My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 91. Kala cinta menemukan jalannya


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Kau buat aku bertanya, kau buat aku mencari...


Tentang rasa ini aku tak mengerti....


Akankah sama jadinya, bila bukan kamu...


Lalu senyummu menyadarkanku...


Kau cinta pertama dan terakhirku...


( Diambil dari lirik lagu Sherina ~ Cinta pertama dan terakhir)


.


.


Sensasi asing yang beberapa waktu belakangan ini kerap muncul saat keduanya bertemu, kini kembali datang. Perasaan mencintai yang menggelegak nyatanya baru sama-sama mereka sadari setelah keduanya di dera persoalan berat.


Sada perlahan- lahan menarik dagu wanita yang baru saja melakukan pengakuan cinta kepadanya dengan tatapan dalam. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu lantas meraup bibir manis Claire penuh kelembutan.


Claire yang kini merasa tubuhnya bagai tersengat sebuah arus besar, langsung memejamkan matanya. Ia menyapu dada bidang Sada sembari menikmati luma*tan demi luma*tan yang kini mengisi laju darahnya. Membawa serta desiran aneh yang kini diam-diam merasuk kedalam hati keduanya.


Kini Claire tahu, bahwa menipu diri sendiri untuk berpura-pura tidak membutuhkan Sada benar-benar melelahkan. Dan sikapnya yang tak tegas, justru memperkeruh keadaan yang berimbas pada keadaan anaknya.


Mereka lantas melepas ciuman saat keduanya sama-sama terengah-engah karena kehabisan napas. Sada tersenyum menatap dua mata Claire dengan dalam. Perasaan tulus ini akhirnya terbalaskan.


" Bagiamana kau bisa tahu kalau aku disini, hm?" tanya Sada sembari merapikan anak rambut Claire yang acak-acakan.


Claire tersenyum. " Aku punya adik yang memiliki intuisi dan intelegensi jempolan. Sementara kau memiliki sahabat yang kurang berpengalaman! Bukankah itu satu kolaborasi yang baik?" sindir Claire menahan tawa.


Ia tak bisa membayangkan jurus apa yang telah dilakukan oleh Melodi sehingga membuat Zayn kalah telak.


" Sepertinya aku harus menginterogasi Zayn!" balas Sadawira tersenyum.


Keduanya akhirnya terkekeh bersama. Menjadi kali pertamanya bagi mereka tertawa lepas tanpa beban dalam situasi dan kondisi yang tanpa permusuhan.


Sada terdiam sejenak manakala melihat Claire akhirnya bisa tertawa lepas meski wajahnya masih bengkak usia menangis. She's very beautiful.


" Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Claire yang sadar manakala di tatap lekat-lekat oleh Sadawira.


" Kau cantik jika tersenyum!"


Claire hanya mencibir. Lebih tepatnya ia malah menjadi salah tingkah dengan pujian Sada.

__ADS_1


" Ngomong-ngomong. Kenapa kau memilih datang ke..." Claire celingak-celinguk memindai seluruh ruangan. Merasa kepo dengan pilihan Sada yang kenapa malah mengasingkan diri di tempat seperti ini.


" Dulu dirumah ini hanya ada sepuluh anak. Aku menjadi donatur bagi mereka. Anak jalanan. Anak buangan! Anak yang tak beruntung. Anak yang tak memiliki keluarga. Seperti aku!"


Claire tertegun. Ia menatap Sada yang tersenyum kecut demi merasai nasibnya yang memang tak memiliki siapapun di dunia ini.


Claire merasa hatinya mengharu biru. Siapa sangka dibalik sosok sangar sekelas Sadawira, pria itu ternyata begitu dermawan. Sangat sesuai dengan konsep kehidupan yang dari dulu di usung oleh keluarga. Sayangnya, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Papa Leo terlampau membenci Sada karena nama pria itu terlanjur buruk di lingkungan petinggi aliansi perusahaan manufaktur di Indonesia.


" Aku bangga padamu!" puji Claire berterus terang. Tak lagi bisa menyembunyikan kekagumannya pada sosok yang pernah meninggalkan benih kepadanya itu.


" Saat kau bisa membuat orang lain senang, kau akan tahu dan bisa merasakan betapa damainya hatimu usai melakukan. Aku memilih menepi kemari karena aku benar-benar tak sanggup menghadapi dunia atas apa yang telah terjadi! Aku hanya ingin sebuah ketegangan, kedamaian..."


