My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 50. Mendung duka di keluarga Darmawan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Melodi sampai menjatuhkan kotak coklat yang ia bawa demi menatap semua orang yang kini menangis diatas tubuh Opa. Gadis itu sejurus kemudian menjatuhkan tubuhnya tak berdaya ke atas lantai dengan tatapan kosong.


Hatinya tiba- tiba mendadak sesak namun bola matanya justru tak bisa mengeluarkan air mata. Dunia tiba-tiba terasa seperti berhenti berputar. Melodi merasa tubuhnya tak memiliki daya untuk menopang dirinya sendiri.


Neo yang melihat semua orang disana menangis dan tampak bersedih seketika menjadi bingung. Bocah itu dengan inisiatifnya berjalan muram menuju ke samping Omanya yang di dudukkan oleh Opa menuju sofa di dalam kamar itu.


" Tolong hubungi Deo dan Demas!" titah Papa David yang terlihat paling tegar kepada assiten rumahtangganya yang turut kalang kabut.


Claire berjalan mendekat ke arah samping Opa yang tak lagi bernapas. Ia menatap wajah keriput itu dengan tangis yang semakin tak kuasa ia bendung. Ia memeluk tubuh dingin itu dengan wajah yang terbenam dan tubuh yang bergetar.


" Bukankah tadi Opa sudah sehat? Kenapa Opa malah meninggalkan kami semua?" jeritnya dalam hati yang tak kuasa menahan segala bentuk dukacita yang teramat dalam.


" Papa mas!"


" Papa pergi mas!"


Mama Bella yang terlihat sangat terpukul tak henti-hentinya meracau dan berbicara lepas kontrol. Membuat Neo yang kini duduk di sampingnya terlihat bingung harus berbuat apa.


" Oma kenapa Opa?" tanya Neo yang kini takut karena semua orang menangis. Membuat Papa Leo buru-buru menghapus air matanya.


" Nanti Opa jelaskan. Sekarang Neo jaga Oma dulu ya, Opa mau ke dapur sebentar!" kata Papa Leo kepada cucunya yang hanya bisa mengangguk. Berniat mengambilkan air untuk istrinya meski wajahnya sudah sangat basah oleh air mata.


Melodi yang tak bisa menangis dan terlihat mengeluarkan tatapan kosong kini di evakuasi oleh para pembantu di rumah itu menuju kamarnya.


Merasa sangat kasihan kepada Melodi karena bisa di pastikan jika gadis itu pasti sangatlah shock.


" Non Melodi?"


" Non!"


" Astaga Non, sadar non!" teriak salah satu asisten rumah tangga yang paling senior karena terkejut saat melihat Melodi yang terus saja melamun bagai orang tak sadar.


" Bawa ke kamar saja Yu!" seru penjaga kebun yang kini juga menjadi panik.


Keadaan seketika berubah menjadi panik, tegang dan mencekam. Semua orang terlihat tak bisa mengendalikan dirinya akibat rasa kehilangan yang sangat dalam.


Mama Jessika yang kini di peluk oleh Papa David terlihat begitu sedih. Pria itu telah mendudukkan istrinya di kursi yang ada di samping ranjang Opa Edi, sembari tak hentinya mengusap lembut punggung Mama Jessika guna memberikan kekuatan.


" Padahal aku sama Bella tadi keluar sebentar buat ambil Papa minum Mas sama manasin sup Mas. Papa gak mau air yang di dalam, dan tumben minta dibuatin yang baru. Tapi tidak tahunya...."


Ya, dugaan besar Opa terkena serangan jantung secara tiba-tiba.

__ADS_1


Mama Jessika sampai tak bisa meneruskan ucapannya karena tercekat. Papa Leo dan Papa David memang tengah berada di kamar mereka masing-masing untuk berisitirahat. Sengaja ingin tidur terlebih dahulu sebab mereka akan begadang nanti. Meski Opa sudah terbilang sehat, tapi pria tua itu sewaktu-waktu sering terjaga di malam hari.


Tadi Claire juga sedang mengajak Neo pergi sebentar. Dan dua ipar beradik itu memilih menunggu Opa di kamar karena takut jika sewaktu-waktu membutuhkan sesuatu nanti.


Namun saat Opa meminta mereka membuatkan sesuatu, sekembalinya mereka dari dapur malah mendapati Opa yang tak bernapas. Seolah ingin pergi tanpa di ketahui dan menyusahkan anak-anaknya.


Ya, sepertinya takdir memang berkata lain, Opa pergi dalam ketidaktahuan semua anggota keluarganya.


Mama Bella yang merupakan seorang dokter, bahkan berkali-kali mengecek denyut nadi Opa dan memang benar jika Opa telah meninggal dunia.


" Leo, bawa istrimu ke kamar dulu!" seru Papa David yang tak tega melihat Mama Bella yang tampak sangat terpukul.


Papa Leo mengangguk sembari menyusut matanya.


Sejurus kemudian Papa David terlihat langsung menghubungi Om Tomy karena ia sangat membutuhkan bantuan mantan asistennya itu.


" Neo ikut Oma Jes ayo!"


Mama Jessika yang melihat Neo bingung dan ketakutannya kini berinisiatif untuk mengajak Neo ke kamar.


Mama Jessika membiarkan Claire yang duduk di samping jenazah Opa yang sedari tadi diam. Air mata keponakannya itu bahkan terlihat kering. Membuat Neo menatap muram Ibunya tanpa berani menyela.


