
...🥀🥀🥀...
" Pak Har, itu kenapa malam-malam malah pada ribut begitu sih?" tanya mbak Yuyun resah.
Melihat secara langsung Zayn yang nampak gelisah kala mengejar Melodi hingga naik tangga, memang praktis membuat para ART disana menjadi takut bila terjadi sesuatu.
" Kayak gak pernah muda aja kamu ini Yun. Biasa kaum hawa kan suka begitu." jawab Pak Har kepada janda yang di tinggal mati itu.
" Tapi Har, tadi aku sempat lihat mbak Melodi pulang diantar laki-laki lain. Apa salah mereka sedang paham?" ucap mbok Asih seperti teringat sesuatu.
" Yang bener mbok?" tanya Mbak Yuyun memastikan.
" Yakin. Malah aku lihat mas Zayn sama orang itu bersitegang tadi di depan!"
" Aduh udah jangan pada bergosip. udah, mending kita cepat masuk dan kerja seperti biasanya. Kalau ketahuan nanti, gak enak sama mbak Melodi!"
Mereka akhirnya mengangguk menyetujui saran dari Pak Har. Namun saat ketiganya berduyun-duyun masuk kedalam, mereka terperanjat sebab berpapasan dengan Zayn yang hendak masuk ke kamarnya dengan wajah tak biasa.
" Pak Har, besok tolong antar saya ke Bandara!" kata Zayn dengan misterius nyaris tanpa ekspresi.
Membuat yang diajak berbicara langsung tergagap-gagap.
" Si- siap Mas!"
Keesokan paginya, Zayn benar-benar terlihat bersiap untuk pulang. Tapi hingga di jam menjelang jam 07.30 gadis itu tak kunjung muncul.
" Apa saya panggilkan Mbak..."
" Tidak apa-apa Pak. Saya sudah pamit tadi, kita berangkat sekarang saja." sahutnya memotong kalimat yang terdengar ragu-ragu.
Pak Har mengangguk meski ia sebenarnya masih tak tega. Namun ia juga takut jika Zayn akan terlambat. Zayn menghela napas sesaat sebelum membuat pintu mobil itu lalu masuk kedalamnya. Ia tahu, pertengkaran mereka semalam benar-benar sulit di tepiskan begitu saja.
Dari kaca lebar yang berada di lantai dua, Melodi terlihat menatap mobil yang perlahan-lahan menjauh meninggalkan rumahnya besarnya. Mobil yang di dalami memuat seorang pria yang belakangan ini harus ia akui berhasil mengusik hatinya. Dadanya bahkan sesak dihimpit kesedihan.
Apalagi, torehan kalimat yang terlontar dari Zayn masih membekas dan tak mau enyah dari pikirannya.
" Kau bukan siapa-siapa ku Zayn. Lagipula, kenapa kau tidak suka jika aku bersama Sakha, hah? Bukankah aku juga tidak mempermasalahkan wanita itu?"
" Siapa sebenarnya Olivia, kenapa dia sampai menyusulmu kemari hah?"
Bahkan semalam Zayn benar-benar tak mampu untuk menyergah pertanyaan Melodi.
" Kau tidak bisa menjawab kan?"
Ia juga masih sangat ingat wajah Zayn yang murung sebab tak bisa menjawab sama sekali kalimat sanggahannya.
" Kau benar, aku bukan siapa-siapa untukmu. Istirahatlah!"
Tapi bukan itu sebenarnya jawaban yang Melodi inginkan.Dan detik itu juga, Melodi lemas menjatuhkan tubuhnya di pinggir ranjang.
Ia sendiri masih belum bisa memahami, kenapa dia yang notabene tak memiliki hubungan apapun dengan Zayn, batinnya malah merasa tak tenang saat melihat pria itu bersama wanita lain, pun juga sebaliknya.
Zayn yang kini diam sepanjang perjalanan berhasil membuat Pak Har tak hentinya melirik. Ia tahu, pasti pertengkaran semalam membuat dua orang itu kini seperti ini.
...----------------...
Satu bulan kemudian.
Musim liburan sekolah sebentar lagi. Namun cuaca malah sedang tak hangat-hangatnya. Curah hujan makin tinggi. Dan angin bertiup tak kalah kencangnya. Begitulah iklim di dunia saat ini, sangat sulit di prediksi dan makin melenceng dari jadwal yang seharusnya.
__ADS_1
Membuat sepasang manusia memilih untuk meneruskan sisa permainannya dalam memanaskan diri secara alami. Deruan napas yang kembang kempis dari keduanya membuat seisi ruangan turut menjadi panas. Membakar seluruh rasa yang kian menguat seiring perjalanan percumbuan itu yang dekat dengan puncak.
Namun gedoran membabi-buta dari luar membuat konsentrasi keduanya terusik. Gusar. Gaduh. Berisik.
BRAK! BRAK! BRAK!
" Ayah! Ibu!"
Oh tidak, jelas mereka tahu siapa orang di balik pintu itu.Ini sangatlah tidak mengenakkan, sebab fase penghujung permainan yang telah dekat dengan pengeluaran itu, keduanya harus sama-sama menanggung rasa tak nyaman akibat interupsi.
" Mas itu Neo!"
" Sebentar lagi tanggung!" jawabnya ngos-ngosan dengan posisi yang masih sibuk mengayun.
