
...🥀🥀🥀...
Hari berganti.
Sadawira sedang berada di dalam kantornya manakala ponselnya bergetar. Ya, pagi ini dia sedang menunggu Diva sebab besok lusa tamu yang dari Eropa akan segera mendarat di Atana.
" Ya Bon?"
" Bos, tuan Edi rupanya sedang sakit keras. Sepertinya, nona Claire datang untuk menengok!" lapor Boni dengan nada serius.
Sadawira lega, sebab rupa - rupanya karena hal itu lah Claire membawa Neo turut serta pergi ke Indonesia. Masuk akal juga pikirnya. Jika begini, berarti tak ada yang perlu di khawatirkan. Namun kelegaan yang baru saja ia rasakan mendadak sirna saat Boni berbicara lebih lanjut sedetik kemudian.
" Tapi ada satu hal lain bos."
" Ada apa?" tanyanya mulai resah.
" Nona Claire tidak datang sendiri!" jawab Boni dengan suara ragu-ragu.
" Maksudmu?" Sada bertanya dengan lebih intens.
" Nona Claire datang bersama seorang pria, terlihat akrab dan..."
" Dan apa?" memotong cepat saat suara Boni terdengar menggantung. Terlihat sangat tidak sabaran.
" Dan dia sangat di sambut baik oleh keluarga nona Claire!"
DEG
Hati Sadawira seketika gelisah, ia tak tenang sama sekali. Siapa kira-kira yang di ajak? Kenapa pria itu bisa diajak oleh Claire? Apakah saudaranya?
" Saya akan mengirimkan fotonya!" kata Boni selanjutnya sebab pekerjaannya kali ini sangat penting.
Usai telepon itu terputus, Sadawira buru-buru membuka pesan berisikan foto yang dikirim oleh Boni. Dan saat pesan itu terbuka, maka terkejutlah Sadawira kala mengetahui jika pria di dalam foto itu adalah Edwin.
Absolutly make me feel down!
Sedetik kemudian, Boni kembali mengirimkan pesan lanjutan kepada bosnya.
"Anda tenang saja bos, saya sudah membayar satu orang perawat untuk memata-matai mereka. Jika ada hal baru, nanti akan saya hubungi!"
Sadawira menatap nanar jendela kaca di dalam kantornya itu dengan hati dongkol. Jika ini urusan keluarga, kenapa Claire mengajak serta Edwin?
Ah sial, ingin rasanya Sadawira menyusul mereka ke Indonesia detik itu juga.
__ADS_1
Tapi tunggu dulu, kenapa dia tidak terima?
Bahkan hingga detik ini, perasaan yang dulu ada belum juga sirna dari diri Sadawira.
Oh my....
TOK TOK TOK
Bunyi ketukan pintu dari luar membuat kekesalannya sedikit mereda.
" Masuk!" sahut Sada sembari membetulkan posisi duduknya.
Meski hatinya sedang terusik, tapi ia masih berusaha untuk tak mencampuradukkan permasalahannya dengan urusan perusahaan.
" Selamat pagi Pak!"
Biji kepala Dollar menyembul dari balik pintu dengan wajah kocak. Menegaskan bila pasti ada informasi penting yang di bawa oleh bocah itu.
" Pagi Do ada apa?"
" Pak, itu Bu Diva sudah datang!"
Astaga, Sadawira bahkan nyaris lupa jika dia memiliki janji dengan wanita yang kini menjadi partner pentingnya itu. Oh ya ampun, semoga saja berita soal Edwin yang bersama Claire tadi tidak merusak hari-hari kedepannya nanti. Sebab beberapa hari kedepan, ia akan kedatangan tamu penting.
" Persilahkan dia masuk Do. Dan tolong buatkan saya kopi!" titah Sada yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Dollar.
Tak berselang lama usai Dollar entah dari hadapan Sadawira , terdengar bunyi langkah kaki dimana itu adalah bunyi langkah Diva.
" Jangan bilang kau lupa dengan janji kita, are you OK Mr. Sadawira?" sapa Diva sengaja berkelakar sebab melihat tampilan kusut Sada di pagi hari.
