu, ia lantas membuka seal botol air itu lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan rumahnya. Meneguk air bercitarasa segar itu hingga setengahnya.


Zayn menatap sosok berotot di sampingnya, dan fokus kepada tato kalajengking di punggung pria itu.


" The scorpion?" ucap Zayn menaikkan sebelah alisnya.


Sada melirik sahabatnya sejenak. Mungkin Zayn ingin mengulas tatto di punggungnya.


"Hasrat yang tinggi, emosional dan sensitif!"


Zayn menaikkan sebelah alisnya manakala Sadawira mulai mendeskripsikan gambar abadi itu.


" Imajinatif dan intuitif. Sensual dan Setia. Bermartabat dan gigih. Dan satu lagi, percaya diri!" pungkas Sadawira mantap.


Zayn kontan mengangguk. Itulah sederet arti tato yang kini terpahat indah di punggung liat Sadawira. Menjadikan itu takjub.


" Sensual dan setia!" ulang Zayn seraya melempar batu ke dekat rating di bawah pohon Flamboyan besar.


Sada kembali meminum air dalam genggamannya manakala Zayn terlihat mengulas kata itu.


" Aku tak meragukan lagi kalau soal itu!"


Sada seketika tergelak usai mendengar komentar dari Zayn, memangnya dia pembohong?


" Tapi kau kurang percaya diri!" seru Zayn sejurus kemudian. Terlihat menatap lurus ke depan dimana banyak sekali pohon-pohon besar yang selama ini di rawat oleh Boni dan anak buahnya.


Sada turut menerawang ke arah depan dengan tatapan jauh.


" Kau benar. Untuk itulah aku membawamu kemari, sebagai seorang teman, sahabat, juga kakak!"


" Terimakasih Zayn sudah mau menemaniku kemari!"


Zayn mengangguk, " Jadi apa rencanamu?"


" Aku ingin kerumah sakit setelah ini. Aku ingin menemui Claire!"

__ADS_1


Zayn mengangguk, " Minta Boni mengkondisikan perawat itu. Kita tak boleh ceroboh. Ingat, kita akan masuk ke kandang macan!"


__ADS_2