Oh ya ampun lihatlah. Bahkan kini mereka harus berpacu dengan rengekan dari luar yang mulai berubah menjadi tangis.
" Ibuu!!"
" Mas!" pekik Claire yang benar-benar tak mampu menikmati rasa bercinta mereka dengan lumrah.
" Sedikit lagi!"
Percayalah, ini benar-benar tak menyenangkan buat mereka.
" Ayah!! Ibu!!!"
" Ma..."
" Ahh!"
Maka meledaklah benih-benih itu untuk kesekian kalinya dengan gangguan yang makin menjadi-jadi. Claire seketika merasa lega. Namun bercinta dengan usikan suara anak benar-benar tak ingin ia lakukan lagi.
" Mas!" cicitnya dengan muka tak setuju.
Sada malah terkekeh saat melihat wajah istrinya melotot ke arahnya. Ini benar-benar sangat menggelitik.
" Makasih ya?" ucap Sada yang malah tersenyum menggoda. Benar-benar buang masa. Membuat sang istri bertambah kesal.
" CK, Neo diluar mas!"
Sada kian tergelak saat mendengar suara Claire yang tampak kesal. Yes, that's my bad!
Pria itu lantas menuju kamar mandi usai melepaskan tangan istrinya. Ia tahu, setelah ini ia akan menghadapi anak banteng itu yang di jamin bakal merajuk.
Dan benar saja, dugaannya semakin nyata dan tepat sekali. Bahkan selepas mandi, ia yang telah mengganti bajunya dengan pakaian kantor yang sudah di siapkan oleh sang istri tak mendapati istrinya kembali.
Ia bergegas menuju meja makan dan melihat Neo yang cemberut, menatap sepotong sandwich juga segelas susu hangat yang mungkin saja mulai dingin karena terlalu lama di diamkan.
" Jagoannya Ayah kok marah sih, kenapa hm?" ucap Sada sembari menarik kursi makan persis di sebelah anaknya.
Wajah anak itu masih saja keruh. Tak mencair sama sekali. Tegang. Kusut. Masam. Menyuguhkan kekesalan yang sepertinya sulit di redam.
Namun jawaban lain malah membuat Sada paham.
" Bu bos lagi terima telpon. Dari tadi marah- marah. Neo pingin nyusul di kamarnya bos tapi..."
" Udah biar sama saya saja!" balas Sada kepada Nino yang kini turut kerepotan meredam kemarahan anaknya.
Nino lantas memilih pergi. Menyusul Juwi yang sedang sibuk menggoreng ikan.
__ADS_1
" Kenapa jagoan ayah tumben pagi-pagi marah, hm?"
Namun jangankan membuka mulutnya, wajah anak itu malah makin cemberut. Sepertinya ogah mendengar nota pembelaan apapun dari ayahnya.
" Apa makanannya tidak enak?" tebak Sada yang melirik makanan yang masih untuk tak terjamah.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Hening, senyap tak ada sahutan. Hanya terdengar suara riuh Nino dan Juwi yang kini menjadi penghuni tetap dunia perdapuran.
" Apa kare..."
" Ayah selalu lama kalau buka pintu!" sahutnya dengan suara kesal.
Om my God!
Sada tersenyum dengan perut yang terasa seperti di kelitiki. Ini jelas memang salahnya. Tapi janah sebut dia Sada bila tak bisa membuat anak singa itu jinak.
" Neo mau adik nggak?" tanya Sada kontan.
Dan ajaibnya, wajah anak itu mendadak berubah menjadi berbinar. Antusias. Dan berminat.
" Adik?" ulangannya penuh ketertarikan.
Sada mengangguk. Kena kau!
" Ayah sama Ibu suka lama karena cetak adonan buat Neo!"
" Adonan?"
Sada mengangguk. Tapi pria itu tak menyadari jika jawaban tersebut malah menjadi blunder untuknya.
" Kok Ayah gak pernah bilang sih? Neo kan mau ikut buat adonan! Ayah sama Ibu jahat, mainan malah gak ngajak Neo!" sungutnya berubah kesal.
Mati lah kau! Kini Sada sepertinya menyadari bila ia sedang tersedak omongannya sendiri.
" Sial, kenapa malah jadi begini?" gumamnya risau.
Dan kedatangan Claire dari arah samping, yang sepertinya baru saja menyelesaikan teleponnya malah membuat kiamat Sada semakin dekat.
" Ibu, ternyata ayah sama ibu suka lama kalia buat pintu karena buat adonan adik ya? Aku sekarang mau ikut kalau Ayah sama Ibu buat. Aku yang tuang tepungnya Bu, huuuu!" bocah itu mengadu dengan tangis yang malah meledak.
Membuat Claire sekonyong-konyong melempari suaminya dengan tatapan menuduh. Apa-apaan ini mas?
Kini Sada hanya bisa meringis manakala sang istri berkacak pinggang dengan mata melotot ke arahnya. Jelas urusannya setelah ini akan semakin runyam.
" Te- tenang saja sayang. Kau ja- jangan marah dulu. Setelah ini aku akan bertanggungjawab dan mencoba mencari cara berdiplomasi yang baik dengan anak kita" jawabnya nyengir dengan hati yang ketar-ketir.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan author kemarin tidak up karena dirumah ada acara nggeh. Oh iya, pembaca Mommy dari kota mana aja sih?