Pria tampan itu terkekeh. Diva selalu saja tahu apa yang ada di otaknya. Dan tebakannya nyaris saja benar.
"Maaf membuatmu menunggu. Jadi... bagaimana?"
Diva terlihat menyuguhkan senyum penuh arti. " Apa kau tak ingin menawariku teh atau kopi dulu?"
" Hmmm, kau mau apa?" tawar Sadawira yang kini merutuki kebodohannya. Bahkan ia tak becus mengurus tamu.
Namun Diva justru bergelak. Sebenarnya dia hanya bercanda
" Aku...ingin..." Diva menunjukkan sorot mata genit dengan gerak tangan sensual yang bisa di pahami Sadawira sebagai sebuah ajakan seronok.
Membuat Sadawira seketika menarik tangannya yang kini di gerayangi oleh Diva. " Ini di kantor, tolong...."
__ADS_1
" Oh common Da..., mau sampai kapan sih kamu jual mahal?" kesal Diva yang kini menatap jengah Sadawira yang susah sekali di dekati.
Mereka partner. Sada tampan, Diva juga cantik, ditambah keduanya sama-sama single, lalu apalagi?
Tapi Sadawira menggeleng, " Kau cantik, seharusnya kau bisa lebih menjaga diri!" katanya terdengar pilu. Membuat Diva kesal sebab hasratnya yang menggebu kini terpaksa teralihkan akibat penolakan Sadawira.
Obrolan mereka yang kini canggung terinterupsi oleh kedatangannya Dollar yang membawa secangkir kopi.
" Ah nona, saya lupa. Anda mau minum apa? Maaf saya tadi..."
" Tidak usa repot-repot, saya sudah minum kopi tadi dirumah!" jawab Diva tersenyum kepada Dollar. Mengabaikan Sadawira yang sebenarnya tengah canggung.
Dollar membalas senyuman Diva namun satu detik kemudian wajahnya langsung cemberut Seba saat menoleh ke arah Sada.
Sepeninggal Dollar, Diva menatap pria tampan di depannya yang kini sibuk menyeruput kopi Dengan wajah yang agak lain.
" Kudengar jika mereka deal dengan kerjasama ini, mereka akan mengundang kita ke Eropa. Kita bisa menghabiskan malam indah disana nanti!"
Namun alih-alih menjawab, Sadawira dengan segala kesemrawutan di otaknya terlihat tak menggubris ajakan seronok Diva yang berkali-kali ingin bercinta dengannya.
" Mana dokumen yang harus saya pelajari?" tanya Sada mengabaikan Diva yang kini kesal karena merasa tak di anggap.
Sialan!
" Kau ini benar-benar menyebalkan sekali!" gerutu Diva yang benar-benar ampun dengan sikap Sadawira.
" Aku sudah bilang, kita ini hanya rekan kerja. Kau wanita cantik yang pasti bisa menemukan pria yang cocok denganmu Diva. Kau pintar, cerdas dan mandiri!"
" Tapi aku ingin kamu Sada!" sela Diva cepat dengan wajah teramat serius. Membuat keduanya saling menatap satu sama lain.
" Kau tidak akan pernah bisa memilikinya, karena hatiku sudah terpatri pada satu nama!"
Kini Sadawira semakin menatap Diva lekat-lekat. Ia harus bisa menegaskan kepada Diva satu hal.
" Jangan mengharapkan apa-apa dariku Diva, sebab hatiku sudah dimiliki oleh seseorang!"
Namun alih-alih menurut, Diva justru tergelak.
" Hahahah! Siapa? Siapa orang yang kau maksud. Kau tahu kau hanya beralasan saja kan Sada, selama ini aku sering memantau mu. Kau jangan bohong, kalau memang benar, tunjukkan dia kepadaku!" cibir Diva yang sama sekali tak percaya dengan omongan Sadawira.
" Aku akan menunjukkannya jika saatnya tiba nanti! Aku yakin jika dia juga masih memiliki perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan!"
Diva justru dibuat bingung manakala Sadawira mengatakan hal itu dengan tatapan lepas ke arah jauh.
__ADS_1
" Sebenarnya siapa yang kau bicarakan?" tanya Diva penuh kecurigaan.
" Kau akan tahu setelah ini!"