" Apa yang terjadi Oma Jes? Kenapa Ibu diam dan menangis?"


" Opa buyut meninggal sayang. Opa sudah tidak sakit lagi!" terang Mama Jessika lemah lembut. Berusaha menjelaskan sebisanya.


" Meninggal?"


Mama Jessika mengangguk, " Opa sudah beristirahat sekarang. Kita doakan, semoga Opa beristirahat dengan tenang di sana!"


Meski tak tahu apa artinya kematian yang sesungguhnya, tapi bisa Neo rasakan jika kematian itu membuat semua orang menangis.


" Meninggal?" batin Neo yang sejatinya masih sangat ingin tahu apa itu meninggal.


Beberapa waktu kemudian, Om Tomy yang sudah datang dengan Tante Eka, Erik beserta anak istrinya langsung membantu Papa David di dalam. Meraka semua menolong dalam menyiapkan ruangan, menghubungi tenda, petugas pemulasaraan jenasah, serta tokoh agama.


Tampak tenda-tenda besar kini di dirikan, dan dalam hitungan jam saja banyak karangan bunga yang datang.


" Dimana Melodi?" tanya Demas yang khawatir sebab info dari tukang kebunnya di depan tadi, Melodi menjadi melamun mirip orang linglung manakala mengetahui kematian sang Opa.


" Coba kamu cari di dalam Dem, Mama dari tadi belum sempat lihat Melodi. Kamu tahu sendiri keadaannya."


Mama benar. Semua orang pasti merasa sangat kehilangan termasuk dirinya. Demas mencari sepupunya di dalam kamar. Rupanya Arimbi sudah datang dan terlihat memeluk sepupunya itu yang akhirnya bisa menangis.

__ADS_1


Dan jika Arimbi sudah datang, Deo pasti juga sudah datang.


" Padahal aku baru sampai Ar. Kenapa Opa malah pergi Ar!" kata Melodi yang kini sudah bisa menumpahkan air matanya kala di peluk oleh Arimbi. Membuat dada Demas sesak.


Hati Demas seketika terasa pilu. Semua anggota keluarganya begitu terpukul dengan reaksi yang bermacam-macam. Demas juga melihat Deo yang terlihat berbicara serius dengan om Tomy yang pasti telah di tunjuk papanya untuk urusan pemakaman.


" Kita semayamkan dulu di sini. Besok pagi kita lakukan pemakaman!"


Di lain tempat, Claire yang masih diam menatap mayat Opa terlihat menatap nanar wajah pria yang selama ini melindunginya dengan segenap jiwa dan raganya.


Ia masih ingat saat pertama kali Opa mengajaknya pergi saat Papa Leo begitu kecewa dengan dirinya. Opa juga lah yang memasang badan dan mewanti-wanti anak dan cucunya untuk tak berhubungan lagi dengan Sadawira.


Tapi samar-samar suara orang yang berbicara di sebelah, membuat Demas melangkah maju karena penasaran.


Rupanya Kakek Soleh tengah di ajak berbicara serius oleh Om Leo yang matanya masih bengkak.


" Kalau menurut tata cara orang sini, jika mau selamat, mereka bisa menikah di hadapan mayat. Kalau tidak, maka harus menunggu sampai gugur gunung selesai, atau satu tahun lagi lewat bulan suro!"


Demas mengeraskan rahangnya. Apa-apaan ini? Apa Omnya itu sudah tak waras karena malah membicarakan pernikahan di situasi duka seperti ini?


" Sebaiknya kamu pikir-pikir dulu. Lagipula, Claire juga terlihat sangat terpukul!"


"Dibicarakan saja dulu dengan pihak laki-laki. Sebaiknya jangan mengesampingkan peringatan ini!"


Ya, kakek Soleh merupakan Paman dari Mama Jessika dari garis keturunan Ibu. Menjadi satu-satunya tetua yang kini diajak berunding mengingat Claire sebenarnya ingin mereka nikahkan pada tahun ini.


Membuat Papa Leo kini menjadi bingung. Sepeninggal Papa Leo yang berniat menghubungi Edwin, Demas mendekat ke arah kakek Soleh dan ingin menanyakan hal itu secara langsung.


" Kenapa kalian malah membahas pernikahan di situasi duka seperti ini?" tanya Demas terdengar tak suka.


Kakek Soleh semula terperanjat. Tapi sejurus kemudian pria tua itu menatap Demas yang sepertinya salah paham.


" Jangan salah paham dulu. Om mu menanyakan hal itu sebab dalam adat kami, seseorang wajib di tangguhkan pernikahannya hingga lewat bulan suro. Atau jika mau, detik ini juga mereka harus melangsungkan ijab kabul di depan mayat Opa, jika ingin selamat!"


Membuat Demas tertegun.


"Sebagai orangtua, Om mu Leo wajar jika resah. Aku hanya menyampaikan saja karena tadi dia bertanya kepadaku. Tapi sebaiknya, di tunda saja pernikahannya."


Demas termenung. Hampir saja ia naik pitam. Orangtua memang banyak hal yang dipikirkan. Bahkan ia tak mengerti soal itu.


Namun tanpa mereka sadari, Sadawira yang telah datang bersama Zayn terdiam penuh kelegaan manakala mendengar perbincangkan antara Demas dan Kakek Soleh.


" Terimakasih Tuhan. Semoga ini salah satu dari caramu memudahkan jalanku untuk berjuang!"

__ADS_1


__ADS_2