Claire sekali lagi memeluk tubuh Sadawira. Membuat ucapan pria itu terpotong.


" Kita hadapi Papa bersama-sama!"


-


-


Sada tengah pamit kepada para anak-anak disana yang kebanyakan masih berusia sekolah dasar. Claire yang melihat interaksi akrab Sada dan anak asuhnya merasa terharu.


" Paman, siapa bibi cantik itu? Apa itu istri Paman?"


Claire tersipu-sipu saat mendengar pertanyaan dari salah satu bocah paling ceriwis disana. Dan dikatakan cantik oleh anak-anak itu entah mengapa membuat wajahnya memerah.


Mata Claire kembali memanas. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beberapa hari yang lalu semua terasa seperti mimpi buruk yang kian memburuk. Tapi semaunya berubah saat Edwin dengan sendirinya membatalkan pernikahan yang tadinya membuatnya takut.


Semesta benar-benar menjalankan bagiannya dengan sangat baik.


Dan detik ini juga, ia makin menemukan alasan kenapa hatinya selalu berpihak kepada Sada. Hatinya semakin yakin jika ia tak akan rugi sekalipun menentang sang Papa.


Sada hanyalah pria baik dengan penuh rasa tanggungjawab yang salah jalan akibat kebutaannya pada kenyataan. Pria yang setengah mati di benci oleh papanya itu benar-benar merupakan sosok yang memang Claire butuhkan.


"Aku tak menyesal karena telah di pertemukan denganmu Wira, karena kau lah yang benar-benar aku butuhkan!"


" Ayo!"


" Kemana?" tanya Claire setengah terperanjat dari lamunannya.


" Bantu aku mengemas barang di kamar lah, apa lagi? Disini tidak ada Nino ataupun Juwi. Jadi, kau yang harus membantuku!"


Claire kikuk saat Sada mengajaknya pergi ke kamar. Namun sejurus kemudian ia tertawa sendiri karena Sada malah membahas soal pembantu mereka masing-masing.


Membuat sekelebat ingatan tiba-tiba membuatnya merasa Dejavu.

__ADS_1


Ia berjalan perlahan menuju kamar besar yang menunjukkan ciri khas kamar yang laki banget. Cat monokrom dengan susunan buku yang begitu rapi. Ranjang berukuran besar yang tak luput dari pengamatannya. Serta sebuah laptop dengan beberapa gadget yang tergeletak tak jauh dari tempatnya.


" Rumah ini punya kamu?" tanya Claire penasaran.


Sada menggeleng, " Milik anak-anak!"


Claire setengah mencibir. Sama saja kali.


" Yang mana yang di bawa?"


" Yang di sebelah sana. Tidak usah semua!"


" Kenapa? Kau mau kembali kesini?"


" Menurutmu?"


" Wira!" kesal Claire sebab Sadawira malah terus mencandainya.


Sadawira terkekeh. Senang juga rasanya mengerjai Claire yang suka marah-marah. Sepertinya, sifat asli Claire telah kembali. Pria itu mendekati ke arah Claire yang masih betah memberengut. Merasa gemas dengan sikapnya yang mengingatkan Sada pada saat-saat awal perjumpaan.


" Aku memang akan kembali kesini. Tapi setelah kau menjadi istriku, bersama Neo tentunya!"


Ah so sweet!


Lihatlah, apa pria yang wajahnya masih menyisakan luka bonyok itu sedang mengeluarkan jurus gombalnya? Dasar!


Dan entah kenapa, ucapan Sadawira barusaja membuat Claire benar-benar senang sekaligus malu.


" Claire?"


" Ya?"


" Aku..."


Namun belum sempat mereka berciuman kembali, ponsel Claire tiba-tiba bergetar. Membuatnya Sada meneguk ludah karena keki.


" Melodi?" ucap Claire manakala melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


" Cepat jawab!"


Maka wanita itu buru-buru menggulir tombol hijau sebab takut kalau-kalau yang di sampaikan adalah seputar kondisi Neo.


" Hal...?"


" Halo Claire. Buruan balik, Papa kecelakaan!"

__ADS_1


" Hah?"


__ADS_2